Sibuk bukan alasan berhenti menulis

Beberapa kawan saya, khususnya para sastrawan mengaku bahwa kesibukan tugas sehari-hari yang mereka lakoni membuat mereka tak punya waktu untuk meneruskan kebiasaan menulis. Tak ada waktu, sibuk oleh pekerjaan kantor, ngurus rumah, ngurus suami, ngurus istri, ngurus anak dan sebagainya. Begitulah alasan yang sering saya dengar. Sepintas, alasan tersebut tampaknya masuk akal. Memang sulit sekali membagi waktu kita diantara jadwal pekerjaan yang padat. Belum lagi rutinitas sehari-hari seperti istirahat, mendengar musik, membaca atau membagi waktu dengan keluarga dan sebagainya.
Tapi sebagaimana yang saya alami sendiri, kesibukan luar biasa yang saya jalani bukan penghalang untuk terus menulis. Sebagai pegawai negeri sipil yang diberi tanggungjawab mengemban jabatan level menengah, saya tak pernah merasa kalau jabatan yang saya pegang jadi penghambat saya terus menulis. Apa sebabnya?
Saya membaca, buku AS Laksana : Creatif Writing, Tips Menulis Novel dan Cerpen terbitan Gagas Media. Dari sanalah saya pahami, bahwa kegiatan menulis manakala sudah benar benar merasuk dalam arus keadaran hidup kita, sesibuk apapun, kita akan tetap bisa meluangkan waktu untuk menulis. Dan itulah yang saya lakukan sekarang.
Perlu saya tambahkan, bahwa di Indonesia profesi penulis belum bisa dijadikan sandaran hidup sepenuhnya. Dengan kata lain, menulis, apalagi menulis novel dan cerpen belum bisa dijadikan penopang hidup alias menjadi sumber pendapatan. Banyak penyebabnya antara lain karena rendahnya minat baca masyarakat dan apresiasi pemerintah yang rendah terhadap kehidupan kesenian di tanah air.

Maka tak mengherankan kalau hampir semua penulis di sini memiliki pekerjaan tetap lain untuk menopang hidup mereka. Ada yang jadi pedagang, atlet, pegawai pemerintah, motivator, menjadi ulama, model iklan, guru dan banyak pekerjaan lain yang tentu saja membutuhkan manajemen waktu yang ketat.Kegiatan menulis mereka lakukan di sela-sela waktu yang sempit. Kalau setiap hari bisa menghasilkan dua halaman draft tulisan berarti enam puluh halaman dalam sebulan. Hebat bukan?

Nah, kalau mereka bisa lalu kenapa kita tidak? Jadi kuncinya kembali kepada kita masing-masing. Saya sendiri harus meluangkan waktu sekitar dua sampai tiga jam semalam untuk meneruskan tulisan, naskah novel yang sudah menumpuk.
Alhasil, alasan kesibukan atau rutinitas sehari-hari membuat mereka berhenti menulis, sebenarnya hanya alasan yang dibuat-buat. Sekedar pembenaran berkuasanya rasa malas pada diri mereka.
Saya sudah menjadi Kepala Bidang di Dinas Perhubungan ketika menerbitkan novel saya yang kedua: Jejak Manusia Langit. Belum sebulan saya menduduki jabatan Kepala Bagian Humas, saya menerbitkan Kumpulan Cerpen dan Puisi “Pasung Jiwa Merpati Putih” berkolaborasi dengan seorang penulis puisi, seorang ibu rumah tangga yang tinggal di Baubau.
Terakhir saya masih menyempatkan mengirim naskah novel yang saya ikutkan dalam sayembara menulis novel Dewan Kesenian Jakarta.
Begitulah. Kalau kita mau, kita niatkan dibarengi tekad yang kuat semuanya pasti bisa kita lakukan.

Terlambat Menyadari Kesalahan

Kepada Mas AS Laksana . . .

Sambil belajar menulis, saya juga terus mencari buku panduan menulis yang baik. Tapi saya belum menemukan satupun buku yang berkenan dalam hati. Akhirnya, ya saya menulis saja, tentu dengan asal-asalan, main terabas kiri-kanan, bahasa yang sering macet di tengah jalan, dialog yang tertatih-tatih dan plot yang amburadul. Tapi bagaimanapun saya memiliki satu modal yang barangkali tidak dimiliki semua orang terutama para penulis pemula. Dan saya bangga karenanya. Modal itu saya sebut: semangat dan kemauan yang kuat untuk terus belajar di tengah keterbatasan referensi.

Di tempat saya, di Kendari, sampai saat ini belum ada forum pertemanan antar penulis, apalagi penulis fiksi. Kadang-kadang saya dongkol juga mendapati kenyataan seperti ini. Saya seperti berjalan sendirian dalam belantara tulis-menulis, tanpa ada teman sharing, kawan berbagi. Saya sungguh mendambakan teman yang akan mengkritisi tulisan kita layak atau tidak. Mengoreksi serta memberi masukan dalam cerita yang saya bikin. Dengan demikian, setidaknya saya memiliki bayangan mengenai kekurangan serta kelebihan cerita saya.

Untuk mereka yang muda-muda memang ada forum seperti itu, tapi menurut saya kegiatan mereka tidak relevan karena hanya membahas tentang sastra yang baik. Atau mengulas karya orang lain dengan gaya begitu rupa membuat saya risi mendengarnya.

Pernah seseorang (mungkin ketua mereka) memberikan sambutan dalam sebuah acara dan ia salah mengutip sumber. Perjuangan melawan kekuasaan, katanya adalah perjuangan melawan lupa. Lalu ia menyebut nama seorang ahli filsafat entah siapa, saya sudah lupa. Padahal kalimat itu asli karya Milan Kundera dalam Kitab Lupa dan Gelak Tawa. Saya juga tertawa, tapi cuma di dalam hati. Gaya dan cara bicara mereka seperti sastrawan terkenal saja. Kadang saya berpikir, alangkah hebatnya mereka itu. Saya benar-benar merasa minder kalau berdekatan dengan mereka. Meski mereka sering menggelar diskusi tapi belum satupun yang saya dengar telah menerbitkan karya baik cerita pendek apalagi novel di tingkat nasional.

Sebelumnya saya minta maaf, saya sebenarnya tidak tahu apa itu teori kesusastraan, apa itu sosiologi sastra, filsafat sastra, fenomenologi sastra (kalau memang istilah semacam itu ada). Inilah mungkin kekurangan saya. Saya hanya ingin menulis cerita. Jadi yang saya lakukan ya menulis cerita yang saya tahu, dengan karakter yang saya bangun sendiri. Itu saja. Saya pernah mengirim tiga naskah novel kepada beberapa penerbit besar dan hampir semuanya ditolak. Yang lolos justru karangan saya yang pertama, Sonata untuk Liana yang akan diterbitkan Gramedia Pustaka Utama. Oleh editor penerbit besar itu, judulnya kemudian diubah menjadi  Kidung dari Negeri Apung.  Menurut rencana naskah itu akan terbit April 2014 ini.

Sementara itu, saya juga terus membaca karya orang lain, membandingkan antar karya-karya mereka sehingga bisa mengenali gaya bercerita mereka, sampai pada kepribadian tiap pengarangnya. Ini saya lakukan sejak dulu sewaktu masih di SMA. Karya sastra yang pertama memukau saya adalah Karl May, lalu Robinson Croese karya Defoe. Lama-kelamaan saya juga bisa mengenal gaya Tolstoy, Hemingway, Flaubert, Steinbeck, Lermontov, Pasternak, Marquez, Orwell, Kafka sampai Mario Vargas Llosa . Kalau penulis sebangsa yang paling saya suka antara lain Ahmad Tohari, Kuntowijoyo, Budi Darma, Pramoedya Ananta Toer, Umar Kayam, Iwan Simatupang, Goenawan Mohamad dan Seno Gumira Aji Darma. Dan semakin banyak membaca sayapun sampai pada kesadaran bahwa  pengetahuan saya terhadap sesuatu ternyata tidak ada artinya dibanding orang lain. Cuma secuil. Saya lantas teringat adagium Sokrates “Hakekat pengetahuan adalah mengetahui bahwa kita tidak tahu apa-apa”

Beberapa hari yang lalu saya membeli buku karangan anda : Creative Writing, Tip dan Strategi Menulis Cerpen dan Novel terbitan Gagas Media. Melihat sampulnya saja saya sudah tertarik, hitam yang elegan. Lebih-lebih setelah saya membaca isinya. Seperti telah saya singgung dipermulaan surat ini bahwa saya sudah lama mencari buku seperti ini, tapi baru menemukannya sekarang. Bahkan surat ini pun saya buat karena terinspirasi buku anda itu. Tak sampai dua jam saya sudah khatam membacanya. Dan tahukah anda apa yang saya pikirkan? (maaf kalau saya mengutip kata-kata di beranda facebook)

Saya menjadi malu, kadang tersenyum sambil mendehem entah untuk apa, mungkin untuk menutupi rasa malu terhadap diri sendiri. Saya malu bahwa ternyata selama ini yang saya dilakukan di depan komputer hanya berlagak menjadi penulis sungguhan padahal sebenarnya saya tidak memiliki tujuan yang jelas dalam menulis. Kemudian saya juga menyadari kalau selama ini teryata saya telah memperlakukan tiap karakter dalam cerita saya dengan amat sewenang-wenang, kejam dan zonder rasa kasihan.  Saya baru menyadarinya sekarang, setelah membaca buku anda.

Barangkali inilah yang disebut terlambat menyadari kesalahan. Terlambat bertobat. Tapi setelah membaca buku Mas Sulak,  saya telah bertekad kembali ke jalan yang benar, yakni jalan yang ‘diridhoi’ para motivator menulis. Jalan yang harus ditempuh kalau kita memang ingin menjadi penulis yang baik, penulis yang mampu berkarya dalam situasi dan kondisi apapun.

Saya tak ingin mengulas isi buku tersebut dalam ruangan ini karena hanya akan membuat saya semakin merasa kecil di hadapan para penulis hebat yang telah ada selama ini. Lagipula apa yang bapak ulas dalam buku itu semuanya terasa mengena, mungkin sampai ke ulu hati. Chairil Anwar kalau tak salah pernah mengatakan “mencari kata sampai ke putih tulang” itulah yang saya lakukan. Saya juga tak percaya bakat yang katanya dibawa sejak lahir. Apalagi  inspirasi yang turun dari langit. Semuanya harus dicari, dipelajari, melatih diri. Bukan duduk-duduk seraya berpikir menunggu inspirasi turun dari langit. Setahu saya yang turun dari langit itu hanya dua kalau bukan petir ya hujan. Itupun didahului pertanda misalnya mendung.

Saya setuju dengan kata-kata bapak bahwa menulis sama saja dengan profesi lainnya. Penulis sama dengan pemain bulu tangkis, petinju, penyanyi, tukang kayu atau dokter gigi. Ia butuh latihan terus-menerus, juga disiplin yang timbul dari kesadaran bahwa ada suatu tujuan tertentu yang ingin kita capai dalam menulis fiksi.

Dengan asumsi demikian, saya percaya kalau suatu saat kelak-entah kapan-saya bisa menelurkan karya yang bisa dibaca orang.  Seperti kata Multatuli dalam pendahuluan novelnya yang terkenal itu, Max Havelaar, “Ya, aku bakal dibaca”

Sekian dulu surat dari saya.

Wassalam.