Pulau Bokori : Obyek Wisata yang Kian Merana
Desember 29, 2007
Obyek wisata Pulau Bokori tampak semrawut dan tak terurus. Padahal pulau berpasir putih nan eksotis ini adalah salah satu obyek wisata andalan Sulawesi Tenggara. Dalam keadaan tak jelas pengelolanya, pulau ini makin sepi dari para pelancong.
Bokori adalah pulau kecil dengan luas sekitar 2 kilometer persegi. Pulau ini dahulu didiami oleh masyarakat etnis bajo. Pada era Gubernur Alala dikeluarkanlah satu beslit yaitu dicanangkannya pulau tersebut sebagai obyek wisata. Perlahan tapi pasti masyarakat dipindahkan di daratan Konawe (dahulu Kabupaten Kendari) yang sekarang bernama Desa Mekar tepat dihadapan pulau tersebut.
Namun kondisi pulau ini sekarang sangat memiriskan hati. Villa dan bungalow yang dibangun di era Gubernur La Ode Kaimoeddin tampak kusam dan tak terurus. Bahkan sebagian bangunannya banyak yang retak-retak tak tentu warnanya lagi. Sudah banyak yang rusak pula. Yang lebih membuat prihatin adalah kondisi dermaga kayu yang lantainya sudah dicopot dan hilang tak tentu rimbanya. Padahal dermaga ini sengaja dibangun untuk menambatkan kapal atau perahu yang berlabuh di pulau itu. “Lantainya mungkin dicuri orang yang datang kemari” ujar salah seorang warga Desa Tapulaga.
Kondisi inilah yang tampak saat saya mengikuti rombongan Humas Sekretariat DPRD Sultra melakukan tour wisata di pulau itu, beberapa waktu lalu. Di bagian selatan dermaga tampak sejumlah Villa yang tak jelas lagi fungsinya. Sementara beberapa bangunan kecil yang semula berfungsi sebagai kamar mandi juga sangat jauh dari kesan terpelihara. Jangan mencari air tawar di pulau ini, apalagi listrik sebagaimana obyek wisata lainnya.
Pulau Bokori sejatinya berada dalam wilayah kewenangan Kabupaten Konawe. Namun tak satupun tanda-tanda aktifitas pemerintah kabupaten tersebut di pulau ini. Yang ada hanyalah suara ombak dan burung yang kadang singgah di pulau yang dulu padat penduduk itu.
Kasim 27 tahun, salah seorang warga Desa Bokori menuturkan bahwa sejak pulau Bokori tak berpenghuni, tak ada lagi aktifitas wisata di tempat itu. Semua tinggal puning2 beton bekas villa.
Bila ditilik lebih cermat, terbengkalainya Bokori lantaran dua sebab paling sedikit. Pertama, kurangnya perhatian pemerintah terhadap puilau ini. Kedua, sikap masyarakat yang tampaiknya enggan ke pulau itu dengan sejumlah pertimbangan antara lain karena faktor transportasi. Untuk ke Bokori, kita harus menyeberangi pulau itu dengan menggunakan perahu bermesin tempel. Meskipun jaraknya sangat dekat dengan Desa Mekar, namun orang tak mau menempuh resiko itu. Apalagi ombak di sekitar pulau itu memang agak besar.
Maka jadilah Bokori seperti sekarang : merana tanpa pengunjung dan tak jelas siapa yang mengelolanya. Tak mustahil suatu saat nanti pulau ini hanya akan tercatat dalam daftar tempat wisata di Dinas Pariwisata propinsi maupun kabupaten.(**).
Entry Filed under: ARTIKEL. .
2 Comments Add your own
Leave a Comment
Some HTML allowed:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>
Trackback this post | Subscribe to the comments via RSS Feed
Pengelola Blog ini namanja Arsjad Salam. Sedjak dahoeloe hingga sekarang bertempat tinggal di Kendari. Dengan roepa-roepa tjara tetap beroesaha sekoeat daripada tenaga, semampoe bisa teroes menoelis apa sahadja jang dirasa perloe diketahoei orang ramai. Dia orang ini berfikir sematjam penoelis zaman lampaoe jang tadjam dia poenja pena, padahal tidaklah elok benar dia poenja toelisan. Dia orang jang poenja blog ini hanja menoelis biasa sahadja selakoe penoelis lainnja. Menoelis tentang segala matjam warta. Oetama sekali jang boeroek-boeroek, jang miring-miring, yang membikin kita ditjap penoelis jang seronok dan gelaran boesoek lainnja. Pengelola jang mana daripada blog ini masih dalam tahapan belajar sadja lagi, oentoek menghantar kita semoea kepada kepandaijan jang berotak manoesia, berboedi loehoer dan berakhlaq moelia. Marilah kita orang semoea teroes kibarkan pandji-pandji dan semangat blogger jang baik , jang positif zonder sjak wasangka ataoe rasa coeriga terhadap kepada pihak lain. Hendaklah kita orang semoea djangan loepa agar soepaja kita senantiasa berfikir lajaknja orang-orang jang berfikir merdeka.
1.
Arsyad Salam | Desember 29, 2007 at 11:45 am
test comment nih.. hehehehehe
2.
cie2 | Januari 26, 2008 at 1:57 pm
Kemaren sempat praktik lapang disana,..keadaannya sie emnk kayaknya ga layak tuk dijadikan tempat tinggal tau tempat wisata coz hampir semua daratannya penuh air laut klo lagi pasang..,kan ngga amantuH!!!///
emang sie tempatnya canti abizzz,..bagusnya dijadikan tempat penelitian tau tempat praktik lapang bagi mahasiswa dan sekitarnyaLah…Bwat ilmu pengetahuan gtu dEh////
KeYzt