Terpujilah Batu Akik

Kalau Tuan dan Puan datang ke kota saya dan kebetulan lewat di Area Eks MTQ yang letaknya berhadapan dengan Taman Kota Kendari, Tuan akan temui keramaian di dalam rimbun pohonan mahoni. Di sini barangkali Tuan akan sedikit terkesima menyaksikan hiruk pikuk para penggila batu akik yang datang dari empat penjuru angin. Penjual aneka jenis batu mulia berkumpul di sini. Ada yang berasal dari Jawa Barat. Ada juga dari Padang, Jambi dan Aceh. Sedangkan dari bagian Timur Indonesia ada yang datang dari Halmahera, Kasiruta, dan Papua. Tapi yang paling banyak adalah saudara kita dari Sulawesi Selatan. Kehadiran mereka benar-benar mengharu biru Area MTQ Kendari.

Sejak pagi tempat itu sudah ramai oleh suara penjual batu yang memuji kelebihan barang yang ia jual. Tapi meski demikian, semua suara manusia tersebut tenggelam oleh suara mesin pemotong batu yang tak tiada henti membelah batu bongkahan menjadi kepingan-kepingan kecil untuk di jual kembali atau sesuai pesanan yang mereka terima.

Cobalah Tuan simak dengan lebih cermat, pasti Tuan akan tahu bahwa batu-batu yang dijual di sana sangat beragam jenisnya dan sudah tentu juga asal-usulnya. Batu lokal pun banyak macamnya. Ada Ereke, Kabaena, Asera, Kolono dan lain-lain yang tak bisa saya sebutkan di sini, saking banyaknya. Tapi umumnya batu-batu itu dinamai berdasarkan nama kampung tempat ia diambil. Misalnya Giok Aceh berasal dari Aceh, Bacan dari Pulau Bacan dekat Halmahera. Selain itu, penamaan batu mulia juga berdasarkan ciri tertentu misalnya King Obi, Sisik Naga, Pancawarna, Batu Solar, Hajar Jahanam, Badar Besi dan lain –lain yang seperti saya singgung tadi, saya tak akan mampu menyebutnya satu-satu.

Oh ya perlu Tuan ketahui, selain penjual batu cincin, liontin atau gelang, yang paling menarik perhatian adalah penjual batu bongkahan. Di sini tawar-tawar berlangsung seru, kadang terjadi perdebatan dan biasanya berakhir dengan antiklimaks lantaran calon pembeli batal membeli batu karena satu dan lain alasan. Tapi setelah saya amati dengan seksama, kebanyakan mereka yang mengerubuti bongkahan, hanya datang untuk melihat-lihat atau sekedar CNN (cuma nanya-nanya). Hal inilah yang membuat penjual misuh-misuh, menggerundel, karena merasa sudah menggunakan beragam cara untuk merayu tapi para pembeli hanya menengoknya sekilas lalu melengos dan pergi.

Oh Ya Tuan dan Puan, melihat fenomena batu akik yang makin ramai belakangan ini membuat saya teringat pada buku kumpulan cerpen Taufik Ikram Jamil berjudul Hikayat Batu-Batu, sebuah buku yang melulu bercerita soal batu, namun tak satupun  menyinggung batu akik atau batu mulia.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s