Sibuk bukan alasan berhenti menulis

Beberapa kawan saya, khususnya para sastrawan mengaku bahwa kesibukan tugas sehari-hari yang mereka lakoni membuat mereka tak punya waktu untuk meneruskan kebiasaan menulis. Tak ada waktu, sibuk oleh pekerjaan kantor, ngurus rumah, ngurus suami, ngurus istri, ngurus anak dan sebagainya. Begitulah alasan yang sering saya dengar. Sepintas, alasan tersebut tampaknya masuk akal. Memang sulit sekali membagi waktu kita diantara jadwal pekerjaan yang padat. Belum lagi rutinitas sehari-hari seperti istirahat, mendengar musik, membaca atau membagi waktu dengan keluarga dan sebagainya.
Tapi sebagaimana yang saya alami sendiri, kesibukan luar biasa yang saya jalani bukan penghalang untuk terus menulis. Sebagai pegawai negeri sipil yang diberi tanggungjawab mengemban jabatan level menengah, saya tak pernah merasa kalau jabatan yang saya pegang jadi penghambat saya terus menulis. Apa sebabnya?
Saya membaca, buku AS Laksana : Creatif Writing, Tips Menulis Novel dan Cerpen terbitan Gagas Media. Dari sanalah saya pahami, bahwa kegiatan menulis manakala sudah benar benar merasuk dalam arus keadaran hidup kita, sesibuk apapun, kita akan tetap bisa meluangkan waktu untuk menulis. Dan itulah yang saya lakukan sekarang.
Perlu saya tambahkan, bahwa di Indonesia profesi penulis belum bisa dijadikan sandaran hidup sepenuhnya. Dengan kata lain, menulis, apalagi menulis novel dan cerpen belum bisa dijadikan penopang hidup alias menjadi sumber pendapatan. Banyak penyebabnya antara lain karena rendahnya minat baca masyarakat dan apresiasi pemerintah yang rendah terhadap kehidupan kesenian di tanah air.

Maka tak mengherankan kalau hampir semua penulis di sini memiliki pekerjaan tetap lain untuk menopang hidup mereka. Ada yang jadi pedagang, atlet, pegawai pemerintah, motivator, menjadi ulama, model iklan, guru dan banyak pekerjaan lain yang tentu saja membutuhkan manajemen waktu yang ketat.Kegiatan menulis mereka lakukan di sela-sela waktu yang sempit. Kalau setiap hari bisa menghasilkan dua halaman draft tulisan berarti enam puluh halaman dalam sebulan. Hebat bukan?

Nah, kalau mereka bisa lalu kenapa kita tidak? Jadi kuncinya kembali kepada kita masing-masing. Saya sendiri harus meluangkan waktu sekitar dua sampai tiga jam semalam untuk meneruskan tulisan, naskah novel yang sudah menumpuk.
Alhasil, alasan kesibukan atau rutinitas sehari-hari membuat mereka berhenti menulis, sebenarnya hanya alasan yang dibuat-buat. Sekedar pembenaran berkuasanya rasa malas pada diri mereka.
Saya sudah menjadi Kepala Bidang di Dinas Perhubungan ketika menerbitkan novel saya yang kedua: Jejak Manusia Langit. Belum sebulan saya menduduki jabatan Kepala Bagian Humas, saya menerbitkan Kumpulan Cerpen dan Puisi “Pasung Jiwa Merpati Putih” berkolaborasi dengan seorang penulis puisi, seorang ibu rumah tangga yang tinggal di Baubau.
Terakhir saya masih menyempatkan mengirim naskah novel yang saya ikutkan dalam sayembara menulis novel Dewan Kesenian Jakarta.
Begitulah. Kalau kita mau, kita niatkan dibarengi tekad yang kuat semuanya pasti bisa kita lakukan.

Baliho Aneh

Saudara-saudara, saya bukan pegawai kantor pajak. Saya tak punya kepentingan dengan kantor itu kecuali bahwa  saya terus berusaha menjadi warga negara yang baik dengan taat membayar pajak. Tak heran saya cukup jengkel juga menyaksikan ada segelintir pegawai kantor itu yang menilep uang pajak yang susah payah dikumpulkan.

Saudara, beberapa waktu belakangan saya cukup terganggu mendapati sebuah baliho calon walikota Kendari, Sudarmanto yang dipasang  di tempat yang cukup strategis yaitu di depan kantor BKD Provinsi dan rumah sakit R Ismoyo (Rumah Sakit Korem) Kendari. Sebenarnya bukan kehadiran baliho itu yang menganggu tapi sepotong kalimat di dalamnya yang berbunyi begini “Program utama: pembebasan iuran pajak bumi dan bangunan”. Hampir setiap hari saya pasti akan membaca baliho itu ketika mengantar anak ke sekolah.

Nah apakah maksud kata-kata tersebut? Mari kita lihat

Setahu saya, sampai sekarang pemerintah belum mencabut ketentuan mengenai pajak bumi dan bangunan. Apalagi hendak membebaskan salah satu bentuk pajak yang menjadi tumpuan pendapatan negara kita. Jadi apa maksud Sudarmanto menuliskan kata-kata itu dalam balihonya?

Di tengah-tengah kampanye agar warga negara semakin sadar untuk membayar pajak, kata-kata dalam baliho Sudarmanto justru merupakan tamparan bagi aparat kantor pajak.  Ini sangat memalukan, apalagi kalau melihat kapasitas Sudarmanto yang saat ini menjadi anggota legislatif provinsi. Seharusnya beliaulah yang mengontrol kelancaran pembayaran pajak oleh masyarakat, bukan malah hendak membebaskannya.

Barangkali dengan kata-kata semacam itu, Sudarmanto bermaksud menarik simpati pemilih dengan meringankan beban rakyat yang selama ini terlalu banyak menanggung beban dalam membayar pajak. Sekilas memang terdengar sangat mulia dan luhur. Apalagi kalau maksudnya beliaulah yang hendak menanggung semua pajak bangunan yang selama ini harus dibayar oleh rakyat. Singkatnya, mungkin ia ingin berkata, Pilihlah saya, karena saya akan menanggung pajak bumi kalian.

Di sinilah pokok permasalahan yang sesungguhnya. Menurut saya, iming-iming tentang pembebasan membayar pajak bumi dan bangunan justru merupakan pembodohan kepada rakyat yang notabene harus menunaikan kewajibannya sebagai warga negara. Rakyat harus disadarkan bahwa segala biaya yang dikeluarkan pemerintah dalam melakukan pembangunan sebagian darinya bersumber dari pajak bumi dan bangunan ini.

Kalau maksudnya hendak membebaskan adalah dengan menghapus atau mengubah regulasi tentang pajak bumi dan bangunan, justru terdengar semakin aneh, rancu sekaligus lucu. Setahu saya, regulasi pajak bumi dan  bangunan adalah Undang-undang. Dengan kata lain, apakah bapak punya kewenangan mengubah peraturan tersebut? Kalau sebatas Peraturan Daerah (Perda) mungkin saja bisa. Tapi ini adalah Undang-undang. Yang bisa mengubahnya adalah DPR RI bersama pemerintah pusat. Jadi?

Mohon maaf kepada Bapak Sudarmanto. Dulu sewaktu bapak menjadi anggota legislatif, saya adalah salah satu pendukung bapak. Bahkan sempat melakukan kampanye di kalangan keluarga Menui. Jadi saya sangat terkejut melihat ada baliho semacam itu. Dan saya mohon kepada bapak, agar menurunkan semua baliho yang ada kata-kata seperti itu di dalamnya. Bukan-apa-apa, saya justru khawatir kalau baliho itu akan jadi bahan tertawaan orang. Terutama oleh mereka yang selama ini sangat peduli dengan kata-kata seperti saya.

Dan melalui kesempatan ini saya menyarankan agar tim pemenangan bapak (kalau memang ada) sebaiknya memikirkan baik-baik setiap kata yang akan dicantumkan di atas baliho. Karena sekali baliho bapak sudah terpasang, semua yang tertera di atasnya, baik itu gambar, tulisan dan sebagainya telah menjadi milik publik sepenuhnya. Dan warga bisa memprotesnya kalau mereka merasa tidak senang. Itu saja saya kira.

Membaca Sastra, Membangun Sebuah Dunia

Selama menjadi pelahap karya sastra-meski tidak begitu tekun- saya belum menemukan karangan yang tidak bagus. Semuanya bagus bagi saya. Setidaknya perbendaharaan cerita saya semakin banyak, dan wawasan pun bertambah luas.

Anda mungkin akan berkata bahwa saya adalah pembaca biasa, tidak mampu menalar atau setidaknya luput menangkap hakekat keindahan sebuah karya sastra. Mungkin anda benar. Mungkin juga tidak.

Bagi mereka, khususnya para pengarang yang diberkahi karunia kemahiran menulis cerita, langsung bisa menilai apakah suatu karya sastra tersebut bagus atau tidak, berdasarkan pengalaman kepenulisan mereka. Golongan seperti ini, tidak menimbulkan masalah apabila kemudian memvonis karya orang lain sebagai karya yang bagus atau sebaliknya.

Bagi saya, membaca sebuah karangan fiksi seperti menonton sebuah dunia yang aneka rupa bentuknya, beragam warnanya, lembut ataukah hangat dunia tersebut muncul dalam kepala saya. Jadi, saya atau katakanlah kita, janganlah terburu-buru mengklaim karya lain baik atau buruk, laris atau tak laku karena persepsi seperti itu akan menyandera diri kita sendiri lantaran kita menilai karya seseorang dengan kacamata kuda. Kita cenderung subyektif atawa kurang jujur terhadap diri sendiri. Kita memandang orang lain atau karya penulis lain, apalagi yang masih pemula dengan semena-mena: tergantung dari sudut pandang kita sendiri yang biasanya sulit menghindar dari subyektivitas.

Saya teringat pada kata-kata Rendra ketika menyampaikan pidatonya yang memukau saat menerima hadiah Akademi Jakarta. Saya sudah lupa tahun kejadiannya. Saya membacanya di buku tipis: Cendekiawan: mereka yang berumah di angin. Dalam salah satu kalimatnya Rendra berkata:

“Dalam ilmu silat, tak ada juara nomor dua. Dalam ilmu surat, tak ada juara nomor satu”

Tafsiran bebas kalimat itu kira-kira begini: dalam persilatan tidak ada pemenang kedua karena semua calon pemenang sudah dibunuh oleh si nomor satu tadi. Sedangkan dalam ilmu surat (dalam hal ini dunia kepengarangan) tidak akan ada pemenang pertama, karena alangkah sulitnya menemukan karya terbaik di antara yang ada. Lagipula cara menilai sebuah karya sastra pasti akan selalu berbeda-beda bagi setiap orang.

Dan saya sudah membuktikan kebenaran rumusan itu. Semua karya sastra yang saya pernah baca, apakah sastra Indonesia, apakah terjemahan, semuanya bagus belaka, karena semuanya mampu menghadirkan cerita yang menarik.

Dulu, saya begitu terpukau membaca cerita-cerita apa saja.

Saya hampir menangis membaca pertemuan kembali Parman dengan mantan istrinya, Marni dalam novel Kubah atau Mbok Ralem yang menangis di hadapan pemimpin redaksi sebuah koran yang menolong operasi gondoknya dalam novel Di Kaki Bukit Cibalak, keduanya karya Ahmad Tohari.

Saya juga tertawa terbahak-bahak membaca kata-kata Schweik, prajurit yang lugu, tampak bodoh tapi baik hati dalam novel Prajurit Schweik karya Jaroslav Hasek. Schweik yang selalu mengawali ucapannya dengan “mohon melapor tuan”.

Dan saya tercekam sembari menahan hati sewaktu Hasan bertandang ke rumah Rusli di suatu senja, ketika mereka berbincang mengenai ideologi kiri dan peradaban manusia dalam novel Atheis Achdiat Kartamihardja. Demikian juga dengan Wak Katok, Buyung, Sanip, Pak Haji, Talib dan Pak Balam yang berusaha menyembunyikan dosa-dosa masa lalu mereka karena ancaman harimau  di belantara Sumatera dalam novel Harimau-Harimau Mochtar Lubis.

Setiap kali membaca sebuah karya sastra saya selalu tergugah, seakan saya melihat sebuah dunia dan ingin terlibat langsung mengambil peran dalam tiap-tiap cerita itu. Bahkan ketika membaca salah satu cerita pendek Seno Gumira Aji Darma, Nyanyian Sepanjang Sungai, saya merasa seakan-akan saya sendiri yang berada dalam kapal yang tak pernah sampai di tujuannya itu karena saya sering mengalaminya: naik perahu ke pulau lain.

Semakin banyak saya membaca, semakin berlimpah juga dunia yang tergambar dalam ingatan saya. Dalam Anna Karenina karya Leo Tolstoi, sikap Kitty yang belia terhadap Konstantin Levin, calon suaminya yang sudah berumur sangat menyentuh perasaan saya. Demikian pula dengan Gregor Samsa yang terkejut begitu menyadari bahwa dirinya telah berubah ujud menjadi seekor serangga dalam Metamorfosis karya Kafka.

Atau kata-kata Robinson Croese saat bertemu si Jumat di pulau terpencil. Atau surat-surat Zainuddin kepada Hayati dalam Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck. Atau pikiran Scarlet O’Hara saat hadir di pesta dansa keluarga Wilkes dalam Gone With The Wind. Juga sikap Danny terhadap Pilon, Joe Portugis dan Jesus Maria serta si Bajak Laut dalam novel Dataran Tortilla karya John Steinbeck. Atau cara Miyamoto Mushashi mengayunkan pedang. Atau Haji Saleh yang memimpin demo di hadapan Allah dalam cerpen AA Navis, Robohnya Surau Kami.

Juga perang antara Cowboy dan Bandit-bandit dalam cerpen Surabaya karya Idrus. Pada Jose Arcadio Buendia yang nyentrik dalam Seratus Tahun Kesunyian-nya Marquez. Pada pidato Si Mayor Tua yang menggugah dalam Animal Farm dan sikap Winston Smith di hadapan mesin teleskrim, sebuah alat pemantau gerak-gerik sekaligus pembaca pikiran manusia dalam novel 1984, keduanya karya  George Orwell. Juga sosok Nyai Ontosoroh dalam Bumi Manusia Pramoedya Ananta Toer. Atau Santiago dalam novel Lelaki Tua dan Laut karya Hemingway, ketika lelaki tua itu marah pada ikan hiu karena merampas ikan marlinnya. Saat itu Santiago meludah ke laut seraya mengumpat “makanlah itu galanos dan bermimpilah bahwa kalian telah membunuh manusia”

Juga tingkah laku Totto-chan yang menggemaskan selama bersekolah di bekas gerbong kereta api dalam novel Totto-chan, Gadis Cilik di Jendela Tetsuko Kuroyanagi.

Tapi Ah.. saya kira tak perlu saya berpanjang-panjang lagi menulis yang begini karena hanya membikin orang lekas bosan. Lama-lama pasti mereka akan mengatai saya berlebih-lebihan. Jadi saya sudahi saja sampai di sini.

Lalu bagaimana dengan Anda? Adakah Anda merasakan seperti apa yang saya rasakan ketika usai membaca sebuah cerita?

Si Nyentrik dari Macondo: Jose Arcadio Buendia

Mengenang Gabriel Garcia Marquez ( 1928- 17 April 2014)
Membaca kembali novel Seratus Tahun Kesunyian rasanya selalu mengasyikkan dan tak pernah membuat saya bosan. Entah kenapa saya selalu saja tergelitik oleh paragraph pembuka novel Gabriel Garcia Marquez ini:
“Bertahun-tahun kemudian, saat menghadapi regu tembak. Kolonel Aureliano Buendia mencoba mengenang suatu senja yang jauh ketika ayahnya mengajaknya untuk melihat es”.
Saya belum pernah membaca pembukaan novel yang begitu memukau seperti ini. Dan Marquez tentu tak berhenti di situ. Kalimat-kalimat selanjutnya membuat imajinasi pembaca bergerak ke Macondo, negeri khayalan yang dibangun dengan apik oleh pengarang pemenang nobel sastra 1982 ini:
“Saat itu Macondo adalah desa yang terdiri dari dua puluh rumah terbuat dari batu bata mentah, dibangun di tepi sungai yang airnya jernih; yang mengalir melewati batu-batu yang mengilat, putih, dan besar seperti telur-telur dari zaman prasejarah. Dunia tampak baru sehingga banyak benda belum mempunyai nama dan untuk menyatakan benda-benda itu, kita harus menunjuknya”
Dan sayapun membayangkan bagaimana sosok Jose Arcadio Buendia, pendiri kampong pedalaman itu. Profilnya hadir dengan utuh, termasuk pemikiran-pemikirannya yang tentu saja dianggap aneh oleh orang-orang di sana.
Jose Arcadio adalah sosok yang komplit. Dalam tubuhnya mengalir semacam darah filosof sekaligus teknokrat dan penggila ilmu pengetahuan. Dia terpukau oleh apa saja yang bersifat baru meski masih belum jelas apa kiranya manfaat benda tersebut baginya. Dan rasa sukanya itu ditunjukkan dengan militansi yang tinggi. Bahkan sangat tinggi.
Syahdan di Macondo datanglah sekelompok gipsi dipimpin oleh Malquiades dengan membawa macam-macam perkakas yang belum pernah disaksikan di desa itu : besi magnet, teropong dan kaca pembesar. Oleh penduduk Macondo benda-benda itu dinamai besi ajaib tapi oleh Malquiades disebut sebagai “keajaiban ke delapan dari para alkemis di Macedonia”
Melihat benda-benda aneh itu, tak ayal Jose Arcadio Buendia terperangah. Ia tak habis-habis dirundung rasa kagum. Dan dengan itu ia mulai terobsesi pada mimpi-mimpinya akan kemajuan peradaban. Dia pun sampai pada kesadaran betapa terkungkungnya kehidupannya selama di Macondo itu. Setahap demi setahap hartanya, juga harta istrinya mulai berpindah ke tangan kelompok gipsi yang dating berkunjung. Jose merelakandua kambing kesayangan Ursula Iguaran, istrinya untuk ditukar dengan besi magnet atau teropong, (benda-benda baru yang sangat dikaguminya itu).
“Jose Arcadio Buendia, yang imajinasi liarnya selalu melampaui batas-batas alamiah, bahkan melampaui mukjizat dan sihir, berpendapat bahwa adalah mungkin memanfaatkan penemuan yang tampaknya tak berguna itu untuk menarik emas dari perut bumi
Demikianlah, Jose Arcadio Buendia benar-benar terobsesi pada barang-barang yang dibawa Malquiades. Istrinya Ursula hanya mengelus dada menyaksikan semua “kegilaan” suaminya itu. Ia tak mampu membendung hasrat Suaminya yang begitu terbakar oleh fantasi-fantasi liarnya sendiri.
Jose Arcadio oleh karena itu saya anggap sebagai sikap seorang filsuf yang selalu mempertanyakan kehidupan. Ini berbeda dengan istrinya yang melihat hidup sebagaimana tampaknya. Keduanya tak pernah cocok, atau katakanlah tidak bisa saling terhubung sesuai tanggung jawab masing-masing. Tapi hubungan perkawinan Jose dan Ursula sudah terpatri demikian kuat karena keduanya masih bersepupu sebagaimana kalimat Marquez
“Itulah sebab-nya, tiap kali Ursula dicobai gagasan gila suaminya, ia akan kembali pada nasib tiga ratus tahun lalu dan mengutuk hari ketika Sir Francis Drake menyerang Riohacha. Ini hanya cara sederhana untuk sedikit menghibur dirinya sendiri karena sebenarnya mereka disatukan sampai mati oleh satu ikatan yang lebih kukuh daripada cinta; kesadaran menyakitkan yang sama “
Barangkali saya tak perlu mengulas isi novel ini sampai tuntas karena jelas tak akan muat di ruangan ini. Saya hanya tergugah pada gaya eksentrik Jose Arcadio,  ayah Aureliano Buendia.
Dulu ketika pertama membaca novel ini, saya agak bingung mengikuti plotnya. Maju-mundur dan terkadang melompat ke sana kemari. Setelah membaca lebih dari dua kali barulah saya mulai memahami jalan cerita dan plot yang dibentuk Marquez. Dia tidak menggunakan plot yang lazim baik alur maju ataupun mundur. Dia menggunakan kedua-duanya dengan konsekuen.
Paragraf pembuka di atas contohnya, ketika Auriliano Buendia, anak Jose Arcadio akan menghadapi regu tembak merupakan plot maju puluhan tahun ke depan. Lalu mundur lagi ke belakang dengan kehidupan si anak ketika masih kecil di Macondo.
Demikianlah sisi unik kehidupan Jose Arcadio Buendia, si nyentrik dari Macondo.

Ayam Pakai Barbel?

Kemarin saya terkejut bukan main. Anak lelaki saya yang kedua, sekarang kelas dua Madrasah Aliyah (Setingkat SMU) menyarankan kepada saya agar kaki ayam Bangkok kesayangannya (dan ayam kesayangan saya juga) digantungi semacam pemberat. Dia menyebutnya barbel. Setahu saya, barbel adalah jenis peralatan kebugaran untuk manusia. Lalu bagaimana ceritanya sampai dipasangi di kaki ayam Bangkok?

“Untuk apa?” tanya saya heran campur kaget.

“Untuk latihan ayah” katanya mantap. “Ayam Bangkok harus dilatih supaya bisa bertarung dengan kemampuan maksimal”

“Bagaimana caranya? Dan apakah bisa?”

“Ya harus, kalau mau ayam ini bisa jadi ayam jawara” katanya sambil mengelus ayam Bangkok berbulu hitam itu. Lalu dia menjelaskan cara memasang alat yang disebutnya barbel itu. Rupanya barbel dimaksud bentuknya semacam gelang karet agak tebal yang dililitkan di pergelangan kaki ayam. Katanya untuk menciptakan efek sepak yang dahsyat, mungkin seperti karung latihan tinju bagi atlit tinju. Dalam hati tentu saya kurang setuju dengan ide anak saya itu.

“Nak!” kata saya selanjutnya. “Ayam ini dipelihara bukan untuk diadu atau dijadikan ayam untuk pertandingan”

Tapi anak saya tetap bersikukuh bahwa ayam Bangkok memang jenis ayam petarung. Biasa dipakai untuk pertandingan, sering dengan taruhan uang. Jelas judi namanya, batin saya.

“Pokoknya tidak bisa” terdengar suara saya agak keras. “Ayam Bangkok ini tidak akan jadi ayam jawara. Ayah sengaja memelihara ayam ini untuk menjadi pejantan ayam betina kita, supaya anaknya nanti besar-besar, supaya harganya tinggi kalau dijual. Lagi pula mengadu ayam itu dosa namanya”

Mendengar itu, anak saya cuma menggerutu tak jelas. Ia tidak setuju dengan kata-kata saya tadi. Tapi saya lihat sepertinya dia merencanakan sesuatu. Saya pun menduga, pasti kalau saya ke kantor barulah ia melaksanakan niatnya itu: memasangi gelang pada kaki ayam Bangkok kesayangan kami yang baru dewasa. Memang sosok ayam itu sangat gagah, tinggi dengan dada menjulang ke depan seakan menantang ayam lain yang ada sekitar rumah kami.

Ayam kok pakai barbel. Ah ada-ada saja.

Terlambat Menyadari Kesalahan

Kepada Mas AS Laksana . . .

Sambil belajar menulis, saya juga terus mencari buku panduan menulis yang baik. Tapi saya belum menemukan satupun buku yang berkenan dalam hati. Akhirnya, ya saya menulis saja, tentu dengan asal-asalan, main terabas kiri-kanan, bahasa yang sering macet di tengah jalan, dialog yang tertatih-tatih dan plot yang amburadul. Tapi bagaimanapun saya memiliki satu modal yang barangkali tidak dimiliki semua orang terutama para penulis pemula. Dan saya bangga karenanya. Modal itu saya sebut: semangat dan kemauan yang kuat untuk terus belajar di tengah keterbatasan referensi.

Di tempat saya, di Kendari, sampai saat ini belum ada forum pertemanan antar penulis, apalagi penulis fiksi. Kadang-kadang saya dongkol juga mendapati kenyataan seperti ini. Saya seperti berjalan sendirian dalam belantara tulis-menulis, tanpa ada teman sharing, kawan berbagi. Saya sungguh mendambakan teman yang akan mengkritisi tulisan kita layak atau tidak. Mengoreksi serta memberi masukan dalam cerita yang saya bikin. Dengan demikian, setidaknya saya memiliki bayangan mengenai kekurangan serta kelebihan cerita saya.

Untuk mereka yang muda-muda memang ada forum seperti itu, tapi menurut saya kegiatan mereka tidak relevan karena hanya membahas tentang sastra yang baik. Atau mengulas karya orang lain dengan gaya begitu rupa membuat saya risi mendengarnya.

Pernah seseorang (mungkin ketua mereka) memberikan sambutan dalam sebuah acara dan ia salah mengutip sumber. Perjuangan melawan kekuasaan, katanya adalah perjuangan melawan lupa. Lalu ia menyebut nama seorang ahli filsafat entah siapa, saya sudah lupa. Padahal kalimat itu asli karya Milan Kundera dalam Kitab Lupa dan Gelak Tawa. Saya juga tertawa, tapi cuma di dalam hati. Gaya dan cara bicara mereka seperti sastrawan terkenal saja. Kadang saya berpikir, alangkah hebatnya mereka itu. Saya benar-benar merasa minder kalau berdekatan dengan mereka. Meski mereka sering menggelar diskusi tapi belum satupun yang saya dengar telah menerbitkan karya baik cerita pendek apalagi novel di tingkat nasional.

Sebelumnya saya minta maaf, saya sebenarnya tidak tahu apa itu teori kesusastraan, apa itu sosiologi sastra, filsafat sastra, fenomenologi sastra (kalau memang istilah semacam itu ada). Inilah mungkin kekurangan saya. Saya hanya ingin menulis cerita. Jadi yang saya lakukan ya menulis cerita yang saya tahu, dengan karakter yang saya bangun sendiri. Itu saja. Saya pernah mengirim tiga naskah novel kepada beberapa penerbit besar dan hampir semuanya ditolak. Yang lolos justru karangan saya yang pertama, Sonata untuk Liana yang akan diterbitkan Gramedia Pustaka Utama. Oleh editor penerbit besar itu, judulnya kemudian diubah menjadi  Kidung dari Negeri Apung.  Menurut rencana naskah itu akan terbit April 2014 ini.

Sementara itu, saya juga terus membaca karya orang lain, membandingkan antar karya-karya mereka sehingga bisa mengenali gaya bercerita mereka, sampai pada kepribadian tiap pengarangnya. Ini saya lakukan sejak dulu sewaktu masih di SMA. Karya sastra yang pertama memukau saya adalah Karl May, lalu Robinson Croese karya Defoe. Lama-kelamaan saya juga bisa mengenal gaya Tolstoy, Hemingway, Flaubert, Steinbeck, Lermontov, Pasternak, Marquez, Orwell, Kafka sampai Mario Vargas Llosa . Kalau penulis sebangsa yang paling saya suka antara lain Ahmad Tohari, Kuntowijoyo, Budi Darma, Pramoedya Ananta Toer, Umar Kayam, Iwan Simatupang, Goenawan Mohamad dan Seno Gumira Aji Darma. Dan semakin banyak membaca sayapun sampai pada kesadaran bahwa  pengetahuan saya terhadap sesuatu ternyata tidak ada artinya dibanding orang lain. Cuma secuil. Saya lantas teringat adagium Sokrates “Hakekat pengetahuan adalah mengetahui bahwa kita tidak tahu apa-apa”

Beberapa hari yang lalu saya membeli buku karangan anda : Creative Writing, Tip dan Strategi Menulis Cerpen dan Novel terbitan Gagas Media. Melihat sampulnya saja saya sudah tertarik, hitam yang elegan. Lebih-lebih setelah saya membaca isinya. Seperti telah saya singgung dipermulaan surat ini bahwa saya sudah lama mencari buku seperti ini, tapi baru menemukannya sekarang. Bahkan surat ini pun saya buat karena terinspirasi buku anda itu. Tak sampai dua jam saya sudah khatam membacanya. Dan tahukah anda apa yang saya pikirkan? (maaf kalau saya mengutip kata-kata di beranda facebook)

Saya menjadi malu, kadang tersenyum sambil mendehem entah untuk apa, mungkin untuk menutupi rasa malu terhadap diri sendiri. Saya malu bahwa ternyata selama ini yang saya dilakukan di depan komputer hanya berlagak menjadi penulis sungguhan padahal sebenarnya saya tidak memiliki tujuan yang jelas dalam menulis. Kemudian saya juga menyadari kalau selama ini teryata saya telah memperlakukan tiap karakter dalam cerita saya dengan amat sewenang-wenang, kejam dan zonder rasa kasihan.  Saya baru menyadarinya sekarang, setelah membaca buku anda.

Barangkali inilah yang disebut terlambat menyadari kesalahan. Terlambat bertobat. Tapi setelah membaca buku Mas Sulak,  saya telah bertekad kembali ke jalan yang benar, yakni jalan yang ‘diridhoi’ para motivator menulis. Jalan yang harus ditempuh kalau kita memang ingin menjadi penulis yang baik, penulis yang mampu berkarya dalam situasi dan kondisi apapun.

Saya tak ingin mengulas isi buku tersebut dalam ruangan ini karena hanya akan membuat saya semakin merasa kecil di hadapan para penulis hebat yang telah ada selama ini. Lagipula apa yang bapak ulas dalam buku itu semuanya terasa mengena, mungkin sampai ke ulu hati. Chairil Anwar kalau tak salah pernah mengatakan “mencari kata sampai ke putih tulang” itulah yang saya lakukan. Saya juga tak percaya bakat yang katanya dibawa sejak lahir. Apalagi  inspirasi yang turun dari langit. Semuanya harus dicari, dipelajari, melatih diri. Bukan duduk-duduk seraya berpikir menunggu inspirasi turun dari langit. Setahu saya yang turun dari langit itu hanya dua kalau bukan petir ya hujan. Itupun didahului pertanda misalnya mendung.

Saya setuju dengan kata-kata bapak bahwa menulis sama saja dengan profesi lainnya. Penulis sama dengan pemain bulu tangkis, petinju, penyanyi, tukang kayu atau dokter gigi. Ia butuh latihan terus-menerus, juga disiplin yang timbul dari kesadaran bahwa ada suatu tujuan tertentu yang ingin kita capai dalam menulis fiksi.

Dengan asumsi demikian, saya percaya kalau suatu saat kelak-entah kapan-saya bisa menelurkan karya yang bisa dibaca orang.  Seperti kata Multatuli dalam pendahuluan novelnya yang terkenal itu, Max Havelaar, “Ya, aku bakal dibaca”

Sekian dulu surat dari saya.

Wassalam.

Menulis Cerita, Butuh Kesabaran

Pekan lalu, ketika saya sedang memberi makan ikan-ikan di empang, saya teringat kata-kata seorang penulis buku pembimbingan menulis. Intinya kira-kira begini:  Kalau kita melakukan sesuatu dengan tekun, telaten dan terus-menerus pasti akan membuahkan hasil yang sempurna.

Menulis butuh kesabaran. Butuh waktu latihan mencurahkan ide dan pikiran ke atas kertas. Berkali-kali merumuskan kata merangkai kalimat. Demikian juga untuk mendapatkan ikan-ikan yang gemuk  ia harus diberi makan setiap hari bahkan setiap jam dengan makanan pilihan, menjaga air agar tetap steril. Semua perlu kita lakukan kalau kita ingin usaha kita membuahkan hasil.

Akan tetapi meski panduan cara menulis yang baik sudah ratusan kali ditulis orang, masih sedikit dari kita yang mau melakukannya. Apalagi dengan tekun dan telaten. Merawat kesinamnbungan semangat menulis memang berat. Ia membutuhkan sesuatu yang sebenarnya  sudah tertanam lama dalam kesadaran setiap manusia: bakat dan kemauan keras untuk menjadi penulis yang baik.

Ketika sedang membaca sebuah novel kadang saya  berpikir  alangkah cerdasnya si pengarang  menyusun plot cerita sehingga kita larut dalam cerita yang dibuatnya.  Itu pula yang saya rasakan ketika  membaca salah satu novel Mario Vargas Llosa : Quien Mato a Palomino Molero? (Siapa Pembunuh Palomino Molero?

Syahdan tersebutlah dua petugas kepolisian di Talara bernama Letnan Silva dan Lituma yang menyelidiki kematian seorang penerbang muda. Palomino Molero namanya. Sebuah proses kematian yang sangat mengenaskan. Pemuda itu kedapatan mati tergantung pada sebatang pohon dekat hutan. Puluhan burung gagak  nyaris mencabik-cabik tubuh pemuda itu sebelum ditemukan oleh seorang bocah lelaki dan melaporkannya  kepada Silva dan Lituma.

Dengan itu Silva dan juga Lituma memulai penyelidikannya.  Meski menurut saya, alur penyelidikan yang dilakukan sangat panjang,  berbelit dan berputar-putar sehingga hasilnya juga tak kunjung jelas tapi semua proses yang dilakukan dengan mengasyikkan, agak konyol dan absurd.

Yang menarik bagi saya bukanlah proses penyelidikan atas kematian Palomino itu yang menurut kebanyakan pembaca pasti melibatkan seorang perwira  berpangkat kolonel di Angkatan Udara. Lelaki yang tak lain adalah ayah kekasih  pemuda yang tewas itu . Yang justru memantik rasa penasaran saya adalah tingkah laku Lituma. Suasana batinnya sepanjang novel ini serta pandangan-pandangan hidupnya yang kadang-kadang terasa aneh dan konyol bagi pembaca.

Salah satu adegan yang paling melekat dalam benak saya ketika Silva si atasan dan Lituma si bawahan sedang mengintip Dona Adriana mandi di laut. Dona Adriana adalah perempuan gemuk yang sudah bersuami. Bagi Lituma Dona adalah perempuan yang memuakkan. Parasnya tidak elok, ditambah postur tubuhnya yang tidak proporsional. Tapi tidak bagi Letnan Silva. Menurutnya perempuan itu adalah bidadarinya. Impian dan fantasi-fantasi berahinya selama ini.

 “Penglihatanku pasti kurang bagus” kata Lituma sambil terus mengamati Dona melalui teropong. “Atau imajinasiku yang kurang bagus Letnan”.

“Bangsat kau!” hardik Letnan Silva sambil merampas kembali teropongnya. “Aku sebaliknya, bisa melihatnya seperti ia sedang dipajang” Letnan Silva penuh rasa kagum pada tubuh perempuan yang mereka saksikan dari balik sebongkah batu itu.

Ketika Dona mulai membuka pakainnya lapis demi lapis selalu diikuti dengan gumam kekaguman oleh Letnan Silva.

“Jangan lihat sampai habis begitu” Letnan mengomelinya sambil merampas kembali teropongnya. “Sesungguhnya babak terbaiknya baru berlangsung sekarang, waktu ia masuk air, sebab anderok itu lengket ke badannya dan jadi transparan. Ini bukan pertunjukkan buat tamtama, Lituma. Cuma untuk Letnan dan para atasannya”

Kepandaian menyusun cerita merupakan hasil olah pengalaman selama puluhan tahun. Mario Vrgas Llosa adalah salah satu yang terbaik. Tak heran jika ia diganjar nobel sastra tahun 2010.

Saya kembali memandang ikan-ikan dalam empang. Empang yang saya buat sendiri dengan susah payah. Dan  saya membayangkan memanen ikan-ikan gemuk yang saya rawat selama beberapa waktu. Tanpa henti tanpa jeda sehari jua.

illustrasi : http://writetotheend.com

Santiago, Lelaki Tua yang Memikat

Dari Novel The Old Man and The Sea Dibandingkan novel-novel Ernest Hemingway lainnya, barangkalai The Old Man and The Sea adalah yang paling pendek, paling ringkas. Tapi dalam beberapa ulasan baik di media cetak maupun media online, saya membaca bahwa inilah novel terbesar Hemingway. Sebuah komentar yang saya pernah baca mengatakan kurang lebih begini: Inilah pencapaian tertinggi seorang Hemingway dalam dunia kesusastraan.

Bagi anda yang belum membaca novel ini pasti akan mengerutkan dahi, bertanya-tanya: sebegitu hebatkah The Old Man dalam karir pemenang Nobel Sastra itu?

Bagi saya jawabannya tentu ya. Dan bagi saya juga, kebesaran The Old Man bukan pada komposisi atau gaya bercerita Hemingway yang memang selalu mengundang rasa penasaran pembacanya.

Santiago, tokoh utama novel ini adalah seorang penggemar baseball. Ia selalu mengikuti perkembangan tim kesayangannya melalui surat kabar yang dibawa seorang bocah lelaki, kawan akrab Santiago di sebuah pantai kecil di Kuba. Meski ia sudah tua ( terjemahan novel ini berjudul Lelaki Tua dan laut) tetapi semangatnya dalam mempertahankan diri ketika melawan seekor ikan marlin besar mungkin belum bisa disamai oleh nelayan manapun.

Sikapnya yang tenang dan tanpa ambisi untuk membunuh makhluk lain, kendati terhadap seekor ikan sekalipun membuat kita berdecak kagum. Segala tindak tanduk serta suasana batin Santiago selama beradu kuat dengan si marlin digambarkan dengan sangat realistis. Saya seakan bisa melihat setiap gerak-gerik Santiago bahkan sampai ia menarik dan menghembuskan napasnya sendiri. Saat ia mengumpat kepada dunia, dan keluhannya kepada hidup. Juga lagaknya yang menggemaskan saat berbicara dengan si ikan. Bahkan ketika ikan marlin tangkapannya selapis demi selapis dirampas ikan hiu, Santiago tidak ambil peduli. “Syukurlah karena dengan begini, beban saya rasanya semakin berkurang” katanya enteng. Dan dari semua kejadian selama di perahu itu, saya terkesan pada satu ucapannya “Bahwa manusia bisa dikalahkan tapi tidak bisa ditundukkan”

Santiago memang sudah tua, tetapi semangatnya melebihi anak muda yang paling kuat sekalipun. Barangkali itulah moral cerita yang hendak disampaikan Hemingway kepada kita. Bahwa selama manusia hidup, semangat tidak boleh meredup. Begitulah.

Karmin, Pejuang atau Penghianat?

Marginalia atas Novel Perburuan Karya Pramoedya Ananta Toer

Hidup manusia ditakdirkan untuk mengalami kekalahan sebentar menuju kemenangan di garis akhir. Demikian kesimpulan Hardo sang tokoh utama novel Perburuan karya Pramoedya Ananta Toer yang sangat terkenal itu.

Dengan kacamata  itulah Hardo meramal dengan tepat nasib Nippon yang sedang berkuasa di  Indonesia saat itu. Bahwa suatu ketika kelak Jepang pasti akan sampai pada titik kekalahan.

Dalam novel yang  ditulis tahun 1950 dan bersetting jaman Jepang ini,  Pram dengan cerdas meramu rasa nasionaisme kebangsaan para tokohhya dalam dialog-dialog bergaya drama yang memukau. Tanpa menunjukkan secara langsung apa dan bagaimana tiap karakter menjalankan perannya, pembaca akan segera tahu dan bisa menarik kesimpulan sendiri mengenai seluk beluk dan suasana batin masing-masing tokoh dalam cerita tersebut.

Hardo umpamanya. Lelaki ini rela menjadi gelandangan, pengemis demi melihat bahwa suatu ketika nanti akan datang juga hari kemenangan yang diimpikan itu: kemerdekaan. Hanya itulah yang membuat lelaki bertanda bekas luka samurai di lengannya ini bisa bertahan dari kejaran Nippon terus-menerus. Sikapnya yang keras terhadap ayahnya sendiri bekas Wedana, juga rasa rindu pada kekasihnya Ningsih bisa ditanggungnya dengan tabah.

Di lain pihak, Karmin, kawan akrab Hardo justru  memilih menjadi Shodanco, (Komandan Peleton) Bala Tentara Dai Nippon karena pertimbangan agar bisa melindungi teman-temannya dari kejaran Jepang. Tapi apa lacur, Hardo dan kemudian seluruh rakyat sudah kadung menaruh rasa benci yang demikian besar kepadanya. Bahwa Karmin adalah seorang penghianat. Bahwa  Karminlah bersama Shodan yang dipimpinnya yang mengejar serta berusaha menangkap Hardo dan kawan-kawan seperjuangan, antara lain Dipo dan Kartiman dan berencana menyerahkan mereka semua kepada Jepang.

Tapi benarkah Karmin memang penghianat?  Lagi-lagi Pram  dengan lihai mengecoh pembacanya. Pram memutar alur pikiran kita sedemikian rupa hingga pada akhirnya kita bertanya-tanya benarkah Karmin penghianat?  Pram tidak memberi kesimpulan tapi membiarkan imajinasi kita sendiri yang bekerja lalu memutuskan bagaimana seorang Karmin hadir dalam benak pembaca.

Dengarlah kata-katanya ketika lelaki itu bertandang ke rumah Ningsih untuk memeriksa keterlibatan perempuan itu dalam pelarian Hardo.

“Alangkah sulit usahaku kali ini dalam melindungi Mas Hardo dan kawan-kawannya dalam mengoproyokan ini, mereka tak mau tahu. Ya begitulah sangkaku, mereka tak akan mau tahu bahwa aku berbuat sebagai itu”

Dan sikap Karmin  kemudian adalah  antiklimaks atas tuduhan bahwa dia seorang penghianat. Secara kesatria Karmin menyerahkan kepalanya sendiri untuk dipenggal orang banyak. Karmin dengan tegas meminta kepalanya dipenggal, tapi orang-orang akhirnya mundur atas perintah Hardo. (**)