Posts filed under 'BUDAYA'
Gedung Kendari Teater
Dulu Putar Film, Sekarang Putar Caleg

Jika anda adalah warga Kota Kendari pasti tahu yang namanya gedung Kendari Teater. Di tahun 80-an dulu gedung ini merupakan pusat hiburan dan barometer keramaian Kota Kendari. Letaknya yang strategis (tepat di kompleks pelabuhan) menjadikan Kendari Teater sebagai tempat hiburan paling laris dan padat pengunjung. Saat itu Kerndari Teater adalah satu-satunya bioskop layar lebar di Kota ini. Pengunjung membludak, pemilik gedung panen rupiah dari para penonton yang berjubel memberi karcis tanda masuk.
Tapi itu dulu. Sekarang?
Sekarang gedung ini telah beralih fungsi. Dari tempat pemutaranh film menjadi tempat pemutaran baliho para calon anggota legislatif. Dikatakan pemutaran baliho lantaran baliho baliho itu sepertinya digantung secara bergilir. Bulan ini baliho di pulan. Bulan depan baliho si badu dan seterusnya. Maka jadilah gedung Kendari Teater sebagai sarana kampanye para politisi lokal.
Sebenarnya tidak ada yang salah dengan baliho-baliho itu. Keadaan juga yang membuat bekas bioskop ini jadi seperti sekarang.
Gedung ini mulai ditinggalkan orang ketika media informasi dan hiburan mengalami perkembangan yang demikian pesatnya. Perkembangan dunia hiburan yang begitu cepat menjadikan bioskop sebagai tempat hiburan yang tidak lagi masuk perhitungan daftar pilihan tempat hiburan masyarakat. Orang toh bisa menikmati tontonan sekelas bioskop di rumah sendiri dengan membeli televisi layar lebar atau Home Teater . Dengan home teater ini, orang tak perlu lagi berdesakan nonton di gedung.
Di senjakala hidupnya itu, Kendari Teater terus mengalami pukulan hebat, ditinggalkan penonton karena sering memutar film murahan yang obral seks secara vulgar. Bersamaan dengan itu lahir pula bioskop tandingan yang meniru gaya bioskop-bioskop di Jakarta yakni Hollywood Sineplek.
Kendari Teater pun seperti tenggelam ditelan bumi. Kalau tak salah sekarang gedung ini menjadi sebuah pub yang dikelilingi panti pijat. Melihat gedung bekas bioskop ini sungguh seperti kita sedang menyaksikan bangkai kapal Titanic. Setiap kali melihatnya, kita seakan dibawa ke masa silam. Suatu masa ketika bioskop ini masih jaya-jayanya. Ada satpam yang berjaga-jaga. Ada petugas loket yang menjual tiket dan adapula petugas pintu yang mengatur tempat duduk penonton. Dan nun di bagian atas gedung ada operator pemutar film. Entah di mana mereka itu kini berada.
3 comments Januari 28, 2009
Politik, Asik Ga Asik
Dunia politik penuh dengan intrik
Cubit sana-cubit sini itu sudah lumrah
Seperti orang pacaran Kalau nggak nyubit nggak asik
(Iwan Fals-Asik Nggak Asik)
Iwan Fals menyanyi tentang politik. Dalam kacamata Iwan, (bila menyimak seluruh isi lagu) politik dapat ditafsirkan sebagai sesuatu yang kotor, najis dan polutan. Pendapat seperti itu selaras dengan apa yang pernah dikemukakan oleh seorang negarawan Italia di abad 16 : Niccolo Machiavelli.
Tentu saja politik sendiri tidak dapat diartikan secara pukul rata seperti itu. Dalam arti sesungguhnya politik sebenarnya adalah mencari dan memilih jalan yang disepakati bersama menuju hal-hal yang lebih baik. Namun tulisan ini hanya akan mencoba melihat sisi lain politik sebagaimana penilaian kebanyakan orang saat ini yakni dengan cara Machiavelli melihat politik.
Machiavelli, mungkin merupakan politikus dan negarawan paling kontroversi sepanjang sejarah. Pandangan-pandangannya yang kemudian digolongkan sebagai Machiavellianisme pun berkembang beranak pinak. Salah satu sebab mengapa faham ini begitu populer adalah lantaran ia membuang sejauh mungkin kaidah-kaidah moral dan etika dalam dunia politik.
Dalam buku Il Principe (Sang Penguasa) kita bisa melihat bagaimana nasehat Machiavelli kepada para penguasa. Kata Machiavelli : Seorang pemimpin atau penguasa harus tahu berjuang dengan hukum dan berjuang dengan kekerasan. Ia harus tahu menggunakan cara-cara manusia tetapi juga cara-cara binatang. Seorang pemimpin atau penguasa harus bisa menepati janji, tetapi apabila janji itu akan merugikan dirinya sendiri maka ia tak perlu menepati janjinya. Seorang pemimpin atau penguasa tak perlu memiliki sifat-sifat baik tapi sangat perlu tampak seakan-akan memilikinya. Hipokrisi ? Kemunafikan ? Entahlah. Yang jelas semua itu sepertinya terasa akrab bagi sebagian kalangan di bangsa kita.
Kita bisa saja tidak setuju dengan nasehat seperti itu lantas membuat penafsiran sendiri yang katanya harus sesuai dengan norma-norma, kaidah dan etika politik kita sebagai orang timur. Kita punya Pancasila kok, kita punya asas gotong royong dan kekeluargaan kok, berat sama dipikul ringan sama dijinjing. Benarkah demikian ? Bukankah Pancasila hanya bisa ditafsirkan oleh dan untuk kepentingan yang berkuasa saja ? Bukankah gotong royong dan kekeluargaan hanya berlaku untuk rakyat biasa saja, sedang yang di atas tidak pernah melakukannya ? Tidakkah asas kekeluargaan hanya dimaknai sebagai nepotisme ? Bukankah berat sama dipikul ringan sama dijinjing tetapi semuanya dipikul oleh rakyat baik yang berat maupun yang ringan. Dengan kata lain berat sama dipikul ringan sama dijinjing tinggal menjadi pepatah dalam buku pelajaran bahasa Indonesia sekolah dasar ?
Terus terang kalau kita mau jujur, ajaran Machiavelli yang banyak dikecam, dikutuk sekaligus dipuji itu, sebenarnya diam-diam kita praktekkan dengan baik dan tanpa malu-malu. Tengoklah di sekeliling kita bagaimana semua itu terjadi : pejabat publik membohongi rakyat, wakil rakyat membohongi rakyat, penguasa dan pengusaha membohongi rakyat, aparat negara membohongi rakyat. Dengan kejadian seperti itu bagaimana rakyat tidak merasa frustasi ? Bohong telah menjadi menu kita sehari hari. Korupsi merajalela. Suap-menyuap dibudayakan. Kolusi dan nepotisme menjadi kebanggaan. Hukum ditafsirkan berdasarkan kepentingan masing-masing orang. Dan semua itu terjadi persis di suatu tempat yang pintu gerbangnya bertuliskan : Negara Republik Indonesia.
Dunia politik dunia bintang, tempat pesta pora para “binatang” kata Iwan. Kata binatang (dalam tanda kutip) sebagaimana juga dikatakan Machiavelli termanivestasi dengan baik dalam hidup keseharian kita. Percaya ? Tidak percaya ? Wallahualam Bissawab (**)
1 comment Januari 11, 2009
Biar Lambat Asal Santai
Kemarin secara tak sengaja saya bertemu dengan birokrasi Indonesia di sebuah Puskesmas Kecamatan di Kota Kendari. Wajahnya dingin dan kaku. Ia masih seperti dulu: lambat dan santai, serta mengulur waktu dalam menyelesaikan segala urusan yang berkaitan dengan nasib orang ramai.
Wajah birokrasi kiita tampaknya begitu menjengkelkan. Kondisi kerja di Puskesmas itu menunjukkan dengan jelas bagaimana wajah birokrasi kita-meskipun mengkin hanya sebuah aksiden dalam dunia pemerintahan kita yang begitu centang-perenang, khususnya yang berkaitan dengan pelayanan masyarakat. Lambat dan santai adalah dua kosa kata yang selalu dipegang teguh aparat birokrasi kita. Kalau bisa lambat kenapa harus dipercepat? Kalau bisa sulit kenapa harus dipermudah.
Sambil melamun saya duduk di hadapan dokter muda (seorang wanita) yang akan memeriksa saya. Belum lagi sang dokter bertanya ini-itu, telepon genggamnya berdering dan ruang periksa itu kemudian berubah menjadi ruang gossip ala infotainment televisi. Macam-macamlah yang dibahas melalui HP tersebut. Saya perhatikan si dokter sudah lupa kepada pasiennya. Dia lupa bahwa dirinya masih berada di puskesmas. Dia lupa bahwa di luar masih banyak pasien lain yang menunggu diperiksa. Padahal orang begitu ramai dan orang ramai cenderung terdesak waktu dalam berurusan.
Tak puas dengan hanya berhalo-halo sambil duduk, si dokter mulai berdiri dan berbicara dengan si penelepon. Melihat gelagat bicaranya, mungkin sang penelepon adalah pejabat penting (setidaknya ia mungkin adalah Presiden RI). Saya hanya melongo dan bergumam pendek “Dokter, kalau begini kapan pasien akan diurus? . Mendengar ini si dokter segera sadar bahwa dia masih memakai baju dinas dan masih bertugas. Dan dia menjawab ketus, jawaban khas aparat birokrasi “Kalau bapak sudah tidak sabar silakan pergi ke tempat lain”
Sayapun terdiam, tak bicara lagi hingga keluar Puskesmas. Dalam perjalanan pulang, saya tersadar seperti baru terbangun dari mimpi buruk. Mimpi buruk bertemu wajah birokrasi kita. (**)
1 comment Januari 7, 2009
Jadi Blogger atau…………
Memilih atau menetapkan pilihan pada segala sesuatu tentu mengandung sebuah konsekwensi. Menetapkan pilihan oleh karena itu adalah bersedia dan waspada akan konsekwensi atas pilihan itu.
Pada galibnya, memilih adalah proses menakar sesuatu dari segala segi, termasuk sisi yang paling menukik dari banyaknya alternatif pilihan. Semua harus ditimbang baik segi positif terlebih lebih segi negatif diantara semua pilihan yang ada di depan kita. Termasuk adanya proteksi atas efek negatif dari pilihan kita itu nantinya.
Demikian pula halnya bila kita menjatuhkan pilihan dan memilih menjadi blogger. Ada puluhan penjelasan yang bisa dikemukakan mengapa kita memilih menjadi mahluk penggila web catatan pribadi ini. Ada yang sekadar mengemukakan isi hati, ide-ide, catatan keluarga, ajang komunikasi, curhat, perkenalan dan lain sebagainya. Ada pula yang ingin naik gengsi, naik status.
Walhasil dengan rupa-rupa tujuan seperti itu, menjadi blogger tentu juga membawa konsekswensi lain seperti adanya ketersediaan waktu kita di depan komputer. Tersedianya anggaran atau dana untuk berinternet (karena internet di Indonesia masih banyak yg belum gratis). Tersedianya perangkat komputer (atau laptop dan sejenisnya) yang ingin berinternet secara mobile.
Nah mengenai manfaat menjadi blogger, tentu hanya para blogger sendiri yang tahu lantaran merekalah sang pelaku utama dunia komunikasi yang satu ini. Apa komentar mereka dengan menjadi blogger??? Kita tunggu saja (**)
2 comments Januari 5, 2009
Arsyad Salam, Arsyad, orang biasa, rakyat jelata. Arsyad lelaki beristri satu hobi menulis dan membaca... tinggal di Kendari-Sulawesi Tenggara.
Arsyad adalah Humas Sekretariat DPRD. Saat ini bekerja di Sekretariat Daerah Sulawesi Tenggara.. 