Sejuta Baliho di Kota Lulo

Ketika papan reklame, spanduk dan baliho terbentang sepanjang jalan, untuk apakah gerangan dia dipajang? Apakah untuk memuaskan syahwat pandangan semata? Atau ada tujuan lain selain memperburuk tata kota?

Sebuah spanduk, sebuah iklan apalagi baliho pada galibnya juga mengandung suatu maksud yang terang dan jelas: sebagai sarana pernyataan kehadiran sebuah fenomena. Bahwa saya telah hadir di hadapan anda, titik. Soal apakah anda membeli atau tidak itu soal lain. Yang penting kehadiran itu sendiri.

Spanduk dan baliho oleh karena itu membawa sebuah misi suci yakni deklarasi kehadiran diri (kalau menyangkut  orang) atau kehadiran sebuah produk teranyar umpamanya sampo dan sabun mandi atau iklan rokok (kalau menyangkut benda).  Sengaja atau tidak, baik orang maupun benda pada akhirnya bersekutu menjual diri sendiri di hadapan orang banyak.

Sebagai sebuah kota yang hendak beranjak maju, Kendari terasa kian sumpek lantaran kehadiran para baliho atau papan iklan itu. Mereka  berdiri menghadang  laksana bala tentara  planet  Mars yang mengepung kota.  Tak heran bila di setiap sudut jalan kita akan menemukan beberapa baliho dipasang berhimpitan seakan berlomba memperebutkan ruang kecil  yang telah  sesak oleh papan iklan niaga.

Pada akhirnya kita dibuat bingung olehnya.  Makin lama makin  kabur jarak antara kepentingan yang diusung pada sehelai  kain plastik tercetak itu. Apakah si Pulan sedang berkampanye? Atau apakah  si Badu mau jadi anggota legislatif? Atau mengapa si Bejo menulis kata-kata begitu rupa? Maksud tersebut makin tak jelas bila menyimak kata-kata yang tertera dalam baliho mereka.  Ada yang lucu. Ada pula yang aneh dan tak sedikit yang membikin kening berkerut.  Umpamanya  ini

 “Rumah Makan Anu . . . . Cabang Makassar”.  Aneh.  Sejak kapan Kota Kendari berubah nama menjadi Makassar?  Pelajar sekolah dasar sekalipun kalau mengerti bahasa Indonesia pasti akan menertawakan kata-kata itu:  Cabang Makassar  tapi berada di Kota Kendari. Aneh bukan? Pemilik rumah makan itu (entah siapa dia) mungkin hendak membanggakan  luasnya cabang  usaha yang dia miliki. Tapi yang terjadi malah salah kaprah yang parah.

Pemilik rumah makan itu seharusnya belajar dari penamaan berjenjang  kepengurusan partai politik. Di Jakarta ada DPP (Dewan Pimpinan Pusat) di provinsi ada DPD (Dewan Pimpinan Daerah) dan di kabupaten ada DPC (Dewan Pimpinan Cabang).  Dalam dunia kewartawanan juga dikenal kepengurusan bertingkat. Ada PWI Pusat  Jakarta dan ada PWI Cabang Kendari. Rumah makan itu mungkin memang berpusat di Makassar dan membuka cabang di kota lain termasuk Kendari. Maka seharusnya ditulis : Rumah Makan Anu Cabang Kendari. Begitu simpel, begitu sederhana sebenarnya.

Contoh lain lagi.

Ada seorang lelaki memasang baliho yang sarat kata-kata namun tak punya daya pikat saat orang membacanya. Baliho berukuran jumbo itu akhirnya mirip sebuah koran raksasa. Dan orang tak bisa membacanya sambil lalu saat berkendara. Orang yang hendak membaca dan mengerti maksud baliho itu harus memarkir kendaraannya lebih dulu  lalu membaca semua kata dalam baliho itu dengan seksama. Menurut saya, inilah cara paling primitif menyampaikan pesan dengan maksud agar mudah dipahami  orang.

Yang makin membuat miris kita semua adalah para pemasang baliho itu yang  masih berpikir seperti orang zaman dulu. Mereka masih menganggap warga masyarakat seperti sekumpulan domba yang bebal dan dungu  yang mudah tertarik pada hijauanya rumput  yang semu. Mereka berpikir bahwa masyarakat dengan mudah dapat dibodohi warna-warni gambar dan barisan kata-kata yang bukan saja tak jelas maknanya tetapi juga sudah begitu basi kedengarannya. Namun orang-orang masih juga memasang baliho sembari menepuk dada dan memuji kehebatan diri sendiri.

Tapi tak apalah. Itu kan menyangkut hak orang juga. Lagi pula itu kan duit dia sendiri.  Lalu untuk apa kita ikut campur?  (##)

foto diambil di sini

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s