Prita dan Manohara
Dua Kasus, Dua Persepsi
Prita Mulyasari adalah perempuan biasa. Ibu dua orang anak yang masih kecil. Suami seorang lelaki sederhana yang merasa dipermainkan nasibnya oleh sebuah rumah sakit bertaraf internasional di Tangerang.
Beritanya sudah dilansir oleh hampir semua media termasuk di beberapa blog tenar seperti Pecas Ndahe serta sejumlah milis.
Prita adalah warga negara yang sadar benar akan hak-haknya untuk mendapatkan pelayanan yang baik, yang layak dari sebuah institusi pelayanan publik. Dan mengapa kekecewaan atas buruknya pelayanan yang dia terima dan ditulisnya dalam bentuk surat elektronik justru dipersoalkan oleh sebuah rumah sakit atas nama “pencemaran nama baik”?. Begitu gemilangkah prestasi layanan kesehatan rumah sakit Omni hingga harus memperjuangkan nama baiknya dipulihkan?
Saya tak tahu. Bahkan nama rumah sakit Omni pun baru kali ini saya dengar. Setahu saya selama ini rumah sakit terkenal di Jakarta hanyalah RS Fatmawati dan RS Pertamina lantaran banyak pejabat yang berobat di sana. Dan Omni? Saya belum mendengar siaran melalui media bahwa ada orang-orang penting yang berobat di rumah sakit ini.
Kasus Prita bagaimanapun juga harus kita apresiasi dan harus mendapat advokasi khususnya para aktifis kekebasan mengemukakan pendapat. Kenapa? karena kasus ini telah menunjukkan kepada kita bahwa tak semua institusi pelayanan publik siap menerima kritik dari orang ramai. Dan tak tertutup kemungkinan kasus semacam ini akan terjadi pada kita.. para blogger yang selama ini getol menulis mengenai penyimpangan pelayanan umum.
Manohara
Advokasi atau cari sensasi?
Lain Prita, lain pula Manohara. Perempuan cantik yang juga istri Sultan Kelantan ini lari dari “sangkar emasnya” di Malaysia. Dan media pun menyorot dia bagai pahlawan yang baru pulang dari kancah perang yang ganas.
Kasus Manohara adalah alamat bahwa tak semua perempuan siap menjadi istri raja. Menjadi permaisuri memang berat : harus siap mengikuti aturan protokoler kerajaan. Untuk duduk menjadi sang istri raja harus melalui tempaan keras, pendidikan ala kesultanan yang ketat dan serba diatur. Kita tak bisa seenaknya mengatur, bahkan untuk diri sendiri sekalipun.
Nah, dalam usia yang masih begitu muda, Manohara tiba-tiba harus mengikuti aturan yang serba ketat itu. pasti mentalnya tak kuat. Mungkin saat jatuh cinta pada sang pangeran dulu, dia tak pernah berpikir bahwa menjadi istri raja tidaklah ringan.
Sorotan media terhadap kasusnya juga terasa berlebihan. Manohara ke mana-mana bersama ibunya bak artis terkenal saja. Katanya dia lari karena dianiaya suaminya. Tapi tak sedikitpun saya liat ada tanda-tanda kekerasan di tubuhnya..
Jadi? Benarkah Manohara adalah korban KDRT? Atau hanya sekedar cari sensasi saja? Berita terakhir yang saya dengar, pengacara kondang yang turut membela Manohara, OC Kaligis menyatakan mengundurkan diri lantaran tak ada inisiatif Manohara untuk mempercepat visum et repertum. “Malah dia road show ke televisi bersama ibunya” kata Kaligis kecewa.
5 comments Juni 6, 2009
Gedung Kendari Teater
Dulu Putar Film, Sekarang Putar Caleg

Jika anda adalah warga Kota Kendari pasti tahu yang namanya gedung Kendari Teater. Di tahun 80-an dulu gedung ini merupakan pusat hiburan dan barometer keramaian Kota Kendari. Letaknya yang strategis (tepat di kompleks pelabuhan) menjadikan Kendari Teater sebagai tempat hiburan paling laris dan padat pengunjung. Saat itu Kerndari Teater adalah satu-satunya bioskop layar lebar di Kota ini. Pengunjung membludak, pemilik gedung panen rupiah dari para penonton yang berjubel memberi karcis tanda masuk.
Tapi itu dulu. Sekarang?
Sekarang gedung ini telah beralih fungsi. Dari tempat pemutaranh film menjadi tempat pemutaran baliho para calon anggota legislatif. Dikatakan pemutaran baliho lantaran baliho baliho itu sepertinya digantung secara bergilir. Bulan ini baliho di pulan. Bulan depan baliho si badu dan seterusnya. Maka jadilah gedung Kendari Teater sebagai sarana kampanye para politisi lokal.
Sebenarnya tidak ada yang salah dengan baliho-baliho itu. Keadaan juga yang membuat bekas bioskop ini jadi seperti sekarang.
Gedung ini mulai ditinggalkan orang ketika media informasi dan hiburan mengalami perkembangan yang demikian pesatnya. Perkembangan dunia hiburan yang begitu cepat menjadikan bioskop sebagai tempat hiburan yang tidak lagi masuk perhitungan daftar pilihan tempat hiburan masyarakat. Orang toh bisa menikmati tontonan sekelas bioskop di rumah sendiri dengan membeli televisi layar lebar atau Home Teater . Dengan home teater ini, orang tak perlu lagi berdesakan nonton di gedung.
Di senjakala hidupnya itu, Kendari Teater terus mengalami pukulan hebat, ditinggalkan penonton karena sering memutar film murahan yang obral seks secara vulgar. Bersamaan dengan itu lahir pula bioskop tandingan yang meniru gaya bioskop-bioskop di Jakarta yakni Hollywood Sineplek.
Kendari Teater pun seperti tenggelam ditelan bumi. Kalau tak salah sekarang gedung ini menjadi sebuah pub yang dikelilingi panti pijat. Melihat gedung bekas bioskop ini sungguh seperti kita sedang menyaksikan bangkai kapal Titanic. Setiap kali melihatnya, kita seakan dibawa ke masa silam. Suatu masa ketika bioskop ini masih jaya-jayanya. Ada satpam yang berjaga-jaga. Ada petugas loket yang menjual tiket dan adapula petugas pintu yang mengatur tempat duduk penonton. Dan nun di bagian atas gedung ada operator pemutar film. Entah di mana mereka itu kini berada.
3 comments Januari 28, 2009
WP Kembali Luncurkan Template Baru

Inovasi tiada henti. Itulah kata yang tepat menggambarkan bagaimana kreatifitas tim WordPress dalam mengembangkan layanan blog gratis ini.
Setelah belum lama lalu mereka merilis template ALBEO, kini WP kembali meluncurkan template baru yang clean dan minimalis, simpel dan bersih namanya Grid Focus. Bagi anda penggila WP dan suka tampilan simpel silakan ganti template anda.
5 comments Januari 14, 2009
Politik, Asik Ga Asik
Dunia politik penuh dengan intrik
Cubit sana-cubit sini itu sudah lumrah
Seperti orang pacaran Kalau nggak nyubit nggak asik
(Iwan Fals-Asik Nggak Asik)
Iwan Fals menyanyi tentang politik. Dalam kacamata Iwan, (bila menyimak seluruh isi lagu) politik dapat ditafsirkan sebagai sesuatu yang kotor, najis dan polutan. Pendapat seperti itu selaras dengan apa yang pernah dikemukakan oleh seorang negarawan Italia di abad 16 : Niccolo Machiavelli.
Tentu saja politik sendiri tidak dapat diartikan secara pukul rata seperti itu. Dalam arti sesungguhnya politik sebenarnya adalah mencari dan memilih jalan yang disepakati bersama menuju hal-hal yang lebih baik. Namun tulisan ini hanya akan mencoba melihat sisi lain politik sebagaimana penilaian kebanyakan orang saat ini yakni dengan cara Machiavelli melihat politik.
Machiavelli, mungkin merupakan politikus dan negarawan paling kontroversi sepanjang sejarah. Pandangan-pandangannya yang kemudian digolongkan sebagai Machiavellianisme pun berkembang beranak pinak. Salah satu sebab mengapa faham ini begitu populer adalah lantaran ia membuang sejauh mungkin kaidah-kaidah moral dan etika dalam dunia politik.
Dalam buku Il Principe (Sang Penguasa) kita bisa melihat bagaimana nasehat Machiavelli kepada para penguasa. Kata Machiavelli : Seorang pemimpin atau penguasa harus tahu berjuang dengan hukum dan berjuang dengan kekerasan. Ia harus tahu menggunakan cara-cara manusia tetapi juga cara-cara binatang. Seorang pemimpin atau penguasa harus bisa menepati janji, tetapi apabila janji itu akan merugikan dirinya sendiri maka ia tak perlu menepati janjinya. Seorang pemimpin atau penguasa tak perlu memiliki sifat-sifat baik tapi sangat perlu tampak seakan-akan memilikinya. Hipokrisi ? Kemunafikan ? Entahlah. Yang jelas semua itu sepertinya terasa akrab bagi sebagian kalangan di bangsa kita.
Kita bisa saja tidak setuju dengan nasehat seperti itu lantas membuat penafsiran sendiri yang katanya harus sesuai dengan norma-norma, kaidah dan etika politik kita sebagai orang timur. Kita punya Pancasila kok, kita punya asas gotong royong dan kekeluargaan kok, berat sama dipikul ringan sama dijinjing. Benarkah demikian ? Bukankah Pancasila hanya bisa ditafsirkan oleh dan untuk kepentingan yang berkuasa saja ? Bukankah gotong royong dan kekeluargaan hanya berlaku untuk rakyat biasa saja, sedang yang di atas tidak pernah melakukannya ? Tidakkah asas kekeluargaan hanya dimaknai sebagai nepotisme ? Bukankah berat sama dipikul ringan sama dijinjing tetapi semuanya dipikul oleh rakyat baik yang berat maupun yang ringan. Dengan kata lain berat sama dipikul ringan sama dijinjing tinggal menjadi pepatah dalam buku pelajaran bahasa Indonesia sekolah dasar ?
Terus terang kalau kita mau jujur, ajaran Machiavelli yang banyak dikecam, dikutuk sekaligus dipuji itu, sebenarnya diam-diam kita praktekkan dengan baik dan tanpa malu-malu. Tengoklah di sekeliling kita bagaimana semua itu terjadi : pejabat publik membohongi rakyat, wakil rakyat membohongi rakyat, penguasa dan pengusaha membohongi rakyat, aparat negara membohongi rakyat. Dengan kejadian seperti itu bagaimana rakyat tidak merasa frustasi ? Bohong telah menjadi menu kita sehari hari. Korupsi merajalela. Suap-menyuap dibudayakan. Kolusi dan nepotisme menjadi kebanggaan. Hukum ditafsirkan berdasarkan kepentingan masing-masing orang. Dan semua itu terjadi persis di suatu tempat yang pintu gerbangnya bertuliskan : Negara Republik Indonesia.
Dunia politik dunia bintang, tempat pesta pora para “binatang” kata Iwan. Kata binatang (dalam tanda kutip) sebagaimana juga dikatakan Machiavelli termanivestasi dengan baik dalam hidup keseharian kita. Percaya ? Tidak percaya ? Wallahualam Bissawab (**)
1 comment Januari 11, 2009
Arsyad Salam, Arsyad, orang biasa, rakyat jelata. Arsyad lelaki beristri satu hobi menulis dan membaca... tinggal di Kendari-Sulawesi Tenggara.
Arsyad adalah Humas Sekretariat DPRD. Saat ini bekerja di Sekretariat Daerah Sulawesi Tenggara.. 