Ah . . . .Vosmaer Baai
September 8, 2009

Karna banya’nya limbah tertumpah di laut
seperti minyak tanah, solar, oli apa
Kalimat itu sering terdengar di Kendari TV dan sangat populer di masyarakat Kota Kendari beberapa waktu lalu yang di ucapkan seorang lelaki paruh baya dan isinya menanggapi rusaknya Teluk Kendari. Meskipun kalimat itu telah diulang ulang ratusan kali namun tak ada perubahan berarti dalam penanganan kerusakan Teluk Kendari. Apa dan siapa itu Teluk Kendari? Begini ceritanya.
Syahdan tersebutlah seorang lelaki bernama Jan Nicolas Vosmaer. Dia adalah jenderal Belanda yang melakukan ekspansi kekuasaan ke wilayah timur Indonesia, termasuk Sulawesi. Pada tanggal 9 Mei 1831, pria ini tiba di teluk kendari yang saat itu memang belum memiliki nama. Setelah melakukan beberapa kali peninjauan, ia dan pasukannya lantas sepakat memberi nama teluk kendari yang saat itu masih asri dengan namanya sendiri yakni Vosmaers Baai alias Teluk Vosmaer. Inilah cikal bakal ditemukannya teluk Kendari. Bahkan tanggal pendaratan pasukan Vosmaer 9 Mei dijadikan sebagai hari lahir Kota Kendari.
Sejak saat itu, Teluk Kendari telah menjadi ikon Kota ini. Keberadaan Teluk Kendari ditinjau dari sisi sosial sangat bermanfaat bagi masyarakat sekitar khususnya para nelayan yang bisa mencari ikan di area ini. Dengan luas perairan sekitar hampir 18 km2 dan panjang garis pantai hampir 86 km, Teluk Kendari memiliki berjuta potensi yang unik untuk dikelola. Tapi itu dulu, waktu teluk belum lagi mengalami degradasi seperti sekarang. Dulu waktu teluk masih terpelihara, jangankan ikan, warga bisa mengambil hasil laut apa saja di sana lantaran kondisinya masih bagus. Banyak jenis kerang bakau dan kepiting yang selalu dicari masyarakat untuk dikonsumsi.
Sekarang teluk Kendari telah berubah fungsi. Dari tempat mencari hasil laut oleh masyarakat menjadi tempat pembuangan sampah paling besar dan fantastis. Mungkin satu-satunya di Indonesia. Jika melihat kondisi teluk ini sekarang kita akan prihatin karena telah mengalami pendangkalan yang parah.
Perkembangan penduduk dan kemajuan Kota Kendari membawa konsekwensi lain yakni kesemrawutan kota yang kian tak terkendali. Sampah berserakan di mana-mana, drainase tak berfungsi, tata kota yang semrawut dan pemerintah kelihatannya putus asa mengatasi hal ini. Sementara itu, ada pemeo di masyarakat buat apa buang sampah jauh-jauh kalau yang dekat juga ada. Yang dekat tentu saja adalah Teluk Kendari. Pemeo yang sangat menyesatkan.
Memang bukannya tak ada upaya perbaikan sama sekali. Sejumlah Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) telah berupaya menyelamatkan teluk ini dari kehancuran. Namun hasilnya : nol.
Ada sinyalemen beberapa kalangan bahwa percepatan pendangkalan teluk merupakan akibat dari penggundulan hutan yang ada dalam kota. Akibat penggundulan tersebut terjadilah erosi kala hujan turun dan membawa gumpalan tanah dan pasir menuju teluk. Selain itu, sampah yang bertumpuk dalam teluk juga kian memperburuk keadaan. Akibatnya bisa di duga, selain cepat mengalami pendangkalan, teluk juga menjadi pembuangan sampah oleh warga setempat yang tak mau ambil pusing dengan keadaan sekitar.
Melihat krisis Teluk ini sekarang, Pemerintah Kota Kendari mencoba satu solusi yang disarankan banyak pihak yakni pengerukan. Perencanaan sudah dibikin. Anggaran sudah disediakan. Pengerukan telah dilakukan. Tapi lagi lagi terbentur pada ketidak seriusan untuk mengembalikan Teluk Kendari ke zaman Vosmaer. Mesin pengeruk tampak menganggur seperti besi tua yang siap dikilo. Padahal mesin penghisap lumpur itu telah menelan biaya yang tidak sedikit. Dengan kata lain, Pemerintah Kota memang tampaknya tak serius melihat kerusakan teluk ini.
Sekarang sudah saatnya kita semua mengambil langkah ekstrim demi penyelamatan ikon kota tersebut. Selain melanjutkan pengerukan secepatnya, kita juga melakukan penanaman kembali pohon bakau dan mangrove di sekitar teluk serta sosialisasi yang komprehensif kepada masyarakat tentang larangan membuang sampah di teluk ini. Jika tidak maka jangan heran jika nama Teluk Kendari kelak tinggal menjadi dongeng pengantar tidur bagi anak cucu kita.
Dan entah apa kata Jenderal Vosmaer andai melihat kondisi Teluk Kendari sekarang. Mungkin ia juga akan sedih. (**)
Entry Filed under: ARTIKEL. .
Pengelola Blog ini namanja Arsjad Salam. Sedjak dahoeloe hingga sekarang bertempat tinggal di Kendari. Dengan roepa-roepa tjara tetap beroesaha sekoeat daripada tenaga, semampoe bisa teroes menoelis apa sahadja jang dirasa perloe diketahoei orang ramai. Dia orang ini berfikir sematjam penoelis zaman lampaoe jang tadjam dia poenja pena, padahal tidaklah elok benar dia poenja toelisan. Dia orang jang poenja blog ini hanja menoelis biasa sahadja selakoe penoelis lainnja. Menoelis tentang segala matjam warta. Oetama sekali jang boeroek-boeroek, jang miring-miring, yang membikin kita ditjap penoelis jang seronok dan gelaran boesoek lainnja. Pengelola jang mana daripada blog ini masih dalam tahapan belajar sadja lagi, oentoek menghantar kita semoea kepada kepandaijan jang berotak manoesia, berboedi loehoer dan berakhlaq moelia. Marilah kita orang semoea teroes kibarkan pandji-pandji dan semangat blogger jang baik , jang positif zonder sjak wasangka ataoe rasa coeriga terhadap kepada pihak lain. Hendaklah kita orang semoea djangan loepa agar soepaja kita senantiasa berfikir lajaknja orang-orang jang berfikir merdeka.
Trackback this post | Subscribe to the comments via RSS Feed