Sudah Dewasa?

Mula-mula saya ragu menyebut ikan yang mulai besar dengan dengan istilah ikan dewasa. Tapi setelah saya pikir-pikir tak ada lagi kata lain yang saya dapatkan untuk menyebut ikan-ikan yang sudah bisa dipanen. Ya saya sebut saja ikan dewasa. Artinya kira-kira ikan yang sudah besar-besar, sudah bisa dikonsumsi atau dijual.
Saat ini baru ikan mujair yang saya pelihara. Anehnya saya baru tahu kalau nama ikan ini berasal dari nama orang yang menemukannya yakni Pak Mujair di Jawa Timur, dulu sekitar tahun 30-an.
Pasti pembaca ada yang mengerutkan dahi membaca postingan ini. Hanya persoalan ikan saja kok sampai dibuat artikel segala. Apa sih menariknya membahas ikan di blog? Bukankah ini masalah remeh-temeh, sepele, nggak penting?
Baiklah, saya bisa memahami kalau ada yang berpikir demikian. Tapi saya pun punya alasan sendiri, kenapa saya membuat tulisan ini.
Saya merasakan sebuah kesenangan tak terpermanai saat menyaksikan ikan-ikan di empang sendiri tumbuh perlahan, dari bibit yang sebesar jari kelingking sampai seperti sekarang: hampir lima belas sentimeter lebarnya. Kesenangan yang tidak bisa ditebus dengan uang, berapapun nilainya.
Alasan lain karena saya membangun sendiri empang tersebut dengan susah payah, meskipun tidak terlalu luas, hanya dua petak masing-masing berukuran dua belas meter kali sepuluh meter. Pekarangan samping rumah saya adalah kawasan rawa dengan sumber air tak pernah kering meski musim kemarau panjang. Tiap Sabtu dan Minggu, saya mandi lumpur menggali tanah lumpur untuk menambah kedalaman termasuk membuat pematang. Tak lupa saya juga memasang pipa paralon plastik untuk saluran air. Meski lelah tapi sangat menyenangkan.
Itu cerita tiga bulan yang lalu.
Sekarang ikan-ikan saya sudah pada besar, sudah dewasa menurut istilah saya. Setiap pagi dan sore saya memberi mereka makan konsentrat (sejenis pellet khusus makanan ikan). Dan ikan-ikan saling berebut makanan. Bahkan sekarang sepertinya mereka sudah cerdas karena setiap ada yang melintas di atas pematang ikan-ikan itu berlomba naik ke permukaan mengira mereka akan diberi makan. Mungkin karena sudah terbiasa.
Ah alangkah nikmatnya menyaksikan ikan-ikan yang berseliweran di atas air. Segala susah payah, kerja berat, main panas dan mandi lumpur rasanya tertebus oleh kenikmatan yang sulit diungkapkan dengan kata-kata.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s