Si Nyentrik dari Macondo: Jose Arcadio Buendia

Mengenang Gabriel Garcia Marquez ( 1928- 17 April 2014)
Membaca kembali novel Seratus Tahun Kesunyian rasanya selalu mengasyikkan dan tak pernah membuat saya bosan. Entah kenapa saya selalu saja tergelitik oleh paragraph pembuka novel Gabriel Garcia Marquez ini:
“Bertahun-tahun kemudian, saat menghadapi regu tembak. Kolonel Aureliano Buendia mencoba mengenang suatu senja yang jauh ketika ayahnya mengajaknya untuk melihat es”.
Saya belum pernah membaca pembukaan novel yang begitu memukau seperti ini. Dan Marquez tentu tak berhenti di situ. Kalimat-kalimat selanjutnya membuat imajinasi pembaca bergerak ke Macondo, negeri khayalan yang dibangun dengan apik oleh pengarang pemenang nobel sastra 1982 ini:
“Saat itu Macondo adalah desa yang terdiri dari dua puluh rumah terbuat dari batu bata mentah, dibangun di tepi sungai yang airnya jernih; yang mengalir melewati batu-batu yang mengilat, putih, dan besar seperti telur-telur dari zaman prasejarah. Dunia tampak baru sehingga banyak benda belum mempunyai nama dan untuk menyatakan benda-benda itu, kita harus menunjuknya”
Dan sayapun membayangkan bagaimana sosok Jose Arcadio Buendia, pendiri kampong pedalaman itu. Profilnya hadir dengan utuh, termasuk pemikiran-pemikirannya yang tentu saja dianggap aneh oleh orang-orang di sana.
Jose Arcadio adalah sosok yang komplit. Dalam tubuhnya mengalir semacam darah filosof sekaligus teknokrat dan penggila ilmu pengetahuan. Dia terpukau oleh apa saja yang bersifat baru meski masih belum jelas apa kiranya manfaat benda tersebut baginya. Dan rasa sukanya itu ditunjukkan dengan militansi yang tinggi. Bahkan sangat tinggi.
Syahdan di Macondo datanglah sekelompok gipsi dipimpin oleh Malquiades dengan membawa macam-macam perkakas yang belum pernah disaksikan di desa itu : besi magnet, teropong dan kaca pembesar. Oleh penduduk Macondo benda-benda itu dinamai besi ajaib tapi oleh Malquiades disebut sebagai “keajaiban ke delapan dari para alkemis di Macedonia”
Melihat benda-benda aneh itu, tak ayal Jose Arcadio Buendia terperangah. Ia tak habis-habis dirundung rasa kagum. Dan dengan itu ia mulai terobsesi pada mimpi-mimpinya akan kemajuan peradaban. Dia pun sampai pada kesadaran betapa terkungkungnya kehidupannya selama di Macondo itu. Setahap demi setahap hartanya, juga harta istrinya mulai berpindah ke tangan kelompok gipsi yang dating berkunjung. Jose merelakandua kambing kesayangan Ursula Iguaran, istrinya untuk ditukar dengan besi magnet atau teropong, (benda-benda baru yang sangat dikaguminya itu).
“Jose Arcadio Buendia, yang imajinasi liarnya selalu melampaui batas-batas alamiah, bahkan melampaui mukjizat dan sihir, berpendapat bahwa adalah mungkin memanfaatkan penemuan yang tampaknya tak berguna itu untuk menarik emas dari perut bumi
Demikianlah, Jose Arcadio Buendia benar-benar terobsesi pada barang-barang yang dibawa Malquiades. Istrinya Ursula hanya mengelus dada menyaksikan semua “kegilaan” suaminya itu. Ia tak mampu membendung hasrat Suaminya yang begitu terbakar oleh fantasi-fantasi liarnya sendiri.
Jose Arcadio oleh karena itu saya anggap sebagai sikap seorang filsuf yang selalu mempertanyakan kehidupan. Ini berbeda dengan istrinya yang melihat hidup sebagaimana tampaknya. Keduanya tak pernah cocok, atau katakanlah tidak bisa saling terhubung sesuai tanggung jawab masing-masing. Tapi hubungan perkawinan Jose dan Ursula sudah terpatri demikian kuat karena keduanya masih bersepupu sebagaimana kalimat Marquez
“Itulah sebab-nya, tiap kali Ursula dicobai gagasan gila suaminya, ia akan kembali pada nasib tiga ratus tahun lalu dan mengutuk hari ketika Sir Francis Drake menyerang Riohacha. Ini hanya cara sederhana untuk sedikit menghibur dirinya sendiri karena sebenarnya mereka disatukan sampai mati oleh satu ikatan yang lebih kukuh daripada cinta; kesadaran menyakitkan yang sama “
Barangkali saya tak perlu mengulas isi novel ini sampai tuntas karena jelas tak akan muat di ruangan ini. Saya hanya tergugah pada gaya eksentrik Jose Arcadio,  ayah Aureliano Buendia.
Dulu ketika pertama membaca novel ini, saya agak bingung mengikuti plotnya. Maju-mundur dan terkadang melompat ke sana kemari. Setelah membaca lebih dari dua kali barulah saya mulai memahami jalan cerita dan plot yang dibentuk Marquez. Dia tidak menggunakan plot yang lazim baik alur maju ataupun mundur. Dia menggunakan kedua-duanya dengan konsekuen.
Paragraf pembuka di atas contohnya, ketika Auriliano Buendia, anak Jose Arcadio akan menghadapi regu tembak merupakan plot maju puluhan tahun ke depan. Lalu mundur lagi ke belakang dengan kehidupan si anak ketika masih kecil di Macondo.
Demikianlah sisi unik kehidupan Jose Arcadio Buendia, si nyentrik dari Macondo.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s