Film Kartun Indonesia, Tidur atau Semaput?

Upin-Ipin, Bukti Nyata Kekalahan Kita

Teman saya seorang wartawan pernah berseloroh : Bagaimana kalau Upin-Ipin kita klaim saja sebagai hasil kreatifitas Indonesia?  Tentu hanya sebuah gurauan iseng pengisi waktu luang. Sebuah kepedihan yang dibungkus canda tentang nasib sinema anak kita yang belum juga sadar dari pingsan akibat gempuran film kartun asing.

Ya film asing, tentu saja lagi-lagi menjadi kambing hitam atas carut-marutnya dunia sinematografi kita. Padahal belum tentu semua kekacauan ini akibat ulah mereka, Hollywood, Columbia Pictures, Paramount, New Line Cinema  atau apapun namanya itu.

Sineas kita lagaknya persis pembuat film besar sekelas Zemezicks atau Spielberg yang suka mengenakan syal ke mana-mana. Padahal tidak ada satupun film bermutu yang lahir dari tangan mereka. Kecuali mungkin Garin Nugroho satu-satunya sineas kita yang peduli pada kondisi sosial masyarakat khususnya nasib anak-anak bangsa.

Garin, seperti kita tahu tidak larut dan tak mau larut dalam arus kapitalisasi film yang mendewa-dewakan pasar, rating dan segala tetek bengek yang berkaitan secara langsung dengan uang. Dan sineas anak? Film kartun? Mungkinkah sineas Indonesia masih memiliki kesadaran bahwa anak-anak kita sesungguhnya juga butuh tontonan yang menyehatkan? Tidak melulu direcoki film kartun impor yang tentu saja nilai edukasinya sangat minimal itu?

Kasian betul dunia film kartun kita yang belum juga ada tanda-tanda mau hidup apalagi berkembang dan maju. Ia masih berkubang dalam tidur panjang. Atau mungkin juga sedang semaput akibat gempuran film luar dan miskinnya kreatifitas pembuat film kartun anak negeri ini.

Ya begitulah. Nasib film kartun anak akhirnya menguap sampai kini. Dan anak-anak kitapun kembali duduk manis  menyaksikan dengan khidmat aneka tokoh yang berseliweran di layar kaca. Spiderman, Superman, Thor, Hulk, Spongebob, Doraemon, Naruto dan yang paling menarik adalah Upin-Ipin.

Upin-Ipin jadi menarik bukan lantaran moral ceritanya yang memang sangat melayu, Kita banget.  Ia jadi hebat karena kita dengan gaya yang begitu hebat bukan main, tapi tak bisa membuat sinema serupa yang bisa menjadi pegangan anak-anak di rumah. Upin-Ipin oleh karena itu menunjukkan kekalahan kita yang kesekian terhadap Malaysia, negeri jiran kita itu. Ada kekalahan keratifitas. Ada kekalahan pemasaran. Kekalahan diplomasi, kekalahan saling klaim, kekalahan melawan korupsi.. kekalahan TKI kekalahan . . . . . . .

Dan dari semua itu kita kalah di negeri sendiri. Oh alangkah getirnya.

Tapi kita mau apa?

gambar diambil dari sini

Iklan

One response to “Film Kartun Indonesia, Tidur atau Semaput?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s