Membaca Sastra, Membangun Sebuah Dunia

Selama menjadi pelahap karya sastra-meski tidak begitu tekun- saya belum menemukan karangan yang tidak bagus. Semuanya bagus bagi saya. Setidaknya perbendaharaan cerita saya semakin banyak, dan wawasan pun bertambah luas.

Anda mungkin akan berkata bahwa saya adalah pembaca biasa, tidak mampu menalar atau setidaknya luput menangkap hakekat keindahan sebuah karya sastra. Mungkin anda benar. Mungkin juga tidak.

Bagi mereka, khususnya para pengarang yang diberkahi karunia kemahiran menulis cerita, langsung bisa menilai apakah suatu karya sastra tersebut bagus atau tidak, berdasarkan pengalaman kepenulisan mereka. Golongan seperti ini, tidak menimbulkan masalah apabila kemudian memvonis karya orang lain sebagai karya yang bagus atau sebaliknya.

Bagi saya, membaca sebuah karangan fiksi seperti menonton sebuah dunia yang aneka rupa bentuknya, beragam warnanya, lembut ataukah hangat dunia tersebut muncul dalam kepala saya. Jadi, saya atau katakanlah kita, janganlah terburu-buru mengklaim karya lain baik atau buruk, laris atau tak laku karena persepsi seperti itu akan menyandera diri kita sendiri lantaran kita menilai karya seseorang dengan kacamata kuda. Kita cenderung subyektif atawa kurang jujur terhadap diri sendiri. Kita memandang orang lain atau karya penulis lain, apalagi yang masih pemula dengan semena-mena: tergantung dari sudut pandang kita sendiri yang biasanya sulit menghindar dari subyektivitas.

Saya teringat pada kata-kata Rendra ketika menyampaikan pidatonya yang memukau saat menerima hadiah Akademi Jakarta. Saya sudah lupa tahun kejadiannya. Saya membacanya di buku tipis: Cendekiawan: mereka yang berumah di angin. Dalam salah satu kalimatnya Rendra berkata:

“Dalam ilmu silat, tak ada juara nomor dua. Dalam ilmu surat, tak ada juara nomor satu”

Tafsiran bebas kalimat itu kira-kira begini: dalam persilatan tidak ada pemenang kedua karena semua calon pemenang sudah dibunuh oleh si nomor satu tadi. Sedangkan dalam ilmu surat (dalam hal ini dunia kepengarangan) tidak akan ada pemenang pertama, karena alangkah sulitnya menemukan karya terbaik di antara yang ada. Lagipula cara menilai sebuah karya sastra pasti akan selalu berbeda-beda bagi setiap orang.

Dan saya sudah membuktikan kebenaran rumusan itu. Semua karya sastra yang saya pernah baca, apakah sastra Indonesia, apakah terjemahan, semuanya bagus belaka, karena semuanya mampu menghadirkan cerita yang menarik.

Dulu, saya begitu terpukau membaca cerita-cerita apa saja.

Saya hampir menangis membaca pertemuan kembali Parman dengan mantan istrinya, Marni dalam novel Kubah atau Mbok Ralem yang menangis di hadapan pemimpin redaksi sebuah koran yang menolong operasi gondoknya dalam novel Di Kaki Bukit Cibalak, keduanya karya Ahmad Tohari.

Saya juga tertawa terbahak-bahak membaca kata-kata Schweik, prajurit yang lugu, tampak bodoh tapi baik hati dalam novel Prajurit Schweik karya Jaroslav Hasek. Schweik yang selalu mengawali ucapannya dengan “mohon melapor tuan”.

Dan saya tercekam sembari menahan hati sewaktu Hasan bertandang ke rumah Rusli di suatu senja, ketika mereka berbincang mengenai ideologi kiri dan peradaban manusia dalam novel Atheis Achdiat Kartamihardja. Demikian juga dengan Wak Katok, Buyung, Sanip, Pak Haji, Talib dan Pak Balam yang berusaha menyembunyikan dosa-dosa masa lalu mereka karena ancaman harimau  di belantara Sumatera dalam novel Harimau-Harimau Mochtar Lubis.

Setiap kali membaca sebuah karya sastra saya selalu tergugah, seakan saya melihat sebuah dunia dan ingin terlibat langsung mengambil peran dalam tiap-tiap cerita itu. Bahkan ketika membaca salah satu cerita pendek Seno Gumira Aji Darma, Nyanyian Sepanjang Sungai, saya merasa seakan-akan saya sendiri yang berada dalam kapal yang tak pernah sampai di tujuannya itu karena saya sering mengalaminya: naik perahu ke pulau lain.

Semakin banyak saya membaca, semakin berlimpah juga dunia yang tergambar dalam ingatan saya. Dalam Anna Karenina karya Leo Tolstoi, sikap Kitty yang belia terhadap Konstantin Levin, calon suaminya yang sudah berumur sangat menyentuh perasaan saya. Demikian pula dengan Gregor Samsa yang terkejut begitu menyadari bahwa dirinya telah berubah ujud menjadi seekor serangga dalam Metamorfosis karya Kafka.

Atau kata-kata Robinson Croese saat bertemu si Jumat di pulau terpencil. Atau surat-surat Zainuddin kepada Hayati dalam Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck. Atau pikiran Scarlet O’Hara saat hadir di pesta dansa keluarga Wilkes dalam Gone With The Wind. Juga sikap Danny terhadap Pilon, Joe Portugis dan Jesus Maria serta si Bajak Laut dalam novel Dataran Tortilla karya John Steinbeck. Atau cara Miyamoto Mushashi mengayunkan pedang. Atau Haji Saleh yang memimpin demo di hadapan Allah dalam cerpen AA Navis, Robohnya Surau Kami.

Juga perang antara Cowboy dan Bandit-bandit dalam cerpen Surabaya karya Idrus. Pada Jose Arcadio Buendia yang nyentrik dalam Seratus Tahun Kesunyian-nya Marquez. Pada pidato Si Mayor Tua yang menggugah dalam Animal Farm dan sikap Winston Smith di hadapan mesin teleskrim, sebuah alat pemantau gerak-gerik sekaligus pembaca pikiran manusia dalam novel 1984, keduanya karya  George Orwell. Juga sosok Nyai Ontosoroh dalam Bumi Manusia Pramoedya Ananta Toer. Atau Santiago dalam novel Lelaki Tua dan Laut karya Hemingway, ketika lelaki tua itu marah pada ikan hiu karena merampas ikan marlinnya. Saat itu Santiago meludah ke laut seraya mengumpat “makanlah itu galanos dan bermimpilah bahwa kalian telah membunuh manusia”

Juga tingkah laku Totto-chan yang menggemaskan selama bersekolah di bekas gerbong kereta api dalam novel Totto-chan, Gadis Cilik di Jendela Tetsuko Kuroyanagi.

Tapi Ah.. saya kira tak perlu saya berpanjang-panjang lagi menulis yang begini karena hanya membikin orang lekas bosan. Lama-lama pasti mereka akan mengatai saya berlebih-lebihan. Jadi saya sudahi saja sampai di sini.

Lalu bagaimana dengan Anda? Adakah Anda merasakan seperti apa yang saya rasakan ketika usai membaca sebuah cerita?

Si Nyentrik dari Macondo: Jose Arcadio Buendia

Mengenang Gabriel Garcia Marquez ( 1928- 17 April 2014)
Membaca kembali novel Seratus Tahun Kesunyian rasanya selalu mengasyikkan dan tak pernah membuat saya bosan. Entah kenapa saya selalu saja tergelitik oleh paragraph pembuka novel Gabriel Garcia Marquez ini:
“Bertahun-tahun kemudian, saat menghadapi regu tembak. Kolonel Aureliano Buendia mencoba mengenang suatu senja yang jauh ketika ayahnya mengajaknya untuk melihat es”.
Saya belum pernah membaca pembukaan novel yang begitu memukau seperti ini. Dan Marquez tentu tak berhenti di situ. Kalimat-kalimat selanjutnya membuat imajinasi pembaca bergerak ke Macondo, negeri khayalan yang dibangun dengan apik oleh pengarang pemenang nobel sastra 1982 ini:
“Saat itu Macondo adalah desa yang terdiri dari dua puluh rumah terbuat dari batu bata mentah, dibangun di tepi sungai yang airnya jernih; yang mengalir melewati batu-batu yang mengilat, putih, dan besar seperti telur-telur dari zaman prasejarah. Dunia tampak baru sehingga banyak benda belum mempunyai nama dan untuk menyatakan benda-benda itu, kita harus menunjuknya”
Dan sayapun membayangkan bagaimana sosok Jose Arcadio Buendia, pendiri kampong pedalaman itu. Profilnya hadir dengan utuh, termasuk pemikiran-pemikirannya yang tentu saja dianggap aneh oleh orang-orang di sana.
Jose Arcadio adalah sosok yang komplit. Dalam tubuhnya mengalir semacam darah filosof sekaligus teknokrat dan penggila ilmu pengetahuan. Dia terpukau oleh apa saja yang bersifat baru meski masih belum jelas apa kiranya manfaat benda tersebut baginya. Dan rasa sukanya itu ditunjukkan dengan militansi yang tinggi. Bahkan sangat tinggi.
Syahdan di Macondo datanglah sekelompok gipsi dipimpin oleh Malquiades dengan membawa macam-macam perkakas yang belum pernah disaksikan di desa itu : besi magnet, teropong dan kaca pembesar. Oleh penduduk Macondo benda-benda itu dinamai besi ajaib tapi oleh Malquiades disebut sebagai “keajaiban ke delapan dari para alkemis di Macedonia”
Melihat benda-benda aneh itu, tak ayal Jose Arcadio Buendia terperangah. Ia tak habis-habis dirundung rasa kagum. Dan dengan itu ia mulai terobsesi pada mimpi-mimpinya akan kemajuan peradaban. Dia pun sampai pada kesadaran betapa terkungkungnya kehidupannya selama di Macondo itu. Setahap demi setahap hartanya, juga harta istrinya mulai berpindah ke tangan kelompok gipsi yang dating berkunjung. Jose merelakandua kambing kesayangan Ursula Iguaran, istrinya untuk ditukar dengan besi magnet atau teropong, (benda-benda baru yang sangat dikaguminya itu).
“Jose Arcadio Buendia, yang imajinasi liarnya selalu melampaui batas-batas alamiah, bahkan melampaui mukjizat dan sihir, berpendapat bahwa adalah mungkin memanfaatkan penemuan yang tampaknya tak berguna itu untuk menarik emas dari perut bumi
Demikianlah, Jose Arcadio Buendia benar-benar terobsesi pada barang-barang yang dibawa Malquiades. Istrinya Ursula hanya mengelus dada menyaksikan semua “kegilaan” suaminya itu. Ia tak mampu membendung hasrat Suaminya yang begitu terbakar oleh fantasi-fantasi liarnya sendiri.
Jose Arcadio oleh karena itu saya anggap sebagai sikap seorang filsuf yang selalu mempertanyakan kehidupan. Ini berbeda dengan istrinya yang melihat hidup sebagaimana tampaknya. Keduanya tak pernah cocok, atau katakanlah tidak bisa saling terhubung sesuai tanggung jawab masing-masing. Tapi hubungan perkawinan Jose dan Ursula sudah terpatri demikian kuat karena keduanya masih bersepupu sebagaimana kalimat Marquez
“Itulah sebab-nya, tiap kali Ursula dicobai gagasan gila suaminya, ia akan kembali pada nasib tiga ratus tahun lalu dan mengutuk hari ketika Sir Francis Drake menyerang Riohacha. Ini hanya cara sederhana untuk sedikit menghibur dirinya sendiri karena sebenarnya mereka disatukan sampai mati oleh satu ikatan yang lebih kukuh daripada cinta; kesadaran menyakitkan yang sama “
Barangkali saya tak perlu mengulas isi novel ini sampai tuntas karena jelas tak akan muat di ruangan ini. Saya hanya tergugah pada gaya eksentrik Jose Arcadio,  ayah Aureliano Buendia.
Dulu ketika pertama membaca novel ini, saya agak bingung mengikuti plotnya. Maju-mundur dan terkadang melompat ke sana kemari. Setelah membaca lebih dari dua kali barulah saya mulai memahami jalan cerita dan plot yang dibentuk Marquez. Dia tidak menggunakan plot yang lazim baik alur maju ataupun mundur. Dia menggunakan kedua-duanya dengan konsekuen.
Paragraf pembuka di atas contohnya, ketika Auriliano Buendia, anak Jose Arcadio akan menghadapi regu tembak merupakan plot maju puluhan tahun ke depan. Lalu mundur lagi ke belakang dengan kehidupan si anak ketika masih kecil di Macondo.
Demikianlah sisi unik kehidupan Jose Arcadio Buendia, si nyentrik dari Macondo.

Citra Wong Ndeso dalam Karya Ahmad Tohari

Ahmad Tohari bisa disebut sebagai salah satu sastrawan Indonesia yang begitu mengagungkan kehidupan orang-orang desa, Wong Ndeso. Hampir semua tokoh-tokoh fiksinya diangkat dari latar belakang pedalaman yang jauh dari hiruk-pikuk kota.

Nama-nama berikut sudah demikian akrab dalam benak pembaca sastra kita. Rasus, Kartareja, Sakum, Srintil (Ronggeng Dukuh Paruk), Karman, Parta, Marni dan Haji Bakir (Kubah), Pak Dirga, Pambudi, Poyo dan Sanis (Di Kaki Bukit Cibalak), Darsa, Lasi, Kanjat dan Eyang Mus (Bekisar Merah)

Dan itu baru dari novel. Bila kita simak cerita pendek Ahmad Tohari, nama-nama orang dusun kian terentang panjang. Karyamin, Blokeng, Kasdu, Minem, Musgepuk, Sutabawor, Kenthus (Senyum Karyamin-Kumpulan Cerpen) Mirta, Tarsa, Jebris, Daruan, Doblo, Sarpin, Karsim, Dawir dan Rusmi (Mata yang Enak Dipandang-Kumpulan Cerpen).

Nama-nama demikkian itu nyaris memenuhi seluruh cerita yang dibangun Tohari, lengkap dengan latar belakang alam dan satwa yang memikat. Saya yakin tak banyak pengarang kita yang memiliki perbendaharaan lengkap mengenai kehidupan alam semesta seperti Tohari.

Kemampuan melukiskan suasana sekitar secara realistis dan tampak seakan-akan nyata adalah salah satu kekuatan Tohari dalam membangun kisah, memilih tema serta pelaku cerita dengan sangat mengesankan.

Dalam novel Ronggeng Dukuh Paruk, kita misalnya bisa melihat sosok Sakum, lelaki buta penabuh calung dengan gaya kocaknya: selalu menggumamkan kata-kata “cess” setiap kali dia menabuh calung dengan ritme tertentu pada saat mana si penari, Srintil akan menggoyangkan pinggul, memancing berahi penonton.

Tetapi bagaimanapun Kartareja beruntung. Dia berhasil menemukan kembali Sakum, laki-laki dengan sepasang mata keropos namun punya keahlian istimewa dalam memukul calung besar. Sakum, dengan mata buta mampu mengikuti secara seksama pagelaran ronggeng. Seperti seorang awas, Sakum dapat mengeluarkan seruan cabul tepat pada saat ronggeng menggerakkan pinggul ke depan dan ke belakang. Pada detik ronggeng membuat gerak birahi, mulut Sakum meruncing, lalu keluar suaranya yang terkenal; Cessss! Orang mengatakan, tanpa Sakum setiap pentas ronggeng tawar rasanya. 

Saya juga bisa membayangkan sosok Darsa seorang pembuat nira, suami Lasi dalam novel Bekisar Merah. Darsa ketika itu tengah memandang barisan pohon kelapa yang diguyur hujan. Lelaki itu lantas membandingkan pohon kelapanya yang basah dengan istrinya, Lasi yang saat itu melintas di hadapannya usai mandi. Dan Tohari pun menggambarkannya demikian:

Di mata Darsa, pesona dan gairah hidup yang baru beberapa detik lalu direkamnya dari pohon-pohon kelapa di seberang lembah, kini berpindah sempurna ke tubuh Lasi. Sama seperti pohon-pohon kelapa yang selalu menantang untuk disadap, pada diri Lasi ada janji dan gairah yang sangat menggoda.

Pada Lasi terasa ada wadah pengejawantahan diri sebagai lelaki dan penyadap. Pada diri istrinya juga Darsa merasa ada lembaga tempat kesetiaan dipercayakan. Dan lebih dari pohon-pohon kelapa yang tak putus meneteskan nira, Lasi yang sudah tiga tahun menjadi istrinya, meski belum memberinya keturunan, adalah harga dan cita-cita hidup Darsa sendiri.  . . . .

 Lasi tak meneruskan kata-katanya karena tiba-tiba suasana berubah. Darsa memandang Lasi dengan mata berkilat. Keduanya beradu senyum lagi. Darsa selalu berdebar bila menatap bola mata istrinya yang hitam pekat. Seperti kulitnya, mata Lasi juga khas; berkelopak tebal, tanpa garis lipatan. Orang sekampung mengatakan mata Lasi kaput. Alisnya kuat dan agak naik pada kedua ujungnya. Seperti Cina. Mungkin Darsa ingin berkata sesuatu. Tetapi Lasi yang merasa dingin masuk ke bilik tidur hendak mengambil kebaya. Dan Darsa mengikutinya, lalu mengunci pintu dari dalam. Keduanya tak keluar lagi. Ada seekor katak jantan menyusup ke sela dinding bambu, keluar melompat-lompat menempuh hujan dan bergabung dengan betina di kubangan yang menggenang. Pasangan-pasangan kodok bertunggangan dan kawin dalam air sambil terus mengeluarkan suaranya yang serak dan berat. Induk ayam di emper belakang merangkul semua anaknya ke balik sayap-sayapnya yang hangat. Udara memang sangat  dingin.

Dan Tohari seakan benar-benar hadir menyaksikan sendiri semua pelaku memainkan perannya. Dalam hampir semua novelnya seperti yang saya sebut di atas, Tohari bercerita sebagai pihak yang mengalami kejadian dalam cerita. Dengan gaya bertutur yang khas seperti itu, Tohari berlaku sebagai si maha tahu semua karakter manusia yang dibangunnya sendiri. Dengan kata lain, Tohari tidak bertindak seperti seorang pewarta yang memberitakan sebuah kejadian, tapi dia berlaku seakan-akan dia sendiri sang pemain, dialah pelaku utama cerita-ceritanya sendiri.

Demikian juga dalam novelnya yang lain. Kubah misalnya. Bagaimana perasaan Karman saat baru pulang dari pembuangan di Pulau Buru. Sikap dan gerak-gerik Karman ketika baru saja dibebaskan dan betapa ia terkejut mendapati keadaan sekitar yang sudah berubah. Semuanya di lukiskan Tohari dengan sangat memikat, sederhana dan mudah diikuti nalar pembaca.

Karman duduk di atas sebuah tonjolan akar. Di sampingnya ada gulungan kertas yang berisi kain sarung, dan masing-masing selembar baju dan celana tua. Itulah semua hartanya yang ia bawa kembali dari Pulau B. Angin bergerak ke utara menggoyangkan daun-daun tanaman hias di halaman Kabupaten. Seorang perempuan muda berjalan dan melintas di hadapan Karman. Alisnya, matanya, sangat mengesankan. Oh, tungkainya enak dipandang. Dan bibirnya. Bibir seperti itu gampang mengundang gairah lelaki. “Mungkin dia seorang guru sekolah,” pikir Karman yang merasa jantungnya berdebar lebih keras. “Bila guru secantik itu, setiap murid lelaki akan betah tinggal di kelas.” Oh, Karman tersenyum. Dan kaget sendiri ketika menyadari kelelakiannya ternyata masih tersisa pada dirinya.

Sedangkan dalam Di kaki Bukit Cibalak, kita bisa merasakan napas Pambudi, si tokoh utama dengan perangainya yang suka menolong namun tidak berdaya menghadapi kerasnya kekuasaan aparat desa.

Terkadang Pambudi bertanya kepada diri sendiri, mengapa ia tidak berbuat seperti Poyo, teman sejawat dalam pengelolaan lumbung desa itu. Poyo hidup dengan sejahtera bersama istri dan anak-anaknya. Rumah mereka sudah ditembok. Belum lama ini Poyo membeli sebuah sepeda motor. Pambudi tahu persis mengapa sejawatnya bisa memperoleh semua itu. Ia bekerja sama dengan Lurah, misalnya memperbesar angka susut guna memperoleh keuntungan berton-ton padi. Atau mereka bersekongkol dengan para tengkulak beras dalam menentukan harga jual padi lumbung koperasi. Dengan cara ini saja mereka akan mendapat keuntungan berpuluh ribu rupiah, karena mereka dapat mencantumkan harga penjualan semau mereka sendiri, dan dari tengkulak padi mereka mendapat semacam komisi.

Pambudi tahu, sama sekali tidak sukar berbuat demikian karena badan koperasi itu tanpa pengawasan, apalagi penelitian. Dan, kebanyakan penduduk Tanggir adalah anak cucu kaum kawula. Mereka nrimo, sangat nrimo.

Betapa piawai Tohari melukiskan suasana batin tiap karakter orang-orang dusun dalam kisahnya. Kalau kita mau membelahnya satu persatu pasti ruangan ini tak mampu menampungnya.

Akhirnya saya hanya mampu mengatakan betapa Ahmad Tohari begitu menguasai alam pikiran masyarakat bawah, wong ndeso,  yang menjadi tokoh sentral dalam tiap ceritanya.

Menulis Cerita, Butuh Kesabaran

Pekan lalu, ketika saya sedang memberi makan ikan-ikan di empang, saya teringat kata-kata seorang penulis buku pembimbingan menulis. Intinya kira-kira begini:  Kalau kita melakukan sesuatu dengan tekun, telaten dan terus-menerus pasti akan membuahkan hasil yang sempurna.

Menulis butuh kesabaran. Butuh waktu latihan mencurahkan ide dan pikiran ke atas kertas. Berkali-kali merumuskan kata merangkai kalimat. Demikian juga untuk mendapatkan ikan-ikan yang gemuk  ia harus diberi makan setiap hari bahkan setiap jam dengan makanan pilihan, menjaga air agar tetap steril. Semua perlu kita lakukan kalau kita ingin usaha kita membuahkan hasil.

Akan tetapi meski panduan cara menulis yang baik sudah ratusan kali ditulis orang, masih sedikit dari kita yang mau melakukannya. Apalagi dengan tekun dan telaten. Merawat kesinamnbungan semangat menulis memang berat. Ia membutuhkan sesuatu yang sebenarnya  sudah tertanam lama dalam kesadaran setiap manusia: bakat dan kemauan keras untuk menjadi penulis yang baik.

Ketika sedang membaca sebuah novel kadang saya  berpikir  alangkah cerdasnya si pengarang  menyusun plot cerita sehingga kita larut dalam cerita yang dibuatnya.  Itu pula yang saya rasakan ketika  membaca salah satu novel Mario Vargas Llosa : Quien Mato a Palomino Molero? (Siapa Pembunuh Palomino Molero?

Syahdan tersebutlah dua petugas kepolisian di Talara bernama Letnan Silva dan Lituma yang menyelidiki kematian seorang penerbang muda. Palomino Molero namanya. Sebuah proses kematian yang sangat mengenaskan. Pemuda itu kedapatan mati tergantung pada sebatang pohon dekat hutan. Puluhan burung gagak  nyaris mencabik-cabik tubuh pemuda itu sebelum ditemukan oleh seorang bocah lelaki dan melaporkannya  kepada Silva dan Lituma.

Dengan itu Silva dan juga Lituma memulai penyelidikannya.  Meski menurut saya, alur penyelidikan yang dilakukan sangat panjang,  berbelit dan berputar-putar sehingga hasilnya juga tak kunjung jelas tapi semua proses yang dilakukan dengan mengasyikkan, agak konyol dan absurd.

Yang menarik bagi saya bukanlah proses penyelidikan atas kematian Palomino itu yang menurut kebanyakan pembaca pasti melibatkan seorang perwira  berpangkat kolonel di Angkatan Udara. Lelaki yang tak lain adalah ayah kekasih  pemuda yang tewas itu . Yang justru memantik rasa penasaran saya adalah tingkah laku Lituma. Suasana batinnya sepanjang novel ini serta pandangan-pandangan hidupnya yang kadang-kadang terasa aneh dan konyol bagi pembaca.

Salah satu adegan yang paling melekat dalam benak saya ketika Silva si atasan dan Lituma si bawahan sedang mengintip Dona Adriana mandi di laut. Dona Adriana adalah perempuan gemuk yang sudah bersuami. Bagi Lituma Dona adalah perempuan yang memuakkan. Parasnya tidak elok, ditambah postur tubuhnya yang tidak proporsional. Tapi tidak bagi Letnan Silva. Menurutnya perempuan itu adalah bidadarinya. Impian dan fantasi-fantasi berahinya selama ini.

 “Penglihatanku pasti kurang bagus” kata Lituma sambil terus mengamati Dona melalui teropong. “Atau imajinasiku yang kurang bagus Letnan”.

“Bangsat kau!” hardik Letnan Silva sambil merampas kembali teropongnya. “Aku sebaliknya, bisa melihatnya seperti ia sedang dipajang” Letnan Silva penuh rasa kagum pada tubuh perempuan yang mereka saksikan dari balik sebongkah batu itu.

Ketika Dona mulai membuka pakainnya lapis demi lapis selalu diikuti dengan gumam kekaguman oleh Letnan Silva.

“Jangan lihat sampai habis begitu” Letnan mengomelinya sambil merampas kembali teropongnya. “Sesungguhnya babak terbaiknya baru berlangsung sekarang, waktu ia masuk air, sebab anderok itu lengket ke badannya dan jadi transparan. Ini bukan pertunjukkan buat tamtama, Lituma. Cuma untuk Letnan dan para atasannya”

Kepandaian menyusun cerita merupakan hasil olah pengalaman selama puluhan tahun. Mario Vrgas Llosa adalah salah satu yang terbaik. Tak heran jika ia diganjar nobel sastra tahun 2010.

Saya kembali memandang ikan-ikan dalam empang. Empang yang saya buat sendiri dengan susah payah. Dan  saya membayangkan memanen ikan-ikan gemuk yang saya rawat selama beberapa waktu. Tanpa henti tanpa jeda sehari jua.

illustrasi : http://writetotheend.com

Keadilan, Betapa Absurd

Marginalia Novel To Kill A Mockingbird oleh Harper Lee

Atticus Finch adalah seorang pengacara tua yang bosan dan capek. Dan sabar. Lelaki ini mencintai keadilan sampai ke tulang sum-sumnya. Keadilan katanya harus tetap tegak meski dalam situasi yang paling getir. Dan Atticus mengalaminya sendiri dengan rasa nyeri sampai ke ulu hati.

Atticus tinggal di kota kecil, Maycomb namanya, sebuah kota yang terasa sebagai puing-puing artefak masa lalu ketika rasialis masih  berkecamuk begitu kuat, ketika orang kulit putih menganggap orang hitam- orang negro bukanlah manusia sepenuhnya. Di Maycomb, Atticus lah pengacara kulit putih pertama yang melihat orang negro sebagai manusia secara utuh.

Pengadilan menunjuk duda dua anak ini menjadi pembela Tom Robinson seorang lelaki negro yang dituduh memperkosa gadis kulit putih bernama Mayella Ewel, anak Bob Ewel. Dan ini di Maycomb, yang semua warganya seperti bersekutu meluluhlantakkan kemanusiaan orang negro. Beberapa lelaki setempat berusaha menculik Tom di penjara, mungkin  untuk membunuhnya. Tapi Atticus bisa mencegah semuanya terjadi.  Atticus bersikukuh, harus ada pengadilan untuk Tom meskipun hasilnya nanti sudah bisa diduga. Tom sudah divonis bersalah sebelum disidang.

Ketika anak lelakinya, Jem bertanya dengan rasa sesal yang memuncak mengapa hukum bisa tak adil seperti itu. Atticus menjawab bahwa kondisi masyarakat dimana hukum berlaku saat itu memang demikian. Tapi Atticus tak mau putus asa.

“Dalam hukum” kata Atticus pula, “Terdapat istilah bisa disangkal, tetapi menurutku seorang terdakwa berhak mendapat bayangan keraguan. Selalu ada kemungkinan semustahil apapun bahwa dia tak bersalah”

 Keadilan. Atticus dengan kata lain ingin mengatakan setiap insan tidak boleh menuduh seseorang melakukan kejahatan sebelum divonis oleh pengadilan. Kita lebih mengenalnya dengan asas Persumption of Innocens, praduga tak bersalah. Dan bahwa keadilan harus bisa berdiri tegak dari sisi manapun kita memandangnya. Dari manapun kita berdiri. Baik oleh orang kulit putih maupun si negro.

Tom memang akhirnya disidang. Meski Atticus bisa membuktikan kalau Tom tak bersalah, tapi juri berpendapat lain. Para juri yang semuanya orang kulit putih Maycomb memutuskan lelaki itu harus menjalani hukuman matinya. (*)

Karmin, Pejuang atau Penghianat?

Marginalia atas Novel Perburuan Karya Pramoedya Ananta Toer

Hidup manusia ditakdirkan untuk mengalami kekalahan sebentar menuju kemenangan di garis akhir. Demikian kesimpulan Hardo sang tokoh utama novel Perburuan karya Pramoedya Ananta Toer yang sangat terkenal itu.

Dengan kacamata  itulah Hardo meramal dengan tepat nasib Nippon yang sedang berkuasa di  Indonesia saat itu. Bahwa suatu ketika kelak Jepang pasti akan sampai pada titik kekalahan.

Dalam novel yang  ditulis tahun 1950 dan bersetting jaman Jepang ini,  Pram dengan cerdas meramu rasa nasionaisme kebangsaan para tokohhya dalam dialog-dialog bergaya drama yang memukau. Tanpa menunjukkan secara langsung apa dan bagaimana tiap karakter menjalankan perannya, pembaca akan segera tahu dan bisa menarik kesimpulan sendiri mengenai seluk beluk dan suasana batin masing-masing tokoh dalam cerita tersebut.

Hardo umpamanya. Lelaki ini rela menjadi gelandangan, pengemis demi melihat bahwa suatu ketika nanti akan datang juga hari kemenangan yang diimpikan itu: kemerdekaan. Hanya itulah yang membuat lelaki bertanda bekas luka samurai di lengannya ini bisa bertahan dari kejaran Nippon terus-menerus. Sikapnya yang keras terhadap ayahnya sendiri bekas Wedana, juga rasa rindu pada kekasihnya Ningsih bisa ditanggungnya dengan tabah.

Di lain pihak, Karmin, kawan akrab Hardo justru  memilih menjadi Shodanco, (Komandan Peleton) Bala Tentara Dai Nippon karena pertimbangan agar bisa melindungi teman-temannya dari kejaran Jepang. Tapi apa lacur, Hardo dan kemudian seluruh rakyat sudah kadung menaruh rasa benci yang demikian besar kepadanya. Bahwa Karmin adalah seorang penghianat. Bahwa  Karminlah bersama Shodan yang dipimpinnya yang mengejar serta berusaha menangkap Hardo dan kawan-kawan seperjuangan, antara lain Dipo dan Kartiman dan berencana menyerahkan mereka semua kepada Jepang.

Tapi benarkah Karmin memang penghianat?  Lagi-lagi Pram  dengan lihai mengecoh pembacanya. Pram memutar alur pikiran kita sedemikian rupa hingga pada akhirnya kita bertanya-tanya benarkah Karmin penghianat?  Pram tidak memberi kesimpulan tapi membiarkan imajinasi kita sendiri yang bekerja lalu memutuskan bagaimana seorang Karmin hadir dalam benak pembaca.

Dengarlah kata-katanya ketika lelaki itu bertandang ke rumah Ningsih untuk memeriksa keterlibatan perempuan itu dalam pelarian Hardo.

“Alangkah sulit usahaku kali ini dalam melindungi Mas Hardo dan kawan-kawannya dalam mengoproyokan ini, mereka tak mau tahu. Ya begitulah sangkaku, mereka tak akan mau tahu bahwa aku berbuat sebagai itu”

Dan sikap Karmin  kemudian adalah  antiklimaks atas tuduhan bahwa dia seorang penghianat. Secara kesatria Karmin menyerahkan kepalanya sendiri untuk dipenggal orang banyak. Karmin dengan tegas meminta kepalanya dipenggal, tapi orang-orang akhirnya mundur atas perintah Hardo. (**)

The Animal Farm, Sebuah Novel Sebuah Satire

Beberapa hari yang lalu saya membaca sebuah buku. Tepatnya sebuah novel. Buku itu sebenarnya sudah tiga kali saya baca. Namun entah mengapa saya tak pernah bosan membacanya. Sebuah novel karya sastrawan Inggris kelahiran India: George Orwell, berjudul The Animal Farm.

Novel ini merupakan parodi atau satir kehidupan manusia beberapa abad lampau yang bercerita tentang penindasan manusia terhadap kehidupan binatang di sebuah tanah pertanian di Inggris. Pokok cerita adalah pemberontakan para binatang melawan kezaliman pemilik peternakan Manor, Tuan Jones.

Mula-mula semuanya berjalan tenang. Mereka bekerja sekuat tenaga sesuai keinginan Tuan Jones.

Semuanya berubah setelah seekor babi paling di hormati, si Mayor Tua meninggal dunia. Sebelum meninggal ia sempat menyampaikan pidato yang sangat menggungah hati yang kelak akan meruntuhkan sendi-sendi pemikiran seluruh hewan yang tinggal dalam peternakan itu.

“Kawan-kawan” teriak Mayor Tua, “Sudah jelas bahwa sumber kesengsaraan hidup kita tak lain adalah tirani manusia. Maka hanya dengan menyingkirkan manusia-lah kita bisa menikmati hasil keringat kita. Hanya dengan menyingkirkan manusia-lah kita menjadi merdeka”

Peternakan itu kemudian melakukan pemberontakan yang ternyata berhasil dengan gemilang.  Seekor babi yang agak cerdas tapi culas lantas menjadi pemimpin mereka. Dialah si Napoleon yang kelak menjadi raja yang zalim dan sewenang-wenang.

Pada mulanya kepemimpinan Napoleon mendapat sokongan yang kuat lantaran dekrtinya yang terkenal : Semua binatang sederajat. Namun dalam perjalanannya kemudian, dekrit itu terasa mengekang kebebasan Napoleon untuk menjadi tiran. Maka dengan diam-diam dekrit itu kemudian diubah sehingga berbunyi: Semua binatang sederajat, tapi beberapa lebih tinggi derajatnya dibanding yang lain”

Dengan itulah kemudian si Napoleon berkuasa hampir tanpa batas. Dengan itu pula ia membantai kawan-kawan seperjuangannya seperti  Snowball dan si Bokser, seekor kuda yang kuat, setia tapi dungu.  Dan kekejaman Napoleon akhirnya mencapai puncaknya dengan menjalin kerjasama kembali dengan manusia, makhluk yang semula dianggap sebagai musuh abadi para bianatang di peternakan itu.

Terima Kasih Gramedia

Pertengahan bulan lalu, saya mendapat informasi dari penerbit besar Indonesia PT Gramedia Pustaka Utama (GPU), Jakarta yang menyatakan bahwa naskah novel saya berjudul Sonata untuk Liana (Secercah Kisah Anak-Anak Bajo) telah dinyatakan lolos seleksi Tim Editor Fiksi  GPU. Naskah tersebut saya kirim sekitar bulan Nopember 2011 lalu. Memang lama menunggu tapi kalau semua pekerjaan kita niatkan dengan baik dan sabar maka hasilnya pun pasti akan baik.

Informasi tersebut membuat saya senang sekaligus terharu lantaran saya masih dalam kategori pemula dalam dunia penulisan novel. Apalagi  Sonata untuk Liana adalah novel pertama saya. Sebelumnya saya adalah penulis opini di media cetak lokal seperti Kendari Pos, Kendari Ekspres dan Media Sultra.

Semula saya tidak begitu yakin naskah tersebut akan lolos lantaran banyaknya komentar teman-teman penulis di media online yang menyatakan bahwa, penerbit besar seperti Gramedia sangat selektif memilih naskah yang akan mereka terbitkan. Namun saya hanya berpegang pada prinsip sederhana : Kalau kita terus belajar dan berusaha pasti bisa. Begitulah.

Lolosnya naskah novel saya tersebut membuat saya kian tertantang untuk terus menulis novel. Tanggal 30 Agustus lalu (bertepatan dengan deadline) saya juga telah mengirim naskah novel  berjudul Tapak Kaki Terakhir  pada panitia Lomba Menulis Novel Dewan Kesenian Jakarta 2012.  

Bagi kawan-kawan penulis novel pemula seperti saya  yang mungkin naskahnya pernah ditolak, janganlah berkecil hati. Teruslah  menulis dan menulis. Kenapa? Karena menulis tidak perlu membayar.  Sebelum melegenda seperti sekarang, penulis besar Pramoedya Ananta Toer saja puluhan kali tulisannya ditolak oleh penerbit.

Sekarang banyak penulis, terutama pemula yang menerbitkan novelnya sendiri. Istilahnya Self Publishing. Saya salut dengan usaha-usaha mereka. Namun saya tidak tertarik dengan cara demikian. Alasaannya sederhana : tidak ada yang akan mengoreksi, menilai dan memberi masukan terhadap naskah kita.  Sementara penerbit-penerbit besar, mereka sudah memiliki standar baku  mengenai naskah yang bagus atau yang jelek.

Terima kasih  pada Gramedia yang telah memberi saya motivasi untuk tetap menulis novel.

Sebuah Roman Sebuah Penyelaman Batin

Pergesekan Feodalisme dan Rasionalitas yang Tragis

Sebuah tradisi bagaimanapun pada suatu ketika akan menghadapi benturan zaman yang pedih. Pada saat rasionalitas alias akal sehat berkuasa atas pikiran,  segala soal akan disederhanakan menjadi kategori-kategori yang harus bisa diterima akal sehat itu.

Perbenturan  antara feodalisme dengan akal sehat itu sangat kentara dalam roman tetralogi pertama Pramoedya Ananta Toer : Bumi Manusia.

Pergeseran seperti itu, memang tak bisa dihindari. Zaman menginginkan perubahan. Orang resah dan mencari jawab. Dan modernitas dengan anasir rasionalitas pun jadi pegangan bagi sebagian orang.

Minke, sang tokoh utama Bumi Manusia memang adalah pribumi tulen. Tetapi seluruh tindak-tanduk, daya pikir dan imajinasinya adalah adalah eropa seutuhnya. Eropa yang menjunjung tinggi bekerjanya akal sehat dalam anomali pikiran itu, sungguh mengguncangkan jiwanya.

Kita lihat misalnya adegan pertemuan Minke dengan sang ayah yang tak lain adalah pejabat feodal pribumi. Di sini Minke menghadap  bersujud sembari merangkak-rangkak. Sebuah tradisi yang menurut Minke menghina martabat manusia dengan merendahkan diri serendah-rendahnya dengan tanah. Budaya apa ini? Saya bersumpah anak cucuku tak kurelakan melakukan ini, begitu batin Minke.

Sebuah adegan sentimentil yang tragis. Perbenturan dunia tradisional feodal dan modernitas akal sehat. Di sinilah Pramoedya menunjukkan bahwa tak ada perlunya mempertahankan tradisi yang menghambakan diri di hadapan orang lain. Termasuk kepada pihak kolonial.

Roman ini oleh karena itu mengajak kita melakukan penyelaman batin ke dalam sanubari kita sendiri sejauh mana dan bagaimana kita melihat anasir feodal tradisional dengan modernitas yang menjunjung tinggi rasionalitas itu.