Perpustakaan Pribadi

Tidak ada yang lebih memukau saya ketimbang melihat para penulis berpose di depan rak penuh buku di rumah mereka. Kadang saya berpikir, bisakah saya memiliki perpustakaan sendiri di rumah? Tempat saya akan memendam diri sehari penuh dengan membaca buku-buku bagus yang saya sukai?

Sejak SMA saya sudah mengumpulkan buku apa saja yang kebetulan saya dapat secara tak sengaja. Kebanyakan saya beli di toko-toko buku di kota saya. Namun hasilnya belum sesuai harapan. Banyak buku-buku yang saya cari tidak tersedia di sini. Maklum kota kecil seperti Kendari, tentu cakrawala perbukuan masyarakatnya juga tergolong rendah. Belum ada toko buku yang mengkhususkan diri dalam genre sastra misalnya. Kecuali Toko buku Gramedia yang menjual buku dengan topik yang cukup lengkap.

Alhasil, saya pun berburu buku bekas secara online dan hasilnya lumayan menggembirakan. Beberapa buku sastra kelas dunia saya peroleh dengan cara ini antara lain War and Peace karangan Leo Tolstoy. Max Havelaar karangan Multatuli dan Dr Zhivago karya Boris Pasternak. Ada juga The Name of The Rose Umberto Eco, 1984 George Orwel, The Old Man and The Sea Hemingway, Les Miserables Victor Hugo, Sampar Albert Camus, dan tak ketinggalan koleksi buku Catatan Pinggir Goenawan Mohamad sebanyak 10 edisi (lengkap). Saya juga sudah mengoleksi empat buku Tetralogi Buru Pramoedya Ananta Toer (Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah dan Rumah Kaca)

Dengan koleksi buku yang masih kurang, saya tetap bertekad membangun perpustaakaan sendiri di rumah, sekaligus mengganti rak buku kayu yang sudah berumur sekitar dua puluh tahun yang selama ini saya gunakan.
Dibanding rekan-rekan pemburu buku yang militan, mungkin koleksi yang saya miliki tidak ada apa-apanya. Saya sadar sepenuhnya, kalau seorang pencinta buku memang harus memiliki uang yang cukup untuk membeli buku yang lengkap. Apalagi mencari buku langka yang harganya selangit. Buku memang mahal. Tapi bagi saya semahal apapun buku yang kita inginkan akan sepadan dengan ilmu yang kita dapatkan setelah membacanya.

Sampai sekarang saya masih menunggu terbitnya novel terjemahan War and Peace karya Leo Tolstoy yang kalau tak salah Koesalah Soebagyo Toer akan menerjemahkannya untuk pembaca Indonesia. Saya juga tengah mencari terjemahan Indonesia karya Miguel Cervantes, Don Quisot (entah kapan saya akan memperolehnya)

Adapun koleksi buku yang sudah saya miliki saya tampilkan juga di halaman blog ini

illustrasi : http://mesinbuku.blogspot.com

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s