Beternak Bebek

Sudah lama saya ingin beternak bebek, tapi baru dua hari yang lalu keinginan itu terwujud. Saya sudah menelusuri berbagai referensi tentang cara beternak bebek. Bahkan saya beberapa kali ke toko buku Gramedia Kendari membaca buku petunjuk beternak bebek sesuai prosedur dan standar pemeliharaan yang baik. Dan tak ketinggalan juga melalui internet. Maklum saya termasuk buta dalam soal ternak-beternak seperti ini.
Saya sendiri juga heran kenapa sejak dulu saya terobsesi ingin memelihara bebek. Entahlah, tapi saya merasa sepertinya menyenangkan bisa memiliki bebek. Apalagi mendengar suara mereka minta makan atau melihat mereka berenang di atas air. Dan saya memang suka.
Lantas sayapun teringat salah satu koleksi novel saya berjudul 3 Cinta 1 Pria karangan Arswendo Atmowiloto di mana dalam bab pertama novel tersebut dibahas juga tentang beternak bebek. Tokoh utama novel itu, Bong namanya juga pernah menjadi peternak bebek. Meski cuma sekilas, tapi penggambaran soal bebek dalam novel tersebut sangat menarik. Bahkan Arswendo juga membandingkan bebek dengan entok atau bebek manila. Sekalipun hanya karya fiksi tapi saya senang membacanya.
Saya yakin pasti Arswendo melakukan penelitian yang mendalam tentang bebek. Tampaknya ia benar-benar serius. Saya bisa mengukur semua itu karena dalam novel terbitan Gramedia itu, -si pengarang melukiskan seluruh seluk beluk dunia bebek dengan gamblang, seakan saya sedang membaca sebuah buku panduan. Begitulah.
Saya membuat sendiri kandang bebek berukuran lebar empat meter, panjang hampir tiga meter dari kayu bulat sebesar lengan orang dewasa. Dari semua bahan kandang, yang paling membanggakan adalah atapnya: sejenis seng multiroof atau sakuraroof kata orang sekarang. Tak lupa saya juga membuat kolam kecil untuk mandi bebek sehabis bersenggama atau bertelur. Sumber airnya berasal dari kali kecil yang mengalir di samping kandang. Komplitlah pokoknya.
Untuk langkah awal saya memelihara enam ekor bebek dewasa terdiri dari satu jantan dan lima betina, perbandingan yang ideal kata tetangga saya yang sudah berpengalaman memelihara bebek. Kepada tetangga itu saya bertanya apakah si jantan mampu melayani syahwat lima betina sekaligus? Tetangga itu malah tertawa menganggap pertanyaan saya mengada-ada. Atau mungkin dikiranya saya ingin melucu. Padahal saya tidak mengada-ada apalagi hendak melucu.
“Jangankan lima, sepuluh betina pun dia sanggup melayani” katanya menyambung.
“Kasihan, apa jantannya tidak lekas lumpuh akibat perkelaminan yang dahsyat begitu?” saya kembali bertanya.
“Ah bapak ini ada-ada saja” sahutnya sambil tertawa mengakak. “Bebek itu lumpuh karena penyakit atau sudah terlalu tua, bukan akibat kawin”
Saya cuma terdiam, sambil berpikir, yang penting obsesi saya memelihara bebek sudah terwujud.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s