Sibuk bukan alasan berhenti menulis

Beberapa kawan saya, khususnya para sastrawan mengaku bahwa kesibukan tugas sehari-hari yang mereka lakoni membuat mereka tak punya waktu untuk meneruskan kebiasaan menulis. Tak ada waktu, sibuk oleh pekerjaan kantor, ngurus rumah, ngurus suami, ngurus istri, ngurus anak dan sebagainya. Begitulah alasan yang sering saya dengar. Sepintas, alasan tersebut tampaknya masuk akal. Memang sulit sekali membagi waktu kita diantara jadwal pekerjaan yang padat. Belum lagi rutinitas sehari-hari seperti istirahat, mendengar musik, membaca atau membagi waktu dengan keluarga dan sebagainya.
Tapi sebagaimana yang saya alami sendiri, kesibukan luar biasa yang saya jalani bukan penghalang untuk terus menulis. Sebagai pegawai negeri sipil yang diberi tanggungjawab mengemban jabatan level menengah, saya tak pernah merasa kalau jabatan yang saya pegang jadi penghambat saya terus menulis. Apa sebabnya?
Saya membaca, buku AS Laksana : Creatif Writing, Tips Menulis Novel dan Cerpen terbitan Gagas Media. Dari sanalah saya pahami, bahwa kegiatan menulis manakala sudah benar benar merasuk dalam arus keadaran hidup kita, sesibuk apapun, kita akan tetap bisa meluangkan waktu untuk menulis. Dan itulah yang saya lakukan sekarang.
Perlu saya tambahkan, bahwa di Indonesia profesi penulis belum bisa dijadikan sandaran hidup sepenuhnya. Dengan kata lain, menulis, apalagi menulis novel dan cerpen belum bisa dijadikan penopang hidup alias menjadi sumber pendapatan. Banyak penyebabnya antara lain karena rendahnya minat baca masyarakat dan apresiasi pemerintah yang rendah terhadap kehidupan kesenian di tanah air.

Maka tak mengherankan kalau hampir semua penulis di sini memiliki pekerjaan tetap lain untuk menopang hidup mereka. Ada yang jadi pedagang, atlet, pegawai pemerintah, motivator, menjadi ulama, model iklan, guru dan banyak pekerjaan lain yang tentu saja membutuhkan manajemen waktu yang ketat.Kegiatan menulis mereka lakukan di sela-sela waktu yang sempit. Kalau setiap hari bisa menghasilkan dua halaman draft tulisan berarti enam puluh halaman dalam sebulan. Hebat bukan?

Nah, kalau mereka bisa lalu kenapa kita tidak? Jadi kuncinya kembali kepada kita masing-masing. Saya sendiri harus meluangkan waktu sekitar dua sampai tiga jam semalam untuk meneruskan tulisan, naskah novel yang sudah menumpuk.
Alhasil, alasan kesibukan atau rutinitas sehari-hari membuat mereka berhenti menulis, sebenarnya hanya alasan yang dibuat-buat. Sekedar pembenaran berkuasanya rasa malas pada diri mereka.
Saya sudah menjadi Kepala Bidang di Dinas Perhubungan ketika menerbitkan novel saya yang kedua: Jejak Manusia Langit. Belum sebulan saya menduduki jabatan Kepala Bagian Humas, saya menerbitkan Kumpulan Cerpen dan Puisi “Pasung Jiwa Merpati Putih” berkolaborasi dengan seorang penulis puisi, seorang ibu rumah tangga yang tinggal di Baubau.
Terakhir saya masih menyempatkan mengirim naskah novel yang saya ikutkan dalam sayembara menulis novel Dewan Kesenian Jakarta.
Begitulah. Kalau kita mau, kita niatkan dibarengi tekad yang kuat semuanya pasti bisa kita lakukan.

Baliho Aneh

Saudara-saudara, saya bukan pegawai kantor pajak. Saya tak punya kepentingan dengan kantor itu kecuali bahwa  saya terus berusaha menjadi warga negara yang baik dengan taat membayar pajak. Tak heran saya cukup jengkel juga menyaksikan ada segelintir pegawai kantor itu yang menilep uang pajak yang susah payah dikumpulkan.

Saudara, beberapa waktu belakangan saya cukup terganggu mendapati sebuah baliho calon walikota Kendari, Sudarmanto yang dipasang  di tempat yang cukup strategis yaitu di depan kantor BKD Provinsi dan rumah sakit R Ismoyo (Rumah Sakit Korem) Kendari. Sebenarnya bukan kehadiran baliho itu yang menganggu tapi sepotong kalimat di dalamnya yang berbunyi begini “Program utama: pembebasan iuran pajak bumi dan bangunan”. Hampir setiap hari saya pasti akan membaca baliho itu ketika mengantar anak ke sekolah.

Nah apakah maksud kata-kata tersebut? Mari kita lihat

Setahu saya, sampai sekarang pemerintah belum mencabut ketentuan mengenai pajak bumi dan bangunan. Apalagi hendak membebaskan salah satu bentuk pajak yang menjadi tumpuan pendapatan negara kita. Jadi apa maksud Sudarmanto menuliskan kata-kata itu dalam balihonya?

Di tengah-tengah kampanye agar warga negara semakin sadar untuk membayar pajak, kata-kata dalam baliho Sudarmanto justru merupakan tamparan bagi aparat kantor pajak.  Ini sangat memalukan, apalagi kalau melihat kapasitas Sudarmanto yang saat ini menjadi anggota legislatif provinsi. Seharusnya beliaulah yang mengontrol kelancaran pembayaran pajak oleh masyarakat, bukan malah hendak membebaskannya.

Barangkali dengan kata-kata semacam itu, Sudarmanto bermaksud menarik simpati pemilih dengan meringankan beban rakyat yang selama ini terlalu banyak menanggung beban dalam membayar pajak. Sekilas memang terdengar sangat mulia dan luhur. Apalagi kalau maksudnya beliaulah yang hendak menanggung semua pajak bangunan yang selama ini harus dibayar oleh rakyat. Singkatnya, mungkin ia ingin berkata, Pilihlah saya, karena saya akan menanggung pajak bumi kalian.

Di sinilah pokok permasalahan yang sesungguhnya. Menurut saya, iming-iming tentang pembebasan membayar pajak bumi dan bangunan justru merupakan pembodohan kepada rakyat yang notabene harus menunaikan kewajibannya sebagai warga negara. Rakyat harus disadarkan bahwa segala biaya yang dikeluarkan pemerintah dalam melakukan pembangunan sebagian darinya bersumber dari pajak bumi dan bangunan ini.

Kalau maksudnya hendak membebaskan adalah dengan menghapus atau mengubah regulasi tentang pajak bumi dan bangunan, justru terdengar semakin aneh, rancu sekaligus lucu. Setahu saya, regulasi pajak bumi dan  bangunan adalah Undang-undang. Dengan kata lain, apakah bapak punya kewenangan mengubah peraturan tersebut? Kalau sebatas Peraturan Daerah (Perda) mungkin saja bisa. Tapi ini adalah Undang-undang. Yang bisa mengubahnya adalah DPR RI bersama pemerintah pusat. Jadi?

Mohon maaf kepada Bapak Sudarmanto. Dulu sewaktu bapak menjadi anggota legislatif, saya adalah salah satu pendukung bapak. Bahkan sempat melakukan kampanye di kalangan keluarga Menui. Jadi saya sangat terkejut melihat ada baliho semacam itu. Dan saya mohon kepada bapak, agar menurunkan semua baliho yang ada kata-kata seperti itu di dalamnya. Bukan-apa-apa, saya justru khawatir kalau baliho itu akan jadi bahan tertawaan orang. Terutama oleh mereka yang selama ini sangat peduli dengan kata-kata seperti saya.

Dan melalui kesempatan ini saya menyarankan agar tim pemenangan bapak (kalau memang ada) sebaiknya memikirkan baik-baik setiap kata yang akan dicantumkan di atas baliho. Karena sekali baliho bapak sudah terpasang, semua yang tertera di atasnya, baik itu gambar, tulisan dan sebagainya telah menjadi milik publik sepenuhnya. Dan warga bisa memprotesnya kalau mereka merasa tidak senang. Itu saja saya kira.

Terpujilah Batu Akik

Kalau Tuan dan Puan datang ke kota saya dan kebetulan lewat di Area Eks MTQ yang letaknya berhadapan dengan Taman Kota Kendari, Tuan akan temui keramaian di dalam rimbun pohonan mahoni. Di sini barangkali Tuan akan sedikit terkesima menyaksikan hiruk pikuk para penggila batu akik yang datang dari empat penjuru angin. Penjual aneka jenis batu mulia berkumpul di sini. Ada yang berasal dari Jawa Barat. Ada juga dari Padang, Jambi dan Aceh. Sedangkan dari bagian Timur Indonesia ada yang datang dari Halmahera, Kasiruta, dan Papua. Tapi yang paling banyak adalah saudara kita dari Sulawesi Selatan. Kehadiran mereka benar-benar mengharu biru Area MTQ Kendari.

Sejak pagi tempat itu sudah ramai oleh suara penjual batu yang memuji kelebihan barang yang ia jual. Tapi meski demikian, semua suara manusia tersebut tenggelam oleh suara mesin pemotong batu yang tak tiada henti membelah batu bongkahan menjadi kepingan-kepingan kecil untuk di jual kembali atau sesuai pesanan yang mereka terima.

Cobalah Tuan simak dengan lebih cermat, pasti Tuan akan tahu bahwa batu-batu yang dijual di sana sangat beragam jenisnya dan sudah tentu juga asal-usulnya. Batu lokal pun banyak macamnya. Ada Ereke, Kabaena, Asera, Kolono dan lain-lain yang tak bisa saya sebutkan di sini, saking banyaknya. Tapi umumnya batu-batu itu dinamai berdasarkan nama kampung tempat ia diambil. Misalnya Giok Aceh berasal dari Aceh, Bacan dari Pulau Bacan dekat Halmahera. Selain itu, penamaan batu mulia juga berdasarkan ciri tertentu misalnya King Obi, Sisik Naga, Pancawarna, Batu Solar, Hajar Jahanam, Badar Besi dan lain –lain yang seperti saya singgung tadi, saya tak akan mampu menyebutnya satu-satu.

Oh ya perlu Tuan ketahui, selain penjual batu cincin, liontin atau gelang, yang paling menarik perhatian adalah penjual batu bongkahan. Di sini tawar-tawar berlangsung seru, kadang terjadi perdebatan dan biasanya berakhir dengan antiklimaks lantaran calon pembeli batal membeli batu karena satu dan lain alasan. Tapi setelah saya amati dengan seksama, kebanyakan mereka yang mengerubuti bongkahan, hanya datang untuk melihat-lihat atau sekedar CNN (cuma nanya-nanya). Hal inilah yang membuat penjual misuh-misuh, menggerundel, karena merasa sudah menggunakan beragam cara untuk merayu tapi para pembeli hanya menengoknya sekilas lalu melengos dan pergi.

Oh Ya Tuan dan Puan, melihat fenomena batu akik yang makin ramai belakangan ini membuat saya teringat pada buku kumpulan cerpen Taufik Ikram Jamil berjudul Hikayat Batu-Batu, sebuah buku yang melulu bercerita soal batu, namun tak satupun  menyinggung batu akik atau batu mulia.

Membaca Novel di Tempat Umum? Kenapa Tidak?

Sejak dulu saya punya kebiasaan membawa novel dalam tas kerja, juga menyelipkan notes kecil di saku belakang ke manapun saya pergi. Tiap kali saya berada dalam situasi yang membuat saya harus menunggu agak lama, seperti ketika berada di bank atau dalam perjalanan jauh dengan bis, atau kapal, saya akan membaca novel. Begitupun kalau saya teringat sesuatu, saya langsung mencatatnya dalam notes. Menunggu sesuatu sambil membaca novel sungguh mengasyikkan. Suatu hari, ketika saya sedang antri di bank, saya tidak dengar nama saya dipanggil berkali-kali oleh teller lantaran begitu khusuknya saya membaca. Novel yang saya  baca waktu itu, kalau tak salah, The Road karya Cormac Mc Carthy,

Begitupun ketika saya berada di kapal Super Jet (sejenis kapal cepat) dalam perjalanan Kendari-Bau bau. Di samping saya, duduk dua perempuan muda, mungkin mahasiswi. Seorang berambut pendek, sedang yang satu lagi rambutnya panjang berombak. Keduanya merasa aneh melihat saya terus membaca, padahal cuaca ketika itu kurang bersahabat. Ombak tinggi dan angin kencang membuat kapal fiber itu bergoncang keras. Saya pandangi wajah dua perempuan itu. Mereka tampaknya ketakutan. Saya hanya tersenyum lalu kembali membaca novel Prajurit Schweik-nya Jeroslav Hasek.

Tiba-tiba saya tertawa agak keras ketika sampai pada bagian, ketika Letnan Lukash mendamprat Schweik dalam kereta api saat mereka berangkat ke front pertempuran di Budejovice. Ketika itu, Schweik mengejek salah seorang penumpang, lelaki botak yang tengah membaca koran. Ia mengira lelaki itu seorang agen asuransi tapi ternyata ia  jenderal paling ditakuti, atasan mereka sendiri. Letnan Lukas dengan amarah yang begitu tinggi mengusir Schweik karena kelalaiannya ini.

Si rambut pendek menoleh menatap saya agak lama. Lalu ia menggumamkan sesuatu semacam gerundelan yang tak jelas. “Membaca novel dalam cuaca seperti ini? aneh ya?” katanya kepada temannya, si rambut panjang.

Saya diam memandang keduanya, sambil berpikir dalam hati “apanya yang aneh?” bukanlah setiap orang punya cara sendiri-sendiri untuk membunuh rasa jenuh selama perjalanan seperti itu? Lalu si rambut panjang dengan cukup atraktif berkata kepada saya kalau kakaknya juga seorang penulis yang hobinya membaca seperti saya. Sedangkan dia sendiri mengaku tidak begitu suka membaca novel. Ia lebih suka menonton sinetron atau berbelanja, jalan-jalan dan makan-makan. Khas muda-mudi zaman sekarang, pikir saya seraya melipat halaman buku, penanda batas yang saya baca.

Saya menyahut bahwa itu juga hobi yang bagus sepanjang kita mampu mewujudkannya. Sedangkan saya sendiri hanya suka membaca. Tapi saya tertegun ketika si rambut pendek berkata dengan nada bertanya

“Apa yang bapak dapatkan ketika selesai membaca novel?”

Saya berpikir agak lama sambil mengulang pertanyaannya dalam hati. Apa ya yang saya dapat?

“Tak ada, cuma senang saja di tambah adanya kepuasan” sahut saya pelan hampir dalam bisikan.

“Membaca cerita kok dibilang puas?” si rambut panjang menimpali.

Sungguh, saya tidak dikaruniai kefasihan berbicara dengan cara seperti ini, dalam keadaan ketika yang saya ajak bicara tidak mengerti sama sekali mengenai apa yang saya lakukan, apa yang saya baca dan apa yang saya rasakan. Bukankah cara mendapatkan kepuasan tidak sama bagi semua orang? Saya hanya berpikir, betapa berbeda-bedanya sifat manusia dan pikiran mereka dalam melihat setiap fenomena di dunia ini.

Dan saya tetap membaca di dalam perjalanan atau sewaktu menunggu antrian di bank dan kantor pos.

illustrasi : http://www.wallpaperscastle.com

Ormas Islam dan Sayed Kashua

Di Indonesia, persoalan agama menjadi begitu krusial. Ia demikian menegangkan sekaligus mencemaskan. Orang-orang diliputi ketakutan, syak wasangka terutama ketika semangat militansi dikibarkan dengan amarah dan penuh kebencian.

Di usung oleh organisasi  massa dengan atribut Islam puritan, syak wasangka, ketakutan atau rasa cemas orang banyak  menjadi kian jelas lantaran organisasi ini begitu keras memperjuangkan Islam yang menurut mereka harus bersih dari anasir-anasir kafir, zionis bahkan kapitalisme yang begitu kuat mengharu-biru dunia ini.

Suasana damai pun tercoreng, hubungan baik dengan penganut kepercayaan lain perlahan terkelupas. Hegemoni atau katakanlah dominasi suatu kaum terhadap kaum lainnya terkesan sangat dipaksakan. Kita cenderung menganggap diri kitalah yang paling benar. Kitalah yang akan masuk surga untuk pertama kali, dan orang lain biarlah masuk belakangan atau kalau perlu menjadi penghuni kerak neraka sekalian.

Tapi begitu suramkah Islam seperti yang diajarkan Nabi Muhammad kepada kita?

Saya menonton televisi dan saya sedih melihat itu semua. Melihat betapa pemerintah dibuat semacam mainan atau olok-olok sebuah organisasi massa dengan simbol-simbol Islam garis keras. Mereka (ormas itu) menganggap diri mereka telah menjadi korban kapitalisme barat, beserta turunannya lalu dengan caranya sendiri hendak menyelesaikan persoalan, tanpa mengindahkan kaidah hukum yang ada. Mereka seakan-akan punya pemerintahan sendiri, punya kekuasaan sendiri di luar Negara Kesatuan Republik Indonesia. Dan anehnya negara seperti tak berdaya berhadapan dengan mereka. Pemerintah seakan terkena sindrom buah simalakama. Rakyat banyak yang bertanya, kenapa pemerintah begitu lembek berhadapan dengan siatuasi chaos yang diciptakan ormas tersebut?

Dulu saya pernah membaca novel Dancing Arab, karangan Sayed Kashua (Terjemahannya di terbitkan oleh Serambi dengan judul Tarian Cinta) dan di sana saya melihat bagaimana hubungan Islam dan Kristen juga ras antara Arab dan Yahudi saling berkelindan, penuh drama yang menyakitkan, tapi tidak mirip benar dengan yang terjadi di Indonesia.

Tokoh utama novel ini, si aku, (karena memakai gaya bercerita orang pertama) merasa betapa ganas kedaan di sekitarnya, sebuah desa kecil bernama Tira, salah satu sudut Negara Israel.  Tapi ia tidak ikut-ikutan tegang. Meskipun Israel bisa melakukan apa saja terhadap mereka. Si aku tetap merasa sebagai orang yang merdeka, bebas melakukan apapun meski Israel bisa membunuh mereka setiap saat. Ia mengejek dengan sinis keadaan sekitarnya. Ironi dan drama dibingkai menjadi satu persoalan yang tidak saja mengendurkan urat leher tapi bertabur humor dan ejekan pada diri sendiri.

Membaca novel ini, saya membayangkan andai si aku berada di Indonesia. Saya tak bisa membayangkan seandainya ia menghadapi arus demonstrasi ormas Islam di negara kita.  Mungkin ia akan berkata “kalau sampean mau masuk surga ya silakan, saya pun akan turut tapi tentu dengan cara saya sendiri” dan mungkin akan disambungnya kata-katanya tadi dengan “negara zionis seperti Israel saja yang kalian tuduh begitu tak berperi kemanusiaan bisa menjaga toleransi warganya, antara orang Yahudi dan orang Arab”

Kalian mungkin akan berkata “Ah itukan hanya cerita novel, kisah fiktif yang mungkin saja dibuat untuk membenarkan sikap Israel atas orang Arab selama ini”. Tapi ini pasti akan memunculkan sanggahan balik “Meskipun cuma cerita fiktif, tapi tidakkah kita melihat sebuah bayangan kenyataan di dalamnya?” sebab bagaimanapun fiktifnya sebuah cerita ia pasti berangkat oleh sebuah asumsi tentang adanya sepercik kebenaran tentang sebuah peristiwa. Dengan kata lain, tak ada cerita, fiktif sekalipun, yang datang dari ruang hampa.

Orang Berutang, Ditagih Melalui Koran

Di zaman kolonial, penyelesaian utang-piutang baik perorangan maupun lembaga, agak sedikit aneh, paling tidak jika dipandang dalam perspektif sekarang. Mereka yang berutang (biasanya aparat negara) ditagih melalui surat kabar, lengkap nama dan pangkatnya juga kepada siapa ia harus membayar, kendati pun orang yang berutang itu sudah lama meninggal.

Belum lama ini secara tak sengaja saya menemukan arsip koran Belanda berbahasa Melayu di internet. Meskipun susah sekali kita mencerna jalan kalimat pemberitaan koran tersebut, tetapi paling tidak kita bisa menangkap adanya kesan yang sangat lugas.

Dalam edisi Sabtu 9 Pebruari 1856 koran “Surat Kabar” menurunkan berita semacam iklan atau pengumuman tentang urusan utang-piutang ini dengan judul PANGGILAN PADA ORANG NJANG KASI OETANG PADA ORANG NJANG SOEDA MATI. Adapun penggalan beritanya saya kutip antara lain

“Kepada Luitenant KR Siegmund, njang soeda matie maka njang panggil Kapiten JH Stein dan Luitenant WLJ Schmidt di Palembang dalem 2 boelan. Kepada Luitenant Van Der Ree, njang soeda matie manka njang panggil executeurnja bernama A Raijmankeers, Kapitein dan ME van Zeijlen, Luitenant di Soerabaia dalem 3 boelan teritoeng dari tanggal 29 November”

Sesungguhnya sulit sekali menafsirkan maksud pengumumamn secamam itu lantaran struktur kalimat yang tidak sesuai kaidah bahasa zaman sekarang, tapi waktu itu mungkin sesuatu yang lumrah, bisa segera dimengerti orang banyak. Dan bila kita mencoba mengikuti nalar orang dulu, para penyusun berita itu, kita hanya bisa mengira-ngira maksudnya.

Saya sendiri menduga, panggilan orang-orang yang sudah mati tersebut barangkali untuk memenuhi kewajiban hukum yang bersangkutan terhadap si pemanggil meski yang dipanggil sudah pensiun atau bahkan sudah meninggal sekalipun. Dan setelah batas waktu yang ditentukan ternyata tidak dibayar juga (tampaknya memang tak akan terbayar), tagihan utang almarhum akan dialihkan pada negara. Dengan kata lain, negaralah yang akan mengganti semuanya karena yang berutang itu adalah aparat negara yang sedang aktif menjalankan tugas ketika utang tersebut terjadi.

Tapi itu hanya dugaan saya saja.

Mungkin juga, guntingan pengumuman itulah nanti yang akan mereka serahkan kepada pemerintah sebagai bukti adanya piutang pada orang lain. Ia menjadi salah satu syarat yang harus dipenuhi sebelum dilakukan pembayaran oleh negara, agar penyelesaian utang yang bersangkutan bisa segera diproses. Di zaman sekarang barangkali kita bisa menyamakannya dengan berita lelang dan tender di surat-kabar, yang termasuk salah satu syarat pelelangan suatu proyek pemerintah. Atau lebih mirip pengumuman lelang barang sitaan oleh kantor lelang negara. Lelang sita jaminan yang telah jatuh tempo bagi para kreditur di masa sekarang.

Mungkin begitu, tapi entahlah. Ahli sejarah barangkali bisa menjelaskan persoalan ini, khususnya ahli sejarah hukum Hindia Belanda yang bisa menjawabnya.

Membaca Sastra, Membangun Sebuah Dunia

Selama menjadi pelahap karya sastra-meski tidak begitu tekun- saya belum menemukan karangan yang tidak bagus. Semuanya bagus bagi saya. Setidaknya perbendaharaan cerita saya semakin banyak, dan wawasan pun bertambah luas.

Anda mungkin akan berkata bahwa saya adalah pembaca biasa, tidak mampu menalar atau setidaknya luput menangkap hakekat keindahan sebuah karya sastra. Mungkin anda benar. Mungkin juga tidak.

Bagi mereka, khususnya para pengarang yang diberkahi karunia kemahiran menulis cerita, langsung bisa menilai apakah suatu karya sastra tersebut bagus atau tidak, berdasarkan pengalaman kepenulisan mereka. Golongan seperti ini, tidak menimbulkan masalah apabila kemudian memvonis karya orang lain sebagai karya yang bagus atau sebaliknya.

Bagi saya, membaca sebuah karangan fiksi seperti menonton sebuah dunia yang aneka rupa bentuknya, beragam warnanya, lembut ataukah hangat dunia tersebut muncul dalam kepala saya. Jadi, saya atau katakanlah kita, janganlah terburu-buru mengklaim karya lain baik atau buruk, laris atau tak laku karena persepsi seperti itu akan menyandera diri kita sendiri lantaran kita menilai karya seseorang dengan kacamata kuda. Kita cenderung subyektif atawa kurang jujur terhadap diri sendiri. Kita memandang orang lain atau karya penulis lain, apalagi yang masih pemula dengan semena-mena: tergantung dari sudut pandang kita sendiri yang biasanya sulit menghindar dari subyektivitas.

Saya teringat pada kata-kata Rendra ketika menyampaikan pidatonya yang memukau saat menerima hadiah Akademi Jakarta. Saya sudah lupa tahun kejadiannya. Saya membacanya di buku tipis: Cendekiawan: mereka yang berumah di angin. Dalam salah satu kalimatnya Rendra berkata:

“Dalam ilmu silat, tak ada juara nomor dua. Dalam ilmu surat, tak ada juara nomor satu”

Tafsiran bebas kalimat itu kira-kira begini: dalam persilatan tidak ada pemenang kedua karena semua calon pemenang sudah dibunuh oleh si nomor satu tadi. Sedangkan dalam ilmu surat (dalam hal ini dunia kepengarangan) tidak akan ada pemenang pertama, karena alangkah sulitnya menemukan karya terbaik di antara yang ada. Lagipula cara menilai sebuah karya sastra pasti akan selalu berbeda-beda bagi setiap orang.

Dan saya sudah membuktikan kebenaran rumusan itu. Semua karya sastra yang saya pernah baca, apakah sastra Indonesia, apakah terjemahan, semuanya bagus belaka, karena semuanya mampu menghadirkan cerita yang menarik.

Dulu, saya begitu terpukau membaca cerita-cerita apa saja.

Saya hampir menangis membaca pertemuan kembali Parman dengan mantan istrinya, Marni dalam novel Kubah atau Mbok Ralem yang menangis di hadapan pemimpin redaksi sebuah koran yang menolong operasi gondoknya dalam novel Di Kaki Bukit Cibalak, keduanya karya Ahmad Tohari.

Saya juga tertawa terbahak-bahak membaca kata-kata Schweik, prajurit yang lugu, tampak bodoh tapi baik hati dalam novel Prajurit Schweik karya Jaroslav Hasek. Schweik yang selalu mengawali ucapannya dengan “mohon melapor tuan”.

Dan saya tercekam sembari menahan hati sewaktu Hasan bertandang ke rumah Rusli di suatu senja, ketika mereka berbincang mengenai ideologi kiri dan peradaban manusia dalam novel Atheis Achdiat Kartamihardja. Demikian juga dengan Wak Katok, Buyung, Sanip, Pak Haji, Talib dan Pak Balam yang berusaha menyembunyikan dosa-dosa masa lalu mereka karena ancaman harimau  di belantara Sumatera dalam novel Harimau-Harimau Mochtar Lubis.

Setiap kali membaca sebuah karya sastra saya selalu tergugah, seakan saya melihat sebuah dunia dan ingin terlibat langsung mengambil peran dalam tiap-tiap cerita itu. Bahkan ketika membaca salah satu cerita pendek Seno Gumira Aji Darma, Nyanyian Sepanjang Sungai, saya merasa seakan-akan saya sendiri yang berada dalam kapal yang tak pernah sampai di tujuannya itu karena saya sering mengalaminya: naik perahu ke pulau lain.

Semakin banyak saya membaca, semakin berlimpah juga dunia yang tergambar dalam ingatan saya. Dalam Anna Karenina karya Leo Tolstoi, sikap Kitty yang belia terhadap Konstantin Levin, calon suaminya yang sudah berumur sangat menyentuh perasaan saya. Demikian pula dengan Gregor Samsa yang terkejut begitu menyadari bahwa dirinya telah berubah ujud menjadi seekor serangga dalam Metamorfosis karya Kafka.

Atau kata-kata Robinson Croese saat bertemu si Jumat di pulau terpencil. Atau surat-surat Zainuddin kepada Hayati dalam Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck. Atau pikiran Scarlet O’Hara saat hadir di pesta dansa keluarga Wilkes dalam Gone With The Wind. Juga sikap Danny terhadap Pilon, Joe Portugis dan Jesus Maria serta si Bajak Laut dalam novel Dataran Tortilla karya John Steinbeck. Atau cara Miyamoto Mushashi mengayunkan pedang. Atau Haji Saleh yang memimpin demo di hadapan Allah dalam cerpen AA Navis, Robohnya Surau Kami.

Juga perang antara Cowboy dan Bandit-bandit dalam cerpen Surabaya karya Idrus. Pada Jose Arcadio Buendia yang nyentrik dalam Seratus Tahun Kesunyian-nya Marquez. Pada pidato Si Mayor Tua yang menggugah dalam Animal Farm dan sikap Winston Smith di hadapan mesin teleskrim, sebuah alat pemantau gerak-gerik sekaligus pembaca pikiran manusia dalam novel 1984, keduanya karya  George Orwell. Juga sosok Nyai Ontosoroh dalam Bumi Manusia Pramoedya Ananta Toer. Atau Santiago dalam novel Lelaki Tua dan Laut karya Hemingway, ketika lelaki tua itu marah pada ikan hiu karena merampas ikan marlinnya. Saat itu Santiago meludah ke laut seraya mengumpat “makanlah itu galanos dan bermimpilah bahwa kalian telah membunuh manusia”

Juga tingkah laku Totto-chan yang menggemaskan selama bersekolah di bekas gerbong kereta api dalam novel Totto-chan, Gadis Cilik di Jendela Tetsuko Kuroyanagi.

Tapi Ah.. saya kira tak perlu saya berpanjang-panjang lagi menulis yang begini karena hanya membikin orang lekas bosan. Lama-lama pasti mereka akan mengatai saya berlebih-lebihan. Jadi saya sudahi saja sampai di sini.

Lalu bagaimana dengan Anda? Adakah Anda merasakan seperti apa yang saya rasakan ketika usai membaca sebuah cerita?

Si Nyentrik dari Macondo: Jose Arcadio Buendia

Mengenang Gabriel Garcia Marquez ( 1928- 17 April 2014)
Membaca kembali novel Seratus Tahun Kesunyian rasanya selalu mengasyikkan dan tak pernah membuat saya bosan. Entah kenapa saya selalu saja tergelitik oleh paragraph pembuka novel Gabriel Garcia Marquez ini:
“Bertahun-tahun kemudian, saat menghadapi regu tembak. Kolonel Aureliano Buendia mencoba mengenang suatu senja yang jauh ketika ayahnya mengajaknya untuk melihat es”.
Saya belum pernah membaca pembukaan novel yang begitu memukau seperti ini. Dan Marquez tentu tak berhenti di situ. Kalimat-kalimat selanjutnya membuat imajinasi pembaca bergerak ke Macondo, negeri khayalan yang dibangun dengan apik oleh pengarang pemenang nobel sastra 1982 ini:
“Saat itu Macondo adalah desa yang terdiri dari dua puluh rumah terbuat dari batu bata mentah, dibangun di tepi sungai yang airnya jernih; yang mengalir melewati batu-batu yang mengilat, putih, dan besar seperti telur-telur dari zaman prasejarah. Dunia tampak baru sehingga banyak benda belum mempunyai nama dan untuk menyatakan benda-benda itu, kita harus menunjuknya”
Dan sayapun membayangkan bagaimana sosok Jose Arcadio Buendia, pendiri kampong pedalaman itu. Profilnya hadir dengan utuh, termasuk pemikiran-pemikirannya yang tentu saja dianggap aneh oleh orang-orang di sana.
Jose Arcadio adalah sosok yang komplit. Dalam tubuhnya mengalir semacam darah filosof sekaligus teknokrat dan penggila ilmu pengetahuan. Dia terpukau oleh apa saja yang bersifat baru meski masih belum jelas apa kiranya manfaat benda tersebut baginya. Dan rasa sukanya itu ditunjukkan dengan militansi yang tinggi. Bahkan sangat tinggi.
Syahdan di Macondo datanglah sekelompok gipsi dipimpin oleh Malquiades dengan membawa macam-macam perkakas yang belum pernah disaksikan di desa itu : besi magnet, teropong dan kaca pembesar. Oleh penduduk Macondo benda-benda itu dinamai besi ajaib tapi oleh Malquiades disebut sebagai “keajaiban ke delapan dari para alkemis di Macedonia”
Melihat benda-benda aneh itu, tak ayal Jose Arcadio Buendia terperangah. Ia tak habis-habis dirundung rasa kagum. Dan dengan itu ia mulai terobsesi pada mimpi-mimpinya akan kemajuan peradaban. Dia pun sampai pada kesadaran betapa terkungkungnya kehidupannya selama di Macondo itu. Setahap demi setahap hartanya, juga harta istrinya mulai berpindah ke tangan kelompok gipsi yang dating berkunjung. Jose merelakandua kambing kesayangan Ursula Iguaran, istrinya untuk ditukar dengan besi magnet atau teropong, (benda-benda baru yang sangat dikaguminya itu).
“Jose Arcadio Buendia, yang imajinasi liarnya selalu melampaui batas-batas alamiah, bahkan melampaui mukjizat dan sihir, berpendapat bahwa adalah mungkin memanfaatkan penemuan yang tampaknya tak berguna itu untuk menarik emas dari perut bumi
Demikianlah, Jose Arcadio Buendia benar-benar terobsesi pada barang-barang yang dibawa Malquiades. Istrinya Ursula hanya mengelus dada menyaksikan semua “kegilaan” suaminya itu. Ia tak mampu membendung hasrat Suaminya yang begitu terbakar oleh fantasi-fantasi liarnya sendiri.
Jose Arcadio oleh karena itu saya anggap sebagai sikap seorang filsuf yang selalu mempertanyakan kehidupan. Ini berbeda dengan istrinya yang melihat hidup sebagaimana tampaknya. Keduanya tak pernah cocok, atau katakanlah tidak bisa saling terhubung sesuai tanggung jawab masing-masing. Tapi hubungan perkawinan Jose dan Ursula sudah terpatri demikian kuat karena keduanya masih bersepupu sebagaimana kalimat Marquez
“Itulah sebab-nya, tiap kali Ursula dicobai gagasan gila suaminya, ia akan kembali pada nasib tiga ratus tahun lalu dan mengutuk hari ketika Sir Francis Drake menyerang Riohacha. Ini hanya cara sederhana untuk sedikit menghibur dirinya sendiri karena sebenarnya mereka disatukan sampai mati oleh satu ikatan yang lebih kukuh daripada cinta; kesadaran menyakitkan yang sama “
Barangkali saya tak perlu mengulas isi novel ini sampai tuntas karena jelas tak akan muat di ruangan ini. Saya hanya tergugah pada gaya eksentrik Jose Arcadio,  ayah Aureliano Buendia.
Dulu ketika pertama membaca novel ini, saya agak bingung mengikuti plotnya. Maju-mundur dan terkadang melompat ke sana kemari. Setelah membaca lebih dari dua kali barulah saya mulai memahami jalan cerita dan plot yang dibentuk Marquez. Dia tidak menggunakan plot yang lazim baik alur maju ataupun mundur. Dia menggunakan kedua-duanya dengan konsekuen.
Paragraf pembuka di atas contohnya, ketika Auriliano Buendia, anak Jose Arcadio akan menghadapi regu tembak merupakan plot maju puluhan tahun ke depan. Lalu mundur lagi ke belakang dengan kehidupan si anak ketika masih kecil di Macondo.
Demikianlah sisi unik kehidupan Jose Arcadio Buendia, si nyentrik dari Macondo.

Ayam Pakai Barbel?

Kemarin saya terkejut bukan main. Anak lelaki saya yang kedua, sekarang kelas dua Madrasah Aliyah (Setingkat SMU) menyarankan kepada saya agar kaki ayam Bangkok kesayangannya (dan ayam kesayangan saya juga) digantungi semacam pemberat. Dia menyebutnya barbel. Setahu saya, barbel adalah jenis peralatan kebugaran untuk manusia. Lalu bagaimana ceritanya sampai dipasangi di kaki ayam Bangkok?

“Untuk apa?” tanya saya heran campur kaget.

“Untuk latihan ayah” katanya mantap. “Ayam Bangkok harus dilatih supaya bisa bertarung dengan kemampuan maksimal”

“Bagaimana caranya? Dan apakah bisa?”

“Ya harus, kalau mau ayam ini bisa jadi ayam jawara” katanya sambil mengelus ayam Bangkok berbulu hitam itu. Lalu dia menjelaskan cara memasang alat yang disebutnya barbel itu. Rupanya barbel dimaksud bentuknya semacam gelang karet agak tebal yang dililitkan di pergelangan kaki ayam. Katanya untuk menciptakan efek sepak yang dahsyat, mungkin seperti karung latihan tinju bagi atlit tinju. Dalam hati tentu saya kurang setuju dengan ide anak saya itu.

“Nak!” kata saya selanjutnya. “Ayam ini dipelihara bukan untuk diadu atau dijadikan ayam untuk pertandingan”

Tapi anak saya tetap bersikukuh bahwa ayam Bangkok memang jenis ayam petarung. Biasa dipakai untuk pertandingan, sering dengan taruhan uang. Jelas judi namanya, batin saya.

“Pokoknya tidak bisa” terdengar suara saya agak keras. “Ayam Bangkok ini tidak akan jadi ayam jawara. Ayah sengaja memelihara ayam ini untuk menjadi pejantan ayam betina kita, supaya anaknya nanti besar-besar, supaya harganya tinggi kalau dijual. Lagi pula mengadu ayam itu dosa namanya”

Mendengar itu, anak saya cuma menggerutu tak jelas. Ia tidak setuju dengan kata-kata saya tadi. Tapi saya lihat sepertinya dia merencanakan sesuatu. Saya pun menduga, pasti kalau saya ke kantor barulah ia melaksanakan niatnya itu: memasangi gelang pada kaki ayam Bangkok kesayangan kami yang baru dewasa. Memang sosok ayam itu sangat gagah, tinggi dengan dada menjulang ke depan seakan menantang ayam lain yang ada sekitar rumah kami.

Ayam kok pakai barbel. Ah ada-ada saja.