Korban Gempa Pulau Meniu Mengungsi di Kapal
Add comment Oktober 22, 2009
Horee Akhirnya Pake Linux Juga…

Pake Linux ?? Siapa Takut….
Terus terang selama pake windows sejak versi 2000 sampai yang Vista bahkan Windows 7 saya tetap merasa tidak terlalu sreg mengingat salah satu faktor yang paling mengganggu yakni soal Windows ilegal yang dipakai banyak orang (tentu termasuk saya).
Dan membeli Windows asli alias genuine harganya sangat mahal. Lagipula kita semua terutama saya sendiri tidak mau dibilang pembajak alias maling terus menerus.
Atas saran dan rekomendasi beberapa kawan, jadilah saya mencoba memakai Linux. Dan atas bantuan seorang kawan muda, saya pun menginstal Linux Ubuntu versi 9.04 dalam PC saya.
Ternyata fitur fiturnya sangat mengagumkan. Simpel, sederhana namun full aplikasi. Dan yang paling penting : semuanya gratis dan bebas diunduh di internet.
Jadi tunggu apalagi. Pake Linux sekarang juga. Gratis, sistem operasi yang praktis dan grafik yang sudah sama dengan Windows.
Add comment September 16, 2009
Ah . . . .Vosmaer Baai

Karna banya’nya limbah tertumpah di laut
seperti minyak tanah, solar, oli apa
Kalimat itu sering terdengar di Kendari TV dan sangat populer di masyarakat Kota Kendari beberapa waktu lalu yang di ucapkan seorang lelaki paruh baya dan isinya menanggapi rusaknya Teluk Kendari. Meskipun kalimat itu telah diulang ulang ratusan kali namun tak ada perubahan berarti dalam penanganan kerusakan Teluk Kendari. Apa dan siapa itu Teluk Kendari? Begini ceritanya.
Syahdan tersebutlah seorang lelaki bernama Jan Nicolas Vosmaer. Dia adalah jenderal Belanda yang melakukan ekspansi kekuasaan ke wilayah timur Indonesia, termasuk Sulawesi. Pada tanggal 9 Mei 1831, pria ini tiba di teluk kendari yang saat itu memang belum memiliki nama. Setelah melakukan beberapa kali peninjauan, ia dan pasukannya lantas sepakat memberi nama teluk kendari yang saat itu masih asri dengan namanya sendiri yakni Vosmaers Baai alias Teluk Vosmaer. Inilah cikal bakal ditemukannya teluk Kendari. Bahkan tanggal pendaratan pasukan Vosmaer 9 Mei dijadikan sebagai hari lahir Kota Kendari.
Sejak saat itu, Teluk Kendari telah menjadi ikon Kota ini. Keberadaan Teluk Kendari ditinjau dari sisi sosial sangat bermanfaat bagi masyarakat sekitar khususnya para nelayan yang bisa mencari ikan di area ini. Dengan luas perairan sekitar hampir 18 km2 dan panjang garis pantai hampir 86 km, Teluk Kendari memiliki berjuta potensi yang unik untuk dikelola. Tapi itu dulu, waktu teluk belum lagi mengalami degradasi seperti sekarang. Dulu waktu teluk masih terpelihara, jangankan ikan, warga bisa mengambil hasil laut apa saja di sana lantaran kondisinya masih bagus. Banyak jenis kerang bakau dan kepiting yang selalu dicari masyarakat untuk dikonsumsi.
Sekarang teluk Kendari telah berubah fungsi. Dari tempat mencari hasil laut oleh masyarakat menjadi tempat pembuangan sampah paling besar dan fantastis. Mungkin satu-satunya di Indonesia. Jika melihat kondisi teluk ini sekarang kita akan prihatin karena telah mengalami pendangkalan yang parah.
Perkembangan penduduk dan kemajuan Kota Kendari membawa konsekwensi lain yakni kesemrawutan kota yang kian tak terkendali. Sampah berserakan di mana-mana, drainase tak berfungsi, tata kota yang semrawut dan pemerintah kelihatannya putus asa mengatasi hal ini. Sementara itu, ada pemeo di masyarakat buat apa buang sampah jauh-jauh kalau yang dekat juga ada. Yang dekat tentu saja adalah Teluk Kendari. Pemeo yang sangat menyesatkan.
Memang bukannya tak ada upaya perbaikan sama sekali. Sejumlah Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) telah berupaya menyelamatkan teluk ini dari kehancuran. Namun hasilnya : nol.
Ada sinyalemen beberapa kalangan bahwa percepatan pendangkalan teluk merupakan akibat dari penggundulan hutan yang ada dalam kota. Akibat penggundulan tersebut terjadilah erosi kala hujan turun dan membawa gumpalan tanah dan pasir menuju teluk. Selain itu, sampah yang bertumpuk dalam teluk juga kian memperburuk keadaan. Akibatnya bisa di duga, selain cepat mengalami pendangkalan, teluk juga menjadi pembuangan sampah oleh warga setempat yang tak mau ambil pusing dengan keadaan sekitar.
Melihat krisis Teluk ini sekarang, Pemerintah Kota Kendari mencoba satu solusi yang disarankan banyak pihak yakni pengerukan. Perencanaan sudah dibikin. Anggaran sudah disediakan. Pengerukan telah dilakukan. Tapi lagi lagi terbentur pada ketidak seriusan untuk mengembalikan Teluk Kendari ke zaman Vosmaer. Mesin pengeruk tampak menganggur seperti besi tua yang siap dikilo. Padahal mesin penghisap lumpur itu telah menelan biaya yang tidak sedikit. Dengan kata lain, Pemerintah Kota memang tampaknya tak serius melihat kerusakan teluk ini.
Sekarang sudah saatnya kita semua mengambil langkah ekstrim demi penyelamatan ikon kota tersebut. Selain melanjutkan pengerukan secepatnya, kita juga melakukan penanaman kembali pohon bakau dan mangrove di sekitar teluk serta sosialisasi yang komprehensif kepada masyarakat tentang larangan membuang sampah di teluk ini. Jika tidak maka jangan heran jika nama Teluk Kendari kelak tinggal menjadi dongeng pengantar tidur bagi anak cucu kita.
Dan entah apa kata Jenderal Vosmaer andai melihat kondisi Teluk Kendari sekarang. Mungkin ia juga akan sedih. (**)
Add comment September 8, 2009
Tentang Para Sahabat


Aula Merah Putih Rumah Jabatan Gubernur Sulawesi Tenggara 16 Agustus 2009
Puluhan Kepala Desa dan pelajar SLTA duduk berbaris dengan rapi. Para Kades menggunakan stelan batik sedangkan pelajar memakai baju seragam abu-abu. Deretan kursi mereka memang sengaja dipisahkan dengan para tamu yang lain. Mereka hadir menyaksikan pengukuhan Paskibraka di rumah jabatan Gubernur Sulawesi Tenggara.
Tapi mereka bukanlah tamu biasa. Bahkan dapat dikatakan bahwa hari itu mereka sebenarnya adalah tuan rumah. Selama sepekan menjelang perayaan agustus itu mereka menginap di rumah jabatan dan menjadi tamu kehormatan gubernur. Mereka inilah para sahabat gubernur
Di banding dengan nama nama para undangan yang mayoritas adalah pejabat pemda, penyebutan istilah sahabat dalam acara resmi seperti ini memiliki makna yang berbeda. Berbeda lantaran selama ini para pejabat kita tak pernah memasukkan kosa kata sahabat dalam susunan acara apapun juga. Yang lazim terdengar adalah Ketua DPRD, unsur Muspida, Danrem, Rektor dan lain sebagainya.
Penggunaan kata sahabat Gubernur mau tak mau memancing minat orang untuk bertanya lebih lanjut : siapakah mereka itu? Mereka adalah 15 Kepala Desa terbaik Sulawesi Tenggara tahun ini. Serta 24 pelajar SLTA berprestasi se Sulawesi Tenggara. Dan Gubernur Nur Alam menggandeng mereka ini menjadi sahabat beliau.
Mendapat kehormatan menjadi sahabat gubernur adalah hal yang sungguh luar biasa bagi para kades dan pelajar terpilih ini. Bukan apa-apa, dari jutaan penduduk Sulawesi Tenggara, hanya merekalah yang berhak menyandang gelar sahabat gubernur. Mereka bangga lantaran tak semua orang bisa menjadi sahabat gubernur. Untuk meraih predikat itu mereka bekerja dan mengabdikan diri untuk masyarakat di tempat mereka masing-masing. Para pelajar juga demikian. Predikat pelajar terbaik yang mereka sandang tak datang dari ruang hampa, tapi melalui proses belajar yang keras dan sungguh-sungguh.
Dan Gubernur Nur Alam ternyata memang tak main main dalam memperlakukan para sahabatnya itu. Beliau menjamu para Kades dan pelajar tersebut layaknya menjamu teman sejati yang datang dari jauh. Selain menginap di rumah jabatan, mereka juga diajak berkeliling di Kota Kendari bersama gubernur sendiri. Tak cukup hanya itu, Gubernur akhirnya mengajak para sahabatnya ini ke Jakarta. Ke ibukota Negara. Suatu pengalaman yang tak akan terlupakan bagi para kades dan pelajar ini seumur hidupnya.
Pemikiran Gubernur Nur Alam untuk menggandeng Kades dan Pelajar terbaik untuk menjadi sahabat, adalah satu ide cemerlang yang jarang terjadi di daerah lain. Yang sering kita dengar adalah pejabat yang menjadi bapak angkat dan bapak asuh.
Penggunaan istilah bapak angkat, sedikit banyak sebenarnya berkonotasi miring. Menjadi bapak angkat menunjukkan bahwa mereka yang menjadi anak angkat adalah orang orang yang tak berdaya, lemah, papa, miskin, tak mampu dan seterusnya dan seterusnya. Mereka sangat mungkin hanya menjadi obyek suatu pekerjaan. Mereka bukanlah subyek apalagi predikat.
Sementara itu, dengan memakai istilah sahabat berarti timbul suatu pengakuan bahwa gubernur dan para sahabatnya itu punya kedudukan setara dan seimbang dalam membangun hubungan dan komunikasi. Merekalah kawan dekat gubernur, teman karib yang tersebar di seluruh pelosok Bumi Anoa.
Ada beberapa hikmah yang bisa menjadi renungan bagi kita semua tentang ide gubernur untuk merangkul orang-orang berprestasi ini dengan menggandeng mereka menjadi sahabat beliau.
Pertama, dengan ide cerdas seperti ini, Gubernur Nur Alam ingin menjunjukkan kepada rakyat bahwa jabatan gubernur bukanlah suatu menara gading yang tak dapat bersentuhan dengan orang ramai. Selama ini ada kesan bahwa jabatan gubernur adalah sesuatu yang sakral, keramat dan angker di mata orang banyak. Jangankan mengiinap di rumah gubernur seperti ini, untuk bertemu gubernur saja susahnya minta ampun. Sepulangnya ke kampung masing-masing, para Kades tersebut pasti akan menceritakan pengalamannya selama menjadi tamu kehormatan gubernur. Ini akan sangat efektif membantu sosialisasi program-program pemerintah daerah di pelosok pelosok terpencil.
Kedua, dengan model pendekatan seperti ini, akan menjadi dorongan bagi para Kades dan pelajar lain untuk untuk terus berpacu dalam bekerja dan belajar sungguh-sungguh untuk kemajuan diri sendiri, masyarakat dan daerah. Masyarakat, khususnya para kepala desa dan pelajar SLTA akan kian tertantang untuk bisa mendapat kehormatan menjadi sahabat gubernur di masa yang akan datang.
1 comment Agustus 23, 2009
Arsyad Salam, Arsyad, orang biasa, rakyat jelata. Arsyad lelaki beristri satu hobi menulis dan membaca... tinggal di Kendari-Sulawesi Tenggara.
Arsyad adalah Humas Sekretariat DPRD. Saat ini bekerja di Sekretariat Daerah Sulawesi Tenggara.. 