Tentang Para Sahabat

IMG_1408IMG_1409

Aula Merah Putih Rumah Jabatan Gubernur Sulawesi Tenggara 16 Agustus 2009

Puluhan Kepala Desa dan pelajar SLTA duduk berbaris dengan rapi. Para Kades menggunakan stelan batik sedangkan pelajar memakai baju seragam abu-abu. Deretan kursi mereka  memang sengaja dipisahkan dengan para tamu yang lain. Mereka hadir  menyaksikan pengukuhan  Paskibraka di rumah jabatan Gubernur Sulawesi Tenggara.

Tapi mereka bukanlah tamu biasa. Bahkan dapat dikatakan bahwa hari itu mereka sebenarnya adalah tuan rumah. Selama sepekan menjelang perayaan agustus itu mereka menginap di rumah jabatan dan menjadi tamu kehormatan gubernur. Mereka inilah para sahabat gubernur

Di banding dengan nama nama para undangan yang mayoritas adalah pejabat pemda, penyebutan istilah sahabat dalam acara resmi  seperti ini memiliki makna yang berbeda. Berbeda lantaran selama ini para pejabat kita tak pernah memasukkan kosa kata sahabat dalam susunan acara apapun juga. Yang lazim terdengar adalah  Ketua DPRD, unsur  Muspida, Danrem, Rektor dan lain sebagainya.

Penggunaan kata sahabat Gubernur  mau tak mau memancing minat orang untuk bertanya lebih lanjut : siapakah mereka itu? Mereka adalah 15 Kepala Desa terbaik Sulawesi Tenggara tahun ini. Serta 24 pelajar SLTA berprestasi se Sulawesi Tenggara. Dan Gubernur Nur Alam menggandeng  mereka ini menjadi  sahabat beliau.

Mendapat kehormatan menjadi sahabat gubernur adalah hal yang sungguh luar biasa bagi para kades dan pelajar terpilih ini. Bukan apa-apa, dari jutaan penduduk Sulawesi Tenggara, hanya merekalah yang berhak menyandang gelar sahabat gubernur.  Mereka bangga lantaran tak semua orang bisa menjadi sahabat gubernur. Untuk meraih predikat itu mereka bekerja dan mengabdikan diri untuk masyarakat di tempat mereka masing-masing. Para pelajar juga demikian. Predikat pelajar terbaik yang mereka sandang tak datang dari ruang hampa, tapi melalui proses belajar yang keras dan sungguh-sungguh.

Dan Gubernur Nur Alam ternyata memang tak main main dalam memperlakukan para sahabatnya itu. Beliau menjamu para Kades dan pelajar tersebut layaknya menjamu teman sejati yang datang dari jauh. Selain menginap di rumah jabatan, mereka juga diajak berkeliling di Kota Kendari bersama gubernur sendiri. Tak cukup hanya itu, Gubernur akhirnya mengajak para sahabatnya ini ke Jakarta. Ke ibukota Negara. Suatu pengalaman  yang tak akan terlupakan bagi para kades dan pelajar ini seumur hidupnya.

Pemikiran Gubernur Nur Alam untuk menggandeng Kades dan Pelajar terbaik untuk menjadi sahabat, adalah satu ide cemerlang yang jarang terjadi di daerah lain. Yang sering kita dengar adalah pejabat yang menjadi bapak angkat dan bapak asuh.

Penggunaan istilah bapak angkat, sedikit banyak sebenarnya berkonotasi miring. Menjadi bapak  angkat  menunjukkan bahwa mereka yang menjadi anak angkat adalah orang orang yang tak berdaya, lemah, papa, miskin, tak mampu  dan seterusnya dan seterusnya. Mereka sangat mungkin hanya menjadi  obyek suatu pekerjaan. Mereka bukanlah subyek apalagi predikat.

Sementara itu, dengan memakai istilah sahabat berarti timbul suatu pengakuan bahwa gubernur dan para sahabatnya itu punya kedudukan setara dan seimbang dalam membangun hubungan dan komunikasi. Merekalah kawan dekat gubernur, teman karib yang tersebar di seluruh pelosok Bumi Anoa.

Ada beberapa hikmah yang bisa menjadi renungan bagi kita semua tentang ide gubernur untuk merangkul orang-orang berprestasi ini dengan menggandeng mereka menjadi sahabat beliau.

Pertama,   dengan ide cerdas seperti ini, Gubernur Nur Alam ingin menjunjukkan kepada rakyat bahwa jabatan gubernur bukanlah suatu menara gading yang tak dapat bersentuhan dengan orang ramai. Selama ini ada kesan bahwa jabatan gubernur adalah sesuatu yang sakral, keramat dan  angker di mata orang banyak. Jangankan mengiinap di rumah gubernur seperti ini, untuk bertemu gubernur saja susahnya minta ampun. Sepulangnya ke kampung masing-masing, para Kades tersebut pasti akan menceritakan pengalamannya selama menjadi tamu kehormatan gubernur. Ini akan sangat efektif membantu sosialisasi program-program pemerintah daerah di pelosok pelosok terpencil.

Kedua, dengan model pendekatan seperti ini, akan menjadi dorongan bagi para Kades dan pelajar lain untuk untuk terus berpacu dalam bekerja dan belajar sungguh-sungguh untuk kemajuan diri sendiri, masyarakat dan daerah. Masyarakat, khususnya para kepala desa dan pelajar SLTA akan kian tertantang untuk bisa  mendapat kehormatan menjadi sahabat gubernur di masa yang akan datang.

Iklan

Satu pemikiran pada “Tentang Para Sahabat

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s