Gedung Kendari Teater
Januari 28, 2009
Dulu Putar Film, Sekarang Putar Caleg

Jika anda adalah warga Kota Kendari pasti tahu yang namanya gedung Kendari Teater. Di tahun 80-an dulu gedung ini merupakan pusat hiburan dan barometer keramaian Kota Kendari. Letaknya yang strategis (tepat di kompleks pelabuhan) menjadikan Kendari Teater sebagai tempat hiburan paling laris dan padat pengunjung. Saat itu Kerndari Teater adalah satu-satunya bioskop layar lebar di Kota ini. Pengunjung membludak, pemilik gedung panen rupiah dari para penonton yang berjubel memberi karcis tanda masuk.
Tapi itu dulu. Sekarang?
Sekarang gedung ini telah beralih fungsi. Dari tempat pemutaranh film menjadi tempat pemutaran baliho para calon anggota legislatif. Dikatakan pemutaran baliho lantaran baliho baliho itu sepertinya digantung secara bergilir. Bulan ini baliho di pulan. Bulan depan baliho si badu dan seterusnya. Maka jadilah gedung Kendari Teater sebagai sarana kampanye para politisi lokal.
Sebenarnya tidak ada yang salah dengan baliho-baliho itu. Keadaan juga yang membuat bekas bioskop ini jadi seperti sekarang.
Gedung ini mulai ditinggalkan orang ketika media informasi dan hiburan mengalami perkembangan yang demikian pesatnya. Perkembangan dunia hiburan yang begitu cepat menjadikan bioskop sebagai tempat hiburan yang tidak lagi masuk perhitungan daftar pilihan tempat hiburan masyarakat. Orang toh bisa menikmati tontonan sekelas bioskop di rumah sendiri dengan membeli televisi layar lebar atau Home Teater . Dengan home teater ini, orang tak perlu lagi berdesakan nonton di gedung.
Di senjakala hidupnya itu, Kendari Teater terus mengalami pukulan hebat, ditinggalkan penonton karena sering memutar film murahan yang obral seks secara vulgar. Bersamaan dengan itu lahir pula bioskop tandingan yang meniru gaya bioskop-bioskop di Jakarta yakni Hollywood Sineplek.
Kendari Teater pun seperti tenggelam ditelan bumi. Kalau tak salah sekarang gedung ini menjadi sebuah pub yang dikelilingi panti pijat. Melihat gedung bekas bioskop ini sungguh seperti kita sedang menyaksikan bangkai kapal Titanic. Setiap kali melihatnya, kita seakan dibawa ke masa silam. Suatu masa ketika bioskop ini masih jaya-jayanya. Ada satpam yang berjaga-jaga. Ada petugas loket yang menjual tiket dan adapula petugas pintu yang mengatur tempat duduk penonton. Dan nun di bagian atas gedung ada operator pemutar film. Entah di mana mereka itu kini berada.
Entry Filed under: ARTIKEL, Aneka, BERITA, BUDAYA, CURHAT, Ragam, Umum. .
3 Comments Add your own
Leave a Comment
Some HTML allowed:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>
Trackback this post | Subscribe to the comments via RSS Feed
Arsyad Salam, Arsyad, orang biasa, rakyat jelata. Arsyad lelaki beristri satu hobi menulis dan membaca... tinggal di Kendari-Sulawesi Tenggara.
Arsyad adalah Humas Sekretariat DPRD. Saat ini bekerja di Sekretariat Daerah Sulawesi Tenggara.. 
1.
pakde | Maret 2, 2009 at 10:49 am
The Uniquely Of Indonesia muncul juga disini ya…ticket masuk nonton Felm caleg berapa ya?
Kreatif nih…dari pada gedungnya polos…kan mending di pasangin baligo caleg….
Jangan2 comingsoon Baligo yang terplilih ya…?
2.
rudi | Maret 7, 2009 at 4:58 am
yah sama juga di tempat saya juga begitu gedung pemutaran bisokop yang kuno udah ditinggal orang, memang eranya udah beda, sekarang orang bisa memutar film dirumah sendiri, kalo nggak ya nonton di 21 studio yg notabene sound dan gambarnya bagus
3.
mang shanny | Mei 4, 2009 at 4:13 am
kalo liat gedung bioskop jadi inget ama alm ayahanda mang, yang merupakan pelopor perkembangan gedung bioskop di Indonesia, sayang perjuangannya dikikis oleh pengaruh teknologi dan kekuasaan dari orang2 berduit jaman pemeriontahan orde baru lalu…..