sandalisme

(Sebuah Prolog)

Sebagai sebuah faham, sandalisme sebenarnya sama saja dengan umpamanya marhaenisme, sosialisme, komunisme, liberalisme serta seluruh isme-isme lainnya. Jadi tidak ada yang istimewa dengan sandalisme. Lalu, mengapa saya justu tertarik menggunakannya? Begini .

Banyak orang yang pandai menulis. Tapi lebih banyak lagi yang tidak. Ada yang terus menerus menulis. Tanpa jeda, tanpa henti. Terus saja berusaha menuangkan ide dan gagasannya melalui hasil olah pikir dan dituangkan melalui kalimat-kalimat yang kira-kira bisa menyentuh orang lain. Arswendo Atmowiloto pernah mengatakan bahwa menulis sebenarnya tidak sulit tapi sangat sulit.

Akan tetapi orang tetap saja menulis  meski banyak yang kecele. Ternyata tak satupun hasil karyanya itu diingat orang sebagai hasil jerih payah merangkai kalimat mengawinkan kata hingga beranak seribu makna. Meski tema tulisannya sangat relevan dengan kondisi tertentu, tak banyak orang yang mengingatnya.

Kalaupun dibaca, ya hanya sekadarnya saja. Hanya pada saat itu. Begitu memasuki realitas kenyataan, di alam yang sebenarnya, yang begitu agung, tulisan itu pun di lempar ke pojok di rak majalah tua.

Nasib seperti itu juga dialami sandal jepit.. dibutuhkan pada saat dipakai tapi tak pernah digunakan ke tempat yang lebih jauh dari rumah. Sandal jepit oleh karena itu adalah barang haram di tempat resmi, pesta agung atau upacara. Ia hanya dipakai pada saat menyapu halaman, membuang sampah atau membeli sampo di warung tetangga.  Begitu kaki hendak melangkah masuk, sandal jepit biarlah ditinggal di kesetan.

Sandalisme oleh karena itu berangkat dari asumsi bahwa memang ada pendapat, ide, dan gagasan yang tertuang melalui tulisan namun tak pernah dibaca secara cam. Sekalipun menyuarakan kebenaran namun tak pernah menjadi perhatian apalagi mempengaruhi kebijakan. ia hanyalah penggalan lalu lintas ide dan pikiran yang berkelebat di antara jutaan informasi yang ada. Seperti nasib sandal jepit yang tak pernah dipakai jauh-jauh dari rumah.

Maka demikianlah sandalisme adanya… apa boleh buat.



Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.