Jangan Main Pokrol Bambu
Telah dituliskan: Juli 18, 2011 Filed under: Aneka, ARTIKEL, BERITA, BUDAYA, CURHAT, Info Sekilas, Pokok dan Tokoh, POLITIK, Umum 1 Comment »Masyarakat Sulawesi Tenggara khususnya para elit-elit politiknya kini sedang menderita gejala demam. Suhu tinggi dan sering mengigau, ngomong sembarangan tentang kinerja pemerintahan di daerahnya..
Meski cuma gumaman atau tepatnya bualan saat tidur, namun media ternyata merekamnya, menulisnya menjadi santapan pagi penduduk setempat. Orang heboh dan koran pun laku bak kacang goreng.
Maka ramailah edar cerita dari mulut ke mulut mengenai permufakatan tiga tokoh untuk menyatukan kekuatan melawan tokoh lainnya yang sedang duduk di singgasana pemerintahan daerah.
Adapun masyarakat yang juga ikut-ikutan mendengar cerita itu- cerita tentang tiga tokoh melawan satu tokoh-itu bingung bukan buatan. Loh ini apalagi? Ini sebenarnya siapa lawan siapa? siapa membela siapa?
Ada yang bilang katanya pemimpin sekarang tidak berbuat apa-apa. Hanya diam-diam saja. Ada juga yang menagih janji kesejahteraan rakyat di Bumi Anoa. Kritik ini. Kritik itu dan sebagainya dan seterusnya.
Padahal dulu waktu keadaan begitu rupa, saat beberapa tokoh lainnya itu masih berkuasa mereka juga hanya sibuk dengan dirinya sendiri dan abai akan kondisi rakyat kebanyakan. Tidak sedikitpun terlintas dalam benak mereka bahwa perseteruan seperti itu hanya akan membuat masyarakat terkotak-kotak.
Lagi pula perseteruan sepertinya hanya berpusing-pusing pada mereka mereka ini saja. Tentang siapa lawan siapa. Dan bagaimana caranya. Siapa memanfaatkan siapa. Sejak dulu sepertinya hanya mereka saja pemain di lapangan. Sedangkan rakyat hanya jadi penonton. Penonton yang bingung akan kemana haluan daerah ini kelak berlayar?
Kita harusnya sadar sesadar sadarnya bahwa mengkritik orang lain itu mudah saja. Namun marilah kita introspeksi diri apakah dulu waktu kita berkuasa juga telah melakukan hal yang bermanfaat bagi masyarakat? Inilah initinya. Jangan hanya pandai melihat kelemahan orang lain tanpa mau berkaca akan kelakukan sendiri. Ya kelakukan kita saat masih memegang tampuk kekuasaan.
Banyak dari kita hanya pandai bicara, tepatnya membual tentang kekurangan orang lain. Pandai retorika dan berlaku seperti pokrol bambu di zaman Soekarno. Ya pokrol bambu. Sebuah ejekan sinis terhadap ahli pidato hukum yang berlagak seakan akan membela rakyat kecil padahal tidak.
Dan demam pun kian meninggi bersamaan dengan masuknya perseteruan itu pada garis demarkasi hukum. Beberapa pejabat daerah tersangkut kasus hukum secara aneh dan tiba-tiba. Mau tak mau orang lantas menghubung-hubungkan hal itu menjadi satu rangkaian kejadian yang mutatis mutandis alias memiiki kaitan sebab akibat.
Hendaknya kita jangan main pokrol bambu kepada rakyat karena efeknya akan sangat berbahaya.
Haluoleo Pos, Nama Besar Ternyata Bukan Jaminan
Telah dituliskan: Juli 17, 2011 Filed under: Aneka, ARTIKEL, Umum Leave a comment »Sinyalemen Ilham Moehiddin mengenai media cetak lokal ini saya kira sangat tepat. Dalam blognya, Ilham, jurnalis yang pernah bekerja di Kendari ini menyatakan bahwa Koran lokal yang nyaris menjadi rival Kendari Pos ini ternyata kalah bersaing dan tidak laku.
Haluoleo Pos adalah korannya Mahmud Hamundu yang ketika itu menjadi Rektor Universitas Haluoleo. Maka tak aneh bila Koran beroplah 1000-an ini mencomot nama perguruan tinggi yang dipimpinnya itu.
Mengenai sinyalemen Ilham tentang komposisi awak redaksi yang katanya didominasi oleh para akademisi hingga menghabiskan porsi untuk waratawan professional bisa tepat bisa juga kurang tepat. Atau persisnya tidak terlalu tepat.
Dikatakan tepat lantaran seluruh dewan redaksi adalah para akademisi Unhalu. Mahmud rupanya mengakomodir seluruh “orang-orangnya” dalam Koran itu. Wakil Ketua DPRD Sultra Sabaruddin Labamba adalah salah satu manajer ketika Koran ini baru saja terbit di tahun 1998.
Namun ada sedikit perbedaan pada jajaran staf redaksi. Di sana hampir seluruhnya memang adalah pekerja pers. Haludin Ma’waledha adalah jurnalis militan pada zamannya. Sedangkan awak redaksi lainnya memang selama itu telah bekerja di beberapa penerbitan lain. Suhuzu di Sultra Pos. Hainis di Buton Pos. Saya sendiri Arsyad ketika itu baru saja lepas magang dari Nusantara Pos, sebuah tabloid yang telah menjadi legenda media cetak di Kendari.
Namun bagaimanapun juga Ilham memang ada benarnya. Terutama mengenai komposisi dewan redaksi itu. Semua hanya nama belaka tanpa satupun yang aktif berkantor di media ini. Lagi pula tak ada satupun personil yang faham manajemen media. Inilah yang membuat Haluoleo Pos tidak berkembang. Koran ini akhirnya mati dengan sendirinya. Seperti telah dinujum sang khalik.
Alhasil nama besar Haluoleo yang dipakai oleh beberapa lembaga seperti nama Makorem, nama bandara dan tentu saja nama perguruan tinggi negeri di Kendari ini ternyata bukan jaminan keberhasilan Haluoleo Pos. Nama tinggal nama dan tak ada hubungannya sama sekali dengan manajemen media cetak. Akhirnya media itu menemui ajalnya sendiri.
Tapi bagaimanapun juga saya pernah bekerja di sana. Saya pernah merasakan saat-saat genting ditengah malam menjelang batas tenggat terbit alias deadline. Ketika para peliput membuat naskah berita dan menyiapkan fotonya. Semua sibuk. Suara keyboard komputer bersahut-sahutan. Sang Pemimpin Redaksi bolak-balik memelototi komputer para pembuat berita dan langsung mengeditnya saat itu juga. Sebuah kerja marathon yang melelahkan tapi mengasyikkan.
Tapi sudahlah itu tinggal kenangan. Haluoleo Pos rupanya tak berumur panjang. Kalau tak salah pada akhir tahun 2001 dan masuk 2002, media ini mulai sempoyongan. Oleng dan akhirnya mati sendiri.
Kasihan sekali sebenarnya.


KOMENTAR