Mental Moenafik di Awal Poeasa

Sedjak seminggoe sebeloem Ramadhan datang, hampir semoea media menjadjikan berita jang seragam : Marhaban Ja Ramadhan. Menjamboet poeasa dengan antoesias. Semoea rame-rame roebah penampilan. Pake koedoeng dan djilbab poen mewabah. Razia THM digalakkan. Bahkan ada ormas jang dengan sangat kampoengan melakoekan sweeping miras, PSK dan THM jang disiarkan televisi setjara live.

Saja djadi berpikir mengapa adegan seperti ini selaloe beroelang tiap tahoen mendjelang poeasa? Tidakkah itoe menoendjoekkan bahwa kita masih bermental moenafik? Mendjaga maksiat selama seboelan dan membiarkannja selama sebelas boelan adalah pekerdjaan jang sia-sia. Memboeang fikiran, ongkos dan tenaga. Ataoe djangan djangan itoe hanja sekedar nampang sadja soepaja kelihatan bahwa kita djoega adalah penganoet Islam jang taat?

Mendjelang poeasa seperti sekarang semoea artis berlomba-lomba masoek tv agar dia di shoot sedang tarawih ataoe berboeka poeasa. Padahal boelan laloe orang ini baroe sadja oesai berfoto boegil dan beradegan seronok di lajer katja. Tdjoba tengok penampilan Sarah Ashari ataoe Dewi Persik di boelan poeasa ini. Pasti mereka ngomong djoega soal poeasa dan ibadah lainnja seraja mengenakan keroedoeng dan djilbab jang sangat mahal. Kasian kan?

Agama hanja oentoek gagah-gagahan sadja. Riak dilembagakan oleh media. Sementara itoe ada poela ormas Islam merasa paling berwenang memberantas maksiat di negeri jang djelas-djelas beloem mendjadikan Islam sebagai dasar negaranja ini.

Iklan

9 responses to “Mental Moenafik di Awal Poeasa

  1. setidaknya itu menjadi awalan buat mereka.
    jangan suudzon dulu…
    kalo memang akhirnya memang dia munafik, biar Allah aja yang memberikan balasan setimpal 🙂

  2. Salam persahabatan untuk sahabat arsyadsalam, sedikit komentar saya terhadap artikel sahabat, barangkali ini adalah efek sekulerisme yang secara defact diterapkan dinegeri ini. Prinsip Capital lebih utama dari moral adalah prinsip-prinsip sekulerisme, liberalisme, dan berujung pada materialisme. Inilah stigma dn paradigma yang tumbuh subur di negeri ini. Kemudian sub sitem yang kemudian terasa dalah budaya hedonisme, permisivme, dan budaya exlusivme yang semakin mendarah daging di negeri ini.

    dan juga yang tak kalah penting adalah penggunaan standar ganda yang sering menimpa kita, disatu sisi kita menyadari bahwa hal itu salah, tapi disisi lain malah kita juga yang melakukannya.

  3. Kalau ibadah hanya buat cari muka ya gitu deh, pak Arsyad.
    —–
    Sdr Jundul, kalau kita selalu mencari penyebab di luar sana, nggak akan ada habisnya dan nggak akan tuntas. Semua kembali kpd diri kita masing2. Bagaimana kita menjalankan kehidupan beragama, bukan sekedar formalitas dan kewajiban. Tetapi merupakan sebuah kebutuhan untuk berinterakasi dg Allah.

  4. Yah, ramadhan hanya simbol kemunafikan. Di bulan ini lahir beragam manusia-manusia hipokrit. Sialnya, hal ini terus saja berulang dari tahun ke tahun tanpa ada progres positif. Pantaslah kalau Syekh Siti Jenar berujar, “Semua ibadah sudah dipalsukan semua”. Tapi apa boleh buat, penganut mayoritas agama ini adalah kaum grassroot, dan kita yang memiliki kejenuhan dengan realita kekinian yang menjadi status quo, hanyalah segelintir. Kita tak punya otoritas terhadap mereka. Yang bisa kita lakukan hanya merubah sikap personal. Persetan dengan mereka.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s