Lulo dan Problemanya

Leundo molulo
ato mbekai-kai nggae
Molulo sambe menggaa 

 dance_molulo.jpg Tari Lulo adalah tarian rakyat Sulawesi Tenggara khususnya bagi etnis Tolaki  yang mendiami daratan jazirah Sulawesi Tenggara. Tari ini adalah tari pergaulan yang dilakukan pada acara acara tertentu seperti hajatan perkawinan, acara syukuran panen  dan acara acara khsusus lainnya. Tari Lulo dilakukan secara  massal dengan bergandengan tangan dan membentuk lingkaran memutar berlawanan arah jarum jam.

Bagi mereka yang belum mengenal tari ini, lupakanlah deskripsi di atas, karena penulis hanya akan mengulas mengenai perkembangan tarian ini serta persoalan yang mengikutinya.

Tari lulo adalah tarian yang sangat merakyat dan dikenal hampir seluruh lapisan masyarakat. Karena tarian ia adalah tari pergaulan, maka ia bersifat terbuka termasuk segala kemungkinan perubahan dan inovasi atas tarian ini. Apalagi ada kecenderungan generasi muda untuk selalu melakukan modifikasi terhadap gerakan dan iramanya.

Dulu, orang-orang tua kita menarikan tarian ini dengan alat pengiring gong yang ditabuh dengan ritme tertentu yang diikuti dengan gerakan memutar sambil bergandengan tangan. Saat itu orang-orang hanya mengenal satu jenis irama lulo saja. Orang menyebutnya “lulo biasa”.  Paling jauh ada lulo patah-patah yang nyaris sama dengan lulo biasa. Inilah yang saya sebut sebagai gerakan lulo yang orisinil.

Dengan masuknya alat pengiring elektronik baik berupa kaset dan speaker besar serta elekton, terjadilah pergeseran fundamental terhadap jenis gerakan dan irama tarian ini. Ibarat pesawat tempur, gempuran alat pengiring tersebut luar biasa dahsyatnya. Sekarang kita khususnya saya sendiri sudah sangat jarang menyaksikan lulo dengan menggunakan gong sebagai pengiringnya. Hampir seluruh komunitas masyarakat sudah menggunakan alat musik moderen sebagai pengiring tarian ini.

Sampai di sini timbul pertanyaan : positifkah hal tersebut, bila ditinjau dari segi orisinalitas tarian yang sangat digemari generasi tua dan muda ini?

Sebagai  anggota masyarakat biasa dan bukan pengamat lulo, saya melihatnya secara lain. Menurut saya, menggunakan  alat pengiring elektronik serta maraknya perubahan gerakan yang disebut variasi atas lulo merupakan pisau bermata dua. Di satu sisi, suka tidak suka ada kecenderungan tarian ini kian ditinggalkan. Menurut kalangan generasi muda, bila mempertahankan orisinalitas lulo maka tarian ini makin tidak populer karena gerakannya tidak variatif dan monoton. Apalagi dengan menggunakan gong sebagai pengiring.

Sementara itu, dengan menggunakan alat pengiring modern seperti kaset dan elekton peminat tarian ini makin membludak khususnya dikalangan anak muda. Di sisi ini kita tidak merasa kuatir bahwa lulo akan punah, bahkan kian laris saja. Di tambah variasi gerakan yang makin banyak, maka posisi lulo sebagai tarian pergaulan masih aman. Dengan bergesernya penggunaan alat pengiring dan bertambahnya variasi dalam lulo, tarian ini masih akan menjadi tari pergaulan paling populer di buni anoa. Ini patut kita syukuri.   

Masalahnya sekarang adalah menampilkan tarian ini di daerah lain. Kita akan menyebutnya sebagai tarian asli kita padahal secara hakiki dia telah mengalami perubahan fundamental baik dari musik maupun gerakannya. Inilah yang membedakan lulo dengan budaya lainnya seperti wayang, reog dan tarian jawa sejenis. Wayang sejak dahulu tidak mengalami perubahan apapun jadi dia dapat dikatakan masih asli. Sedangkan lulo. Apakah dia tergolong tari tradional atau tari kontemporer ? Entahlah

Olehnya saya menyarankan bagi para pejabat daerah ini, jika membawa lulo ke daerah lain, gunakanlah gerakan lulo yang asli serta alat pengiring  berupa gong yang ditabuh seseorang yang mahir untuk itu. Tentu dengan pakaian tradisional kita. Dengan begitu tari lulo masih merupakan khasanah yang layak dijual di hadapan turisme. Semoga (**)   

Iklan

12 responses to “Lulo dan Problemanya

  1. betul bang arsy…(kayaknya lebih enak nyebutnya), dimorang tidak tau (ato pura-pura tidak tau) kalo sebenarnya teluk kendari sudah akut…ato mungkin salah satu program jangka panjang pemkot menjadikan teluk kendari sebagai daerah perluasan daratan, sebagai persiapan kalo kendari jadi kota besar (pogambara)…mudah2an hanya dugaan pertama saya yang benar..semoga teluk kendari nantinya bukan hanya cerita Kita pada anak cucu kita nanti..amien
    (SAVE OUR KENDARI BAY….!!!! thats plan to make artikel Thanks for reviewnya)

  2. sory bang..salah klik tadinya mo komentar tentang Teluk kendri tapi nyasar ke lulo..skali lagi maaf atas ketidak telitiankoe ini 😦

  3. ya mudah-mudahan lulo tetap lestari samapi anak cucu kita
    n sebagai penerus “TOlaki” kita wajib menjaganya

  4. tolong dong buat perkumpulan tuk anak-anak tolaki supaya kita bisa saling kenal dan memajukan daerah kita oke

  5. Hmmm,,, menarik sekali! Kapan neh ada “Molulo Festival”, kategori tradisional, contempory, dan moderen,,,?? Masa kalah sama abg yang rajin bikin festival musik?!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s