Hoga Dan Orang Bajo

Orang Bajo merupakan salahsatu komunitas masyarakat yang ada di Wakatobi baik yang berdiam di Wangi Wangi yang lebih dikenal dengan Orang Bajo Mola ataupun Orang Bajo Sampela di Kaledupa. Sebagai nelayan tulen, lahan pencaharian orang bajo di manapun di dunia adalah laut. Dengan kata lain orang bajo seratus persen menggantungkan hidupnya dari laut.

Keberadaan orang bajo di Wakatobi khususnya di Kaledupa sejak dahulu diakui telah memberikan kontribusi yang besar terhadap masyarakat sekitar. Dengan adanya orang bajo, stok ikan dan hasil laut lainnya yang selama ini di konsumsi warga akan tetap terjamin. Meskipun diakui bahwa warga Kaledupa sendiri merupakan penangkap ikan yang handal. Akan tetapi mengingat bidang pekerjaan mereka yang lebih berorientasi ke darat, maka kebutuhan mereka akan ikan tetap disandarkan pada orang bajo sepenuhnya.

Nah karena sumber nafkah mereka adalah laut, orang Bajo Sampela sungguh memahami benar bagaimana membentuk hubungan yang harmonis dengan alammnya. Alam yang telah menyediakan nafkah yang berlimpah bagi mereka secara turun temurun.
Salah satu kawasan yang selama ini merupakan andalan bagi orang bajo khususnya komunitas Bajo Sampela untuk mencari nafkah adalah Kawasan Taman Nasional Wakatobi khususnya yang lebih spesifik lagi adalah Pulau Hoga.
Sebagaimana diketahui bahwa Pulau Hoga termasuk kawasan yang telah dijaga ketat dari perambahan ekosistem laut termasuk dari orang bajo sendiri. Singkatnya, warga sekitar pulau itu dilarang keras mengambil ikan tertentu termasuk biota lainnya di taman nasional. Yang menarik, orang Bajo Sampela tidak mengaggap batasan tersebut sebagai matinya sumber nafkah mereka. Malahan adanya pembatasan seperti itu makin mengukuhkan terjaminnya mata pencaharian mereka untuk jangka panjang. Kenapa demikian ?.
Saat menyaksikan upacara ritual adat pelepasan lobster dan penyu hijau oleh etnis Bajo Sampela, penulis merasa kagum luar biasa atas keyakinan orang orang bajo yang berhubungan dengan laut sebagai sumber nafkah mereka. Ritual adat tersebut dilakukan saat akan memasuki musim mencari ikan. Dengan ritual itu diharapkan hasil tangkapan akan melimpah, rezeki bertambah dan habitat laut tetap aman terjaga.
Dalam ritual yang dikenal dengan nama Tuba Dikatutuang tersebut orang bajo percaya bahwa laut adalah teman mereka, kawan yang harus diperlakukan secara wajar. Dengan demikian cara cara menangkap ikan dengan merusak habitatnya sangat tidak dibenarkan. Perlakukan semena-mena terhadap laut beserta isinya akan membuat murka penjaga laut atau dewa laut yang oleh orang Bajo Sampela disebut sebagai Sangia Mandilao.
Ritual adat pelepasan lobster dan penyu hijau atau Tuba Dikatutuang tersebut menunjukkan paling tidak dua hal
Pertama : Hubungan orang bajo dengan laut setidaknya bagi Etnis Bajo Sampela merupakan hubungan simbiosis mutualisma. Keduanya saling membutuhkan dalam rangkaian siklus rantai makanan. Merusak habitat laut oleh karena itu dipastikan akan merusak siklus rantai makanan yang telah dibangun selama puluhan tahun.
Kedua : Dalam hubungan itu pula orang bajo dengan bijak mengajarkan pada kita bahwa mengambil hasil laut haruslah dengan cara-cara yang ramah lingkungan misalnya menggunakan kail, pukat tradisional dan jala. Dalam tradisi itu, orang bajo dilarang keras mengambil biota laut yang belum cukup umur atau belum dewasa baik itu ikan, kerang-kerang, teripang, lobster maupun hasil laut lainnya.
Nah berangkat dari asumsi seperti itu, dapat dipastikan ekosistem laut dan terumbu karang yang selama ini dijaga dengan ketat di Pulau Hoga akan sejalan dengan tujuan pemerintah melindungi laut dari perambahan dan pengrusakan orang orang yang tidak bertanggungjawab yang bermotif ekonomi.
Oleh karenanya alangkah baiknya bila ritual semacam itu dilakukan secara berkala baik di Sampela maupun di koloni orang bajo lainnya di Sultra. Selain untuk tetap mengingatkan semua orang akan bahaya hancurnya ekosistem laut, ritual semacam itu juga dapat ‘dijual’ untuk promosi wisata. Untuk etnis Bajo Sampela di Kaledupa hal tersebut sangat mungkin dilakukan mengingat keberadaan Pulau Hoga sebagai pusat terumbu karang dunia.

Iklan

11 pemikiran pada “Hoga Dan Orang Bajo

  1. Sebaiknya ritual ini diselenggarakan di semua daerah pesisir pantai di seluruh Indonesia.

    Penangkapan ikan/lobster/udang harus memenuhi strandar ukuran minimal. Pasti deh lebih terjamin.

  2. Yang kelola Hoga merupakan orang-orang yang tidak tahu budaya lokal setempat termasuk juga pemerintahan baru disana. Sebaiknya industri wisata di Pulau Hoga dijadikan industri wisata terpadu bukan hanya wisata lautnya (lingkungan) saja tetapi juga wisata sejarah dan budaya serta wisata religinya juga. Dengan demikian bukan hanya pengelola bule yang dapat duit tapi masyarakat lokal juga dapat. terima kasih.

  3. makanya jd orang indonesia hrs kreatif, rajin, tdk sll mementingkan diri sndr, trus jangan suka telat donk nyadarnya… gak salah klo orang asing yang mengelola pulai ini, karena mereka yang peduli & tahu menghargai alam.

    kita jangan selalu berprasangka buruk, klo bukan mereka yang berbuat sesuatu di pulau ini, tidak mungkin Hoga terkenal di dunia. Kita harus tau berterima kasih dan belajar dari kesalahan kita sendiri sebagai warga negara Indonesia yang selama ini tidak peduli dengan kekayaan alam kita

    Menurut saya hal ini adalah pelajaran berharga buat pemerintah kita, agar peduli dengan sumber daya alam kita, jangan karna Hoga sudah menghasilkan sesuatu yang banyak buat org asing tersebut lantas kita ribut,

  4. pemodal kerja sama Pemerintah memang mau enaknya saja ya…
    pulau hoga dan masyarakat disana tidak peduli mau terkenal keseantero dunia ke….. atau apanya sih yang dianggap orang bulenya disana berhasil.
    Yang ada disana sekarang masyarakat sudah dilarang menangkap ikan karena alasan konservasi.
    konservasi disana tidak dikenal, yang ditau apa yang mau dimakan besok

  5. Sejak ditetapkannya Wakatobi sebagai Kawasan Taman Nasional maka geliat pembangunan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat di kaledupa meningkat pula.
    Namun perlu diketahui bahwa Kawasan Taman Nasional Wakatobi dikelola oleh orang asing yang nota benenya tidak tau tentang histori dan pola kehidupan orang WAKATOBI. Tapi disisi lain dengan dikelola oleh orang asing maka WAKATOBI terkenal di seantero dunia.
    Kawasan Tamana Nasional Wakatobi di bagi dalam beberapa kawasan dan ini perlu diketahui oleh masyarakat kaledupa.
    Kawasan wisata adalah suatu kawasan yang dikhususkan untuk wisatawan yang ingin berkunjung atau ingin menikmati keindahan Wakatobi sehingga kawasan ini di tata seindah mungkin mulai dari penginapan, pantai dan berbagai fasilitas lengkapi untuk menunjang kenyamanan wisatawan. Kawasan wisata ini berada di pulau tomia sehingga perkembangan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat tomia lebih baik di banding dengn masyarakat kaledupa. Kawasan tomia ini dikelola oleh lembaga asing denga nama WAKATOBI DIVE RESORT.
    Kawasan konservasi dan penelitian merupakan kawasan yang dkhususkan untuk penelitian. Kawasan ini adalah Pulau Hoga dan Kaledupa sehingga yang datang atau berkunjung ke Pulau Hoga rata-rata adalah peneliti ataupun mahasiswa baik dalam negeri maupun luar negeri. Karena kawasan (Pulau Hoga) ini adalah untuk penelitian maka semua yang tumbuh dan hidup di kawasan ini dilindungi dan dilestarikan. Kondisi Pulau Hoga tidak seperti kondisi pulau – pulau wisata lain yang dipercantik lengkap dengan fasilitas namun pulau hoga dibiarkan begitu saja, rumput yang ada di pantai di biarkan, semak-semak tidak dibersihkan. Jadi jangan kaget kalu dilihat dari jauh Pulau Hoga Seperti pulau yang tidak berpenghuni atau tidak terurus hanya pantai pasir putihnya yang kelihatan.
    Untuk kawasan lautnya penduduk yang bermata pencaharian dilaut tidak sembarang lagi menangkap ikan karena ada kawasan yang merupakan zona larangan untuk menangkap ikan.
    Kawasan ini (Pulau Hoga) dikelola oleh WALLACEA.
    Pertanyaan saya kapankah Pulau hoga dan Pulau Kaledupa dan lautnya menjadi kawasan wisata terpadu tidak terbatas pada kawasan konservasi?
    Semoga saja PEMDA WAKATOBI berusaha agar setelah masa kontrak

  6. Semoga PEMDA WAKATOBI berusaha agar setelah masa kontrak WALLACEA dan WAKATOBI DIVE RESORT habis langsung di ambil alih dan dikelola oleh PEMDA WAKATOBI melalui Dinas Pariwisatanya untuk peningkatan devisa akan menambah PAD sehingga infrastruktur yang ada di WAKATOBI tambah baik

    Pulau Hoga dan Pulau Kaledupa bukan hanya lautnya yang bisa dijual tapi ada berbagai historis yang bisa di jadikan sebagai objek wisata misalnya :
    1. Benteng Pertahanan yang terdapat di PALEA (Desa Pajamarakka), Kelurahan Ambeua dan di Desa sombano. Benteng ini merupakan titik pertahanan yang paling utama dalam melindungi Kesultanan Buton.
    2. Masjid Agung Benteng yang terdapat di Desa Ollo. Masjid ini bentuk dan coraknya hampir sama dengan Masjid agung Kraton Buton.
    3. Puo Nu Futa (Pusat Tanah) merupakan suatu lubang sebesar tempurung kelapa yang keunikannya disekitaran lubang (jarak 1 meter) tersebut selalu bersih.
    4. Danau yang terdapat di desa sombano dengan keunikan yang sangat fantastic dimana udang yang hidup di danau tersebut berwarna merah (seperti udang yang sedang di bakar)
    5. Pesta rakyat (Karia) merupakan suatu hajatan rakyat yang sampai sekarang masih dilaksanakan.

    Perlu di ketahui bahwa Masyarakat Kaledupa merupakan masyrakat yang adventure atau perantau dan mengutamakan pendidikan. Jadi jangan heran kalau melihat rumah yang udah mau rubuh tapi di dalamnya ada foto sarjana yang memakai toga.
    Mayoritas mereka sekolah di Bau – Bau, Kendari, Makassar dan Jawa mulai dari tingkat SMA sampai Perguruan Tinggi dan yang merantau sampai ke malaysia dan singapore.
    Kalau anad ingin berkomentar atau ingin sharing silahkan email ke dedypro@yahoo.co.id

    • hi Juardin

      kala bicara tentang pariwisata terpadu mungkin sepakat saya. tapi perlu untuk kita sadari semua bahwa memang Wakatobi itu hanya di jual untuk wisata lautnya. Lihat saja namanya Taman Nasional Laut Wakatobi, jadi wisatawan yang datang memang khusus (jangan samakan dengan daerah Bali coi) jadi memang di wakatobi hanya di gunakan sebagai kawasan konservasi laut. tak peduli rakyatnya mau makan apa. sebenarnya ada juga yang mendapatkan manfaat dari mereka wisatawan, tetapi itu hanya segelintir orang itupun harus punya modal bos. Kerena mereka daapat mendirikan penginapan. pertanyaannya bagaimana dengan masyarakat:
      1. tidak mempunyai modal = pasti jadi buruh murah, diperlakukan semena-mena,
      2. orang yang tidak mempunyai keahlian di bidang pariwisata. = pasti menjadi tamu di kampung sendiri,

      saya melihatnya ini adalah sebuah rekayasa sistematik yang dilakukan oleh kelompok pemodal untuk memiskinkan orang wakatobi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s