Ayam Pakai Barbel? Ah Ada-ada Saja

Kemarin saya terkejut bukan main. Anak lelaki saya yang kedua, sekarang kelas dua Madrasah Aliyah (Setingkat SMU) menyarankan kepada saya agar kaki ayam Bangkok kesayangannya (dan ayam kesayangan saya juga) digantungi semacam pemberat. Dia menyebutnya barbel. Setahu saya, barbel adalah jenis peralatan kebugaran untuk manusia. Lalu bagaimana ceritanya sampai dipasangi di kaki ayam Bangkok?

“Untuk apa?” tanya saya heran campur kaget.

“Untuk latihan ayah” katanya mantap. “Ayam Bangkok harus dilatih supaya bisa bertarung dengan kemampuan maksimal”

“Bagaimana caranya? Dan apakah bisa?”

“Ya harus, kalau mau ayam ini bisa jadi ayam jawara” katanya sambil mengelus ayam Bangkok berbulu hitam itu. Lalu dia menjelaskan cara memasang alat yang disebutnya barbel itu. Rupanya barbel dimaksud bentuknya semacam gelang karet agak tebal yang dililitkan di pergelangan kaki ayam. Katanya untuk menciptakan efek sepak yang dahsyat, mungkin seperti karung latihan tinju bagi atlit tinju. Dalam hati tentu saya kurang setuju dengan ide anak saya itu.

“Nak!” kata saya selanjutnya. “Ayam ini dipelihara bukan untuk diadu atau dijadikan ayam untuk pertandingan”

Tapi anak saya tetap bersikukuh bahwa ayam Bangkok memang jenis ayam petarung. Biasa dipakai untuk pertandingan, sering dengan taruhan uang. Jelas judi namanya, batin saya.

“Pokoknya tidak bisa” terdengar suara saya agak keras. “Ayam Bangkok ini tidak akan jadi ayam jawara. Ayah sengaja memelihara ayam ini untuk menjadi pejantan ayam betina kita, supaya anaknya nanti besar-besar, supaya harganya tinggi kalau dijual. Lagi pula mengadu ayam itu dosa namanya”

Mendengar itu, anak saya cuma menggerutu tak jelas. Ia tidak setuju dengan kata-kata saya tadi. Tapi saya lihat sepertinya dia merencanakan sesuatu. Saya pun menduga, pasti kalau saya ke kantor barulah ia melaksanakan niatnya itu: memasangi gelang pada kaki ayam Bangkok kesayangan kami yang baru dewasa. Memang sosok ayam itu sangat gagah, tinggi dengan dada menjulang ke depan seakan menantang ayam lain yang ada sekitar rumah kami.

Ayam kok pakai barbel. Ah ada-ada saja.

Sudah Dewasa?

Mula-mula saya ragu menyebut ikan yang mulai besar dengan dengan istilah ikan dewasa. Tapi setelah saya pikir-pikir tak ada lagi kata lain yang saya dapatkan untuk menyebut ikan-ikan yang sudah bisa dipanen. Ya saya sebut saja ikan dewasa. Artinya kira-kira ikan yang sudah besar-besar, sudah bisa dikonsumsi atau dijual.
Saat ini baru ikan mujair yang saya pelihara. Anehnya saya baru tahu kalau nama ikan ini berasal dari nama orang yang menemukannya yakni Pak Mujair di Jawa Timur, dulu sekitar tahun 30-an.
Pasti pembaca ada yang mengerutkan dahi membaca postingan ini. Hanya persoalan ikan saja kok sampai dibuat artikel segala. Apa sih menariknya membahas ikan di blog? Bukankah ini masalah remeh-temeh, sepele, nggak penting?
Baiklah, saya bisa memahami kalau ada yang berpikir demikian. Tapi saya pun punya alasan sendiri, kenapa saya membuat tulisan ini.
Saya merasakan sebuah kesenangan tak terpermanai saat menyaksikan ikan-ikan di empang sendiri tumbuh perlahan, dari bibit yang sebesar jari kelingking sampai seperti sekarang: hampir lima belas sentimeter lebarnya. Kesenangan yang tidak bisa ditebus dengan uang, berapapun nilainya.
Alasan lain karena saya membangun sendiri empang tersebut dengan susah payah, meskipun tidak terlalu luas, hanya dua petak masing-masing berukuran dua belas meter kali sepuluh meter. Pekarangan samping rumah saya adalah kawasan rawa dengan sumber air tak pernah kering meski musim kemarau panjang. Tiap Sabtu dan Minggu, saya mandi lumpur menggali tanah lumpur untuk menambah kedalaman termasuk membuat pematang. Tak lupa saya juga memasang pipa paralon plastik untuk saluran air. Meski lelah tapi sangat menyenangkan.
Itu cerita tiga bulan yang lalu.
Sekarang ikan-ikan saya sudah pada besar, sudah dewasa menurut istilah saya. Setiap pagi dan sore saya memberi mereka makan konsentrat (sejenis pellet khusus makanan ikan). Dan ikan-ikan saling berebut makanan. Bahkan sekarang sepertinya mereka sudah cerdas karena setiap ada yang melintas di atas pematang ikan-ikan itu berlomba naik ke permukaan mengira mereka akan diberi makan. Mungkin karena sudah terbiasa.
Ah alangkah nikmatnya menyaksikan ikan-ikan yang berseliweran di atas air. Segala susah payah, kerja berat, main panas dan mandi lumpur rasanya tertebus oleh kenikmatan yang sulit diungkapkan dengan kata-kata.

Beternak Bebek

Sudah lama saya ingin beternak bebek, tapi baru dua hari yang lalu keinginan itu terwujud. Saya sudah menelusuri berbagai referensi tentang cara beternak bebek. Bahkan saya beberapa kali ke toko buku Gramedia Kendari membaca buku petunjuk beternak bebek sesuai prosedur dan standar pemeliharaan yang baik. Dan tak ketinggalan juga melalui internet. Maklum saya termasuk buta dalam soal ternak-beternak seperti ini.
Saya sendiri juga heran kenapa sejak dulu saya terobsesi ingin memelihara bebek. Entahlah, tapi saya merasa sepertinya menyenangkan bisa memiliki bebek. Apalagi mendengar suara mereka minta makan atau melihat mereka berenang di atas air. Dan saya memang suka.
Lantas sayapun teringat salah satu koleksi novel saya berjudul 3 Cinta 1 Pria karangan Arswendo Atmowiloto di mana dalam bab pertama novel tersebut dibahas juga tentang beternak bebek. Tokoh utama novel itu, Bong namanya juga pernah menjadi peternak bebek. Meski cuma sekilas, tapi penggambaran soal bebek dalam novel tersebut sangat menarik. Bahkan Arswendo juga membandingkan bebek dengan entok atau bebek manila. Sekalipun hanya karya fiksi tapi saya senang membacanya.
Saya yakin pasti Arswendo melakukan penelitian yang mendalam tentang bebek. Tampaknya ia benar-benar serius. Saya bisa mengukur semua itu karena dalam novel terbitan Gramedia itu, -si pengarang melukiskan seluruh seluk beluk dunia bebek dengan gamblang, seakan saya sedang membaca sebuah buku panduan. Begitulah.
Saya membuat sendiri kandang bebek berukuran lebar empat meter, panjang hampir tiga meter dari kayu bulat sebesar lengan orang dewasa. Dari semua bahan kandang, yang paling membanggakan adalah atapnya: sejenis seng multiroof atau sakuraroof kata orang sekarang. Tak lupa saya juga membuat kolam kecil untuk mandi bebek sehabis bersenggama atau bertelur. Sumber airnya berasal dari kali kecil yang mengalir di samping kandang. Komplitlah pokoknya.
Untuk langkah awal saya memelihara enam ekor bebek dewasa terdiri dari satu jantan dan lima betina, perbandingan yang ideal kata tetangga saya yang sudah berpengalaman memelihara bebek. Kepada tetangga itu saya bertanya apakah si jantan mampu melayani syahwat lima betina sekaligus? Tetangga itu malah tertawa menganggap pertanyaan saya mengada-ada. Atau mungkin dikiranya saya ingin melucu. Padahal saya tidak mengada-ada apalagi hendak melucu.
“Jangankan lima, sepuluh betina pun dia sanggup melayani” katanya menyambung.
“Kasihan, apa jantannya tidak lekas lumpuh akibat perkelaminan yang dahsyat begitu?” saya kembali bertanya.
“Ah bapak ini ada-ada saja” sahutnya sambil tertawa mengakak. “Bebek itu lumpuh karena penyakit atau sudah terlalu tua, bukan akibat kawin”
Saya cuma terdiam, sambil berpikir, yang penting obsesi saya memelihara bebek sudah terwujud.

(Mimpi) Memiliki Perpustakaan Sendiri

Tidak ada yang lebih memukau saya ketimbang melihat para penulis berpose di depan rak penuh buku di rumah mereka. Kadang saya berpikir, bisakah saya memiliki perpustakaan sendiri di rumah? Tempat saya akan memendam diri sehari penuh dengan membaca buku-buku bagus yang saya sukai?

Sejak SMA saya sudah mengumpulkan buku apa saja yang kebetulan saya dapat secara tak sengaja. Kebanyakan saya beli di toko-toko buku di kota saya. Namun hasilnya belum sesuai harapan. Banyak buku-buku yang saya cari tidak tersedia di sini. Maklum kota kecil seperti Kendari, tentu cakrawala perbukuan masyarakatnya juga tergolong rendah. Belum ada toko buku yang mengkhususkan diri dalam genre sastra misalnya. Kecuali Toko buku Gramedia yang menjual buku dengan topik yang cukup lengkap.

Alhasil, saya pun berburu buku bekas secara online dan hasilnya lumayan menggembirakan. Beberapa buku sastra kelas dunia saya peroleh dengan cara ini antara lain War and Peace karangan Leo Tolstoy. Max Havelaar karangan Multatuli dan Dr Zhivago karya Boris Pasternak. Ada juga The Name of The Rose Umberto Eco, 1984 George Orwel, The Old Man and The Sea Hemingway, Les Miserables Victor Hugo, Sampar Albert Camus, dan tak ketinggalan koleksi buku Catatan Pinggir Goenawan Mohamad sebanyak 10 edisi (lengkap). Saya juga sudah mengoleksi empat buku Tetralogi Buru Pramoedya Ananta Toer (Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah dan Rumah Kaca)

Dengan koleksi buku yang masih kurang, saya tetap bertekad membangun perpustaakaan sendiri di rumah, sekaligus mengganti rak buku kayu yang sudah berumur sekitar dua puluh tahun yang selama ini saya gunakan.
Dibanding rekan-rekan pemburu buku yang militan, mungkin koleksi yang saya miliki tidak ada apa-apanya. Saya sadar sepenuhnya, kalau seorang pencinta buku memang harus memiliki uang yang cukup untuk membeli buku yang lengkap. Apalagi mencari buku langka yang harganya selangit. Buku memang mahal. Tapi bagi saya semahal apapun buku yang kita inginkan akan sepadan dengan ilmu yang kita dapatkan setelah membacanya.

Sampai sekarang saya masih menunggu terbitnya novel terjemahan War and Peace karya Leo Tolstoy yang kalau tak salah Koesalah Soebagyo Toer akan menerjemahkannya untuk pembaca Indonesia. Saya juga tengah mencari terjemahan Indonesia karya Miguel Cervantes, Don Quisot (entah kapan saya akan memperolehnya)

Adapun koleksi buku yang sudah saya miliki saya tampilkan juga di halaman blog ini

Terlambat Menyadari Kesalahan

Kepada Mas AS Laksana . . .

Sambil belajar menulis, saya juga terus mencari buku panduan menulis yang baik. Tapi saya belum menemukan satupun buku yang berkenan dalam hati. Akhirnya, ya saya menulis saja, tentu dengan asal-asalan, main terabas kiri-kanan, bahasa yang sering macet di tengah jalan, dialog yang tertatih-tatih dan plot yang amburadul. Tapi bagaimanapun saya memiliki satu modal yang barangkali tidak dimiliki semua orang terutama para penulis pemula. Dan saya bangga karenanya. Modal itu saya sebut: semangat dan kemauan yang kuat untuk terus belajar di tengah keterbatasan referensi.

Di tempat saya, di Kendari, sampai saat ini belum ada forum pertemanan antar penulis, apalagi penulis fiksi. Kadang-kadang saya dongkol juga mendapati kenyataan seperti ini. Saya seperti berjalan sendirian dalam belantara tulis-menulis, tanpa ada teman sharing, kawan berbagi. Saya sungguh mendambakan teman yang akan mengkritisi tulisan kita layak atau tidak. Mengoreksi serta memberi masukan dalam cerita yang saya bikin. Dengan demikian, setidaknya saya memiliki bayangan mengenai kekurangan serta kelebihan cerita saya.

Untuk mereka yang muda-muda memang ada forum seperti itu, tapi menurut saya kegiatan mereka tidak relevan karena hanya membahas tentang sastra yang baik. Atau mengulas karya orang lain dengan gaya begitu rupa membuat saya risi mendengarnya.

Pernah seseorang (mungkin ketua mereka) memberikan sambutan dalam sebuah acara dan ia salah mengutip sumber. Perjuangan melawan kekuasaan, katanya adalah perjuangan melawan lupa. Lalu ia menyebut nama seorang ahli filsafat entah siapa, saya sudah lupa. Padahal kalimat itu asli karya Milan Kundera dalam Kitab Lupa dan Gelak Tawa. Saya juga tertawa, tapi cuma di dalam hati. Gaya dan cara bicara mereka seperti sastrawan terkenal saja. Kadang saya berpikir, alangkah hebatnya mereka itu. Saya benar-benar merasa minder kalau berdekatan dengan mereka. Meski mereka sering menggelar diskusi tapi belum satupun yang saya dengar telah menerbitkan karya baik cerita pendek apalagi novel di tingkat nasional.

Sebelumnya saya minta maaf, saya sebenarnya tidak tahu apa itu teori kesusastraan, apa itu sosiologi sastra, filsafat sastra, fenomenologi sastra (kalau memang istilah semacam itu ada). Inilah mungkin kekurangan saya. Saya hanya ingin menulis cerita. Jadi yang saya lakukan ya menulis cerita yang saya tahu, dengan karakter yang saya bangun sendiri. Itu saja. Saya pernah mengirim tiga naskah novel kepada beberapa penerbit besar dan hampir semuanya ditolak. Yang lolos justru karangan saya yang pertama, Sonata untuk Liana yang akan diterbitkan Gramedia Pustaka Utama. Oleh editor penerbit besar itu, judulnya kemudian diubah menjadi  Kidung dari Negeri Apung.  Menurut rencana naskah itu akan terbit April 2014 ini.

Sementara itu, saya juga terus membaca karya orang lain, membandingkan antar karya-karya mereka sehingga bisa mengenali gaya bercerita mereka, sampai pada kepribadian tiap pengarangnya. Ini saya lakukan sejak dulu sewaktu masih di SMA. Karya sastra yang pertama memukau saya adalah Karl May, lalu Robinson Croese karya Defoe. Lama-kelamaan saya juga bisa mengenal gaya Tolstoy, Hemingway, Flaubert, Steinbeck, Lermontov, Pasternak, Marquez, Orwell, Kafka sampai Mario Vargas Llosa . Kalau penulis sebangsa yang paling saya suka antara lain Ahmad Tohari, Kuntowijoyo, Budi Darma, Pramoedya Ananta Toer, Umar Kayam, Iwan Simatupang, Goenawan Mohamad dan Seno Gumira Aji Darma. Dan semakin banyak membaca sayapun sampai pada kesadaran bahwa  pengetahuan saya terhadap sesuatu ternyata tidak ada artinya dibanding orang lain. Cuma secuil. Saya lantas teringat adagium Sokrates “Hakekat pengetahuan adalah mengetahui bahwa kita tidak tahu apa-apa”

Beberapa hari yang lalu saya membeli buku karangan anda : Creative Writing, Tip dan Strategi Menulis Cerpen dan Novel terbitan Gagas Media. Melihat sampulnya saja saya sudah tertarik, hitam yang elegan. Lebih-lebih setelah saya membaca isinya. Seperti telah saya singgung dipermulaan surat ini bahwa saya sudah lama mencari buku seperti ini, tapi baru menemukannya sekarang. Bahkan surat ini pun saya buat karena terinspirasi buku anda itu. Tak sampai dua jam saya sudah khatam membacanya. Dan tahukah anda apa yang saya pikirkan? (maaf kalau saya mengutip kata-kata di beranda facebook)

Saya menjadi malu, kadang tersenyum sambil mendehem entah untuk apa, mungkin untuk menutupi rasa malu terhadap diri sendiri. Saya malu bahwa ternyata selama ini yang saya dilakukan di depan komputer hanya berlagak menjadi penulis sungguhan padahal sebenarnya saya tidak memiliki tujuan yang jelas dalam menulis. Kemudian saya juga menyadari kalau selama ini teryata saya telah memperlakukan tiap karakter dalam cerita saya dengan amat sewenang-wenang, kejam dan zonder rasa kasihan.  Saya baru menyadarinya sekarang, setelah membaca buku anda.

Barangkali inilah yang disebut terlambat menyadari kesalahan. Terlambat bertobat. Tapi setelah membaca buku Mas Sulak,  saya telah bertekad kembali ke jalan yang benar, yakni jalan yang ‘diridhoi’ para motivator menulis. Jalan yang harus ditempuh kalau kita memang ingin menjadi penulis yang baik, penulis yang mampu berkarya dalam situasi dan kondisi apapun.

Saya tak ingin mengulas isi buku tersebut dalam ruangan ini karena hanya akan membuat saya semakin merasa kecil di hadapan para penulis hebat yang telah ada selama ini. Lagipula apa yang bapak ulas dalam buku itu semuanya terasa mengena, mungkin sampai ke ulu hati. Chairil Anwar kalau tak salah pernah mengatakan “mencari kata sampai ke putih tulang” itulah yang saya lakukan. Saya juga tak percaya bakat yang katanya dibawa sejak lahir. Apalagi  inspirasi yang turun dari langit. Semuanya harus dicari, dipelajari, melatih diri. Bukan duduk-duduk seraya berpikir menunggu inspirasi turun dari langit. Setahu saya yang turun dari langit itu hanya dua kalau bukan petir ya hujan. Itupun didahului pertanda misalnya mendung.

Saya setuju dengan kata-kata bapak bahwa menulis sama saja dengan profesi lainnya. Penulis sama dengan pemain bulu tangkis, petinju, penyanyi, tukang kayu atau dokter gigi. Ia butuh latihan terus-menerus, juga disiplin yang timbul dari kesadaran bahwa ada suatu tujuan tertentu yang ingin kita capai dalam menulis fiksi.

Dengan asumsi demikian, saya percaya kalau suatu saat kelak-entah kapan-saya bisa menelurkan karya yang bisa dibaca orang.  Seperti kata Multatuli dalam pendahuluan novelnya yang terkenal itu, Max Havelaar, “Ya, aku bakal dibaca”

Sekian dulu surat dari saya.

Wassalam.

Citra Wong Ndeso dalam Karya Ahmad Tohari

Ahmad Tohari bisa disebut sebagai salah satu sastrawan Indonesia yang begitu mengagungkan kehidupan orang-orang desa, Wong Ndeso. Hampir semua tokoh-tokoh fiksinya diangkat dari latar belakang pedalaman yang jauh dari hiruk-pikuk kota.

Nama-nama berikut sudah demikian akrab dalam benak pembaca sastra kita. Rasus, Kartareja, Sakum, Srintil (Ronggeng Dukuh Paruk), Karman, Parta, Marni dan Haji Bakir (Kubah), Pak Dirga, Pambudi, Poyo dan Sanis (Di Kaki Bukit Cibalak), Darsa, Lasi, Kanjat dan Eyang Mus (Bekisar Merah)

Dan itu baru dari novel. Bila kita simak cerita pendek Ahmad Tohari, nama-nama orang dusun kian terentang panjang. Karyamin, Blokeng, Kasdu, Minem, Musgepuk, Sutabawor, Kenthus (Senyum Karyamin-Kumpulan Cerpen) Mirta, Tarsa, Jebris, Daruan, Doblo, Sarpin, Karsim, Dawir dan Rusmi (Mata yang Enak Dipandang-Kumpulan Cerpen).

Nama-nama demikkian itu nyaris memenuhi seluruh cerita yang dibangun Tohari, lengkap dengan latar belakang alam dan satwa yang memikat. Saya yakin tak banyak pengarang kita yang memiliki perbendaharaan lengkap mengenai kehidupan alam semesta seperti Tohari.

Kemampuan melukiskan suasana sekitar secara realistis dan tampak seakan-akan nyata adalah salah satu kekuatan Tohari dalam membangun kisah, memilih tema serta pelaku cerita dengan sangat mengesankan.

Dalam novel Ronggeng Dukuh Paruk, kita misalnya bisa melihat sosok Sakum, lelaki buta penabuh calung dengan gaya kocaknya: selalu menggumamkan kata-kata “cess” setiap kali dia menabuh calung dengan ritme tertentu pada saat mana si penari, Srintil akan menggoyangkan pinggul, memancing berahi penonton.

Tetapi bagaimanapun Kartareja beruntung. Dia berhasil menemukan kembali Sakum, laki-laki dengan sepasang mata keropos namun punya keahlian istimewa dalam memukul calung besar. Sakum, dengan mata buta mampu mengikuti secara seksama pagelaran ronggeng. Seperti seorang awas, Sakum dapat mengeluarkan seruan cabul tepat pada saat ronggeng menggerakkan pinggul ke depan dan ke belakang. Pada detik ronggeng membuat gerak birahi, mulut Sakum meruncing, lalu keluar suaranya yang terkenal; Cessss! Orang mengatakan, tanpa Sakum setiap pentas ronggeng tawar rasanya. 

Saya juga bisa membayangkan sosok Darsa seorang pembuat nira, suami Lasi dalam novel Bekisar Merah. Darsa ketika itu tengah memandang barisan pohon kelapa yang diguyur hujan. Lelaki itu lantas membandingkan pohon kelapanya yang basah dengan istrinya, Lasi yang saat itu melintas di hadapannya usai mandi. Dan Tohari pun menggambarkannya demikian:

Di mata Darsa, pesona dan gairah hidup yang baru beberapa detik lalu direkamnya dari pohon-pohon kelapa di seberang lembah, kini berpindah sempurna ke tubuh Lasi. Sama seperti pohon-pohon kelapa yang selalu menantang untuk disadap, pada diri Lasi ada janji dan gairah yang sangat menggoda.

Pada Lasi terasa ada wadah pengejawantahan diri sebagai lelaki dan penyadap. Pada diri istrinya juga Darsa merasa ada lembaga tempat kesetiaan dipercayakan. Dan lebih dari pohon-pohon kelapa yang tak putus meneteskan nira, Lasi yang sudah tiga tahun menjadi istrinya, meski belum memberinya keturunan, adalah harga dan cita-cita hidup Darsa sendiri.  . . . .

 Lasi tak meneruskan kata-katanya karena tiba-tiba suasana berubah. Darsa memandang Lasi dengan mata berkilat. Keduanya beradu senyum lagi. Darsa selalu berdebar bila menatap bola mata istrinya yang hitam pekat. Seperti kulitnya, mata Lasi juga khas; berkelopak tebal, tanpa garis lipatan. Orang sekampung mengatakan mata Lasi kaput. Alisnya kuat dan agak naik pada kedua ujungnya. Seperti Cina. Mungkin Darsa ingin berkata sesuatu. Tetapi Lasi yang merasa dingin masuk ke bilik tidur hendak mengambil kebaya. Dan Darsa mengikutinya, lalu mengunci pintu dari dalam. Keduanya tak keluar lagi. Ada seekor katak jantan menyusup ke sela dinding bambu, keluar melompat-lompat menempuh hujan dan bergabung dengan betina di kubangan yang menggenang. Pasangan-pasangan kodok bertunggangan dan kawin dalam air sambil terus mengeluarkan suaranya yang serak dan berat. Induk ayam di emper belakang merangkul semua anaknya ke balik sayap-sayapnya yang hangat. Udara memang sangat  dingin.

Dan Tohari seakan benar-benar hadir menyaksikan sendiri semua pelaku memainkan perannya. Dalam hampir semua novelnya seperti yang saya sebut di atas, Tohari bercerita sebagai pihak yang mengalami kejadian dalam cerita. Dengan gaya bertutur yang khas seperti itu, Tohari berlaku sebagai si maha tahu semua karakter manusia yang dibangunnya sendiri. Dengan kata lain, Tohari tidak bertindak seperti seorang pewarta yang memberitakan sebuah kejadian, tapi dia berlaku seakan-akan dia sendiri sang pemain, dialah pelaku utama cerita-ceritanya sendiri.

Demikian juga dalam novelnya yang lain. Kubah misalnya. Bagaimana perasaan Karman saat baru pulang dari pembuangan di Pulau Buru. Sikap dan gerak-gerik Karman ketika baru saja dibebaskan dan betapa ia terkejut mendapati keadaan sekitar yang sudah berubah. Semuanya di lukiskan Tohari dengan sangat memikat, sederhana dan mudah diikuti nalar pembaca.

Karman duduk di atas sebuah tonjolan akar. Di sampingnya ada gulungan kertas yang berisi kain sarung, dan masing-masing selembar baju dan celana tua. Itulah semua hartanya yang ia bawa kembali dari Pulau B. Angin bergerak ke utara menggoyangkan daun-daun tanaman hias di halaman Kabupaten. Seorang perempuan muda berjalan dan melintas di hadapan Karman. Alisnya, matanya, sangat mengesankan. Oh, tungkainya enak dipandang. Dan bibirnya. Bibir seperti itu gampang mengundang gairah lelaki. “Mungkin dia seorang guru sekolah,” pikir Karman yang merasa jantungnya berdebar lebih keras. “Bila guru secantik itu, setiap murid lelaki akan betah tinggal di kelas.” Oh, Karman tersenyum. Dan kaget sendiri ketika menyadari kelelakiannya ternyata masih tersisa pada dirinya.

Sedangkan dalam Di kaki Bukit Cibalak, kita bisa merasakan napas Pambudi, si tokoh utama dengan perangainya yang suka menolong namun tidak berdaya menghadapi kerasnya kekuasaan aparat desa.

Terkadang Pambudi bertanya kepada diri sendiri, mengapa ia tidak berbuat seperti Poyo, teman sejawat dalam pengelolaan lumbung desa itu. Poyo hidup dengan sejahtera bersama istri dan anak-anaknya. Rumah mereka sudah ditembok. Belum lama ini Poyo membeli sebuah sepeda motor. Pambudi tahu persis mengapa sejawatnya bisa memperoleh semua itu. Ia bekerja sama dengan Lurah, misalnya memperbesar angka susut guna memperoleh keuntungan berton-ton padi. Atau mereka bersekongkol dengan para tengkulak beras dalam menentukan harga jual padi lumbung koperasi. Dengan cara ini saja mereka akan mendapat keuntungan berpuluh ribu rupiah, karena mereka dapat mencantumkan harga penjualan semau mereka sendiri, dan dari tengkulak padi mereka mendapat semacam komisi.

Pambudi tahu, sama sekali tidak sukar berbuat demikian karena badan koperasi itu tanpa pengawasan, apalagi penelitian. Dan, kebanyakan penduduk Tanggir adalah anak cucu kaum kawula. Mereka nrimo, sangat nrimo.

Betapa piawai Tohari melukiskan suasana batin tiap karakter orang-orang dusun dalam kisahnya. Kalau kita mau membelahnya satu persatu pasti ruangan ini tak mampu menampungnya.

Akhirnya saya hanya mampu mengatakan betapa Ahmad Tohari begitu menguasai alam pikiran masyarakat bawah, wong ndeso,  yang menjadi tokoh sentral dalam tiap ceritanya.

Menulis Cerita, Butuh Kesabaran

Pekan lalu, ketika saya sedang memberi makan ikan-ikan di empang, saya teringat kata-kata seorang penulis buku pembimbingan menulis. Intinya kira-kira begini:  Kalau kita melakukan sesuatu dengan tekun, telaten dan terus-menerus pasti akan membuahkan hasil yang sempurna.

Menulis butuh kesabaran. Butuh waktu latihan mencurahkan ide dan pikiran ke atas kertas. Berkali-kali merumuskan kata merangkai kalimat. Demikian juga untuk mendapatkan ikan-ikan yang gemuk  ia harus diberi makan setiap hari bahkan setiap jam dengan makanan pilihan, menjaga air agar tetap steril. Semua perlu kita lakukan kalau kita ingin usaha kita membuahkan hasil.

Akan tetapi meski panduan cara menulis yang baik sudah ratusan kali ditulis orang, masih sedikit dari kita yang mau melakukannya. Apalagi dengan tekun dan telaten. Merawat kesinamnbungan semangat menulis memang berat. Ia membutuhkan sesuatu yang sebenarnya  sudah tertanam lama dalam kesadaran setiap manusia: bakat dan kemauan keras untuk menjadi penulis yang baik.

Ketika sedang membaca sebuah novel kadang saya  berpikir  alangkah cerdasnya si pengarang  menyusun plot cerita sehingga kita larut dalam cerita yang dibuatnya.  Itu pula yang saya rasakan ketika  membaca salah satu novel Mario Vargas Llosa : Quien Mato a Palomino Molero? (Siapa Pembunuh Palomino Molero?

Syahdan tersebutlah dua petugas kepolisian di Talara bernama Letnan Silva dan Lituma yang menyelidiki kematian seorang penerbang muda. Palomino Molero namanya. Sebuah proses kematian yang sangat mengenaskan. Pemuda itu kedapatan mati tergantung pada sebatang pohon dekat hutan. Puluhan burung gagak  nyaris mencabik-cabik tubuh pemuda itu sebelum ditemukan oleh seorang bocah lelaki dan melaporkannya  kepada Silva dan Lituma.

Dengan itu Silva dan juga Lituma memulai penyelidikannya.  Meski menurut saya, alur penyelidikan yang dilakukan sangat panjang,  berbelit dan berputar-putar sehingga hasilnya juga tak kunjung jelas tapi semua proses yang dilakukan dengan mengasyikkan, agak konyol dan absurd.

Yang menarik bagi saya bukanlah proses penyelidikan atas kematian Palomino itu yang menurut kebanyakan pembaca pasti melibatkan seorang perwira  berpangkat kolonel di Angkatan Udara. Lelaki yang tak lain adalah ayah kekasih  pemuda yang tewas itu . Yang justru memantik rasa penasaran saya adalah tingkah laku Lituma. Suasana batinnya sepanjang novel ini serta pandangan-pandangan hidupnya yang kadang-kadang terasa aneh dan konyol bagi pembaca.

Salah satu adegan yang paling melekat dalam benak saya ketika Silva si atasan dan Lituma si bawahan sedang mengintip Dona Adriana mandi di laut. Dona Adriana adalah perempuan gemuk yang sudah bersuami. Bagi Lituma Dona adalah perempuan yang memuakkan. Parasnya tidak elok, ditambah postur tubuhnya yang tidak proporsional. Tapi tidak bagi Letnan Silva. Menurutnya perempuan itu adalah bidadarinya. Impian dan fantasi-fantasi berahinya selama ini.

 “Penglihatanku pasti kurang bagus” kata Lituma sambil terus mengamati Dona melalui teropong. “Atau imajinasiku yang kurang bagus Letnan”.

“Bangsat kau!” hardik Letnan Silva sambil merampas kembali teropongnya. “Aku sebaliknya, bisa melihatnya seperti ia sedang dipajang” Letnan Silva penuh rasa kagum pada tubuh perempuan yang mereka saksikan dari balik sebongkah batu itu.

Ketika Dona mulai membuka pakainnya lapis demi lapis selalu diikuti dengan gumam kekaguman oleh Letnan Silva.

“Jangan lihat sampai habis begitu” Letnan mengomelinya sambil merampas kembali teropongnya. “Sesungguhnya babak terbaiknya baru berlangsung sekarang, waktu ia masuk air, sebab anderok itu lengket ke badannya dan jadi transparan. Ini bukan pertunjukkan buat tamtama, Lituma. Cuma untuk Letnan dan para atasannya”

Kepandaian menyusun cerita merupakan hasil olah pengalaman selama puluhan tahun. Mario Vrgas Llosa adalah salah satu yang terbaik. Tak heran jika ia diganjar nobel sastra tahun 2010.

Saya kembali memandang ikan-ikan dalam empang. Empang yang saya buat sendiri dengan susah payah. Dan  saya membayangkan memanen ikan-ikan gemuk yang saya rawat selama beberapa waktu. Tanpa henti tanpa jeda sehari jua.

Catatan Pinggir, Mengasah Kreatifitas

Entah kenapa tiap kali membaca Catatan Pinggir Goenawan Mohamad saya merasa bisa terbang ke mana saja, melintasi benua-benua yang luas. Tak ada lagi batas geografis negara  lain. Semuanya serasa berada dalam sapuan pandangan maupun lintasan pikiran yang melampui batas teritorial manapun.

Catatan Pinggir juga membuat saya bisa melintas di segala zaman. Ide dan pemikiran orang-orang besar sejak zaman batu sampai zaman komputer tablet bisa bersanding dengan manis dan dibahas dalam persepsi serba ragu sehingga membuka segala kemungikinan penafsiran yang  lain sama sekali.

Kelebihan Catatan Pinggir adalah dia tidak pernah sampai pada kesimpulan yang final sebagaimana umumnya para ahli ketika membahas suatu masalah. Hampir semua Catatan Pinggir yang pernah saya baca justru berakhir dengan pertanyaan-pertanyaan yang mengusik nalar berpikir kita. Pendek kata, Catatan Pinggir membuat kita kembali mempersoalkan hal-hal yang selama ini dianggap sudah baku. Apapun tema yang diangkat Goenawan dalam Catatan Pinggir baik agama, politik, ekonomi, seni dan budaya akan sampai pada kesimpulan seperti itu: ambigu, bahkan kadang tampak sangat skeptis.

Catatan Pinggir (setidaknya bagi saya sendiri) justru menjadi renungan mendalam atas semua persoalan yang timbul di sekitar kita. Dengannya kita akan selalu dihadang sejumlah pertanyaan sebagaimana Goenawan bertanya.

Kemampuan Goenawan mengusik cara pandang kita terhadap sebuah persoalan semakin mendapatkan momentum karena Goenawan demikian piawai menggunakan bahasa bergaya sastra yang sangat plastis, bersayap dan sekali lagi, ambigu. Ini membuat pikiran kita terusik dan kitapun jadi bertanya terus menerus.

 Karena saya termasuk penggemar militan Catatan Pinggir, saya merasakan pengaruh yang kuat dalam tulisan-tulisan saya kemudian. Dan ini seperti tidak bisa saya hindari. Semakin sering saya membaca Catatan Pinggir semakin kuat daya pikatnya melekat dalam sanubari dan alam kesadaran saya selaku penulis. Dan saya tidak merasa malu mengakuinya. Terus terang bakat menulis saya terasah setahap demi setahap berkat bantuan Catatan Pinggir yang sampai sekarang sudah terbit 10 edisi itu.

Saya juga mengakui kalau mengoleksi 10 edisi Catatan Pinggir sama juga kita menyimpan sebuah perpustakaan besar dengan ribuan koleksi buku dari berbagai disiplin ilmu

Santiago, Lelaki Tua yang Memikat

Dari Novel The Old Man and The Sea
Dibandingkan novel-novel Ernest Hemingway lainnya, barangkalai The Old Man and The Sea adalah yang paling pendek, paling ringkas. Tapi dalam beberapa ulasan baik di media cetak maupun media online, saya membaca bahwa inilah novel terbesar Hemingway. Sebuah komentar yang saya pernah baca mengatakan kurang lebih begini: Inilah pencapaian tertinggi seorang Hemingway dalam dunia kesusastraan.

Bagi anda yang belum membaca novel ini pasti akan mengerutkan dahi, bertanya-tanya: sebegitu hebatkah The Old Man dalam karir pemenang Nobel Sastra itu?

Bagi saya jawabannya tentu ya. Dan bagi saya juga, kebesaran The Old Man bukan pada komposisi atau gaya bercerita Hemingway yang memang selalu mengundang rasa penasaran pembacanya. Saya justru melihat betapa seorang lelaki tua seperti Santiago bisa memainkan perannya dengan sangat memikat.

Santiago adalah seorang penggemar baseball. Ia selalu mengikuti perkembangan tim kesayangannya melalui surat kabar yang dibawa seorang bocah lelaki, kawan akrab Santiago di sebuah pantai kecil di Kuba. Meski ia sudah tua ( terjemahan novel ini berjudul Lelaki Tua dan laut) tetapi semangatnya dalam mempertahankan diri ketika melawan seekor ikan marlin besar mungkin belum bisa disamai oleh nelayan manapun.

Sikapnya yang tenang dan tanpa ambisi untuk membunuh makhluk lain, kendati terhadap seekor ikan sekalipun membuat kita berdecak kagum. Segala tindak tanduk serta suasana batin Santiago selama beradu kuat dengan si marlin digambarkan dengan sangat realistis. Saya seakan bisa melihat setiap gerak-gerik Santiago bahkan sampai ia menarik dan menghembuskan napasnya sendiri. Saat ia mengumpat kepada dunia, dan keluhannya kepada hidup. Juga lagaknya yang menggemaskan saat berbicara dengan si ikan. Bahkan ketika ikan marlin tangkapannya selapis demi selapis dirampas ikan hiu, Santiago tidak ambil peduli. “Syukurlah karena dengan begini, beban saya rasanya semakin berkurang” katanya enteng.
Dan dari semua kejadian selama di perahu itu, saya terkesan pada satu ucapannya “Bahwa manusia bisa dikalahkan tapi tidak bisa ditundukkan”

Santiago memang sudah tua, tetapi semangatnya melebihi anak muda yang paling kuat sekalipun. Barangkali itulah moral cerita yang hendak disampaikan Hemingway kepada kita. Bahwa selama manusia hidup, semangat tidak boleh meredup.
Begitulah.

Keadilan, Betapa Absurd

Marginalia Novel To Kill A Mockingbird oleh Harper Lee

Atticus Finch adalah seorang pengacara tua yang bosan dan capek. Dan sabar. Lelaki ini mencintai keadilan sampai ke tulang sum-sumnya. Keadilan katanya harus tetap tegak meski dalam situasi yang paling getir. Dan Atticus mengalaminya sendiri dengan rasa nyeri sampai ke ulu hati.

Atticus tinggal di kota kecil, Maycomb namanya, sebuah kota yang terasa sebagai puing-puing artefak masa lalu ketika rasialis masih  berkecamuk begitu kuat, ketika orang kulit putih menganggap orang hitam- orang negro bukanlah manusia sepenuhnya. Di Maycomb, Atticus lah pengacara kulit putih pertama yang melihat orang negro sebagai manusia secara utuh.

Pengadilan menunjuk duda dua anak ini menjadi pembela Tom Robinson seorang lelaki negro yang dituduh memperkosa gadis kulit putih bernama Mayella Ewel, anak Bob Ewel. Dan ini di Maycomb, yang semua warganya seperti bersekutu meluluhlantakkan kemanusiaan orang negro. Beberapa lelaki setempat berusaha menculik Tom di penjara, mungkin  untuk membunuhnya. Tapi Atticus bisa mencegah semuanya terjadi.  Atticus bersikukuh, harus ada pengadilan untuk Tom meskipun hasilnya nanti sudah bisa diduga. Tom sudah divonis bersalah sebelum disidang.

Ketika anak lelakinya, Jem bertanya dengan rasa sesal yang memuncak mengapa hukum bisa tak adil seperti itu. Atticus menjawab bahwa kondisi masyarakat dimana hukum berlaku saat itu memang demikian. Tapi Atticus tak mau putus asa.

“Dalam hukum” kata Atticus pula, “Terdapat istilah bisa disangkal, tetapi menurutku seorang terdakwa berhak mendapat bayangan keraguan. Selalu ada kemungkinan semustahil apapun bahwa dia tak bersalah”

 Keadilan. Atticus dengan kata lain ingin mengatakan setiap insan tidak boleh menuduh seseorang melakukan kejahatan sebelum divonis oleh pengadilan. Kita lebih mengenalnya dengan asas Persumption of Innocens, praduga tak bersalah. Dan bahwa keadilan harus bisa berdiri tegak dari sisi manapun kita memandangnya. Dari manapun kita berdiri. Baik oleh orang kulit putih maupun si negro.

Tom memang akhirnya disidang. Meski Atticus bisa membuktikan kalau Tom tak bersalah, tapi juri berpendapat lain. Para juri yang semuanya orang kulit putih Maycomb memutuskan lelaki itu harus menjalani hukuman matinya. (*)

Karmin, Pejuang atau Penghianat?

Marginalia atas Novel Perburuan Karya Pramoedya Ananta Toer

Hidup manusia ditakdirkan untuk mengalami kekalahan sebentar menuju kemenangan di garis akhir. Demikian kesimpulan Hardo sang tokoh utama novel Perburuan karya Pramoedya Ananta Toer yang sangat terkenal itu.

Dengan kacamata  itulah Hardo meramal dengan tepat nasib Nippon yang sedang berkuasa di  Indonesia saat itu. Bahwa suatu ketika kelak Jepang pasti akan sampai pada titik kekalahan.

Dalam novel yang  ditulis tahun 1950 dan bersetting jaman Jepang ini,  Pram dengan cerdas meramu rasa nasionaisme kebangsaan para tokohhya dalam dialog-dialog bergaya drama yang memukau. Tanpa menunjukkan secara langsung apa dan bagaimana tiap karakter menjalankan perannya, pembaca akan segera tahu dan bisa menarik kesimpulan sendiri mengenai seluk beluk dan suasana batin masing-masing tokoh dalam cerita tersebut.

Hardo umpamanya. Lelaki ini rela menjadi gelandangan, pengemis demi melihat bahwa suatu ketika nanti akan datang juga hari kemenangan yang diimpikan itu: kemerdekaan. Hanya itulah yang membuat lelaki bertanda bekas luka samurai di lengannya ini bisa bertahan dari kejaran Nippon terus-menerus. Sikapnya yang keras terhadap ayahnya sendiri bekas Wedana, juga rasa rindu pada kekasihnya Ningsih bisa ditanggungnya dengan tabah.

Di lain pihak, Karmin, kawan akrab Hardo justru  memilih menjadi Shodanco, (Komandan Peleton) Bala Tentara Dai Nippon karena pertimbangan agar bisa melindungi teman-temannya dari kejaran Jepang. Tapi apa lacur, Hardo dan kemudian seluruh rakyat sudah kadung menaruh rasa benci yang demikian besar kepadanya. Bahwa Karmin adalah seorang penghianat. Bahwa  Karminlah bersama Shodan yang dipimpinnya yang mengejar serta berusaha menangkap Hardo dan kawan-kawan seperjuangan, antara lain Dipo dan Kartiman dan berencana menyerahkan mereka semua kepada Jepang.

Tapi benarkah Karmin memang penghianat?  Lagi-lagi Pram  dengan lihai mengecoh pembacanya. Pram memutar alur pikiran kita sedemikian rupa hingga pada akhirnya kita bertanya-tanya benarkah Karmin penghianat?  Pram tidak memberi kesimpulan tapi membiarkan imajinasi kita sendiri yang bekerja lalu memutuskan bagaimana seorang Karmin hadir dalam benak pembaca.

Dengarlah kata-katanya ketika lelaki itu bertandang ke rumah Ningsih untuk memeriksa keterlibatan perempuan itu dalam pelarian Hardo.

“Alangkah sulit usahaku kali ini dalam melindungi Mas Hardo dan kawan-kawannya dalam mengoproyokan ini, mereka tak mau tahu. Ya begitulah sangkaku, mereka tak akan mau tahu bahwa aku berbuat sebagai itu”

Dan sikap Karmin  kemudian adalah  antiklimaks atas tuduhan bahwa dia seorang penghianat. Secara kesatria Karmin menyerahkan kepalanya sendiri untuk dipenggal orang banyak. Karmin dengan tegas meminta kepalanya dipenggal, tapi orang-orang akhirnya mundur atas perintah Hardo. (**)

Terima Kasih Gramedia

Pertengahan bulan lalu, saya mendapat informasi dari penerbit besar Indonesia PT Gramedia Pustaka Utama (GPU), Jakarta yang menyatakan bahwa naskah novel saya berjudul Sonata untuk Liana (Secercah Kisah Anak-Anak Bajo) telah dinyatakan lolos seleksi Tim Editor Fiksi  GPU. Naskah tersebut saya kirim sekitar bulan Nopember 2011 lalu. Memang lama menunggu tapi kalau semua pekerjaan kita niatkan dengan baik dan sabar maka hasilnya pun pasti akan baik.

Informasi tersebut membuat saya senang sekaligus terharu lantaran saya masih dalam kategori pemula dalam dunia penulisan novel. Apalagi  Sonata untuk Liana adalah novel pertama saya. Sebelumnya saya adalah penulis opini di media cetak lokal seperti Kendari Pos, Kendari Ekspres dan Media Sultra.

Semula saya tidak begitu yakin naskah tersebut akan lolos lantaran banyaknya komentar teman-teman penulis di media online yang menyatakan bahwa, penerbit besar seperti Gramedia sangat selektif memilih naskah yang akan mereka terbitkan. Namun saya hanya berpegang pada prinsip sederhana : Kalau kita terus belajar dan berusaha pasti bisa. Begitulah.

Lolosnya naskah novel saya tersebut membuat saya kian tertantang untuk terus menulis novel. Tanggal 30 Agustus lalu (bertepatan dengan deadline) saya juga telah mengirim naskah novel  berjudul Tapak Kaki Terakhir  pada panitia Lomba Menulis Novel Dewan Kesenian Jakarta 2012.  

Bagi kawan-kawan penulis novel pemula seperti saya  yang mungkin naskahnya pernah ditolak, janganlah berkecil hati. Teruslah  menulis dan menulis. Kenapa? Karena menulis tidak perlu membayar.  Sebelum melegenda seperti sekarang, penulis besar Pramoedya Ananta Toer saja puluhan kali tulisannya ditolak oleh penerbit.

Sekarang banyak penulis, terutama pemula yang menerbitkan novelnya sendiri. Istilahnya Self Publishing. Saya salut dengan usaha-usaha mereka. Namun saya tidak tertarik dengan cara demikian. Alasaannya sederhana : tidak ada yang akan mengoreksi, menilai dan memberi masukan terhadap naskah kita.  Sementara penerbit-penerbit besar, mereka sudah memiliki standar baku  mengenai naskah yang bagus atau yang jelek.

Terima kasih  pada Gramedia yang telah memberi saya motivasi untuk tetap menulis novel.

Pekerja Pers

Banyak Istilah Sama Jua Artinya
Wartawan seperti pemulung, mengais dan mengumpulkan rupa-rupa kejadian dan merangkainya menjadi sebuah cerita. Sebuah fakta. Untuk di jual.

Wartawan seperti buruh bangunan, bekerja seharian dengan upah yang belum tentu memenuhi standar UMR. Kalau lagi banyak order kerjaan di tambah dan terjadilah lembur. Persis seperti di bangunan. Makanya, dulu wartawan diasosiasikan sebagai kuli tinta. Seperti kita tahu, kuli di manapun juga adalah strata pekerja mirip kelas paria dan sudra dalam agama Hindu. Sebuah pekerjaan sekasar-kasarnya pekerjaan kasar.

Tapi mereka tak pernah mengeluh, baik diam-diam lebih-lebih secara terang-terangan. Mereka hanya bekerja, bekerja, mengais, meliput remah-remah kejadian yang bermacam-macam untuk kepentingan pembaca dan pelanggan esok harinya.

Tapi mereka bukanlah kuli biasa. Mereka tak bisa dianggap sepele. Saya pernah dengar ada sebuah acara kebesaran pemerintah diundur gara-gara wartawan terlambat hadir. Sebuah pertanda bahwa mereka bisa juga menentukan sukses tidaknya sebuah kegiatan.

Sebuah kelompok unjuk rasa yang semula berdemo dengan tenang tiba-tiba menjadi beringas lantaran kehadiran wartawan tv nasional untuk meliput demo mereka. Semakin banyak kamera menyorot pendemo, makin beringaslah kelompok pengunjuk rasa dibuatnya. Mungkin para pendemo memang sengaja ingin diliput agar masuk tv dan jadi berita heboh. Ada ada saja.

Baiklah.
Secara individu atawa personal ada beberapa wartawan atau jurnalis atau apapun istilahnya, di Sulawesi Tenggara masih memegang teguh idealisme jurnalistik. Namun tak kurang pula yang tidak sanggup menahan godaan baik godaan berkelebihan yang identik kesenangan maupun godaan kekurangan yang identik dengan kepapaan. Itulah realita.

Banyak teman-teman saya yang kini telah menjadi wartawan hebat. Tentu berkat keuletan dan kegigihan mereka dalam bekerja. Ada yang sudah bikin buku. Ada pula yang menjadi anggota parlemen di daerah. Dan sebagainya dan seterusnya.

Sejuta Baliho di Kota Lulo

Ketika papan reklame, spanduk dan baliho terbentang sepanjang jalan, untuk apakah gerangan dia dipajang? Apakah untuk memuaskan syahwat pandangan semata? Atau ada tujuan lain selain memperburuk tata kota?

Sebuah spanduk, sebuah iklan apalagi baliho pada galibnya juga mengandung suatu maksud yang terang dan jelas: sebagai sarana pernyataan kehadiran sebuah fenomena. Bahwa saya telah hadir di hadapan anda, titik. Soal apakah anda membeli atau tidak itu soal lain. Yang penting kehadiran itu sendiri.

Spanduk dan baliho oleh karena itu membawa sebuah misi suci yakni deklarasi kehadiran diri (kalau menyangkut  orang) atau kehadiran sebuah produk teranyar umpamanya sampo dan sabun mandi atau iklan rokok (kalau menyangkut benda).  Sengaja atau tidak, baik orang maupun benda pada akhirnya bersekutu menjual diri sendiri di hadapan orang banyak.

Sebagai sebuah kota yang hendak beranjak maju, Kendari terasa kian sumpek lantaran kehadiran para baliho atau papan iklan itu. Mereka  berdiri menghadang  laksana bala tentara  planet  Mars yang mengepung kota.  Tak heran bila di setiap sudut jalan kita akan menemukan beberapa baliho dipasang berhimpitan seakan berlomba memperebutkan ruang kecil  yang telah  sesak oleh papan iklan niaga.

Pada akhirnya kita dibuat bingung olehnya.  Makin lama makin  kabur jarak antara kepentingan yang diusung pada sehelai  kain plastik tercetak itu. Apakah si Pulan sedang berkampanye? Atau apakah  si Badu mau jadi anggota legislatif? Atau mengapa si Bejo menulis kata-kata begitu rupa? Maksud tersebut makin tak jelas bila menyimak kata-kata yang tertera dalam baliho mereka.  Ada yang lucu. Ada pula yang aneh dan tak sedikit yang membikin kening berkerut.  Umpamanya  ini

 “Rumah Makan Anu . . . . Cabang Makassar”.  Aneh.  Sejak kapan Kota Kendari berubah nama menjadi Makassar?  Pelajar sekolah dasar sekalipun kalau mengerti bahasa Indonesia pasti akan menertawakan kata-kata itu:  Cabang Makassar  tapi berada di Kota Kendari. Aneh bukan? Pemilik rumah makan itu (entah siapa dia) mungkin hendak membanggakan  luasnya cabang  usaha yang dia miliki. Tapi yang terjadi malah salah kaprah yang parah.

Pemilik rumah makan itu seharusnya belajar dari penamaan berjenjang  kepengurusan partai politik. Di Jakarta ada DPP (Dewan Pimpinan Pusat) di provinsi ada DPD (Dewan Pimpinan Daerah) dan di kabupaten ada DPC (Dewan Pimpinan Cabang).  Dalam dunia kewartawanan juga dikenal kepengurusan bertingkat. Ada PWI Pusat  Jakarta dan ada PWI Cabang Kendari. Rumah makan itu mungkin memang berpusat di Makassar dan membuka cabang di kota lain termasuk Kendari. Maka seharusnya ditulis : Rumah Makan Anu Cabang Kendari. Begitu simpel, begitu sederhana sebenarnya.

Contoh lain lagi.

Ada seorang lelaki memasang baliho yang sarat kata-kata namun tak punya daya pikat saat orang membacanya. Baliho berukuran jumbo itu akhirnya mirip sebuah koran raksasa. Dan orang tak bisa membacanya sambil lalu saat berkendara. Orang yang hendak membaca dan mengerti maksud baliho itu harus memarkir kendaraannya lebih dulu  lalu membaca semua kata dalam baliho itu dengan seksama. Menurut saya, inilah cara paling primitif menyampaikan pesan dengan maksud agar mudah dipahami  orang.

Yang makin membuat miris kita semua adalah para pemasang baliho itu yang  masih berpikir seperti orang zaman dulu. Mereka masih menganggap warga masyarakat seperti sekumpulan domba yang bebal dan dungu  yang mudah tertarik pada hijauanya rumput  yang semu. Mereka berpikir bahwa masyarakat dengan mudah dapat dibodohi warna-warni gambar dan barisan kata-kata yang bukan saja tak jelas maknanya tetapi juga sudah begitu basi kedengarannya. Namun orang-orang masih juga memasang baliho sembari menepuk dada dan memuji kehebatan diri sendiri.

Tapi tak apalah. Itu kan menyangkut hak orang juga. Lagi pula itu kan duit dia sendiri.  Lalu untuk apa kita ikut campur?  (##)

foto diambil di sini

HUT Sultra Dalam Konteks Masa Kini

Sulawesi Tenggara adalah provinsi yang unik. Daerah bergelar Bumi Anoa ini dikatakan unik lantaran wilayahnya yang terdiri dari dua jazirah besar yang terpisah yakni daratan dan kepulauan. Sejak kelahirannya 27 April 1964 atau empat puluh delapan tahun yang lalu, peta seperti ini telah terbentang begitu rupa di depan kita. Dan gambaran geografis macam itu terus melekat dalam benak khalayak masyarakatnya hingga kini.

Yang mengagumkan adalah proses percampuran identitas daratan dan kepulauan itu ternyata tidak menimbulkan pergesekan yang kasat mata. Perpaduan  yang terjadi begitu lama malah menimbulkan kuatnya rasa kebersamaan di antara anak-anak negeri Bumi Anoa. Pengaruh percampuran demikian makin jelas hingga kini.
Sekarang tak ada lagi sekat-sekat yang memisahkan antara kepentingan orang-orang daratan maupun kepulauan. Semuanya kini sama belaka. Manakala berbicara mengenai kepentingan daerah, semua identitas geografis maupun kultural akan tanggal dengan sendirinya. Meskipun masih ada yang membawa atribut primordial namun hal tersebut bukanlah dalam kerangka menjaga jarak.  Atau minimal tidak membuat kotak-kotak pemisahan yang radikal. Perkembangan zaman yang begitu cepat turut mempengaruhi hilangnya sekat-sekat maupun jarak antara daratan dan kepulauan yang ada selama ini.
Meski demikian, peran pemerintah khususnya pemerintah provinsi juga cukup besar dalam membangun rasa kepercayaan bersama sebagai anak negeri Haluoleo.  Bahwa pemerintah provinsi khususnya Gubernur beserta jajarannya memiliki komitmen tinggi untuk mempersatukan suasana batin masyarakatnya yang tersebar dalam hamparan yang begitu luas dari Larui dan Tolala di Batuputih Kolaka Utara hingga Batuatas dan Pulau Runduma  di Kecamatan Binongko Wakatobi.
Kepedulian akan rasa kebersamaan “duduk sama rendah berdiri sama tinggi” seluruh masyarakat Sulawesi Tenggara telah ditunjukkan Gubernur dalam hal pemindahan pelaksanaan acara HUT Sultra ke kabupaten dan kota secara bergiliran. Kota Kendari sebagai “langganan” lokus acara kini berpindah ke daerah beserta segala akibat yang mengikutinya.
Sebagai seorang egalitarian sejati, Nur Alam tentu telah merasakan apa yang selama ini tersembunyi dalam benak sanubari masyarakat daerah yang berada nun jauh dari ibukota provinsi. Sebuah perasaan yang meminta pengakuan akan eksistensi masyarakat kabupaten dan kota yang selama ini tidak atau belum mendapat kesempatan seperti yang diperoleh Kota Kendari sebagai ibukota provinsi. Memberi peluang dan kesempatan yang sama bagi daerah untuk menggelar kegiatan level provinsi merupakan cerminan sikap egaliter seorang Nur Alam. Sebuah sikap yang menjunjung tinggi persamaan hak dan kesempatan bagi semua pihak.
Dalam kerangka seperti itulah kita harus membaca dan memahami jalan berpikir Gubernur Sulawesi Tenggara Nur Alam yang menggilir pelaksanaan HUT Sultra di kabupaten dan kota.  Hal ini tentu dimaksudkan  untuk memperkuat rasa solidaritas bersama sebagai warga Provinsi Sulawesi Tenggara yang begitu luas cakupan wilayahnya dan begitu banyak ragam suku dan budayanya.  Selain itu, ide untuk megggelar Hari Ulang tahun (HUT) Sultra secara bergilir di kabupaten/kota mengandung beberapa nilai strategis
Pertama, dengan menggilir HUT Sultra seperti ini, semua kabupatendan kota di Sulawesi Tenggara memiliki kesempatan dan kedudukan yang sama dengan Kota Kendari sebagai ibukota provinsi.  Hal ini sekaligus menghapus  hegemoni Kota Kendari  sebagai tuan rumah hampir semua perhelatan kegiatan berskala massif baik tingkat provinsi maupun tingkat nasional.  Dengan begitu image bahwa pemerintah provinsi terlalu Kendarisentris juga akan lenyap dengan sendirinya.
Kedua, melalui HUT Sultra yang dilakukan bergiliran semacam “arisan” seperti itu, daerah akan merasa bahwa kabupaten dan kota juga adalah bagian dari Provinsi Sulawesi Tenggara. Mereka juga adalah anak-anak kandung Bumi Anoa yang sah. Dalam kaitan ini sangatlah tepat ungkapan yang sering disitir gubernur bahwa provinsi adalah provinsinya kabupaten dan kabupaten adalah kabupatennya provinsi.
Ketiga, melalui HUT Sultra di daerah  akan merangsang tumbuh kembangnya perekonomian masyarakat setempat.  Pelaksanaan HUT Sultra di Baubau tahun lalu membawa dampak yang sangat besar yakni menggeliatnya perekonomian lokal. Warung-warung makan kewalahan menerima pesanan. Jalan-jalan yang sebelumnya berlubang langsung ditambal dan dipoles. Hotel, losmen dan penginapan juga tidak mampu menampung jumlah tamu. Banyak rumah penduduk yang kemudian disulap menjadi losmen sementara. Dan itu semua tentu merupakan berkah bagi masyarakat setempat.
Memang ada sinyalemen beberapa kalangan yang menilai bahwa pelaksanaan HUT Sultra di kabupaten dan kota merupakan pemborosan anggaran. Sinyalemen seperti itu tentu sah-sah saja. Akan tetapi jika kita kaji secara mendalam, akan timbul beberapa pertanyaan: Bukankah kegiatan ini dilaksanakan masih dalam lingkup Sulawesi Tenggara? Tidakkah semua dana yang terserap dalam kegiatan itu tetap berputar dalam daerah itu juga? Lalu siapakah yang diuntungkan? Bukankah masyarakat kabupaten juga yang dapat manfaatnya?  Pendek kata, semua dana yang dibawa dari provinsi terserap di kabupaten.
Sebuah kegiatan dapat dikategorikan sebagai pemborosan apabila kegiatan dimaksud tidak mendatangkan manfaat dan nilai tambah sama sekali bagi masyarakat. Contoh paling jelas dalam persoalan ini adalah perjalanan dinas para pejabat ke luar daerah bahkan ke luar negeri. Barangkali ini lebih jelas merupakan pemborosan dibanding manfaatnya bagi masyarakat.
Melalui HUT Sultra kali ini, sudah selayaknya kalau dijadikan sebagai momen evaluasi diri semdiri, khususnya mengenai capaian kinerja yang telah dilakukan maupun peluang dan tantangan yang akan dihadapi di masa datang.
Patut pula dicatat bahwa pelaksanaan kegiatan HUT Sultra dalam konteks zaman sekarang dapat diartikulasikan sebagai sebuah momen penting untuk membangun kesadaran bersama akan pentingnya koordinasi, integrasi dan sinkronisasi antara kabupaten dengan provinsi yang selama ini terkesan dicederai oleh syahwat dan eforia otonomi daerah yang sering ditafsirkan berlebihan oleh kabupaten dan kota. Mengutip ungkapan yang pernah dilontarkan gubernur bahwa otonomi daerah masa kini telah kebablasan. Oleh karena itu, otonomi daerah harus dikembalikan pada relnya semula agar tidak terlalu jauh menyimpang dari  makna otonomi yang sesungguhnya.
Ke depan, diharapkan pemerintah kabupaten dan kota dapat terus seirama dalam mengayun langkah pembangunan menuju kesejahteraan masyarakat Sulawesi Tenggara sesuai kewenangan dan tanggungjawabnya masing-masing.
Akhirnya selamat ulang tahun ke 48 Provinsi Sulawesi Tenggara.

(Tulisan ini telah diterbitkan Harian Media Sultra pada Senin 23 April 2012)

Mari Berpikir Rasional

(Kampus Unhalu Civitas Apakah Dia Gerangan?)

Akhir akhir ini kekerasan begitu dekat di sekitar kita. Ia ibarat hantu yang  tiap saat menyusup dan menelikung relung-relung kesadaran kita sebagai warga masyarakat. Sebagai rakyat Sulawesi Tengara.

Kekerasan, perkelahian, adu fisik, perang tanding atau apapun namanya selalu saja memakan korban di manapun peristiwa kekerasan itu terjadi. Di pasar, di terminal, di pemukiman terlebih lebih di kawasan sebuah perguruan tinggi.

Seperti sudah jamak dimaklumi bahwa kawasan sebuah civitas akademika akan terdiri dari himpunan manusia yang memiliki tingkat kedewasaan berpikir dan menalar sesuatu secara runtut dan rasional. Orang bilang inilah yang disebut sikap ilmiah seorang sarjana atau mereka yang hendak mencapai gelar itu.

Goenawan Mohamad dalam sebuah tulisan di majalah Tempo mengungkapkan nasehat filosofis seorang bijak yang menyatakan bahwa tujuan orang kuliah bukanlah untuk meraih gelar sarjana melainkan agar  terlatih untuk berpikir ilmiah.

Tapi siapa lagi yang mau percaya ungkapan seperti itu sekarang? Di tengah hiruk pikuk gejolak berdarah di kawasan kampus yang nota bene adalah sebuah komunitas ilmiah?

Kita semua sangat prihatin melihat kekerasan demi kekerasan terjadi di kampus Universitas Haluoleo. Seorang kawan saya dari daerah lain pernah mengatakan kepada saya bahwa mahasiswa di Sultra khususnya di Kendari dikenal sangat berani melakukan kekerasan dalam kampusnya sendiri. Terlebih-lebih peristiwa demikian itu selalu saja menjadi santapan media di daerah ini.

Kita menyaksikan di televisi dengan bulu kuduk berdiri sebuah perkelahian antar kelompok di kampus itu beberapa waktu lalu. Ada yang membawa pedang. Ada yang bersenjatakan samurai, busur dan sebagainya. Apakah kita tidak malu keadaan kampus kita yang katanya pabrik para cerdik cendekia itu ditelanjangi begitu rupa di depan jutaan rakyat Indonesia?

Bayangan ideal kita tentang kampus telah berubah. Dulu sebuah kampus dicirikan dengan ramainya segala kegiatan kemahasiswaan yang bersifat positif. Debat terbuka. Latihan orasi ilmiah. Pagelaran seni drama, teater dan sebagainya.

Tapi kini kampus yang sangat kita banggakan itu nama baiknya benar-benar telah di tubir kehancuran. Bahkan masyarakat telah menganggapnya sebagai sarang penyamun, tempat para ninja-ninja bergentayangan. Inilah kenyataan pahit yang harus kita telan.

Yang menjadi kekuatiran saya dan mungkin kekuatiran kita juga adalah terjadinya perubahan paradigma atau asumsi mengenai posisi kampus Unhalu dari civitas akademika menjadi civitas premanika..