Sibuk bukan alasan berhenti menulis

Beberapa kawan saya, khususnya para sastrawan mengaku bahwa kesibukan tugas sehari-hari yang mereka lakoni membuat mereka tak punya waktu untuk meneruskan kebiasaan menulis. Tak ada waktu, sibuk oleh pekerjaan kantor, ngurus rumah, ngurus suami, ngurus istri, ngurus anak dan sebagainya. Begitulah alasan yang sering saya dengar. Sepintas, alasan tersebut tampaknya masuk akal. Memang sulit sekali membagi waktu kita diantara jadwal pekerjaan yang padat. Belum lagi rutinitas sehari-hari seperti istirahat, mendengar musik, membaca atau membagi waktu dengan keluarga dan sebagainya.
Tapi sebagaimana yang saya alami sendiri, kesibukan luar biasa yang saya jalani bukan penghalang untuk terus menulis. Sebagai pegawai negeri sipil yang diberi tanggungjawab mengemban jabatan level menengah, saya tak pernah merasa kalau jabatan yang saya pegang jadi penghambat saya terus menulis. Apa sebabnya?
Saya membaca, buku AS Laksana : Creatif Writing, Tips Menulis Novel dan Cerpen terbitan Gagas Media. Dari sanalah saya pahami, bahwa kegiatan menulis manakala sudah benar benar merasuk dalam arus keadaran hidup kita, sesibuk apapun, kita akan tetap bisa meluangkan waktu untuk menulis. Dan itulah yang saya lakukan sekarang.
Perlu saya tambahkan, bahwa di Indonesia profesi penulis belum bisa dijadikan sandaran hidup sepenuhnya. Dengan kata lain, menulis, apalagi menulis novel dan cerpen belum bisa dijadikan penopang hidup alias menjadi sumber pendapatan. Banyak penyebabnya antara lain karena rendahnya minat baca masyarakat dan apresiasi pemerintah yang rendah terhadap kehidupan kesenian di tanah air.

Maka tak mengherankan kalau hampir semua penulis di sini memiliki pekerjaan tetap lain untuk menopang hidup mereka. Ada yang jadi pedagang, atlet, pegawai pemerintah, motivator, menjadi ulama, model iklan, guru dan banyak pekerjaan lain yang tentu saja membutuhkan manajemen waktu yang ketat.Kegiatan menulis mereka lakukan di sela-sela waktu yang sempit. Kalau setiap hari bisa menghasilkan dua halaman draft tulisan berarti enam puluh halaman dalam sebulan. Hebat bukan?

Nah, kalau mereka bisa lalu kenapa kita tidak? Jadi kuncinya kembali kepada kita masing-masing. Saya sendiri harus meluangkan waktu sekitar dua sampai tiga jam semalam untuk meneruskan tulisan, naskah novel yang sudah menumpuk.
Alhasil, alasan kesibukan atau rutinitas sehari-hari membuat mereka berhenti menulis, sebenarnya hanya alasan yang dibuat-buat. Sekedar pembenaran berkuasanya rasa malas pada diri mereka.
Saya sudah menjadi Kepala Bidang di Dinas Perhubungan ketika menerbitkan novel saya yang kedua: Jejak Manusia Langit. Belum sebulan saya menduduki jabatan Kepala Bagian Humas, saya menerbitkan Kumpulan Cerpen dan Puisi “Pasung Jiwa Merpati Putih” berkolaborasi dengan seorang penulis puisi, seorang ibu rumah tangga yang tinggal di Baubau.
Terakhir saya masih menyempatkan mengirim naskah novel yang saya ikutkan dalam sayembara menulis novel Dewan Kesenian Jakarta.
Begitulah. Kalau kita mau, kita niatkan dibarengi tekad yang kuat semuanya pasti bisa kita lakukan.

Baliho Aneh

Saudara-saudara, saya bukan pegawai kantor pajak. Saya tak punya kepentingan dengan kantor itu kecuali bahwa  saya terus berusaha menjadi warga negara yang baik dengan taat membayar pajak. Tak heran saya cukup jengkel juga menyaksikan ada segelintir pegawai kantor itu yang menilep uang pajak yang susah payah dikumpulkan.

Saudara, beberapa waktu belakangan saya cukup terganggu mendapati sebuah baliho calon walikota Kendari, Sudarmanto yang dipasang  di tempat yang cukup strategis yaitu di depan kantor BKD Provinsi dan rumah sakit R Ismoyo (Rumah Sakit Korem) Kendari. Sebenarnya bukan kehadiran baliho itu yang menganggu tapi sepotong kalimat di dalamnya yang berbunyi begini “Program utama: pembebasan iuran pajak bumi dan bangunan”. Hampir setiap hari saya pasti akan membaca baliho itu ketika mengantar anak ke sekolah.

Nah apakah maksud kata-kata tersebut? Mari kita lihat

Setahu saya, sampai sekarang pemerintah belum mencabut ketentuan mengenai pajak bumi dan bangunan. Apalagi hendak membebaskan salah satu bentuk pajak yang menjadi tumpuan pendapatan negara kita. Jadi apa maksud Sudarmanto menuliskan kata-kata itu dalam balihonya?

Di tengah-tengah kampanye agar warga negara semakin sadar untuk membayar pajak, kata-kata dalam baliho Sudarmanto justru merupakan tamparan bagi aparat kantor pajak.  Ini sangat memalukan, apalagi kalau melihat kapasitas Sudarmanto yang saat ini menjadi anggota legislatif provinsi. Seharusnya beliaulah yang mengontrol kelancaran pembayaran pajak oleh masyarakat, bukan malah hendak membebaskannya.

Barangkali dengan kata-kata semacam itu, Sudarmanto bermaksud menarik simpati pemilih dengan meringankan beban rakyat yang selama ini terlalu banyak menanggung beban dalam membayar pajak. Sekilas memang terdengar sangat mulia dan luhur. Apalagi kalau maksudnya beliaulah yang hendak menanggung semua pajak bangunan yang selama ini harus dibayar oleh rakyat. Singkatnya, mungkin ia ingin berkata, Pilihlah saya, karena saya akan menanggung pajak bumi kalian.

Di sinilah pokok permasalahan yang sesungguhnya. Menurut saya, iming-iming tentang pembebasan membayar pajak bumi dan bangunan justru merupakan pembodohan kepada rakyat yang notabene harus menunaikan kewajibannya sebagai warga negara. Rakyat harus disadarkan bahwa segala biaya yang dikeluarkan pemerintah dalam melakukan pembangunan sebagian darinya bersumber dari pajak bumi dan bangunan ini.

Kalau maksudnya hendak membebaskan adalah dengan menghapus atau mengubah regulasi tentang pajak bumi dan bangunan, justru terdengar semakin aneh, rancu sekaligus lucu. Setahu saya, regulasi pajak bumi dan  bangunan adalah Undang-undang. Dengan kata lain, apakah bapak punya kewenangan mengubah peraturan tersebut? Kalau sebatas Peraturan Daerah (Perda) mungkin saja bisa. Tapi ini adalah Undang-undang. Yang bisa mengubahnya adalah DPR RI bersama pemerintah pusat. Jadi?

Mohon maaf kepada Bapak Sudarmanto. Dulu sewaktu bapak menjadi anggota legislatif, saya adalah salah satu pendukung bapak. Bahkan sempat melakukan kampanye di kalangan keluarga Menui. Jadi saya sangat terkejut melihat ada baliho semacam itu. Dan saya mohon kepada bapak, agar menurunkan semua baliho yang ada kata-kata seperti itu di dalamnya. Bukan-apa-apa, saya justru khawatir kalau baliho itu akan jadi bahan tertawaan orang. Terutama oleh mereka yang selama ini sangat peduli dengan kata-kata seperti saya.

Dan melalui kesempatan ini saya menyarankan agar tim pemenangan bapak (kalau memang ada) sebaiknya memikirkan baik-baik setiap kata yang akan dicantumkan di atas baliho. Karena sekali baliho bapak sudah terpasang, semua yang tertera di atasnya, baik itu gambar, tulisan dan sebagainya telah menjadi milik publik sepenuhnya. Dan warga bisa memprotesnya kalau mereka merasa tidak senang. Itu saja saya kira.

Ormas Islam dan Sayed Kashua

Di Indonesia, persoalan agama menjadi begitu krusial. Ia demikian menegangkan sekaligus mencemaskan. Orang-orang diliputi ketakutan, syak wasangka terutama ketika semangat militansi dikibarkan dengan amarah dan penuh kebencian.

Di usung oleh organisasi  massa dengan atribut Islam puritan, syak wasangka, ketakutan atau rasa cemas orang banyak  menjadi kian jelas lantaran organisasi ini begitu keras memperjuangkan Islam yang menurut mereka harus bersih dari anasir-anasir kafir, zionis bahkan kapitalisme yang begitu kuat mengharu-biru dunia ini.

Suasana damai pun tercoreng, hubungan baik dengan penganut kepercayaan lain perlahan terkelupas. Hegemoni atau katakanlah dominasi suatu kaum terhadap kaum lainnya terkesan sangat dipaksakan. Kita cenderung menganggap diri kitalah yang paling benar. Kitalah yang akan masuk surga untuk pertama kali, dan orang lain biarlah masuk belakangan atau kalau perlu menjadi penghuni kerak neraka sekalian.

Tapi begitu suramkah Islam seperti yang diajarkan Nabi Muhammad kepada kita?

Saya menonton televisi dan saya sedih melihat itu semua. Melihat betapa pemerintah dibuat semacam mainan atau olok-olok sebuah organisasi massa dengan simbol-simbol Islam garis keras. Mereka (ormas itu) menganggap diri mereka telah menjadi korban kapitalisme barat, beserta turunannya lalu dengan caranya sendiri hendak menyelesaikan persoalan, tanpa mengindahkan kaidah hukum yang ada. Mereka seakan-akan punya pemerintahan sendiri, punya kekuasaan sendiri di luar Negara Kesatuan Republik Indonesia. Dan anehnya negara seperti tak berdaya berhadapan dengan mereka. Pemerintah seakan terkena sindrom buah simalakama. Rakyat banyak yang bertanya, kenapa pemerintah begitu lembek berhadapan dengan siatuasi chaos yang diciptakan ormas tersebut?

Dulu saya pernah membaca novel Dancing Arab, karangan Sayed Kashua (Terjemahannya di terbitkan oleh Serambi dengan judul Tarian Cinta) dan di sana saya melihat bagaimana hubungan Islam dan Kristen juga ras antara Arab dan Yahudi saling berkelindan, penuh drama yang menyakitkan, tapi tidak mirip benar dengan yang terjadi di Indonesia.

Tokoh utama novel ini, si aku, (karena memakai gaya bercerita orang pertama) merasa betapa ganas kedaan di sekitarnya, sebuah desa kecil bernama Tira, salah satu sudut Negara Israel.  Tapi ia tidak ikut-ikutan tegang. Meskipun Israel bisa melakukan apa saja terhadap mereka. Si aku tetap merasa sebagai orang yang merdeka, bebas melakukan apapun meski Israel bisa membunuh mereka setiap saat. Ia mengejek dengan sinis keadaan sekitarnya. Ironi dan drama dibingkai menjadi satu persoalan yang tidak saja mengendurkan urat leher tapi bertabur humor dan ejekan pada diri sendiri.

Membaca novel ini, saya membayangkan andai si aku berada di Indonesia. Saya tak bisa membayangkan seandainya ia menghadapi arus demonstrasi ormas Islam di negara kita.  Mungkin ia akan berkata “kalau sampean mau masuk surga ya silakan, saya pun akan turut tapi tentu dengan cara saya sendiri” dan mungkin akan disambungnya kata-katanya tadi dengan “negara zionis seperti Israel saja yang kalian tuduh begitu tak berperi kemanusiaan bisa menjaga toleransi warganya, antara orang Yahudi dan orang Arab”

Kalian mungkin akan berkata “Ah itukan hanya cerita novel, kisah fiktif yang mungkin saja dibuat untuk membenarkan sikap Israel atas orang Arab selama ini”. Tapi ini pasti akan memunculkan sanggahan balik “Meskipun cuma cerita fiktif, tapi tidakkah kita melihat sebuah bayangan kenyataan di dalamnya?” sebab bagaimanapun fiktifnya sebuah cerita ia pasti berangkat oleh sebuah asumsi tentang adanya sepercik kebenaran tentang sebuah peristiwa. Dengan kata lain, tak ada cerita, fiktif sekalipun, yang datang dari ruang hampa.

Orang Berutang, Ditagih Melalui Koran

Di zaman kolonial, penyelesaian utang-piutang baik perorangan maupun lembaga, agak sedikit aneh, paling tidak jika dipandang dalam perspektif sekarang. Mereka yang berutang (biasanya aparat negara) ditagih melalui surat kabar, lengkap nama dan pangkatnya juga kepada siapa ia harus membayar, kendati pun orang yang berutang itu sudah lama meninggal.

Belum lama ini secara tak sengaja saya menemukan arsip koran Belanda berbahasa Melayu di internet. Meskipun susah sekali kita mencerna jalan kalimat pemberitaan koran tersebut, tetapi paling tidak kita bisa menangkap adanya kesan yang sangat lugas.

Dalam edisi Sabtu 9 Pebruari 1856 koran “Surat Kabar” menurunkan berita semacam iklan atau pengumuman tentang urusan utang-piutang ini dengan judul PANGGILAN PADA ORANG NJANG KASI OETANG PADA ORANG NJANG SOEDA MATI. Adapun penggalan beritanya saya kutip antara lain

“Kepada Luitenant KR Siegmund, njang soeda matie maka njang panggil Kapiten JH Stein dan Luitenant WLJ Schmidt di Palembang dalem 2 boelan. Kepada Luitenant Van Der Ree, njang soeda matie manka njang panggil executeurnja bernama A Raijmankeers, Kapitein dan ME van Zeijlen, Luitenant di Soerabaia dalem 3 boelan teritoeng dari tanggal 29 November”

Sesungguhnya sulit sekali menafsirkan maksud pengumumamn secamam itu lantaran struktur kalimat yang tidak sesuai kaidah bahasa zaman sekarang, tapi waktu itu mungkin sesuatu yang lumrah, bisa segera dimengerti orang banyak. Dan bila kita mencoba mengikuti nalar orang dulu, para penyusun berita itu, kita hanya bisa mengira-ngira maksudnya.

Saya sendiri menduga, panggilan orang-orang yang sudah mati tersebut barangkali untuk memenuhi kewajiban hukum yang bersangkutan terhadap si pemanggil meski yang dipanggil sudah pensiun atau bahkan sudah meninggal sekalipun. Dan setelah batas waktu yang ditentukan ternyata tidak dibayar juga (tampaknya memang tak akan terbayar), tagihan utang almarhum akan dialihkan pada negara. Dengan kata lain, negaralah yang akan mengganti semuanya karena yang berutang itu adalah aparat negara yang sedang aktif menjalankan tugas ketika utang tersebut terjadi.

Tapi itu hanya dugaan saya saja.

Mungkin juga, guntingan pengumuman itulah nanti yang akan mereka serahkan kepada pemerintah sebagai bukti adanya piutang pada orang lain. Ia menjadi salah satu syarat yang harus dipenuhi sebelum dilakukan pembayaran oleh negara, agar penyelesaian utang yang bersangkutan bisa segera diproses. Di zaman sekarang barangkali kita bisa menyamakannya dengan berita lelang dan tender di surat-kabar, yang termasuk salah satu syarat pelelangan suatu proyek pemerintah. Atau lebih mirip pengumuman lelang barang sitaan oleh kantor lelang negara. Lelang sita jaminan yang telah jatuh tempo bagi para kreditur di masa sekarang.

Mungkin begitu, tapi entahlah. Ahli sejarah barangkali bisa menjelaskan persoalan ini, khususnya ahli sejarah hukum Hindia Belanda yang bisa menjawabnya.

Membaca Sastra, Membangun Sebuah Dunia

Selama menjadi pelahap karya sastra-meski tidak begitu tekun- saya belum menemukan karangan yang tidak bagus. Semuanya bagus bagi saya. Setidaknya perbendaharaan cerita saya semakin banyak, dan wawasan pun bertambah luas.

Anda mungkin akan berkata bahwa saya adalah pembaca biasa, tidak mampu menalar atau setidaknya luput menangkap hakekat keindahan sebuah karya sastra. Mungkin anda benar. Mungkin juga tidak.

Bagi mereka, khususnya para pengarang yang diberkahi karunia kemahiran menulis cerita, langsung bisa menilai apakah suatu karya sastra tersebut bagus atau tidak, berdasarkan pengalaman kepenulisan mereka. Golongan seperti ini, tidak menimbulkan masalah apabila kemudian memvonis karya orang lain sebagai karya yang bagus atau sebaliknya.

Bagi saya, membaca sebuah karangan fiksi seperti menonton sebuah dunia yang aneka rupa bentuknya, beragam warnanya, lembut ataukah hangat dunia tersebut muncul dalam kepala saya. Jadi, saya atau katakanlah kita, janganlah terburu-buru mengklaim karya lain baik atau buruk, laris atau tak laku karena persepsi seperti itu akan menyandera diri kita sendiri lantaran kita menilai karya seseorang dengan kacamata kuda. Kita cenderung subyektif atawa kurang jujur terhadap diri sendiri. Kita memandang orang lain atau karya penulis lain, apalagi yang masih pemula dengan semena-mena: tergantung dari sudut pandang kita sendiri yang biasanya sulit menghindar dari subyektivitas.

Saya teringat pada kata-kata Rendra ketika menyampaikan pidatonya yang memukau saat menerima hadiah Akademi Jakarta. Saya sudah lupa tahun kejadiannya. Saya membacanya di buku tipis: Cendekiawan: mereka yang berumah di angin. Dalam salah satu kalimatnya Rendra berkata:

“Dalam ilmu silat, tak ada juara nomor dua. Dalam ilmu surat, tak ada juara nomor satu”

Tafsiran bebas kalimat itu kira-kira begini: dalam persilatan tidak ada pemenang kedua karena semua calon pemenang sudah dibunuh oleh si nomor satu tadi. Sedangkan dalam ilmu surat (dalam hal ini dunia kepengarangan) tidak akan ada pemenang pertama, karena alangkah sulitnya menemukan karya terbaik di antara yang ada. Lagipula cara menilai sebuah karya sastra pasti akan selalu berbeda-beda bagi setiap orang.

Dan saya sudah membuktikan kebenaran rumusan itu. Semua karya sastra yang saya pernah baca, apakah sastra Indonesia, apakah terjemahan, semuanya bagus belaka, karena semuanya mampu menghadirkan cerita yang menarik.

Dulu, saya begitu terpukau membaca cerita-cerita apa saja.

Saya hampir menangis membaca pertemuan kembali Parman dengan mantan istrinya, Marni dalam novel Kubah atau Mbok Ralem yang menangis di hadapan pemimpin redaksi sebuah koran yang menolong operasi gondoknya dalam novel Di Kaki Bukit Cibalak, keduanya karya Ahmad Tohari.

Saya juga tertawa terbahak-bahak membaca kata-kata Schweik, prajurit yang lugu, tampak bodoh tapi baik hati dalam novel Prajurit Schweik karya Jaroslav Hasek. Schweik yang selalu mengawali ucapannya dengan “mohon melapor tuan”.

Dan saya tercekam sembari menahan hati sewaktu Hasan bertandang ke rumah Rusli di suatu senja, ketika mereka berbincang mengenai ideologi kiri dan peradaban manusia dalam novel Atheis Achdiat Kartamihardja. Demikian juga dengan Wak Katok, Buyung, Sanip, Pak Haji, Talib dan Pak Balam yang berusaha menyembunyikan dosa-dosa masa lalu mereka karena ancaman harimau  di belantara Sumatera dalam novel Harimau-Harimau Mochtar Lubis.

Setiap kali membaca sebuah karya sastra saya selalu tergugah, seakan saya melihat sebuah dunia dan ingin terlibat langsung mengambil peran dalam tiap-tiap cerita itu. Bahkan ketika membaca salah satu cerita pendek Seno Gumira Aji Darma, Nyanyian Sepanjang Sungai, saya merasa seakan-akan saya sendiri yang berada dalam kapal yang tak pernah sampai di tujuannya itu karena saya sering mengalaminya: naik perahu ke pulau lain.

Semakin banyak saya membaca, semakin berlimpah juga dunia yang tergambar dalam ingatan saya. Dalam Anna Karenina karya Leo Tolstoi, sikap Kitty yang belia terhadap Konstantin Levin, calon suaminya yang sudah berumur sangat menyentuh perasaan saya. Demikian pula dengan Gregor Samsa yang terkejut begitu menyadari bahwa dirinya telah berubah ujud menjadi seekor serangga dalam Metamorfosis karya Kafka.

Atau kata-kata Robinson Croese saat bertemu si Jumat di pulau terpencil. Atau surat-surat Zainuddin kepada Hayati dalam Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck. Atau pikiran Scarlet O’Hara saat hadir di pesta dansa keluarga Wilkes dalam Gone With The Wind. Juga sikap Danny terhadap Pilon, Joe Portugis dan Jesus Maria serta si Bajak Laut dalam novel Dataran Tortilla karya John Steinbeck. Atau cara Miyamoto Mushashi mengayunkan pedang. Atau Haji Saleh yang memimpin demo di hadapan Allah dalam cerpen AA Navis, Robohnya Surau Kami.

Juga perang antara Cowboy dan Bandit-bandit dalam cerpen Surabaya karya Idrus. Pada Jose Arcadio Buendia yang nyentrik dalam Seratus Tahun Kesunyian-nya Marquez. Pada pidato Si Mayor Tua yang menggugah dalam Animal Farm dan sikap Winston Smith di hadapan mesin teleskrim, sebuah alat pemantau gerak-gerik sekaligus pembaca pikiran manusia dalam novel 1984, keduanya karya  George Orwell. Juga sosok Nyai Ontosoroh dalam Bumi Manusia Pramoedya Ananta Toer. Atau Santiago dalam novel Lelaki Tua dan Laut karya Hemingway, ketika lelaki tua itu marah pada ikan hiu karena merampas ikan marlinnya. Saat itu Santiago meludah ke laut seraya mengumpat “makanlah itu galanos dan bermimpilah bahwa kalian telah membunuh manusia”

Juga tingkah laku Totto-chan yang menggemaskan selama bersekolah di bekas gerbong kereta api dalam novel Totto-chan, Gadis Cilik di Jendela Tetsuko Kuroyanagi.

Tapi Ah.. saya kira tak perlu saya berpanjang-panjang lagi menulis yang begini karena hanya membikin orang lekas bosan. Lama-lama pasti mereka akan mengatai saya berlebih-lebihan. Jadi saya sudahi saja sampai di sini.

Lalu bagaimana dengan Anda? Adakah Anda merasakan seperti apa yang saya rasakan ketika usai membaca sebuah cerita?

Si Nyentrik dari Macondo: Jose Arcadio Buendia

Mengenang Gabriel Garcia Marquez ( 1928- 17 April 2014)
Membaca kembali novel Seratus Tahun Kesunyian rasanya selalu mengasyikkan dan tak pernah membuat saya bosan. Entah kenapa saya selalu saja tergelitik oleh paragraph pembuka novel Gabriel Garcia Marquez ini:
“Bertahun-tahun kemudian, saat menghadapi regu tembak. Kolonel Aureliano Buendia mencoba mengenang suatu senja yang jauh ketika ayahnya mengajaknya untuk melihat es”.
Saya belum pernah membaca pembukaan novel yang begitu memukau seperti ini. Dan Marquez tentu tak berhenti di situ. Kalimat-kalimat selanjutnya membuat imajinasi pembaca bergerak ke Macondo, negeri khayalan yang dibangun dengan apik oleh pengarang pemenang nobel sastra 1982 ini:
“Saat itu Macondo adalah desa yang terdiri dari dua puluh rumah terbuat dari batu bata mentah, dibangun di tepi sungai yang airnya jernih; yang mengalir melewati batu-batu yang mengilat, putih, dan besar seperti telur-telur dari zaman prasejarah. Dunia tampak baru sehingga banyak benda belum mempunyai nama dan untuk menyatakan benda-benda itu, kita harus menunjuknya”
Dan sayapun membayangkan bagaimana sosok Jose Arcadio Buendia, pendiri kampong pedalaman itu. Profilnya hadir dengan utuh, termasuk pemikiran-pemikirannya yang tentu saja dianggap aneh oleh orang-orang di sana.
Jose Arcadio adalah sosok yang komplit. Dalam tubuhnya mengalir semacam darah filosof sekaligus teknokrat dan penggila ilmu pengetahuan. Dia terpukau oleh apa saja yang bersifat baru meski masih belum jelas apa kiranya manfaat benda tersebut baginya. Dan rasa sukanya itu ditunjukkan dengan militansi yang tinggi. Bahkan sangat tinggi.
Syahdan di Macondo datanglah sekelompok gipsi dipimpin oleh Malquiades dengan membawa macam-macam perkakas yang belum pernah disaksikan di desa itu : besi magnet, teropong dan kaca pembesar. Oleh penduduk Macondo benda-benda itu dinamai besi ajaib tapi oleh Malquiades disebut sebagai “keajaiban ke delapan dari para alkemis di Macedonia”
Melihat benda-benda aneh itu, tak ayal Jose Arcadio Buendia terperangah. Ia tak habis-habis dirundung rasa kagum. Dan dengan itu ia mulai terobsesi pada mimpi-mimpinya akan kemajuan peradaban. Dia pun sampai pada kesadaran betapa terkungkungnya kehidupannya selama di Macondo itu. Setahap demi setahap hartanya, juga harta istrinya mulai berpindah ke tangan kelompok gipsi yang dating berkunjung. Jose merelakandua kambing kesayangan Ursula Iguaran, istrinya untuk ditukar dengan besi magnet atau teropong, (benda-benda baru yang sangat dikaguminya itu).
“Jose Arcadio Buendia, yang imajinasi liarnya selalu melampaui batas-batas alamiah, bahkan melampaui mukjizat dan sihir, berpendapat bahwa adalah mungkin memanfaatkan penemuan yang tampaknya tak berguna itu untuk menarik emas dari perut bumi
Demikianlah, Jose Arcadio Buendia benar-benar terobsesi pada barang-barang yang dibawa Malquiades. Istrinya Ursula hanya mengelus dada menyaksikan semua “kegilaan” suaminya itu. Ia tak mampu membendung hasrat Suaminya yang begitu terbakar oleh fantasi-fantasi liarnya sendiri.
Jose Arcadio oleh karena itu saya anggap sebagai sikap seorang filsuf yang selalu mempertanyakan kehidupan. Ini berbeda dengan istrinya yang melihat hidup sebagaimana tampaknya. Keduanya tak pernah cocok, atau katakanlah tidak bisa saling terhubung sesuai tanggung jawab masing-masing. Tapi hubungan perkawinan Jose dan Ursula sudah terpatri demikian kuat karena keduanya masih bersepupu sebagaimana kalimat Marquez
“Itulah sebab-nya, tiap kali Ursula dicobai gagasan gila suaminya, ia akan kembali pada nasib tiga ratus tahun lalu dan mengutuk hari ketika Sir Francis Drake menyerang Riohacha. Ini hanya cara sederhana untuk sedikit menghibur dirinya sendiri karena sebenarnya mereka disatukan sampai mati oleh satu ikatan yang lebih kukuh daripada cinta; kesadaran menyakitkan yang sama “
Barangkali saya tak perlu mengulas isi novel ini sampai tuntas karena jelas tak akan muat di ruangan ini. Saya hanya tergugah pada gaya eksentrik Jose Arcadio,  ayah Aureliano Buendia.
Dulu ketika pertama membaca novel ini, saya agak bingung mengikuti plotnya. Maju-mundur dan terkadang melompat ke sana kemari. Setelah membaca lebih dari dua kali barulah saya mulai memahami jalan cerita dan plot yang dibentuk Marquez. Dia tidak menggunakan plot yang lazim baik alur maju ataupun mundur. Dia menggunakan kedua-duanya dengan konsekuen.
Paragraf pembuka di atas contohnya, ketika Auriliano Buendia, anak Jose Arcadio akan menghadapi regu tembak merupakan plot maju puluhan tahun ke depan. Lalu mundur lagi ke belakang dengan kehidupan si anak ketika masih kecil di Macondo.
Demikianlah sisi unik kehidupan Jose Arcadio Buendia, si nyentrik dari Macondo.

Perpustakaan Pribadi

Tidak ada yang lebih memukau saya ketimbang melihat para penulis berpose di depan rak penuh buku di rumah mereka. Kadang saya berpikir, bisakah saya memiliki perpustakaan sendiri di rumah? Tempat saya akan memendam diri sehari penuh dengan membaca buku-buku bagus yang saya sukai?

Sejak SMA saya sudah mengumpulkan buku apa saja yang kebetulan saya dapat secara tak sengaja. Kebanyakan saya beli di toko-toko buku di kota saya. Namun hasilnya belum sesuai harapan. Banyak buku-buku yang saya cari tidak tersedia di sini. Maklum kota kecil seperti Kendari, tentu cakrawala perbukuan masyarakatnya juga tergolong rendah. Belum ada toko buku yang mengkhususkan diri dalam genre sastra misalnya. Kecuali Toko buku Gramedia yang menjual buku dengan topik yang cukup lengkap.

Alhasil, saya pun berburu buku bekas secara online dan hasilnya lumayan menggembirakan. Beberapa buku sastra kelas dunia saya peroleh dengan cara ini antara lain War and Peace karangan Leo Tolstoy. Max Havelaar karangan Multatuli dan Dr Zhivago karya Boris Pasternak. Ada juga The Name of The Rose Umberto Eco, 1984 George Orwel, The Old Man and The Sea Hemingway, Les Miserables Victor Hugo, Sampar Albert Camus, dan tak ketinggalan koleksi buku Catatan Pinggir Goenawan Mohamad sebanyak 10 edisi (lengkap). Saya juga sudah mengoleksi empat buku Tetralogi Buru Pramoedya Ananta Toer (Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah dan Rumah Kaca)

Dengan koleksi buku yang masih kurang, saya tetap bertekad membangun perpustaakaan sendiri di rumah, sekaligus mengganti rak buku kayu yang sudah berumur sekitar dua puluh tahun yang selama ini saya gunakan.
Dibanding rekan-rekan pemburu buku yang militan, mungkin koleksi yang saya miliki tidak ada apa-apanya. Saya sadar sepenuhnya, kalau seorang pencinta buku memang harus memiliki uang yang cukup untuk membeli buku yang lengkap. Apalagi mencari buku langka yang harganya selangit. Buku memang mahal. Tapi bagi saya semahal apapun buku yang kita inginkan akan sepadan dengan ilmu yang kita dapatkan setelah membacanya.

Sampai sekarang saya masih menunggu terbitnya novel terjemahan War and Peace karya Leo Tolstoy yang kalau tak salah Koesalah Soebagyo Toer akan menerjemahkannya untuk pembaca Indonesia. Saya juga tengah mencari terjemahan Indonesia karya Miguel Cervantes, Don Quisot (entah kapan saya akan memperolehnya)

Adapun koleksi buku yang sudah saya miliki saya tampilkan juga di halaman blog ini

illustrasi : http://mesinbuku.blogspot.com

Citra Wong Ndeso dalam Karya Ahmad Tohari

Ahmad Tohari bisa disebut sebagai salah satu sastrawan Indonesia yang begitu mengagungkan kehidupan orang-orang desa, Wong Ndeso. Hampir semua tokoh-tokoh fiksinya diangkat dari latar belakang pedalaman yang jauh dari hiruk-pikuk kota.

Nama-nama berikut sudah demikian akrab dalam benak pembaca sastra kita. Rasus, Kartareja, Sakum, Srintil (Ronggeng Dukuh Paruk), Karman, Parta, Marni dan Haji Bakir (Kubah), Pak Dirga, Pambudi, Poyo dan Sanis (Di Kaki Bukit Cibalak), Darsa, Lasi, Kanjat dan Eyang Mus (Bekisar Merah)

Dan itu baru dari novel. Bila kita simak cerita pendek Ahmad Tohari, nama-nama orang dusun kian terentang panjang. Karyamin, Blokeng, Kasdu, Minem, Musgepuk, Sutabawor, Kenthus (Senyum Karyamin-Kumpulan Cerpen) Mirta, Tarsa, Jebris, Daruan, Doblo, Sarpin, Karsim, Dawir dan Rusmi (Mata yang Enak Dipandang-Kumpulan Cerpen).

Nama-nama demikkian itu nyaris memenuhi seluruh cerita yang dibangun Tohari, lengkap dengan latar belakang alam dan satwa yang memikat. Saya yakin tak banyak pengarang kita yang memiliki perbendaharaan lengkap mengenai kehidupan alam semesta seperti Tohari.

Kemampuan melukiskan suasana sekitar secara realistis dan tampak seakan-akan nyata adalah salah satu kekuatan Tohari dalam membangun kisah, memilih tema serta pelaku cerita dengan sangat mengesankan.

Dalam novel Ronggeng Dukuh Paruk, kita misalnya bisa melihat sosok Sakum, lelaki buta penabuh calung dengan gaya kocaknya: selalu menggumamkan kata-kata “cess” setiap kali dia menabuh calung dengan ritme tertentu pada saat mana si penari, Srintil akan menggoyangkan pinggul, memancing berahi penonton.

Tetapi bagaimanapun Kartareja beruntung. Dia berhasil menemukan kembali Sakum, laki-laki dengan sepasang mata keropos namun punya keahlian istimewa dalam memukul calung besar. Sakum, dengan mata buta mampu mengikuti secara seksama pagelaran ronggeng. Seperti seorang awas, Sakum dapat mengeluarkan seruan cabul tepat pada saat ronggeng menggerakkan pinggul ke depan dan ke belakang. Pada detik ronggeng membuat gerak birahi, mulut Sakum meruncing, lalu keluar suaranya yang terkenal; Cessss! Orang mengatakan, tanpa Sakum setiap pentas ronggeng tawar rasanya. 

Saya juga bisa membayangkan sosok Darsa seorang pembuat nira, suami Lasi dalam novel Bekisar Merah. Darsa ketika itu tengah memandang barisan pohon kelapa yang diguyur hujan. Lelaki itu lantas membandingkan pohon kelapanya yang basah dengan istrinya, Lasi yang saat itu melintas di hadapannya usai mandi. Dan Tohari pun menggambarkannya demikian:

Di mata Darsa, pesona dan gairah hidup yang baru beberapa detik lalu direkamnya dari pohon-pohon kelapa di seberang lembah, kini berpindah sempurna ke tubuh Lasi. Sama seperti pohon-pohon kelapa yang selalu menantang untuk disadap, pada diri Lasi ada janji dan gairah yang sangat menggoda.

Pada Lasi terasa ada wadah pengejawantahan diri sebagai lelaki dan penyadap. Pada diri istrinya juga Darsa merasa ada lembaga tempat kesetiaan dipercayakan. Dan lebih dari pohon-pohon kelapa yang tak putus meneteskan nira, Lasi yang sudah tiga tahun menjadi istrinya, meski belum memberinya keturunan, adalah harga dan cita-cita hidup Darsa sendiri.  . . . .

 Lasi tak meneruskan kata-katanya karena tiba-tiba suasana berubah. Darsa memandang Lasi dengan mata berkilat. Keduanya beradu senyum lagi. Darsa selalu berdebar bila menatap bola mata istrinya yang hitam pekat. Seperti kulitnya, mata Lasi juga khas; berkelopak tebal, tanpa garis lipatan. Orang sekampung mengatakan mata Lasi kaput. Alisnya kuat dan agak naik pada kedua ujungnya. Seperti Cina. Mungkin Darsa ingin berkata sesuatu. Tetapi Lasi yang merasa dingin masuk ke bilik tidur hendak mengambil kebaya. Dan Darsa mengikutinya, lalu mengunci pintu dari dalam. Keduanya tak keluar lagi. Ada seekor katak jantan menyusup ke sela dinding bambu, keluar melompat-lompat menempuh hujan dan bergabung dengan betina di kubangan yang menggenang. Pasangan-pasangan kodok bertunggangan dan kawin dalam air sambil terus mengeluarkan suaranya yang serak dan berat. Induk ayam di emper belakang merangkul semua anaknya ke balik sayap-sayapnya yang hangat. Udara memang sangat  dingin.

Dan Tohari seakan benar-benar hadir menyaksikan sendiri semua pelaku memainkan perannya. Dalam hampir semua novelnya seperti yang saya sebut di atas, Tohari bercerita sebagai pihak yang mengalami kejadian dalam cerita. Dengan gaya bertutur yang khas seperti itu, Tohari berlaku sebagai si maha tahu semua karakter manusia yang dibangunnya sendiri. Dengan kata lain, Tohari tidak bertindak seperti seorang pewarta yang memberitakan sebuah kejadian, tapi dia berlaku seakan-akan dia sendiri sang pemain, dialah pelaku utama cerita-ceritanya sendiri.

Demikian juga dalam novelnya yang lain. Kubah misalnya. Bagaimana perasaan Karman saat baru pulang dari pembuangan di Pulau Buru. Sikap dan gerak-gerik Karman ketika baru saja dibebaskan dan betapa ia terkejut mendapati keadaan sekitar yang sudah berubah. Semuanya di lukiskan Tohari dengan sangat memikat, sederhana dan mudah diikuti nalar pembaca.

Karman duduk di atas sebuah tonjolan akar. Di sampingnya ada gulungan kertas yang berisi kain sarung, dan masing-masing selembar baju dan celana tua. Itulah semua hartanya yang ia bawa kembali dari Pulau B. Angin bergerak ke utara menggoyangkan daun-daun tanaman hias di halaman Kabupaten. Seorang perempuan muda berjalan dan melintas di hadapan Karman. Alisnya, matanya, sangat mengesankan. Oh, tungkainya enak dipandang. Dan bibirnya. Bibir seperti itu gampang mengundang gairah lelaki. “Mungkin dia seorang guru sekolah,” pikir Karman yang merasa jantungnya berdebar lebih keras. “Bila guru secantik itu, setiap murid lelaki akan betah tinggal di kelas.” Oh, Karman tersenyum. Dan kaget sendiri ketika menyadari kelelakiannya ternyata masih tersisa pada dirinya.

Sedangkan dalam Di kaki Bukit Cibalak, kita bisa merasakan napas Pambudi, si tokoh utama dengan perangainya yang suka menolong namun tidak berdaya menghadapi kerasnya kekuasaan aparat desa.

Terkadang Pambudi bertanya kepada diri sendiri, mengapa ia tidak berbuat seperti Poyo, teman sejawat dalam pengelolaan lumbung desa itu. Poyo hidup dengan sejahtera bersama istri dan anak-anaknya. Rumah mereka sudah ditembok. Belum lama ini Poyo membeli sebuah sepeda motor. Pambudi tahu persis mengapa sejawatnya bisa memperoleh semua itu. Ia bekerja sama dengan Lurah, misalnya memperbesar angka susut guna memperoleh keuntungan berton-ton padi. Atau mereka bersekongkol dengan para tengkulak beras dalam menentukan harga jual padi lumbung koperasi. Dengan cara ini saja mereka akan mendapat keuntungan berpuluh ribu rupiah, karena mereka dapat mencantumkan harga penjualan semau mereka sendiri, dan dari tengkulak padi mereka mendapat semacam komisi.

Pambudi tahu, sama sekali tidak sukar berbuat demikian karena badan koperasi itu tanpa pengawasan, apalagi penelitian. Dan, kebanyakan penduduk Tanggir adalah anak cucu kaum kawula. Mereka nrimo, sangat nrimo.

Betapa piawai Tohari melukiskan suasana batin tiap karakter orang-orang dusun dalam kisahnya. Kalau kita mau membelahnya satu persatu pasti ruangan ini tak mampu menampungnya.

Akhirnya saya hanya mampu mengatakan betapa Ahmad Tohari begitu menguasai alam pikiran masyarakat bawah, wong ndeso,  yang menjadi tokoh sentral dalam tiap ceritanya.

Menulis Cerita, Butuh Kesabaran

Pekan lalu, ketika saya sedang memberi makan ikan-ikan di empang, saya teringat kata-kata seorang penulis buku pembimbingan menulis. Intinya kira-kira begini:  Kalau kita melakukan sesuatu dengan tekun, telaten dan terus-menerus pasti akan membuahkan hasil yang sempurna.

Menulis butuh kesabaran. Butuh waktu latihan mencurahkan ide dan pikiran ke atas kertas. Berkali-kali merumuskan kata merangkai kalimat. Demikian juga untuk mendapatkan ikan-ikan yang gemuk  ia harus diberi makan setiap hari bahkan setiap jam dengan makanan pilihan, menjaga air agar tetap steril. Semua perlu kita lakukan kalau kita ingin usaha kita membuahkan hasil.

Akan tetapi meski panduan cara menulis yang baik sudah ratusan kali ditulis orang, masih sedikit dari kita yang mau melakukannya. Apalagi dengan tekun dan telaten. Merawat kesinamnbungan semangat menulis memang berat. Ia membutuhkan sesuatu yang sebenarnya  sudah tertanam lama dalam kesadaran setiap manusia: bakat dan kemauan keras untuk menjadi penulis yang baik.

Ketika sedang membaca sebuah novel kadang saya  berpikir  alangkah cerdasnya si pengarang  menyusun plot cerita sehingga kita larut dalam cerita yang dibuatnya.  Itu pula yang saya rasakan ketika  membaca salah satu novel Mario Vargas Llosa : Quien Mato a Palomino Molero? (Siapa Pembunuh Palomino Molero?

Syahdan tersebutlah dua petugas kepolisian di Talara bernama Letnan Silva dan Lituma yang menyelidiki kematian seorang penerbang muda. Palomino Molero namanya. Sebuah proses kematian yang sangat mengenaskan. Pemuda itu kedapatan mati tergantung pada sebatang pohon dekat hutan. Puluhan burung gagak  nyaris mencabik-cabik tubuh pemuda itu sebelum ditemukan oleh seorang bocah lelaki dan melaporkannya  kepada Silva dan Lituma.

Dengan itu Silva dan juga Lituma memulai penyelidikannya.  Meski menurut saya, alur penyelidikan yang dilakukan sangat panjang,  berbelit dan berputar-putar sehingga hasilnya juga tak kunjung jelas tapi semua proses yang dilakukan dengan mengasyikkan, agak konyol dan absurd.

Yang menarik bagi saya bukanlah proses penyelidikan atas kematian Palomino itu yang menurut kebanyakan pembaca pasti melibatkan seorang perwira  berpangkat kolonel di Angkatan Udara. Lelaki yang tak lain adalah ayah kekasih  pemuda yang tewas itu . Yang justru memantik rasa penasaran saya adalah tingkah laku Lituma. Suasana batinnya sepanjang novel ini serta pandangan-pandangan hidupnya yang kadang-kadang terasa aneh dan konyol bagi pembaca.

Salah satu adegan yang paling melekat dalam benak saya ketika Silva si atasan dan Lituma si bawahan sedang mengintip Dona Adriana mandi di laut. Dona Adriana adalah perempuan gemuk yang sudah bersuami. Bagi Lituma Dona adalah perempuan yang memuakkan. Parasnya tidak elok, ditambah postur tubuhnya yang tidak proporsional. Tapi tidak bagi Letnan Silva. Menurutnya perempuan itu adalah bidadarinya. Impian dan fantasi-fantasi berahinya selama ini.

 “Penglihatanku pasti kurang bagus” kata Lituma sambil terus mengamati Dona melalui teropong. “Atau imajinasiku yang kurang bagus Letnan”.

“Bangsat kau!” hardik Letnan Silva sambil merampas kembali teropongnya. “Aku sebaliknya, bisa melihatnya seperti ia sedang dipajang” Letnan Silva penuh rasa kagum pada tubuh perempuan yang mereka saksikan dari balik sebongkah batu itu.

Ketika Dona mulai membuka pakainnya lapis demi lapis selalu diikuti dengan gumam kekaguman oleh Letnan Silva.

“Jangan lihat sampai habis begitu” Letnan mengomelinya sambil merampas kembali teropongnya. “Sesungguhnya babak terbaiknya baru berlangsung sekarang, waktu ia masuk air, sebab anderok itu lengket ke badannya dan jadi transparan. Ini bukan pertunjukkan buat tamtama, Lituma. Cuma untuk Letnan dan para atasannya”

Kepandaian menyusun cerita merupakan hasil olah pengalaman selama puluhan tahun. Mario Vrgas Llosa adalah salah satu yang terbaik. Tak heran jika ia diganjar nobel sastra tahun 2010.

Saya kembali memandang ikan-ikan dalam empang. Empang yang saya buat sendiri dengan susah payah. Dan  saya membayangkan memanen ikan-ikan gemuk yang saya rawat selama beberapa waktu. Tanpa henti tanpa jeda sehari jua.

illustrasi : http://writetotheend.com