Orang Berutang, Ditagih Melalui Koran

Di zaman kolonial, penyelesaian utang-piutang baik perorangan maupun lembaga, agak sedikit aneh, paling tidak jika dipandang dalam perspektif sekarang. Mereka yang berutang (biasanya aparat negara) ditagih melalui surat kabar, lengkap nama dan pangkatnya juga kepada siapa ia harus membayar, kendati pun orang yang berutang itu sudah lama meninggal.

Belum lama ini secara tak sengaja saya menemukan arsip koran Belanda berbahasa Melayu di internet. Meskipun susah sekali kita mencerna jalan kalimat pemberitaan koran tersebut, tetapi paling tidak kita bisa menangkap adanya kesan yang sangat lugas.

Dalam edisi Sabtu 9 Pebruari 1856 koran “Surat Kabar” menurunkan berita semacam iklan atau pengumuman tentang urusan utang-piutang ini dengan judul PANGGILAN PADA ORANG NJANG KASI OETANG PADA ORANG NJANG SOEDA MATI. Adapun penggalan beritanya saya kutip antara lain

“Kepada Luitenant KR Siegmund, njang soeda matie maka njang panggil Kapiten JH Stein dan Luitenant WLJ Schmidt di Palembang dalem 2 boelan. Kepada Luitenant Van Der Ree, njang soeda matie manka njang panggil executeurnja bernama A Raijmankeers, Kapitein dan ME van Zeijlen, Luitenant di Soerabaia dalem 3 boelan teritoeng dari tanggal 29 November”

Sesungguhnya sulit sekali menafsirkan maksud pengumumamn secamam itu lantaran struktur kalimat yang tidak sesuai kaidah bahasa zaman sekarang, tapi waktu itu mungkin sesuatu yang lumrah, bisa segera dimengerti orang banyak. Dan bila kita mencoba mengikuti nalar orang dulu, para penyusun berita itu, kita hanya bisa mengira-ngira maksudnya.

Saya sendiri menduga, panggilan orang-orang yang sudah mati tersebut barangkali untuk memenuhi kewajiban hukum yang bersangkutan terhadap si pemanggil meski yang dipanggil sudah pensiun atau bahkan sudah meninggal sekalipun. Dan setelah batas waktu yang ditentukan ternyata tidak dibayar juga (tampaknya memang tak akan terbayar), tagihan utang almarhum akan dialihkan pada negara. Dengan kata lain, negaralah yang akan mengganti semuanya karena yang berutang itu adalah aparat negara yang sedang aktif menjalankan tugas ketika utang tersebut terjadi.

Tapi itu hanya dugaan saya saja.

Mungkin juga, guntingan pengumuman itulah nanti yang akan mereka serahkan kepada pemerintah sebagai bukti adanya piutang pada orang lain. Ia menjadi salah satu syarat yang harus dipenuhi sebelum dilakukan pembayaran oleh negara, agar penyelesaian utang yang bersangkutan bisa segera diproses. Di zaman sekarang barangkali kita bisa menyamakannya dengan berita lelang dan tender di surat-kabar, yang termasuk salah satu syarat pelelangan suatu proyek pemerintah. Atau lebih mirip pengumuman lelang barang sitaan oleh kantor lelang negara. Lelang sita jaminan yang telah jatuh tempo bagi para kreditur di masa sekarang.

Mungkin begitu, tapi entahlah. Ahli sejarah barangkali bisa menjelaskan persoalan ini, khususnya ahli sejarah hukum Hindia Belanda yang bisa menjawabnya.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s