Ormas Islam dan Sayed Kashua

Di Indonesia, persoalan agama menjadi begitu krusial. Ia demikian menegangkan sekaligus mencemaskan. Orang-orang diliputi ketakutan, syak wasangka terutama ketika semangat militansi dikibarkan dengan amarah dan penuh kebencian.

Di usung oleh organisasi  massa dengan atribut Islam puritan, syak wasangka, ketakutan atau rasa cemas orang banyak  menjadi kian jelas lantaran organisasi ini begitu keras memperjuangkan Islam yang menurut mereka harus bersih dari anasir-anasir kafir, zionis bahkan kapitalisme yang begitu kuat mengharu-biru dunia ini.

Suasana damai pun tercoreng, hubungan baik dengan penganut kepercayaan lain perlahan terkelupas. Hegemoni atau katakanlah dominasi suatu kaum terhadap kaum lainnya terkesan sangat dipaksakan. Kita cenderung menganggap diri kitalah yang paling benar. Kitalah yang akan masuk surga untuk pertama kali, dan orang lain biarlah masuk belakangan atau kalau perlu menjadi penghuni kerak neraka sekalian.

Tapi begitu suramkah Islam seperti yang diajarkan Nabi Muhammad kepada kita?

Saya menonton televisi dan saya sedih melihat itu semua. Melihat betapa pemerintah dibuat semacam mainan atau olok-olok sebuah organisasi massa dengan simbol-simbol Islam garis keras. Mereka (ormas itu) menganggap diri mereka telah menjadi korban kapitalisme barat, beserta turunannya lalu dengan caranya sendiri hendak menyelesaikan persoalan, tanpa mengindahkan kaidah hukum yang ada. Mereka seakan-akan punya pemerintahan sendiri, punya kekuasaan sendiri di luar Negara Kesatuan Republik Indonesia. Dan anehnya negara seperti tak berdaya berhadapan dengan mereka. Pemerintah seakan terkena sindrom buah simalakama. Rakyat banyak yang bertanya, kenapa pemerintah begitu lembek berhadapan dengan siatuasi chaos yang diciptakan ormas tersebut?

Dulu saya pernah membaca novel Dancing Arab, karangan Sayed Kashua (Terjemahannya di terbitkan oleh Serambi dengan judul Tarian Cinta) dan di sana saya melihat bagaimana hubungan Islam dan Kristen juga ras antara Arab dan Yahudi saling berkelindan, penuh drama yang menyakitkan, tapi tidak mirip benar dengan yang terjadi di Indonesia.

Tokoh utama novel ini, si aku, (karena memakai gaya bercerita orang pertama) merasa betapa ganas kedaan di sekitarnya, sebuah desa kecil bernama Tira, salah satu sudut Negara Israel.  Tapi ia tidak ikut-ikutan tegang. Meskipun Israel bisa melakukan apa saja terhadap mereka. Si aku tetap merasa sebagai orang yang merdeka, bebas melakukan apapun meski Israel bisa membunuh mereka setiap saat. Ia mengejek dengan sinis keadaan sekitarnya. Ironi dan drama dibingkai menjadi satu persoalan yang tidak saja mengendurkan urat leher tapi bertabur humor dan ejekan pada diri sendiri.

Membaca novel ini, saya membayangkan andai si aku berada di Indonesia. Saya tak bisa membayangkan seandainya ia menghadapi arus demonstrasi ormas Islam di negara kita.  Mungkin ia akan berkata “kalau sampean mau masuk surga ya silakan, saya pun akan turut tapi tentu dengan cara saya sendiri” dan mungkin akan disambungnya kata-katanya tadi dengan “negara zionis seperti Israel saja yang kalian tuduh begitu tak berperi kemanusiaan bisa menjaga toleransi warganya, antara orang Yahudi dan orang Arab”

Kalian mungkin akan berkata “Ah itukan hanya cerita novel, kisah fiktif yang mungkin saja dibuat untuk membenarkan sikap Israel atas orang Arab selama ini”. Tapi ini pasti akan memunculkan sanggahan balik “Meskipun cuma cerita fiktif, tapi tidakkah kita melihat sebuah bayangan kenyataan di dalamnya?” sebab bagaimanapun fiktifnya sebuah cerita ia pasti berangkat oleh sebuah asumsi tentang adanya sepercik kebenaran tentang sebuah peristiwa. Dengan kata lain, tak ada cerita, fiktif sekalipun, yang datang dari ruang hampa.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s