Santiago, Lelaki Tua yang Memikat

Dari Novel The Old Man and The Sea Dibandingkan novel-novel Ernest Hemingway lainnya, barangkalai The Old Man and The Sea adalah yang paling pendek, paling ringkas. Tapi dalam beberapa ulasan baik di media cetak maupun media online, saya membaca bahwa inilah novel terbesar Hemingway. Sebuah komentar yang saya pernah baca mengatakan kurang lebih begini: Inilah pencapaian tertinggi seorang Hemingway dalam dunia kesusastraan.

Bagi anda yang belum membaca novel ini pasti akan mengerutkan dahi, bertanya-tanya: sebegitu hebatkah The Old Man dalam karir pemenang Nobel Sastra itu?

Bagi saya jawabannya tentu ya. Dan bagi saya juga, kebesaran The Old Man bukan pada komposisi atau gaya bercerita Hemingway yang memang selalu mengundang rasa penasaran pembacanya.

Santiago, tokoh utama novel ini adalah seorang penggemar baseball. Ia selalu mengikuti perkembangan tim kesayangannya melalui surat kabar yang dibawa seorang bocah lelaki, kawan akrab Santiago di sebuah pantai kecil di Kuba. Meski ia sudah tua ( terjemahan novel ini berjudul Lelaki Tua dan laut) tetapi semangatnya dalam mempertahankan diri ketika melawan seekor ikan marlin besar mungkin belum bisa disamai oleh nelayan manapun.

Sikapnya yang tenang dan tanpa ambisi untuk membunuh makhluk lain, kendati terhadap seekor ikan sekalipun membuat kita berdecak kagum. Segala tindak tanduk serta suasana batin Santiago selama beradu kuat dengan si marlin digambarkan dengan sangat realistis. Saya seakan bisa melihat setiap gerak-gerik Santiago bahkan sampai ia menarik dan menghembuskan napasnya sendiri. Saat ia mengumpat kepada dunia, dan keluhannya kepada hidup. Juga lagaknya yang menggemaskan saat berbicara dengan si ikan. Bahkan ketika ikan marlin tangkapannya selapis demi selapis dirampas ikan hiu, Santiago tidak ambil peduli. “Syukurlah karena dengan begini, beban saya rasanya semakin berkurang” katanya enteng. Dan dari semua kejadian selama di perahu itu, saya terkesan pada satu ucapannya “Bahwa manusia bisa dikalahkan tapi tidak bisa ditundukkan”

Santiago memang sudah tua, tetapi semangatnya melebihi anak muda yang paling kuat sekalipun. Barangkali itulah moral cerita yang hendak disampaikan Hemingway kepada kita. Bahwa selama manusia hidup, semangat tidak boleh meredup. Begitulah.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s