Catatan Pinggir, Mengasah Kreatifitas

Entah kenapa tiap kali membaca Catatan Pinggir Goenawan Mohamad saya merasa bisa terbang ke mana saja, melintasi benua-benua yang luas. Tak ada lagi batas geografis negara  lain. Semuanya serasa berada dalam sapuan pandangan maupun lintasan pikiran yang melampui batas teritorial manapun.

Catatan Pinggir juga membuat saya bisa melintas di segala zaman. Ide dan pemikiran orang-orang besar sejak zaman batu sampai zaman komputer tablet bisa bersanding dengan manis dan dibahas dalam persepsi serba ragu sehingga membuka segala kemungikinan penafsiran yang  lain sama sekali.

Kelebihan Catatan Pinggir adalah dia tidak pernah sampai pada kesimpulan yang final sebagaimana umumnya para ahli ketika membahas suatu masalah. Hampir semua Catatan Pinggir yang pernah saya baca justru berakhir dengan pertanyaan-pertanyaan yang mengusik nalar berpikir kita. Pendek kata, Catatan Pinggir membuat kita kembali mempersoalkan hal-hal yang selama ini dianggap sudah baku. Apapun tema yang diangkat Goenawan dalam Catatan Pinggir baik agama, politik, ekonomi, seni dan budaya akan sampai pada kesimpulan seperti itu: ambigu, bahkan kadang tampak sangat skeptis.

Catatan Pinggir (setidaknya bagi saya sendiri) justru menjadi renungan mendalam atas semua persoalan yang timbul di sekitar kita. Dengannya kita akan selalu dihadang sejumlah pertanyaan sebagaimana Goenawan bertanya.

Kemampuan Goenawan mengusik cara pandang kita terhadap sebuah persoalan semakin mendapatkan momentum karena Goenawan demikian piawai menggunakan bahasa bergaya sastra yang sangat plastis, bersayap dan sekali lagi, ambigu. Ini membuat pikiran kita terusik dan kitapun jadi bertanya terus menerus.

 Karena saya termasuk penggemar militan Catatan Pinggir, saya merasakan pengaruh yang kuat dalam tulisan-tulisan saya kemudian. Dan ini seperti tidak bisa saya hindari. Semakin sering saya membaca Catatan Pinggir semakin kuat daya pikatnya melekat dalam sanubari dan alam kesadaran saya selaku penulis. Dan saya tidak merasa malu mengakuinya. Terus terang bakat menulis saya terasah setahap demi setahap berkat bantuan Catatan Pinggir yang sampai sekarang sudah terbit 10 edisi itu.

Saya juga mengakui kalau mengoleksi 10 edisi Catatan Pinggir sama juga kita menyimpan sebuah perpustakaan besar dengan ribuan koleksi buku dari berbagai disiplin ilmu

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s