Baliho Aneh

Saudara-saudara, saya bukan pegawai kantor pajak. Saya tak punya kepentingan dengan kantor itu kecuali bahwa  saya terus berusaha menjadi warga negara yang baik dengan taat membayar pajak. Tak heran saya cukup jengkel juga menyaksikan ada segelintir pegawai kantor itu yang menilep uang pajak yang susah payah dikumpulkan.

Saudara, beberapa waktu belakangan saya cukup terganggu mendapati sebuah baliho calon walikota Kendari, Sudarmanto yang dipasang  di tempat yang cukup strategis yaitu di depan kantor BKD Provinsi dan rumah sakit R Ismoyo (Rumah Sakit Korem) Kendari. Sebenarnya bukan kehadiran baliho itu yang menganggu tapi sepotong kalimat di dalamnya yang berbunyi begini “Program utama: pembebasan iuran pajak bumi dan bangunan”. Hampir setiap hari saya pasti akan membaca baliho itu ketika mengantar anak ke sekolah.

Nah apakah maksud kata-kata tersebut? Mari kita lihat

Setahu saya, sampai sekarang pemerintah belum mencabut ketentuan mengenai pajak bumi dan bangunan. Apalagi hendak membebaskan salah satu bentuk pajak yang menjadi tumpuan pendapatan negara kita. Jadi apa maksud Sudarmanto menuliskan kata-kata itu dalam balihonya?

Di tengah-tengah kampanye agar warga negara semakin sadar untuk membayar pajak, kata-kata dalam baliho Sudarmanto justru merupakan tamparan bagi aparat kantor pajak.  Ini sangat memalukan, apalagi kalau melihat kapasitas Sudarmanto yang saat ini menjadi anggota legislatif provinsi. Seharusnya beliaulah yang mengontrol kelancaran pembayaran pajak oleh masyarakat, bukan malah hendak membebaskannya.

Barangkali dengan kata-kata semacam itu, Sudarmanto bermaksud menarik simpati pemilih dengan meringankan beban rakyat yang selama ini terlalu banyak menanggung beban dalam membayar pajak. Sekilas memang terdengar sangat mulia dan luhur. Apalagi kalau maksudnya beliaulah yang hendak menanggung semua pajak bangunan yang selama ini harus dibayar oleh rakyat. Singkatnya, mungkin ia ingin berkata, Pilihlah saya, karena saya akan menanggung pajak bumi kalian.

Di sinilah pokok permasalahan yang sesungguhnya. Menurut saya, iming-iming tentang pembebasan membayar pajak bumi dan bangunan justru merupakan pembodohan kepada rakyat yang notabene harus menunaikan kewajibannya sebagai warga negara. Rakyat harus disadarkan bahwa segala biaya yang dikeluarkan pemerintah dalam melakukan pembangunan sebagian darinya bersumber dari pajak bumi dan bangunan ini.

Kalau maksudnya hendak membebaskan adalah dengan menghapus atau mengubah regulasi tentang pajak bumi dan bangunan, justru terdengar semakin aneh, rancu sekaligus lucu. Setahu saya, regulasi pajak bumi dan  bangunan adalah Undang-undang. Dengan kata lain, apakah bapak punya kewenangan mengubah peraturan tersebut? Kalau sebatas Peraturan Daerah (Perda) mungkin saja bisa. Tapi ini adalah Undang-undang. Yang bisa mengubahnya adalah DPR RI bersama pemerintah pusat. Jadi?

Mohon maaf kepada Bapak Sudarmanto. Dulu sewaktu bapak menjadi anggota legislatif, saya adalah salah satu pendukung bapak. Bahkan sempat melakukan kampanye di kalangan keluarga Menui. Jadi saya sangat terkejut melihat ada baliho semacam itu. Dan saya mohon kepada bapak, agar menurunkan semua baliho yang ada kata-kata seperti itu di dalamnya. Bukan-apa-apa, saya justru khawatir kalau baliho itu akan jadi bahan tertawaan orang. Terutama oleh mereka yang selama ini sangat peduli dengan kata-kata seperti saya.

Dan melalui kesempatan ini saya menyarankan agar tim pemenangan bapak (kalau memang ada) sebaiknya memikirkan baik-baik setiap kata yang akan dicantumkan di atas baliho. Karena sekali baliho bapak sudah terpasang, semua yang tertera di atasnya, baik itu gambar, tulisan dan sebagainya telah menjadi milik publik sepenuhnya. Dan warga bisa memprotesnya kalau mereka merasa tidak senang. Itu saja saya kira.

Membaca Novel di Tempat Umum? Kenapa Tidak?

Sejak dulu saya punya kebiasaan membawa novel dalam tas kerja, juga menyelipkan notes kecil di saku belakang ke manapun saya pergi. Tiap kali saya berada dalam situasi yang membuat saya harus menunggu agak lama, seperti ketika berada di bank atau dalam perjalanan jauh dengan bis, atau kapal, saya akan membaca novel. Begitupun kalau saya teringat sesuatu, saya langsung mencatatnya dalam notes. Menunggu sesuatu sambil membaca novel sungguh mengasyikkan. Suatu hari, ketika saya sedang antri di bank, saya tidak dengar nama saya dipanggil berkali-kali oleh teller lantaran begitu khusuknya saya membaca. Novel yang saya  baca waktu itu, kalau tak salah, The Road karya Cormac Mc Carthy,

Begitupun ketika saya berada di kapal Super Jet (sejenis kapal cepat) dalam perjalanan Kendari-Bau bau. Di samping saya, duduk dua perempuan muda, mungkin mahasiswi. Seorang berambut pendek, sedang yang satu lagi rambutnya panjang berombak. Keduanya merasa aneh melihat saya terus membaca, padahal cuaca ketika itu kurang bersahabat. Ombak tinggi dan angin kencang membuat kapal fiber itu bergoncang keras. Saya pandangi wajah dua perempuan itu. Mereka tampaknya ketakutan. Saya hanya tersenyum lalu kembali membaca novel Prajurit Schweik-nya Jeroslav Hasek.

Tiba-tiba saya tertawa agak keras ketika sampai pada bagian, ketika Letnan Lukash mendamprat Schweik dalam kereta api saat mereka berangkat ke front pertempuran di Budejovice. Ketika itu, Schweik mengejek salah seorang penumpang, lelaki botak yang tengah membaca koran. Ia mengira lelaki itu seorang agen asuransi tapi ternyata ia  jenderal paling ditakuti, atasan mereka sendiri. Letnan Lukas dengan amarah yang begitu tinggi mengusir Schweik karena kelalaiannya ini.

Si rambut pendek menoleh menatap saya agak lama. Lalu ia menggumamkan sesuatu semacam gerundelan yang tak jelas. “Membaca novel dalam cuaca seperti ini? aneh ya?” katanya kepada temannya, si rambut panjang.

Saya diam memandang keduanya, sambil berpikir dalam hati “apanya yang aneh?” bukanlah setiap orang punya cara sendiri-sendiri untuk membunuh rasa jenuh selama perjalanan seperti itu? Lalu si rambut panjang dengan cukup atraktif berkata kepada saya kalau kakaknya juga seorang penulis yang hobinya membaca seperti saya. Sedangkan dia sendiri mengaku tidak begitu suka membaca novel. Ia lebih suka menonton sinetron atau berbelanja, jalan-jalan dan makan-makan. Khas muda-mudi zaman sekarang, pikir saya seraya melipat halaman buku, penanda batas yang saya baca.

Saya menyahut bahwa itu juga hobi yang bagus sepanjang kita mampu mewujudkannya. Sedangkan saya sendiri hanya suka membaca. Tapi saya tertegun ketika si rambut pendek berkata dengan nada bertanya

“Apa yang bapak dapatkan ketika selesai membaca novel?”

Saya berpikir agak lama sambil mengulang pertanyaannya dalam hati. Apa ya yang saya dapat?

“Tak ada, cuma senang saja di tambah adanya kepuasan” sahut saya pelan hampir dalam bisikan.

“Membaca cerita kok dibilang puas?” si rambut panjang menimpali.

Sungguh, saya tidak dikaruniai kefasihan berbicara dengan cara seperti ini, dalam keadaan ketika yang saya ajak bicara tidak mengerti sama sekali mengenai apa yang saya lakukan, apa yang saya baca dan apa yang saya rasakan. Bukankah cara mendapatkan kepuasan tidak sama bagi semua orang? Saya hanya berpikir, betapa berbeda-bedanya sifat manusia dan pikiran mereka dalam melihat setiap fenomena di dunia ini.

Dan saya tetap membaca di dalam perjalanan atau sewaktu menunggu antrian di bank dan kantor pos.

illustrasi : http://www.wallpaperscastle.com

Ormas Islam dan Sayed Kashua

Di Indonesia, persoalan agama menjadi begitu krusial. Ia demikian menegangkan sekaligus mencemaskan. Orang-orang diliputi ketakutan, syak wasangka terutama ketika semangat militansi dikibarkan dengan amarah dan penuh kebencian.

Di usung oleh organisasi  massa dengan atribut Islam puritan, syak wasangka, ketakutan atau rasa cemas orang banyak  menjadi kian jelas lantaran organisasi ini begitu keras memperjuangkan Islam yang menurut mereka harus bersih dari anasir-anasir kafir, zionis bahkan kapitalisme yang begitu kuat mengharu-biru dunia ini.

Suasana damai pun tercoreng, hubungan baik dengan penganut kepercayaan lain perlahan terkelupas. Hegemoni atau katakanlah dominasi suatu kaum terhadap kaum lainnya terkesan sangat dipaksakan. Kita cenderung menganggap diri kitalah yang paling benar. Kitalah yang akan masuk surga untuk pertama kali, dan orang lain biarlah masuk belakangan atau kalau perlu menjadi penghuni kerak neraka sekalian.

Tapi begitu suramkah Islam seperti yang diajarkan Nabi Muhammad kepada kita?

Saya menonton televisi dan saya sedih melihat itu semua. Melihat betapa pemerintah dibuat semacam mainan atau olok-olok sebuah organisasi massa dengan simbol-simbol Islam garis keras. Mereka (ormas itu) menganggap diri mereka telah menjadi korban kapitalisme barat, beserta turunannya lalu dengan caranya sendiri hendak menyelesaikan persoalan, tanpa mengindahkan kaidah hukum yang ada. Mereka seakan-akan punya pemerintahan sendiri, punya kekuasaan sendiri di luar Negara Kesatuan Republik Indonesia. Dan anehnya negara seperti tak berdaya berhadapan dengan mereka. Pemerintah seakan terkena sindrom buah simalakama. Rakyat banyak yang bertanya, kenapa pemerintah begitu lembek berhadapan dengan siatuasi chaos yang diciptakan ormas tersebut?

Dulu saya pernah membaca novel Dancing Arab, karangan Sayed Kashua (Terjemahannya di terbitkan oleh Serambi dengan judul Tarian Cinta) dan di sana saya melihat bagaimana hubungan Islam dan Kristen juga ras antara Arab dan Yahudi saling berkelindan, penuh drama yang menyakitkan, tapi tidak mirip benar dengan yang terjadi di Indonesia.

Tokoh utama novel ini, si aku, (karena memakai gaya bercerita orang pertama) merasa betapa ganas kedaan di sekitarnya, sebuah desa kecil bernama Tira, salah satu sudut Negara Israel.  Tapi ia tidak ikut-ikutan tegang. Meskipun Israel bisa melakukan apa saja terhadap mereka. Si aku tetap merasa sebagai orang yang merdeka, bebas melakukan apapun meski Israel bisa membunuh mereka setiap saat. Ia mengejek dengan sinis keadaan sekitarnya. Ironi dan drama dibingkai menjadi satu persoalan yang tidak saja mengendurkan urat leher tapi bertabur humor dan ejekan pada diri sendiri.

Membaca novel ini, saya membayangkan andai si aku berada di Indonesia. Saya tak bisa membayangkan seandainya ia menghadapi arus demonstrasi ormas Islam di negara kita.  Mungkin ia akan berkata “kalau sampean mau masuk surga ya silakan, saya pun akan turut tapi tentu dengan cara saya sendiri” dan mungkin akan disambungnya kata-katanya tadi dengan “negara zionis seperti Israel saja yang kalian tuduh begitu tak berperi kemanusiaan bisa menjaga toleransi warganya, antara orang Yahudi dan orang Arab”

Kalian mungkin akan berkata “Ah itukan hanya cerita novel, kisah fiktif yang mungkin saja dibuat untuk membenarkan sikap Israel atas orang Arab selama ini”. Tapi ini pasti akan memunculkan sanggahan balik “Meskipun cuma cerita fiktif, tapi tidakkah kita melihat sebuah bayangan kenyataan di dalamnya?” sebab bagaimanapun fiktifnya sebuah cerita ia pasti berangkat oleh sebuah asumsi tentang adanya sepercik kebenaran tentang sebuah peristiwa. Dengan kata lain, tak ada cerita, fiktif sekalipun, yang datang dari ruang hampa.

Ketika Handphone Jadi Simbol Peradaban

Masih adakah orang kota yang tidak memiliki telepon seluler di hari-hari ini?  Kalau masih ada pasti manusia seperti itu memiliki kelainan khusus selain mungkin tak punya uang untuk membelinya.

Orang kota atau sering dipersepsikan sebagai simbol manusia modern identik dengan alat komunikasi apapun nama dan jenisnya. Hanya mereka ini yang bisa disebut sebagai pemangku peradaban modern. Tanpa alat komunikasi seperti ponsel misalnya, orang seakan berada di negeri antah berantah, zonder peradaban. Seakan kita masih berselimut dengan nyaman dalam keterbatasan peradaban zaman.

Dalam cakupan para pengampu sarana komunikasi seperti ponsel pun sekarang ini disekat lagi antara pemakai ponsel model lama yang hanya mengandalkan telepon dan SMS saja plus senter dan model baru yang serba instan dan memiliki fitur media sosial yang komplit. Pendek kata, ponsel yang dilengkapi fitur media social seperti Facebook dan Twitter adalah sebuah keniscayaan. Harus dimiliki. Tidak boleh tidak.

Nah benarkan penggunaan ponsel supercanggih identik dengan modernitas dan kemajuan? Entahlah.

Menurut saya, penggunaan ponsel dan sejenisnya tidak mutatis mutandis dengan simbol kemajuan peradaban manusia.  Dengan kata lain, kemajuan dan modernitas tidak bisa diukur dengan apa yang dipakainya serta bagaimana gaya hidupnya.  Meski dilengkapi dengan ponsel modern ditambah gaya hidup yang tampak modern, belum tentu yang bersangkutan bisa disebut moderen.

Mengapa?

Karena mpodernitas dan kemajuan berada dalam pikiran bukan pada sarana fisik yang digunakan. Ia bersemayam dalam tempurung kepala tiap orang yang tentu tidak tampak secara langsung. Kita tahu seseorang itu modern karena cara berpikirnya yang maju, jauh dari sikap irrasional.

Orang modern adalah orang yang berpikir modern, logis, ilmiah dan rasional. Tidak mencapuradukkan issu dan fakta serta selalu berpikir dengan menggunakan kaidah-kaidah tertentu yang berlaku universal.

Tapi sudahlah. Buat apa mengurusi ponsel orang. Toh itu urusannya sendiri. Buat apa kita ikut campur?

Benarkah Rok Mini Memantik Berahi?

Pelecehan seksual bisa terjadi di mana saja. Di kampus, di pasar bahkan di dalam angkutan umum yang padat penumpang juga sudah sering kita saksikan. Mulai dari pandangan mata para lelaki yang tajam menusuk hingga colekan pada anggota tubuh kaum hawa, baik disengaja maupun tidak sudah sering jadi menu pemberitaan. Dan tak sedikit pemerkosaan terjadi dengan ritme yang sudah pakem : diawali dengan pandangan sekilas lalu berlakulah hukum “dari mata turun ke hati”

Bagi sebagian lelaki, memelototi perempuan yang memakai rok mini di tempat umum ibarat mendapat obat pemuas dahaga di tengah panas mentari. Entahlah kenapa demikian. Mungkin memang itu sudah menjadi kodrat manusia khususnya kaum Adam di manapun di bumi ini.

Salahkah para lelaki? Mungkin tidak.
Melihat sesuatu yang tampak secara langsung (tanpa sekat penghalang apalagi tersembunyi) akan menyulut timbulnya sesuatu dalam asosiasi pikiran manusia. Simpul-simpul syaraf akan mengirim gambar yang terekam mata tadi pada otak untuk diolah di sana. Dalam waktu sepersekian detik, otak langsung bekerja mengolah dan mencerna serta menyimpulkan ke mana arah pandangan tadi akan diteruskan. Apakah ke simpul posirif atau negatif?

Nah, terjadinya pelecehan seksual bisa saja lantaran cara membaca yang menyempal dari penafsiran otak atas hasil kerja rekaman kornea kita. Di sinlah titik mula timbulnya pikiran negatif akan pandangan yang tersaji di depan mata. Apalagi melihat gadis muda, cantik dan montok memakai rok mini. Siapa pula yang tahan?

Kata orang, jika melihat pemandangan seperti itu, kita harus memperkuat pertahanan dari sudut keimanan. Hati harus dibentengi tinggi-tinggi dari godaan yang demikian. Nalar jernih harus berfungsi dengan baik, kata orang lain pula.
Tapi siapa yang mau percaya nalar sekarang ini? Di tengah penjungkirbalikkan nilai-nilai sosial? Ketika tuntunan menjadi tontonan dan sebaliknya? Dan yakinlah di zaman modern ini, tidak ada lagi manusia suci dan luhur seperti Mahatma Gandhi. Itulah realita kehidupan. Inilah kenyataan zaman.

Khusus buat kaum hawa terutama yang masih muda janganlah terlalu mengumbar aurat jika ke mana-mana. Karena selain akan menurunkan nilai diri di mata masyarakat , mengumbar anggota tubuh di depan orang banyak juga bisa memantik naluri kaum adam untuk melampiaskan syahwat hewaninya dengan cara yang sering tak terduga.

Apakah Saudara pernah melihat gadis yang memakai rok mini? Apa yang ada dalam benak Saudara ketika itu?

Pekerja Pers

Banyak Istilah Sama Jua Artinya
Wartawan seperti pemulung, mengais dan mengumpulkan rupa-rupa kejadian dan merangkainya menjadi sebuah cerita. Sebuah fakta. Untuk di jual.

Wartawan seperti buruh bangunan, bekerja seharian dengan upah yang belum tentu memenuhi standar UMR. Kalau lagi banyak order kerjaan di tambah dan terjadilah lembur. Persis seperti di bangunan. Makanya, dulu wartawan diasosiasikan sebagai kuli tinta. Seperti kita tahu, kuli di manapun juga adalah strata pekerja mirip kelas paria dan sudra dalam agama Hindu. Sebuah pekerjaan sekasar-kasarnya pekerjaan kasar.

Tapi mereka tak pernah mengeluh, baik diam-diam lebih-lebih secara terang-terangan. Mereka hanya bekerja, bekerja, mengais, meliput remah-remah kejadian yang bermacam-macam untuk kepentingan pembaca dan pelanggan esok harinya.

Tapi mereka bukanlah kuli biasa. Mereka tak bisa dianggap sepele. Saya pernah dengar ada sebuah acara kebesaran pemerintah diundur gara-gara wartawan terlambat hadir. Sebuah pertanda bahwa mereka bisa juga menentukan sukses tidaknya sebuah kegiatan.

Sebuah kelompok unjuk rasa yang semula berdemo dengan tenang tiba-tiba menjadi beringas lantaran kehadiran wartawan tv nasional untuk meliput demo mereka. Semakin banyak kamera menyorot pendemo, makin beringaslah kelompok pengunjuk rasa dibuatnya. Mungkin para pendemo memang sengaja ingin diliput agar masuk tv dan jadi berita heboh. Ada ada saja.

Baiklah.
Secara individu atawa personal ada beberapa wartawan atau jurnalis atau apapun istilahnya, di Sulawesi Tenggara masih memegang teguh idealisme jurnalistik. Namun tak kurang pula yang tidak sanggup menahan godaan baik godaan berkelebihan yang identik kesenangan maupun godaan kekurangan yang identik dengan kepapaan. Itulah realita.

Banyak teman-teman saya yang kini telah menjadi wartawan hebat. Tentu berkat keuletan dan kegigihan mereka dalam bekerja. Ada yang sudah bikin buku. Ada pula yang menjadi anggota parlemen di daerah. Dan sebagainya dan seterusnya.

Sejuta Baliho di Kota Lulo

Ketika papan reklame, spanduk dan baliho terbentang sepanjang jalan, untuk apakah gerangan dia dipajang? Apakah untuk memuaskan syahwat pandangan semata? Atau ada tujuan lain selain memperburuk tata kota?

Sebuah spanduk, sebuah iklan apalagi baliho pada galibnya juga mengandung suatu maksud yang terang dan jelas: sebagai sarana pernyataan kehadiran sebuah fenomena. Bahwa saya telah hadir di hadapan anda, titik. Soal apakah anda membeli atau tidak itu soal lain. Yang penting kehadiran itu sendiri.

Spanduk dan baliho oleh karena itu membawa sebuah misi suci yakni deklarasi kehadiran diri (kalau menyangkut  orang) atau kehadiran sebuah produk teranyar umpamanya sampo dan sabun mandi atau iklan rokok (kalau menyangkut benda).  Sengaja atau tidak, baik orang maupun benda pada akhirnya bersekutu menjual diri sendiri di hadapan orang banyak.

Sebagai sebuah kota yang hendak beranjak maju, Kendari terasa kian sumpek lantaran kehadiran para baliho atau papan iklan itu. Mereka  berdiri menghadang  laksana bala tentara  planet  Mars yang mengepung kota.  Tak heran bila di setiap sudut jalan kita akan menemukan beberapa baliho dipasang berhimpitan seakan berlomba memperebutkan ruang kecil  yang telah  sesak oleh papan iklan niaga.

Pada akhirnya kita dibuat bingung olehnya.  Makin lama makin  kabur jarak antara kepentingan yang diusung pada sehelai  kain plastik tercetak itu. Apakah si Pulan sedang berkampanye? Atau apakah  si Badu mau jadi anggota legislatif? Atau mengapa si Bejo menulis kata-kata begitu rupa? Maksud tersebut makin tak jelas bila menyimak kata-kata yang tertera dalam baliho mereka.  Ada yang lucu. Ada pula yang aneh dan tak sedikit yang membikin kening berkerut.  Umpamanya  ini

 “Rumah Makan Anu . . . . Cabang Makassar”.  Aneh.  Sejak kapan Kota Kendari berubah nama menjadi Makassar?  Pelajar sekolah dasar sekalipun kalau mengerti bahasa Indonesia pasti akan menertawakan kata-kata itu:  Cabang Makassar  tapi berada di Kota Kendari. Aneh bukan? Pemilik rumah makan itu (entah siapa dia) mungkin hendak membanggakan  luasnya cabang  usaha yang dia miliki. Tapi yang terjadi malah salah kaprah yang parah.

Pemilik rumah makan itu seharusnya belajar dari penamaan berjenjang  kepengurusan partai politik. Di Jakarta ada DPP (Dewan Pimpinan Pusat) di provinsi ada DPD (Dewan Pimpinan Daerah) dan di kabupaten ada DPC (Dewan Pimpinan Cabang).  Dalam dunia kewartawanan juga dikenal kepengurusan bertingkat. Ada PWI Pusat  Jakarta dan ada PWI Cabang Kendari. Rumah makan itu mungkin memang berpusat di Makassar dan membuka cabang di kota lain termasuk Kendari. Maka seharusnya ditulis : Rumah Makan Anu Cabang Kendari. Begitu simpel, begitu sederhana sebenarnya.

Contoh lain lagi.

Ada seorang lelaki memasang baliho yang sarat kata-kata namun tak punya daya pikat saat orang membacanya. Baliho berukuran jumbo itu akhirnya mirip sebuah koran raksasa. Dan orang tak bisa membacanya sambil lalu saat berkendara. Orang yang hendak membaca dan mengerti maksud baliho itu harus memarkir kendaraannya lebih dulu  lalu membaca semua kata dalam baliho itu dengan seksama. Menurut saya, inilah cara paling primitif menyampaikan pesan dengan maksud agar mudah dipahami  orang.

Yang makin membuat miris kita semua adalah para pemasang baliho itu yang  masih berpikir seperti orang zaman dulu. Mereka masih menganggap warga masyarakat seperti sekumpulan domba yang bebal dan dungu  yang mudah tertarik pada hijauanya rumput  yang semu. Mereka berpikir bahwa masyarakat dengan mudah dapat dibodohi warna-warni gambar dan barisan kata-kata yang bukan saja tak jelas maknanya tetapi juga sudah begitu basi kedengarannya. Namun orang-orang masih juga memasang baliho sembari menepuk dada dan memuji kehebatan diri sendiri.

Tapi tak apalah. Itu kan menyangkut hak orang juga. Lagi pula itu kan duit dia sendiri.  Lalu untuk apa kita ikut campur?  (##)

foto diambil di sini

Mari Berpikir Rasional

(Kampus Unhalu Civitas Apakah Dia Gerangan?)

Akhir akhir ini kekerasan begitu dekat di sekitar kita. Ia ibarat hantu yang  tiap saat menyusup dan menelikung relung-relung kesadaran kita sebagai warga masyarakat. Sebagai rakyat Sulawesi Tengara.

Kekerasan, perkelahian, adu fisik, perang tanding atau apapun namanya selalu saja memakan korban di manapun peristiwa kekerasan itu terjadi. Di pasar, di terminal, di pemukiman terlebih lebih di kawasan sebuah perguruan tinggi.

Seperti sudah jamak dimaklumi bahwa kawasan sebuah civitas akademika akan terdiri dari himpunan manusia yang memiliki tingkat kedewasaan berpikir dan menalar sesuatu secara runtut dan rasional. Orang bilang inilah yang disebut sikap ilmiah seorang sarjana atau mereka yang hendak mencapai gelar itu.

Goenawan Mohamad dalam sebuah tulisan di majalah Tempo mengungkapkan nasehat filosofis seorang bijak yang menyatakan bahwa tujuan orang kuliah bukanlah untuk meraih gelar sarjana melainkan agar  terlatih untuk berpikir ilmiah.

Tapi siapa lagi yang mau percaya ungkapan seperti itu sekarang? Di tengah hiruk pikuk gejolak berdarah di kawasan kampus yang nota bene adalah sebuah komunitas ilmiah?

Kita semua sangat prihatin melihat kekerasan demi kekerasan terjadi di kampus Universitas Haluoleo. Seorang kawan saya dari daerah lain pernah mengatakan kepada saya bahwa mahasiswa di Sultra khususnya di Kendari dikenal sangat berani melakukan kekerasan dalam kampusnya sendiri. Terlebih-lebih peristiwa demikian itu selalu saja menjadi santapan media di daerah ini.

Kita menyaksikan di televisi dengan bulu kuduk berdiri sebuah perkelahian antar kelompok di kampus itu beberapa waktu lalu. Ada yang membawa pedang. Ada yang bersenjatakan samurai, busur dan sebagainya. Apakah kita tidak malu keadaan kampus kita yang katanya pabrik para cerdik cendekia itu ditelanjangi begitu rupa di depan jutaan rakyat Indonesia?

Bayangan ideal kita tentang kampus telah berubah. Dulu sebuah kampus dicirikan dengan ramainya segala kegiatan kemahasiswaan yang bersifat positif. Debat terbuka. Latihan orasi ilmiah. Pagelaran seni drama, teater dan sebagainya.

Tapi kini kampus yang sangat kita banggakan itu nama baiknya benar-benar telah di tubir kehancuran. Bahkan masyarakat telah menganggapnya sebagai sarang penyamun, tempat para ninja-ninja bergentayangan. Inilah kenyataan pahit yang harus kita telan.

Yang menjadi kekuatiran saya dan mungkin kekuatiran kita juga adalah terjadinya perubahan paradigma atau asumsi mengenai posisi kampus Unhalu dari civitas akademika menjadi civitas premanika..

Menelaah Kembali Hubungan Majikan dan Karyawan

Kasus pembunuhan sebuah keluarga di Kendari25 Agustus lalu cukup menarik perhatian masyarakat kita. Secara serentak seluruh media local maupun nasional menyiarkan kejadian itu secara rinci termasuk kronologis jalannya pembunuhan yang sangat brutal tersebut.

Terlepas dari kehebohan berita itu, kejadian seperti ini sebenarnya sudah sering kali terjadi di tanah air. Di Kendari sendiri kejadian terakhir ini memang agak berbeda lantaran beberapa sebab di antaranya inilah kali pertama kejadian pembunuhan dikarenakan oleh masalah hubungan pekerjaan antara majikan dengan karyawan.

Kasus ini mengingatkan saya pada sebuah kejadian sekitar tahun 1910 yakni pembunuhan seorang tuan kebun di Sumatera dalam roman Skeely-Lulofs yang memukau: Berpacu Nasib di Kebun Karet.Tukimin, seorang kuli kontrak dari Jawa tiba-tiba membunuh majikannya, seorang administrator kebun karet di Ranjah, JoopValendijk, hanya lantaran sebab yang sepele: sang tuan menghardik sikuli agar kembali bekerja di perkebunan.

Seperti itu pula yang terjadi terhadap majikan pemilik toko Planet Elektronik itu. Menurut berita yang saya baca motif pembunuhan yang dilakukan oleh mantan karyawan took tersebut bukanlah perampokan, penodongan apalagi pemerkosaan, melainkan karena dendam kesumat atas perlakuan si majikan kepadanya.

Menurut pengakuan pelaku dirinya sakit hati. “Saya dendam karena sakit hati. Saya pernah dikata-katai oleh bos. Saya tidak terima diperlakukan seperti itu” ujar pelaku (Kendari Pos 26 Agustus 2011 halaman 1-7)

Kasus ini membuat kita berpikir kembali bahwa ternyata memang ada masalah yang tidak beres dan perlu pembenahan segera mengenai hubungan majikan dan karyawan yang bekerja disektor perdagangan khususnya di pertokoan ini. Padahal sector tersebut bukanlah jenis pekerjaan baru di Kota Kendari. Ia hadir bersamaan dengan terbentukanya Kendari sebagai Kota perdagangan dan jasa.

Sejak Kota Kendari tumbuh sebagai kota perdagangan dan jasa, hubungan antara majikan dan karyawan mulai pula terbentuk. Para pedagang yang membuka usaha pertokoan, yang kebetulan didominasi oleh warga keturanan Tionghoa, tentu membutuhkan karyawan untuk menjalankan usahanya itu.

Peluang untuk bekerja pada sector ini kemudian dimanfaatkan oleh masyarakat di daerah sekitar untuk menjadi karyawan pada beberapa usaha perdagangan tersebut. Dan bukanlah hal yang aneh bila kemudian didapati bahwa hamper seluruh karyawan yang bekerja pada sector ini didominasi oleh warga lokal.

Namun saying sekali besarnya peluang tersebut tidak dibarengi tingginya tingkat pendidikan si pekerja itu sendiri. Banyak karyawan toko yang hanya berpendidikan pas-pasan. Ada yang tamat SLTA namun banyak pula yang hanya mengenyam pendidikan SLTP saja.

Rendahnya kualitas SDM pekerja ditambah dengan kurang jelasnya aturan yang mengikat hubungan tersebut menjadikan sector pekerjaan ini sangat rentan menimbulkan masalah. Tidak ada standar yang seragam mengenai gaji, uang makan dan bonus menyebabkan para majikan kebanyakan berbuat sesuka hati terhadap karyawannya. Ini bukan rahasia lagi.

Hal lain yang juga kadang mengusik adalah kurangnya pengetahuan dan wawasan si pekerja terhadap pekerjaannya yang sering membuat para majikan mereka harus turun tangan sampai padahal yang sekecil-kecilnya. Para karyawan terkadang kurang mampu menjalin komunkiasi yang baik dengan pelanggan dan konsumen.

Ada saja konsumen yang keberatan terhadap pelayanan karyawan. Hal inilah yang menyebabkan hubungan karyawan dengan majikan sering memburuk. Tak sedikit pekerja yang dipecat atau diberhentikan lantaran sebab-sebab seperti itu.

Nah berdasarkan asumsi demikian, maka bisa dikatakan bahwa hubungan antara majikan dan karyawan khususnya di Kendari selama ini merupakan hubungan kemanusiaan semata-mata. Dengan kata lain, semuanya tergantung kesepakatan bersama yang kebanyakan memnbuat karyawan pada posisi yang amat lemah. Semuanya tergantung pada sikap para majikan bagaimana menilai kinerja karyawannya masing-masing. Tentu saja dari sudut pandang si majikan.

Padahal dalam sector pekerjaan apapun manakala telah terbentuk sebuah anasir majikan-pekerja dalam sebuah usaha apa saja maka sebaiknya haruslah menggunakan aturan perburuhan. Sekalipun dalam bentuk usaha yang paling sederhana seperti toko misalnya.

Saya tak tahu apakah aturan yang mengatur soal majikan-karyawan yang bekerja di took selama ini memang ada atau tidak. Tapi kalaupun aturan itu ada pasti belum dilaksanakan dengan baik dan konsisten karena banyaknya problem yang timbul di kemudian hari. Kasus pembunuhan yang terjadi baru-baru ini sedikit banyak terjadi karena tidak berfungsinya aturan tersebut.

Terlepas dari semua itu, kasus pembunuhan sebuah keluarga pemilik usaha pertokoan di Kendari dapat menjadi pelajaran buat kita semua khususnya para majikan dalam membangun sebuah hubungan kerja dengan karyawannya. Seorang majikan yang taat hokum akan memperlakukan karyawannya sesuai aturan yang telah dibuat untuk itu.

Kurangnya kesadaran hukum dalam membangun hubungan majikan dan bawahan dalam sebuah usaha kadang-kala membuat para majikan berbuat sekehendak hati terhadap karyawan mereka. Mulai dari kata-kata yang tak menyenangkan bahkan sampai pada penganiayaan sering kita dengar menimpa para pekerja pada sektor ini.

Demikian pula dengan para pekerja, dalam melakukan suatu hubungan kerja dengan pihak user sebaiknya mempelajari lebih dulu tentang segala aturan yang berkaitan dengan hak-hak maupun kewajibannya sebagai pekerja. Dengan demikian ia tidak bekerja buta-buta. Tidak hanya tahu menuntut tapi mengabaikan kepentingan si bos pemilik usaha itu.

Yang lebih penting adalah perlunya mengevaluasi dan memperjelas kembali segala regulasi yang menyangkut hubungan kerja majikan dan karyawan agar semua pihak yang terkait dengan itu menyadari hak dan kewajibannya dalam sebuah kerjasama yang baik serta saling memahami.

Jika hal ini terus dibiarkan, tidak tertutup kemungkinan kasus-kasus kekerasan baik yang dilakukan oleh majikan terhadap karyawan atau sebaliknya ke depan masih akan terus terjadi. Hal ini penting mengingat kejadian serupa sudah sering kita dengar. Ia ibarat api dalam sekam atau bom waktu yang bila tak cepat dijinakkan bisa meledak setiap saat.(**)

ilustrasi yustisi.com