Pulau Bokori : Obyek Wisata yang Kian Merana

 bokori2.png Obyek wisata Pulau Bokori tampak semrawut dan tak terurus. Padahal pulau berpasir putih nan eksotis ini adalah salah satu obyek wisata andalan Sulawesi Tenggara. Dalam keadaan tak jelas pengelolanya, pulau ini makin sepi dari para pelancong.

Bokori adalah pulau kecil dengan luas sekitar 2 kilometer persegi. Pulau ini dahulu didiami oleh masyarakat etnis bajo. Pada era Gubernur Alala dikeluarkanlah satu beslit yaitu dicanangkannya pulau tersebut sebagai obyek wisata. Perlahan tapi pasti masyarakat dipindahkan di daratan Konawe (dahulu Kabupaten Kendari) yang sekarang bernama Desa Mekar tepat dihadapan pulau tersebut.

Namun kondisi pulau ini sekarang sangat memiriskan hati. Villa dan bungalow yang dibangun di era Gubernur La Ode Kaimoeddin tampak kusam dan tak terurus. Bahkan sebagian bangunannya banyak yang retak-retak tak tentu warnanya lagi. Sudah banyak yang rusak pula. Yang lebih membuat prihatin adalah kondisi dermaga kayu yang lantainya sudah dicopot dan hilang tak tentu rimbanya. Padahal dermaga ini sengaja dibangun untuk menambatkan kapal atau perahu yang berlabuh di pulau itu. “Lantainya mungkin dicuri orang yang datang kemari” ujar salah seorang warga Desa Tapulaga.

Kondisi inilah yang tampak saat saya mengikuti rombongan Humas Sekretariat DPRD Sultra melakukan tour wisata di pulau itu, beberapa waktu lalu. Di bagian selatan dermaga tampak sejumlah Villa yang tak jelas lagi fungsinya. Sementara beberapa bangunan kecil yang semula berfungsi sebagai kamar mandi juga sangat jauh dari kesan terpelihara. Jangan mencari air tawar di pulau ini, apalagi listrik sebagaimana obyek wisata lainnya.

Pulau Bokori sejatinya berada dalam wilayah kewenangan Kabupaten Konawe. Namun tak satupun tanda-tanda aktifitas pemerintah kabupaten tersebut di pulau ini. Yang ada hanyalah suara ombak dan burung yang kadang singgah di pulau yang dulu padat penduduk itu.

Kasim 27 tahun, salah seorang warga Desa Bokori menuturkan bahwa sejak pulau Bokori tak berpenghuni, tak ada lagi aktifitas wisata di tempat itu. Semua tinggal puning2 beton bekas villa.

Bila ditilik lebih cermat, terbengkalainya Bokori lantaran dua sebab paling sedikit. Pertama, kurangnya perhatian pemerintah terhadap puilau ini. Kedua, sikap masyarakat yang tampaiknya enggan ke pulau itu dengan sejumlah pertimbangan antara lain karena faktor transportasi. Untuk ke Bokori, kita harus menyeberangi pulau itu dengan menggunakan perahu bermesin tempel.  Meskipun jaraknya sangat dekat dengan Desa Mekar, namun  orang tak mau menempuh resiko itu. Apalagi ombak di sekitar pulau itu memang agak besar.

Maka jadilah Bokori seperti sekarang : merana tanpa pengunjung dan tak jelas siapa yang mengelolanya. Tak mustahil suatu saat nanti pulau ini hanya akan tercatat dalam daftar tempat wisata di Dinas Pariwisata propinsi maupun  kabupaten.(**).

Iklan

6 responses to “Pulau Bokori : Obyek Wisata yang Kian Merana

  1. Kemaren sempat praktik lapang disana,..keadaannya sie emnk kayaknya ga layak tuk dijadikan tempat tinggal tau tempat wisata coz hampir semua daratannya penuh air laut klo lagi pasang..,kan ngga amantuH!!!///

    emang sie tempatnya canti abizzz,..bagusnya dijadikan tempat penelitian tau tempat praktik lapang bagi mahasiswa dan sekitarnyaLah…Bwat ilmu pengetahuan gtu dEh////

    KeYzt

  2. saya baru aja ke sana untuk survei lokasi… ternyata keadaannya sudah sangat parah. tapi di sana masih ada potensi terumbu karang yang masih bisa dimanfaatkan oleh masyarakat di sana jika mereka mau…. Smoga aja pemerintahprov maupun daerah mau peduli dengan nasib pulau Bokori sekarang coz di sana ada potensi wisata nahari yang besar.. Klo gw jadi pemerintah sih,,,udah lama gue bangun tu pulau…..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s