Robohnya Moral Kami

Judul tulisan ini terinspirasi dari cerita pendek terkenal AA Navis Robohnya Surau Kami. Namun tulisan ini akan berangkat dari sejumput persoalan yang agak berbeda dengan cerpen yang konon pernah membuat guncang tanah air tersebut.

Persoalan-persoalan pelik tampaknya terus mendera bangsa kita dalam kurun satu dasawarsa terakhir. Lemahnya penegakan hukum. Masalah korupsi. Merenggangnya nilai persatuan kolektif serta hilangnya rasa memiliki bersama sebuah tanah air, sebuah republik bernama Indonesia.

Kita tentu tak patut mencari pembenaran sendiri atas karut marut ini. Kita tak bisa misalnya menyalahkan pemimpin yang telah begitu rupa mengelola sebuah negara yang begitu besar. Bukankah para pemimpin adalah hasil ikhtiar kita bersama? Dengan kata lain kita juga yang memilih mereka dan karenannya kita tak bisa lepas dari kesalahan?

Kehancuran moral sebuah bangsa memang tidak serta merta terjadi. Ia adalah rangkaian siklus yang panjang serta lama. Orang-orang sosialis macam Karl Marx menyebut fenomena ini sebagai sebuah dialektika sejarah. Dari masyarakat borjuis menuju masyarakat komunis.

Tapi siapa yang mau percaya Marx juga Lenin di saat saat seperti ini? Komunisme hanyalah sebuah faham yang jasadnya telah lama membatu dalam buku teori politik. Sementara kehidupan riil masyarakat sebuah bangsa dengan aneka rupa persoalannya adalah sebuah sungai yang terus mengalir.

Maka yang terjadi kemudian adalah segugus rasa putus asa yang berkecamuk. Masyarakat hanya dapat mengutuk keadaan tanpa tahu apa penyebab dari semua kekacauan ini dan bagaimana memperbaikinya. Paling-paling kita hanya mampu menyalahkan sistem hukum yang bobrok. Manajemen pemerintahan yang amburadul sebagai penyebab merosotnya moral kita sebagai bangsa.

Kasus Gayus Tambunan, Nazaruddin, Artalyta Suryani, Nurbaeti, Malinda D, Susno Duadji, Cek Pelawat Miranda Goeltom adalah sederet –kalau tak dapat disebut segudang- kasus yang membikin wajah kita ditampar kian kemari. Atau tepatnya wajah kita yang kita tampar sendiri secara berulang-ulang.

Kita menyaksikan itu semua sembari duduk santai di depan tv. Menonton dengan tenang sambil minum teh bersama keluarga, anak, istri atau suami. Seakan-akan semua itu terjadi di tempat yang sangat jauh, di negeri antah berantah. Kepedulian kita sebagai anak tanah air telah lama menciut. Kita tak peduli lagi terhadap keadaan seakan akan hal itu memang adalah sebuah kawajaran. Bahkan kita larut dalam ketidakpedulian itu dengan khusyu dan hikmat.

Kondisi seperti inilah yang oleh Albert Camus disebut sebagai fenomena Sisiphus.

Adapun Sisiphus adalah sosok yang heroik sekaligus tragis. Tokoh cerita Albert Camus yang ganjil itu dihukum para dewa untuk mengangkat sebongkah batu ke atas gunung. Namun sampai ke atas batu itu menggelinding kembali. Sisiphus mengangkat lagi batu itu ke atas, namun terus menerus jatuh lagi kebawah. Sisiphus terus saja mengangkat batu itu meski sia-sia.

Akhirnya dalam kesibukan yang terus menerus demikian, dengan rasa frustrasi yang begitu tinggi, Sisiphus tak peduli lagi dan justru menikmatinya sebagai sebuah kewajaran dan ia bahagia karena itu. Tragis bukan?

Begitulah kondisi bangsa Indonesia hari ini. Kita terus dipertontonkan dengan aneka rupa persoalan yang unik dan ganjil juga aneh. Nalar kita menjadi jungkir balik. Lihatlah para koruptor itu. Di depan tv tampak seperti pahlawan. Seperti wajah tanpa dosa dan sangat biasa sekali. Lama kelamaan kitapun menganggapnya sebagai kawajaran. Oleh karena rakyat menelan itu semua secara terus menerus maka timbullah sebuah sikap apatis yang melembaga. Dan kita pun mengambil sikap seperti Sisiphus yang berbahagia dengan segala keruwetan yang ada.

Maka yang terasa kemudian adalah runtuhnya moral kita sebagai bangsa. Kita menyaksikan sembari mengelus dada betapa rendahnya mentalitas kita sebagai anak-anak negeri yang katanya beradab itu. Hilangnya kepedulian terhadap sesama. Keserakahan yang diarak tinggi-tinggi. Apatisme terhadap keadaan dan pasrah menerima nasib.

Kita lantas teringat pada Tuminah tokoh novel Idrus yang terkenal itu: Dari Ave Maria ke Jalan lain ke Roma, dalam cerita Surabaya. Saat pertempuran Surabaya terjadi, Tuminah menjadi pelarian.Pengungsi. Seorang familinya yang terbilang sangat kaya di Krian memberinya tempat bernaung yakni sebuah kamar yang sebenarnya adalah kandang anjing peliharaan si nyonya rumah. “Bersihkanlah kamar itu.Tempat tidur tidak ada. Kami miskin dan jangan harapkan apa-apa dari kami” kata familinya itu dengan nada ketus.

Apapun teori dan alasan penyebab terjadinya kesemrawutan bangsa saat ini namun satu hal jelas: kita telah kehilangan identitas kita sebagai bangsa yag punya etika, moral dan peradaban tinggi di masa lalu.Namun kini pelajaran moral dan etika itu telah lama menghilang dari semua jenjang pendidikan. Yang dipajang tinggi adalah sikap ego sebagai manusia persis seperti hewan dalam rimba belantara.

Selain itu, rusaknya mental kita dalam berbangsa dan bernegara sedikit banyak juga disebabkan oleh sikap para pemimpin yang tidak dapat memberi teladan yang baik pada rakyat. Para pemimpin sekarang hanya berkutat dengan urusan sendiri dan abai pada kondisi bangsa serta problem-problem yang timbul di masyarakat.

Menghadapi situasi bangsa yang demikian gawat ini, ada baiknya kita menoleh ke belakang, pada seorang negarawan Italia di abad 16 : Niccolo Machiavelli.

Machiavelli, mungkin merupakan politikus dan negarawan paling kontroversi sepanjang sejarah. Pandangan-pandangannya sangat terkenal antara lain karena ia membuang sejauh mungkin kaidah-kaidah moral dan etika dalam dunia politik.

Dalam buku Il Principe yang telah diterjemahkan dalam bahasa Indonesia dengan judul Sang Penguasa terbitan Gramedia, kita bisa melihat bagaimana nasehat Machiavelli kepada para pemegang kekuasaan. Kata Machiavelli : Seorang pemimpin atau penguasa harus tahu berjuang dengan hukum dan berjuang dengan kekerasan. Ia harus tahu menggunakan cara-cara manusia tetapi juga cara-cara binatang. Seorang pemimpin atau penguasa harus bisa menepati janji, tetapi apabila janji itu akan merugikan dirinya sendiri maka ia tak perlu menepati janjinya.

Seorang pemimpin kata Machiavelli pula tak perlu memiliki sifat-sifat baik tapi sangat perlu tampak seakan-akan memilikinya. Hipokrisi ? Kemunafikan ? Entahlah. Yang jelas semua itu sepertinya terasa akrab bagi sebagian kalangan di bangsa kita.

Begitulah. Yang terjadi kemudian adalah berlakunya sebuah asumsi secara massif: bahwa semua kita secara kolektif dan dengan kesadaran penuh telah ikut bersama-sama membiakkan sebuah embrio yang merupakan cikal bakal keruntuhan moral kita bersama sebagai bangsa.

Apa boleh buat (**)

gambar diambil dari sini

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s