Banjir Jakarta: Memilukan dan Memalukan

 banjir1.jpg Banjir tahunan yang melanda hampir seluruh wilayah ibukota Jakarta sungguh membuat kita prihatin. Prihatin bukan hanya karena bencana itu telah menyengsarakan rakyat banyak. Kita juga prihatin lantaran bencana ini terjadi di Jakarta, pintu gerbang Negara Republik Indonesia.

Banjir itu menurut laporan hampir semua media, telah pula mengancam istana negara, tempat berkantor Presiden. Bayangkan. Istana negara sampai terancam banjir. Menurut Andi Malarangeng, meskipun istana negara terancam banjir, kinerja Presiden SBY tak akan terganggu karena presiden bisa berkantor di mana saja. Kata Andi pula, tidak masalah istana kebanjiran supaya presiden juga merasakan apa yang diderita rakyat. “Lebih baik istana yang kebanjiran dari pada rakyat yang sengsara” Demikian Andi Malarangeng menambahkan.

Pernyataan Andi Malarangeng itu sungguh adalah pernyataan yang populis. Berpihak pada rakyat. Ini patut kita syukuri. Namun di sisi lain pernyataan itu juga memberikan sinyal yang amat kuat bahwa pemerintah mulai dari Pemda DKI hingga pemerintah pusat sudah putus asa mengatasi hal itu. suatu rasa putus asa yang bersifat permanen karena terjadi tiap tahun. Ibarat penyakit, banjir Jakarta sudah sangat kronis dan tak ada obatnya kecuali mungkin amputasi dan operasi besar lainnya.

Dan soal banjir ini kita selalu disuguhi berita yang berulang tiap tahun khususnya tiap akhir Desember hingga Februari. Suatu rutinitas yang menjemukan sekaligus memalukan karena kejadian ini juga disaksikan oleh dunia. Maka kitapun tampil nyaris bugil di hadapan bangsa-bangsa lain di bumi ini. Kita mungkin malu. Tapi mau apa kita?. Inilah wajah bangsa kita yang sebenarnya: tak tanggap akan bencana. Selalu megap-megap menghadapi kondisi tak terduga.

Melihat kondisi carut-marut Jakarta seperti sekarang, saya sebagai salah seorang warga negara yang punya kepedualian akan bangsa ini punya pemikiran sederhana yang mungkin agak kurang masuk akal tapi bisa saja dilaksanakan. Begini.

Bagaimana jika ibukota negara yang selama ini disandang Jakarta di pindahkan ke kota lain saja? Misalnya ke salah satu kota di Kalimantan?. Bukankah waktu revolusi kemerdekaan dulu, ibukota negara juga pernah dipindahkan ke Jogya dan Sumatera?

Mohon tanggapan rekan-rekan blogger atas ide saya ini

Iklan

9 responses to “Banjir Jakarta: Memilukan dan Memalukan

  1. Daerah ku juga pernah banjir. berhari-hari juga. sekarang sudah tidak sih, karena pemerintah daerah telah bertindak di saluran pembuangannya yakni sungai. Beres deh. Paling tidak hingga sekarang.

  2. sayah sih ga terlalu masalah mo ibu kota dimana saja yang penting becus mengurus masalah rakyat, apa jadinya kalo hanya pindah tapi kerjaan tetep kayak dulu? hanya pemborosan jadinya
    *salam kenal pak*

    btw lagi2 pemerintah kita masih tidak serius memajukan negara ini

  3. Menurut saya, kota Jakarta harus ditinggikan dataran dan daratannya , artinya dataran Jakarta sekarang ini harus ditinggikan minimal 2 meter dari kondisi sekarang atau dari minimal 5 meter dari permukaan laut. Wah.. bagaimana ya… berarti semua bangunan yang sekarang ada harus di ratakan dulu ya?

  4. Wah.. kan udahad aahlinya..
    kalaumasihbanjir juga mungkin karena ahlinya lagi sibuk..sibuk cari ahli lagi 😀

  5. Wah.. kan sudah ada ahlinya..
    kalau masih banjir juga mungkin karena ahlinya lagi sibuk..sibuk cari ahli lagi 😀

  6. “Lebih baik istana yang kebanjiran dari pada rakyat yang sengsara”,

    Pernyataan populis yang mana lagi ini,
    Orang awam seperti saya menyimpulkannya barangkali begini:
    “Banjir di Istana tak teratasi,
    Banjir yang melanda rakyat jelata ya apalagi,

    Pemerintah pusat ya juga pemda DKI,
    Sudah putus asa bagaimana mengatasinya lagi,
    Seperti penyakit yang kronis?, sangat betul sekali,
    Tiada lain dan tidak bukan harus diamputasi,

    Salut Kang atas pemikiran sederhananya yang ya bisa dilaksanakan kali- kali,
    Sebagai warga yang begitu peduli,
    Gagasannya, bagaimana jika ibukota dipindahkan ke kota lain. begitu barangkali?
    Sebaiknya memang kita tanggapi,

    Tapi?
    Apa banjir juga ngga ikut pindah nanti?
    Karena kan proyek2 bermunculan lagi,
    Dan biasanya satu paket dengan korupsi, kolusi dan segala macam deh yg selalu aja bikin rugi,

    Yang harus dipindahkan keserakahannya pasti,
    Yang harus dipindahkan kerakusannya musti,
    Coba kita lihat, rakyatnya begitu sengsara sampai hampir mati,
    Para pejabatnya hura- hura dengan apapun yang bisa dicuri,

    Barangkali ini ya patut kita sukuri,

  7. Ah… Komentar di atas mengingatkanku kembali
    Kawan di dunia maya yg mampir tempo hari
    Yang rumahnya ‘mentereng’ namun sangat rendah hati
    Rumahkayubekas pasti siapa lagi
    Beruntung rumah dan atapnya tinggi sekali
    Manalah mungkin banjir mau datang menyambangi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s