Ah . . . .Vosmaer Baai

Teluk_Kendari

Karna banya’nya limbah tertumpah di laut

seperti minyak tanah, solar, oli apa

Kalimat itu sering terdengar di Kendari TV dan sangat populer di masyarakat Kota Kendari beberapa waktu lalu yang di ucapkan seorang lelaki paruh baya dan isinya menanggapi rusaknya Teluk Kendari. Meskipun kalimat itu telah diulang ulang ratusan kali namun tak ada perubahan berarti dalam penanganan kerusakan Teluk Kendari. Apa dan siapa itu Teluk Kendari? Begini ceritanya.

Syahdan tersebutlah seorang lelaki bernama Jan Nicolas Vosmaer. Dia adalah jenderal Belanda yang melakukan ekspansi kekuasaan ke wilayah timur Indonesia, termasuk Sulawesi. Pada tanggal 9 Mei 1831, pria ini tiba di teluk kendari yang saat itu memang belum memiliki nama. Setelah melakukan beberapa kali peninjauan, ia dan pasukannya lantas sepakat memberi nama teluk kendari yang saat itu masih asri dengan  namanya sendiri yakni Vosmaers Baai alias Teluk Vosmaer. Inilah cikal bakal ditemukannya teluk Kendari. Bahkan tanggal pendaratan pasukan Vosmaer 9 Mei dijadikan sebagai hari lahir Kota Kendari.

Sejak saat itu, Teluk Kendari telah menjadi ikon Kota ini.  Keberadaan Teluk Kendari ditinjau dari sisi sosial sangat bermanfaat bagi masyarakat sekitar khususnya para nelayan yang bisa mencari ikan di area ini. Dengan luas perairan sekitar hampir 18 km2 dan panjang garis pantai hampir 86 km,  Teluk Kendari memiliki berjuta potensi yang unik untuk dikelola. Tapi itu dulu, waktu teluk belum lagi mengalami degradasi seperti sekarang. Dulu waktu teluk masih terpelihara, jangankan ikan, warga bisa mengambil hasil laut apa saja di sana lantaran kondisinya masih bagus. Banyak jenis kerang bakau dan kepiting yang selalu dicari masyarakat untuk dikonsumsi.

Sekarang teluk Kendari telah berubah fungsi. Dari tempat mencari hasil laut oleh masyarakat menjadi tempat pembuangan sampah paling besar dan fantastis. Mungkin satu-satunya di Indonesia. Jika melihat kondisi teluk ini sekarang kita akan prihatin karena telah mengalami pendangkalan yang parah.

Perkembangan penduduk dan kemajuan Kota Kendari membawa konsekwensi lain yakni kesemrawutan kota yang kian tak terkendali. Sampah berserakan di mana-mana, drainase tak berfungsi, tata kota yang semrawut dan pemerintah kelihatannya putus asa mengatasi hal ini.  Sementara itu, ada pemeo di masyarakat buat apa buang sampah jauh-jauh kalau yang dekat juga ada. Yang dekat tentu saja adalah Teluk Kendari. Pemeo yang sangat menyesatkan.

Memang bukannya tak ada upaya perbaikan sama sekali. Sejumlah Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) telah berupaya menyelamatkan teluk ini dari kehancuran. Namun hasilnya : nol.

Ada sinyalemen beberapa kalangan bahwa percepatan pendangkalan teluk merupakan akibat dari penggundulan hutan yang ada dalam kota. Akibat penggundulan tersebut terjadilah erosi kala hujan turun dan membawa gumpalan tanah dan pasir menuju teluk. Selain itu, sampah yang bertumpuk dalam teluk juga kian memperburuk keadaan. Akibatnya bisa di duga, selain cepat mengalami pendangkalan, teluk juga menjadi pembuangan sampah oleh warga setempat yang tak mau ambil pusing dengan keadaan sekitar.

Melihat krisis Teluk ini sekarang, Pemerintah Kota Kendari mencoba satu solusi yang disarankan banyak pihak yakni pengerukan. Perencanaan sudah dibikin. Anggaran sudah disediakan. Pengerukan telah dilakukan. Tapi lagi lagi terbentur pada ketidak seriusan untuk mengembalikan Teluk Kendari ke zaman Vosmaer. Mesin pengeruk tampak menganggur seperti besi tua yang siap dikilo. Padahal mesin penghisap lumpur itu telah menelan biaya yang tidak sedikit. Dengan kata lain, Pemerintah Kota memang tampaknya tak serius melihat kerusakan teluk ini.

Sekarang sudah saatnya kita semua mengambil langkah ekstrim demi penyelamatan ikon kota tersebut.  Selain melanjutkan pengerukan secepatnya, kita juga melakukan  penanaman kembali pohon bakau dan mangrove di sekitar teluk serta sosialisasi yang komprehensif kepada masyarakat tentang larangan membuang sampah di teluk ini. Jika tidak maka jangan heran jika nama Teluk Kendari kelak tinggal menjadi dongeng pengantar tidur bagi anak cucu kita.

Dan entah apa kata  Jenderal Vosmaer andai melihat kondisi Teluk Kendari sekarang. Mungkin ia juga akan sedih. (**)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s