Mari BerpikirRasional
Telah dituliskan: September 12, 2011 Filed under: Aneka, ARTIKEL, BERITA, BUDAYA, CURHAT, Info Sekilas, Politik Hukum dan Sejarah, Ragam, Umum 1 Comment »(Kampus Unhalu Civitas Apakah Dia Gerangan?)
Akhir akhir ini kekerasan begitu dekat di sekitar kita. Ia ibarat hantu yang tiap saat menyusup dan menelikung relung-relung kesadaran kita sebagai warga masyarakat. Sebagai rakyat Sulawesi Tengara.
Kekerasan, perkelahian, adu fisik, perang tanding atau apapun namanya selalu saja memakan korban di manapun peristiwa kekerasan itu terjadi. Di pasar, di terminal, di pemukiman terlebih lebih di kawasan sebuah perguruan tinggi.
Seperti sudah jamak dimaklumi bahwa kawasan sebuah civitas akademika akan terdiri dari himpunan manusia yang memiliki tingkat kedewasaan berpikir dan menalar sesuatu secara runtut dan rasional. Orang bilang inilah yang disebut sikap ilmiah seorang sarjana atau mereka yang hendak mencapai gelar itu.
Goenawan Mohamad dalam sebuah tulisan di majalah Tempo mengungkapkan nasehat filosofis seorang bijak yang menyatakan bahwa tujuan orang kuliah bukanlah untuk meraih gelar sarjana melainkan agar terlatih untuk berpikir ilmiah.
Tapi siapa lagi yang mau percaya ungkapan seperti itu sekarang? Di tengah hiruk pikuk gejolak berdarah di kawasan kampus yang nota bene adalah sebuah komunitas ilmiah?
Kita semua sangat prihatin melihat kekerasan demi kekerasan terjadi di kampus Universitas Haluoleo. Seorang kawan saya dari daerah lain pernah mengatakan kepada saya bahwa mahasiswa di Sultra khususnya di Kendari dikenal sangat berani melakukan kekerasan dalam kampusnya sendiri. Terlebih-lebih peristiwa demikian itu selalu saja menjadi santapan media di daerah ini.
Kita menyaksikan di televisi dengan bulu kuduk berdiri sebuah perkelahian antar kelompok di kampus itu beberapa waktu lalu. Ada yang membawa pedang. Ada yang bersenjatakan samurai, busur dan sebagainya. Apakah kita tidak malu keadaan kampus kita yang katanya pabrik para cerdik cendekia itu ditelanjangi begitu rupa di depan jutaan rakyat Indonesia?
Bayangan ideal kita tentang kampus telah berubah. Dulu sebuah kampus dicirikan dengan ramainya segala kegiatan kemahasiswaan yang bersifat positif. Debat terbuka. Latihan orasi ilmiah. Pagelaran seni drama, teater dan sebagainya.
Tapi kini kampus yang sangat kita banggakan itu nama baiknya benar-benar telah di tubir kehancuran. Bahkan masyarakat telah menganggapnya sebagai sarang penyamun, tempat para ninja-ninja bergentayangan. Inilah kenyataan pahit yang harus kita telan.
Yang menjadi kekuatiran saya dan mungkin kekuatiran kita juga adalah terjadinya perubahan paradigma atau asumsi mengenai posisi kampus Unhalu dari civitas akademika menjadi civitas premanika..
Menelaah Kembali Hubungan Majikan dan Karyawan
Telah dituliskan: September 5, 2011 Filed under: Aneka, ARTIKEL, BERITA, BUDAYA, Info Sekilas, Ragam, TULISAN DI MEDIA CETAK, Umum 1 Comment »Kasus pembunuhan sebuah keluarga di Kendari25 Agustus lalu cukup menarik perhatian masyarakat kita. Secara serentak seluruh media local maupun nasional menyiarkan kejadian itu secara rinci termasuk kronologis jalannya pembunuhan yang sangat brutal tersebut.
Terlepas dari kehebohan berita itu, kejadian seperti ini sebenarnya sudah sering kali terjadi di tanah air. Di Kendari sendiri kejadian terakhir ini memang agak berbeda lantaran beberapa sebab di antaranya inilah kali pertama kejadian pembunuhan dikarenakan oleh masalah hubungan pekerjaan antara majikan dengan karyawan.
Kasus ini mengingatkan saya pada sebuah kejadian sekitar tahun 1910 yakni pembunuhan seorang tuan kebun di Sumatera dalam roman Skeely-Lulofs yang memukau: Berpacu Nasib di Kebun Karet.Tukimin, seorang kuli kontrak dari Jawa tiba-tiba membunuh majikannya, seorang administrator kebun karet di Ranjah, JoopValendijk, hanya lantaran sebab yang sepele: sang tuan menghardik sikuli agar kembali bekerja di perkebunan.
Seperti itu pula yang terjadi terhadap majikan pemilik toko Planet Elektronik itu. Menurut berita yang saya baca motif pembunuhan yang dilakukan oleh mantan karyawan took tersebut bukanlah perampokan, penodongan apalagi pemerkosaan, melainkan karena dendam kesumat atas perlakuan si majikan kepadanya.
Menurut pengakuan pelaku dirinya sakit hati. “Saya dendam karena sakit hati. Saya pernah dikata-katai oleh bos. Saya tidak terima diperlakukan seperti itu” ujar pelaku (Kendari Pos 26 Agustus 2011 halaman 1-7)
Kasus ini membuat kita berpikir kembali bahwa ternyata memang ada masalah yang tidak beres dan perlu pembenahan segera mengenai hubungan majikan dan karyawan yang bekerja disektor perdagangan khususnya di pertokoan ini. Padahal sector tersebut bukanlah jenis pekerjaan baru di Kota Kendari. Ia hadir bersamaan dengan terbentukanya Kendari sebagai Kota perdagangan dan jasa.
Sejak Kota Kendari tumbuh sebagai kota perdagangan dan jasa, hubungan antara majikan dan karyawan mulai pula terbentuk. Para pedagang yang membuka usaha pertokoan, yang kebetulan didominasi oleh warga keturanan Tionghoa, tentu membutuhkan karyawan untuk menjalankan usahanya itu.
Peluang untuk bekerja pada sector ini kemudian dimanfaatkan oleh masyarakat di daerah sekitar untuk menjadi karyawan pada beberapa usaha perdagangan tersebut. Dan bukanlah hal yang aneh bila kemudian didapati bahwa hamper seluruh karyawan yang bekerja pada sector ini didominasi oleh warga lokal.
Namun saying sekali besarnya peluang tersebut tidak dibarengi tingginya tingkat pendidikan si pekerja itu sendiri. Banyak karyawan toko yang hanya berpendidikan pas-pasan. Ada yang tamat SLTA namun banyak pula yang hanya mengenyam pendidikan SLTP saja.
Rendahnya kualitas SDM pekerja ditambah dengan kurang jelasnya aturan yang mengikat hubungan tersebut menjadikan sector pekerjaan ini sangat rentan menimbulkan masalah. Tidak ada standar yang seragam mengenai gaji, uang makan dan bonus menyebabkan para majikan kebanyakan berbuat sesuka hati terhadap karyawannya. Ini bukan rahasia lagi.
Hal lain yang juga kadang mengusik adalah kurangnya pengetahuan dan wawasan si pekerja terhadap pekerjaannya yang sering membuat para majikan mereka harus turun tangan sampai padahal yang sekecil-kecilnya. Para karyawan terkadang kurang mampu menjalin komunkiasi yang baik dengan pelanggan dan konsumen.
Ada saja konsumen yang keberatan terhadap pelayanan karyawan. Hal inilah yang menyebabkan hubungan karyawan dengan majikan sering memburuk. Tak sedikit pekerja yang dipecat atau diberhentikan lantaran sebab-sebab seperti itu.
Nah berdasarkan asumsi demikian, maka bisa dikatakan bahwa hubungan antara majikan dan karyawan khususnya di Kendari selama ini merupakan hubungan kemanusiaan semata-mata. Dengan kata lain, semuanya tergantung kesepakatan bersama yang kebanyakan memnbuat karyawan pada posisi yang amat lemah. Semuanya tergantung pada sikap para majikan bagaimana menilai kinerja karyawannya masing-masing. Tentu saja dari sudut pandang si majikan.
Padahal dalam sector pekerjaan apapun manakala telah terbentuk sebuah anasir majikan-pekerja dalam sebuah usaha apa saja maka sebaiknya haruslah menggunakan aturan perburuhan. Sekalipun dalam bentuk usaha yang paling sederhana seperti toko misalnya.
Saya tak tahu apakah aturan yang mengatur soal majikan-karyawan yang bekerja di took selama ini memang ada atau tidak. Tapi kalaupun aturan itu ada pasti belum dilaksanakan dengan baik dan konsisten karena banyaknya problem yang timbul di kemudian hari. Kasus pembunuhan yang terjadi baru-baru ini sedikit banyak terjadi karena tidak berfungsinya aturan tersebut.
Terlepas dari semua itu, kasus pembunuhan sebuah keluarga pemilik usaha pertokoan di Kendari dapat menjadi pelajaran buat kita semua khususnya para majikan dalam membangun sebuah hubungan kerja dengan karyawannya. Seorang majikan yang taat hokum akan memperlakukan karyawannya sesuai aturan yang telah dibuat untuk itu.
Kurangnya kesadaran hukum dalam membangun hubungan majikan dan bawahan dalam sebuah usaha kadang-kala membuat para majikan berbuat sekehendak hati terhadap karyawan mereka. Mulai dari kata-kata yang tak menyenangkan bahkan sampai pada penganiayaan sering kita dengar menimpa para pekerja pada sektor ini.
Demikian pula dengan para pekerja, dalam melakukan suatu hubungan kerja dengan pihak user sebaiknya mempelajari lebih dulu tentang segala aturan yang berkaitan dengan hak-hak maupun kewajibannya sebagai pekerja. Dengan demikian ia tidak bekerja buta-buta. Tidak hanya tahu menuntut tapi mengabaikan kepentingan si bos pemilik usaha itu.
Yang lebih penting adalah perlunya mengevaluasi dan memperjelas kembali segala regulasi yang menyangkut hubungan kerja majikan dan karyawan agar semua pihak yang terkait dengan itu menyadari hak dan kewajibannya dalam sebuah kerjasama yang baik serta saling memahami.
Jika hal ini terus dibiarkan, tidak tertutup kemungkinan kasus-kasus kekerasan baik yang dilakukan oleh majikan terhadap karyawan atau sebaliknya ke depan masih akan terus terjadi. Hal ini penting mengingat kejadian serupa sudah sering kita dengar. Ia ibarat api dalam sekam atau bom waktu yang bila tak cepat dijinakkan bisa meledak setiap saat.(**)
ilustrasi yustisi.com




KOMENTAR