Pekerja Pers

Banyak Istilah,  RohnyaSama Jua : Jurnalis

Wartawan seperti pemulung, mengais dan mengumpulkan rupa-rupa kejadian dan merangkainya menjadi sebuah cerita. Sebuah fakta. Untuk di jual.

Wartawan seperti buruh bangunan, bekerja seharian dengan upah yang belum tentu memenuhi standar UMR. Kalau lagi banyak order kerjaan di tambah dan terjadilah lembur. Persis seperti di bangunan. Makanya, dulu wartawan diasosiasikan sebagai kuli tinta. Seperti kita tahu, kuli di manapun juga adalah  strata pekerja mirip kelas paria dan sudra dalam agama Hindu. Sebuah pekerjaan sekasar-kasarnya pekerjaan kasar.

Tapi mereka tak pernah mengeluh, baik diam-diam lebih-lebih secara terang-terangan. Mereka hanya bekerja, bekerja, mengais, meliput remah-remah kejadian yang bermacam-macam untuk kepentingan pembaca dan pelanggan esok harinya.

Tapi mereka bukanlah kuli biasa. Mereka tak bisa dianggap sepele.   Saya pernah dengar ada sebuah acara kebesaran pemerintah diundur gara-gara wartawan terlambat hadir. Sebuah pertanda bahwa mereka bisa juga menentukan sukses tidaknya sebuah kegiatan.

Sebuah kelompok unjuk rasa yang semula berdemo dengan tenang tiba-tiba menjadi beringas lantaran kehadiran wartawan tv nasional untuk meliput demo mereka. Semakin banyak kamera menyorot pendemo, makin beringaslah kelompok pengunjuk rasa dibuatnya. Mungkin para pendemo memang sengaja ingin diliput agar masuk tv dan jadi berita heboh. Ada ada saja.

Baiklah.

Secara individu atawa personal ada beberapa wartawan atau jurnalis atau apapun istilahnya, di Sulawesi Tenggara masih memegang teguh idealisme jurnalistik. Namun tak kurang pula yang tidak sanggup menahan godaan baik godaan berkelebihan yang identik kesenangan maupun godaan kekurangan yang identik dengan kepapaan. Itulah realita.

Banyak teman-teman saya yang kini telah menjadi wartawan hebat. Tentu berkat keuletan dan kegigihan mereka dalam bekerja. Ada yang sudah bikin buku. Ada pula yang menjadi anggota parlemen di daerah.  Dan sebagainya dan seterusnya.

Namun apapun profesi tetap mereka akhirnya, mereka tetaplah mengandung roh pekerja pers dalam tubuhnya.. Mungkin memang begitulah..

Gambar ilustrasi comot di blog ini

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s