Salah Paham Antar Generasi

Dari Bahasa Sampai Punahnya Etos Kerja

Kemajuan teknologi informasi yang bukan main cepatnya tak ayal menabrak dinding kesadaran kita. Dan perkakas informasi digital pun kian menambah (sumpek) saku dan memori ingatan orang mengenai tata cara berkomunikasi  maupun cara melihat sesuatu secara berbeda.

Perubahan zaman yang begitu cepat tak ayal menciptakan dua kutub berbeda mengenai cara pandang terhadap sebuah perkembangan itu. Yang satu, generasi kini yang ikut serta dan bersama-sama melakukan perubahan. Lainnya generasi lampau yang melihat perubahan zaman dengan kekagetan dan rasa kagumnya sendiri-sendiri.

Bagi saya dan kita semua yang telah berusia tiga puluh lima keatas akan merasakan sebuah ingar-bingar bahasa yang tak lagi kita pahami. Atau minimal sulit   sekali kita mengerti maknanya. Anak saya sering mengirimi saya pesan singkat yang sering bikin mumet kepala mencari padanan artinya.

Kalimatnya itu lho nak, saya tak lagi bisa menangkap maksudnya dalam hitungan sepersekian detik memori kerja otak saya. Padahal saya tidak menggunakan kacamata baca. Sangat tidak komunikatif dan jauh dari upaya untuk mengakrabkan diri. Sekalipun dengan orang tua sendiri.

Misalnya ini :

“pk.kT@ kPlA sK0lh bSK qT dT9 @Mblkan raprq d1 sKlah”

Atau ini :

“LoW cyg,^ m3T 6LjR..yy q Mw Bo2 mhuuacchh!!!!”

Apa sebenarnya maksudnya? Bagaimana merangkai kata-kata itu menjadi logika yang mengandung sebuah pengertian?

Sampai saat ini pun saya masih sering bingung membaca kiriman pesan singkat (SMS) seperti itu. Kebanyakan sih pesan nyasar. Katanya dari anak sekolah. Atau jangan-jangan orang dewasa yang menyaru menjadi anak sekolah memakai bahasa komunitas mereka.

Bukan berarti saya mulai pikun, tapi mengeja dan merangkai singkatan-singkatan kata-kata itu yang belum tentu kita persepsikan sama antara dua generasi berbeda. Kalian generasi sekarang dan kami generasi kemarin.

Membaca pesan pesan singkat di  ponsel anak-anak kita zaman sekarang kadang membuat saya tampak bodoh dan merasa ketinggalan zaman. Tak mengapa. Toh tiap generasi punya selera dan caranya sendiri dalam mengartikulasikan sesuatu.

Itu baru soal ponsel.

Soal lain juga punya potensi kesenjangan serupa dalam melihatnya. Maksud saya perbedaan penilaian antara generasi kemarin dengan generasi anak-anak kita.

Generasi 70 dan 80 an menganggap bahwa jenis musik di zaman itu adalah yang terbaik bagi mereka. Musisi zaman dulu  punya etos kerja tinggi dan tak main-main : semuanya dimulai dari bawah. Dari nol. Belajar setahap demi setahap sampai mahir dan sukses setelah puluhan kali ditolak studio rekaman.

Dulu ada band rock yang sangat saya kagumi lantaran kepiawaian personal anggotanya. Misalnya kemahiran teknik improvisasi alat perkusi macam John Bonham drummer grup Led Zeppelin. Atau paduan koor yang sangat apik dari grup Queen. Lalu gitaris legendaris Ritchie Blackmore dari Deep Purple.

Kemahiran mereka itu tidak didapat secara instan. Secara cepat. Tapi melalui latihan yang sungguh-sungguh selama puluhan tahun. Demikian pula dengan teknik  rekamannya. Sangat menguras tenaga dan butuh kesabaran lantaran semuanya masih manual. Di sini skil masing-masing orang betul-betul digantang. Karena itu nama mereka abadi hingga kini.

Sementara itu, generasi kini, masih dalam hal musik, tidak dilatih untuk memiliki kesabaran, keuletan dalam mencipta. Serba mau cepat. Maskipun hasilnya belum tentu bisa menggunggah orang banyak termasuk mereka sendiri. Saya pernah melihat tayangan di televisi ada sebuah grup band anak muda membuat lagu dan klipnya sekaligus hanya dalam waktu tiga jam. Ckckckckck bukan main.

Tapi apa hasilnya? Hasilnya adalah sebuah album atau lagu yang langsung dilupakan begitu selesai didendangkan. Secepat dia diciptakan secepat itu pula dia hilang dari ingatan. Mengapa? Entahlah.

Kita memang tak bisa mengutuk kesenjangan cara pandang antara generasi suatu zaman. Toh perjalanan waktu akan terus berlangsung. Dan perubahan akan terus terjadi.

Karena perbedaan cara pandang itu pula saya hingga kini belum melihat  grup musik yang menggunggah selera dan merangsang minat untuk menyimaknya. Di mata saya semua grup musik sekarang kebanyakan sama saja. Tak ada bedanya. Yang berbeda hanya nama grup bandnya. Selebihnya nyaris seragam. Semuanya tentang cinta, selingkuh, dan semacamnya.

Dulu beda antara The Rollies dan God Bless jelas sekali. Begitu pula Koes Plus, The Mercys dan Black Brothers. Atau yang di era 90-an seperti Elpamas, Power Metal dan Grass Rock. Kata orang dulu itulah grup musik yang sangat berkarakter. Mereka punya ciri.

Begitulah.

Kalau kita ketahuan oleh anak-anak zaman sekarang  mereka pasti akan menjawab “Ah bapak jadul amat sih? Suka mengenang dan mengagungkan masa lalu. Itu kan dulu pak.. waktu zaman belum cangggih seperti sekarang.. buat apa susah-susah  latihan kan ada komputer  dan sound effect yang sangat canggih”.

Benar. Dulu ya dulu tak bisa diputar kembali menjadi sekarang. Begitu pula sebaliknya.. Begitulah zaman. Cara pandang bisa beda bisa pula sama. Semuanya tergantung selera.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s