Sokrates

Seorang pria bermuka buruk tampak bergelandang menyusuri lorong-lorong Yunani yang kuno dan berdebu diabad ke-3 sebelum masehi. Tubuhnya ringkih, lusuh dan kumal. Jubahnya itu-itu juga. Sebelum tongkat kayu membantunya berjalan.

Tapi ia bukanlah gelandangan sembarangan. Dalam penyusurannya itu, setiap kali berjumpa dengan kerumunan orang baik di Gymnasium dan Palaestra. Di emperan toko dan warung makan, ia akan mengajak mereka berdialog atau sekedar memancing diskusi. Mengemukakan argumen-argumen dan menguji argumen itu dengan logika berpikir yang biasanya sangat mengesankan.

Lelaki itu Sokrates namanya. Ahli filsafat ini barangkali tak akan tercatat dalam sejarah seandainya tidak punya murid-murid beken dan setia seperti Plato, Xenophon, Anthistenes dan Diogenes Laertius. Dari merekalah kita ketahui kiprah Sokrates dalam dunia filsafat. Sokrates tidak berprilaku sebagaimana layaknya ahli filsafat di masanya. Jika para filsuf di zaman itu mengangap diri orang yang ahli pengetahuan, Sokrates justru menganggap dirinya sebagai orang yang tidak tahu apa-apa. Ia misalnya mengejek Pericles seorang filsuf terkemuka kala itu dengan mengatakan “Pericles adalah negarawan yang gagal karena menyebabkan manusia gembalaannya menjadi lebih liar dibanding sebelum dia menanganinya”.

Kita tahu tak satupun buah pikirannya dituangkan dalam catatan maupun buku. Referensi kita tentang ahli filsafat yang streng itu adalah muridnya, Plato. Platolah yang menggambarkan Sokrates dalam imajinasi kita. Bahkan kemudian kita akan sulit membedakan antara buah pikiran orisinil Sokrates atau pendapat Plato sendiri. Hubungan guru murid ini kemudian bermetamorfosis bagi simbiosis mutualisma.

IF Stone, Ahli Sejarah Filsafat Barat dalam bukunya, The Trial of Sokrates menggambarkan hubungan ini dengan sangat menarik : Berkat kejeniusan karya Platolah Sokrates beroleh posisi sebagai santo sekuler peradababan barat. Sebaliknya, Sokrateslah yang membuat karya Plato tetap berada dalam daftar best seller.

Sokrates bukanlah pendukung oligarki, bukan pula pendukung demokrasi. Seperti tampak dalam buah pikirannya bahwa dua sistem itu tidak bermanfaat bila diterapkan dalam pemerintahan suatu negara.. Menurut Sokrates, suatu negara idealnya di perintah oleh ”orang yang tahu”. Ia kemudian memberi amsal: Dalam sebuah kapal yang terserang badai, orang yang tahu itulah yang memimpin awak lainnya. Pemilik kapal dalam hal ini harus tunduk pada orang yang tahu itu. Jika sistem voting (identik dengan demokrasi) yang dipakai untuk memilih nakhoda pada situasi genting seperti itu, maka kapal akan keburu tenggelam sebelum suara selesai dihitung.

Masalahnya kemudian adalah bagaimana cara mencari orang yang tahu itu. Bagaimana pula seandaianya ia kemudian menjadi penguasa yang lalim. Sokrates tak menjawab. Atau menjawab tidak sebagaimana mestinya. ”rakyat tidak perlu memikirkan pemimpinnya, karena rakyat ibarat hewan ternak gembalaan sang memimpin” demikian katanya. Kita kemudian dapat mendebat jawaban itu dengan mengatakan: biasanya sang penggembala tak pernah berdialog dengan sang ternak untuk mengirimnya ke pasar daging.

Sayang, hidup ahli Filsafat itu berakhir tragis. Dia dikenai hukuman mati karena dianggap merusak kaum mudah. Dan yang lebih fatal, negara mendakwanya menghasut masyarakat untuk tidak mengakui dewa yang diakui negara. Ironis memang. Padahal Athena saat itu adalah tempat dimana semua warga negaranya bebas mengeluarkan pendapat. Athena dengan kata lain adalah yang negara yang menganut faham demokrasi dalam bentuknya yang paling awal.

Dari tiga orang penuntut Sokrates dalam Mahkamah Athena yang terkenal itu, satu di antaranya bernama Anytus. Anytus adalah seorang demokrat sejati. orang inilah yang paling keras mendakwa Sokrates. ”Faham demokrasi” katanya, berada dalam ujian yang berat oleh karena itu semua unsur yang tidak sejalan dengan negara adalah murtad dan harus dihukum mati”.

Menghadapi tuntutan seram itu, Sokrates tak bergeming. Dalam Apologia (pidato pembelaan Sokrates di mahkamah Athena itu) yang ditulis Plato, Sokrates menyatakan bahwa dirinya ibarat “lalat penggelitik” yang dihadirkan negara oleh Tuhan. “Menurut Sokrates, negara seperti kerbau yang lamban geraknya. Untuk itulah perlunya lalat penggelitik agar kerbau tersebut dapat bergerak dinamis. Kita berkesimpulan bahwa sikap Sokrates tersebut ibarat kritikus di zaman kita sekarang.

Sokrates sebenarnya tak peduli dengan tuntunan itu. Bahkan tak peduli dengan kematiannya sendiri. Ia beranggapan lebih baik mengakhiri hidup dengan cara meminum racun, dari pada mengorbankan pendiriannya, walaupun sebenarnya ia bisa saja lolos dari tuntunan. Sikapnya dalam sidang bahkan terkesan memancing amarah juri. Akhirnya dari 500 anggota juri yang hadir, hanya 220 juri yang membelanya. Sisanya menyatakan: Sokrates harus dihukum.

Iklan

Satu pemikiran pada “Sokrates

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s