Si Nyentrik dari Macondo: Jose Arcadio Buendia

Mengenang Gabriel Garcia Marquez ( 1928- 17 April 2014)
Membaca kembali novel Seratus Tahun Kesunyian rasanya selalu mengasyikkan dan tak pernah membuat saya bosan. Entah kenapa saya selalu saja tergelitik oleh paragraph pembuka novel Gabriel Garcia Marquez ini:
“Bertahun-tahun kemudian, saat menghadapi regu tembak. Kolonel Aureliano Buendia mencoba mengenang suatu senja yang jauh ketika ayahnya mengajaknya untuk melihat es”.
Saya belum pernah membaca pembukaan novel yang begitu memukau seperti ini. Dan Marquez tentu tak berhenti di situ. Kalimat-kalimat selanjutnya membuat imajinasi pembaca bergerak ke Macondo, negeri khayalan yang dibangun dengan apik oleh pengarang pemenang nobel sastra 1982 ini:
“Saat itu Macondo adalah desa yang terdiri dari dua puluh rumah terbuat dari batu bata mentah, dibangun di tepi sungai yang airnya jernih; yang mengalir melewati batu-batu yang mengilat, putih, dan besar seperti telur-telur dari zaman prasejarah. Dunia tampak baru sehingga banyak benda belum mempunyai nama dan untuk menyatakan benda-benda itu, kita harus menunjuknya”
Dan sayapun membayangkan bagaimana sosok Jose Arcadio Buendia, pendiri kampong pedalaman itu. Profilnya hadir dengan utuh, termasuk pemikiran-pemikirannya yang tentu saja dianggap aneh oleh orang-orang di sana.
Jose Arcadio adalah sosok yang komplit. Dalam tubuhnya mengalir semacam darah filosof sekaligus teknokrat dan penggila ilmu pengetahuan. Dia terpukau oleh apa saja yang bersifat baru meski masih belum jelas apa kiranya manfaat benda tersebut baginya. Dan rasa sukanya itu ditunjukkan dengan militansi yang tinggi. Bahkan sangat tinggi.
Syahdan di Macondo datanglah sekelompok gipsi dipimpin oleh Malquiades dengan membawa macam-macam perkakas yang belum pernah disaksikan di desa itu : besi magnet, teropong dan kaca pembesar. Oleh penduduk Macondo benda-benda itu dinamai besi ajaib tapi oleh Malquiades disebut sebagai “keajaiban ke delapan dari para alkemis di Macedonia”
Melihat benda-benda aneh itu, tak ayal Jose Arcadio Buendia terperangah. Ia tak habis-habis dirundung rasa kagum. Dan dengan itu ia mulai terobsesi pada mimpi-mimpinya akan kemajuan peradaban. Dia pun sampai pada kesadaran betapa terkungkungnya kehidupannya selama di Macondo itu. Setahap demi setahap hartanya, juga harta istrinya mulai berpindah ke tangan kelompok gipsi yang dating berkunjung. Jose merelakandua kambing kesayangan Ursula Iguaran, istrinya untuk ditukar dengan besi magnet atau teropong, (benda-benda baru yang sangat dikaguminya itu).
“Jose Arcadio Buendia, yang imajinasi liarnya selalu melampaui batas-batas alamiah, bahkan melampaui mukjizat dan sihir, berpendapat bahwa adalah mungkin memanfaatkan penemuan yang tampaknya tak berguna itu untuk menarik emas dari perut bumi
Demikianlah, Jose Arcadio Buendia benar-benar terobsesi pada barang-barang yang dibawa Malquiades. Istrinya Ursula hanya mengelus dada menyaksikan semua “kegilaan” suaminya itu. Ia tak mampu membendung hasrat Suaminya yang begitu terbakar oleh fantasi-fantasi liarnya sendiri.
Jose Arcadio oleh karena itu saya anggap sebagai sikap seorang filsuf yang selalu mempertanyakan kehidupan. Ini berbeda dengan istrinya yang melihat hidup sebagaimana tampaknya. Keduanya tak pernah cocok, atau katakanlah tidak bisa saling terhubung sesuai tanggung jawab masing-masing. Tapi hubungan perkawinan Jose dan Ursula sudah terpatri demikian kuat karena keduanya masih bersepupu sebagaimana kalimat Marquez
“Itulah sebab-nya, tiap kali Ursula dicobai gagasan gila suaminya, ia akan kembali pada nasib tiga ratus tahun lalu dan mengutuk hari ketika Sir Francis Drake menyerang Riohacha. Ini hanya cara sederhana untuk sedikit menghibur dirinya sendiri karena sebenarnya mereka disatukan sampai mati oleh satu ikatan yang lebih kukuh daripada cinta; kesadaran menyakitkan yang sama “
Barangkali saya tak perlu mengulas isi novel ini sampai tuntas karena jelas tak akan muat di ruangan ini. Saya hanya tergugah pada gaya eksentrik Jose Arcadio,  ayah Aureliano Buendia.
Dulu ketika pertama membaca novel ini, saya agak bingung mengikuti plotnya. Maju-mundur dan terkadang melompat ke sana kemari. Setelah membaca lebih dari dua kali barulah saya mulai memahami jalan cerita dan plot yang dibentuk Marquez. Dia tidak menggunakan plot yang lazim baik alur maju ataupun mundur. Dia menggunakan kedua-duanya dengan konsekuen.
Paragraf pembuka di atas contohnya, ketika Auriliano Buendia, anak Jose Arcadio akan menghadapi regu tembak merupakan plot maju puluhan tahun ke depan. Lalu mundur lagi ke belakang dengan kehidupan si anak ketika masih kecil di Macondo.
Demikianlah sisi unik kehidupan Jose Arcadio Buendia, si nyentrik dari Macondo.

Karmin, Pejuang atau Penghianat?

Marginalia atas Novel Perburuan Karya Pramoedya Ananta Toer

Hidup manusia ditakdirkan untuk mengalami kekalahan sebentar menuju kemenangan di garis akhir. Demikian kesimpulan Hardo sang tokoh utama novel Perburuan karya Pramoedya Ananta Toer yang sangat terkenal itu.

Dengan kacamata  itulah Hardo meramal dengan tepat nasib Nippon yang sedang berkuasa di  Indonesia saat itu. Bahwa suatu ketika kelak Jepang pasti akan sampai pada titik kekalahan.

Dalam novel yang  ditulis tahun 1950 dan bersetting jaman Jepang ini,  Pram dengan cerdas meramu rasa nasionaisme kebangsaan para tokohhya dalam dialog-dialog bergaya drama yang memukau. Tanpa menunjukkan secara langsung apa dan bagaimana tiap karakter menjalankan perannya, pembaca akan segera tahu dan bisa menarik kesimpulan sendiri mengenai seluk beluk dan suasana batin masing-masing tokoh dalam cerita tersebut.

Hardo umpamanya. Lelaki ini rela menjadi gelandangan, pengemis demi melihat bahwa suatu ketika nanti akan datang juga hari kemenangan yang diimpikan itu: kemerdekaan. Hanya itulah yang membuat lelaki bertanda bekas luka samurai di lengannya ini bisa bertahan dari kejaran Nippon terus-menerus. Sikapnya yang keras terhadap ayahnya sendiri bekas Wedana, juga rasa rindu pada kekasihnya Ningsih bisa ditanggungnya dengan tabah.

Di lain pihak, Karmin, kawan akrab Hardo justru  memilih menjadi Shodanco, (Komandan Peleton) Bala Tentara Dai Nippon karena pertimbangan agar bisa melindungi teman-temannya dari kejaran Jepang. Tapi apa lacur, Hardo dan kemudian seluruh rakyat sudah kadung menaruh rasa benci yang demikian besar kepadanya. Bahwa Karmin adalah seorang penghianat. Bahwa  Karminlah bersama Shodan yang dipimpinnya yang mengejar serta berusaha menangkap Hardo dan kawan-kawan seperjuangan, antara lain Dipo dan Kartiman dan berencana menyerahkan mereka semua kepada Jepang.

Tapi benarkah Karmin memang penghianat?  Lagi-lagi Pram  dengan lihai mengecoh pembacanya. Pram memutar alur pikiran kita sedemikian rupa hingga pada akhirnya kita bertanya-tanya benarkah Karmin penghianat?  Pram tidak memberi kesimpulan tapi membiarkan imajinasi kita sendiri yang bekerja lalu memutuskan bagaimana seorang Karmin hadir dalam benak pembaca.

Dengarlah kata-katanya ketika lelaki itu bertandang ke rumah Ningsih untuk memeriksa keterlibatan perempuan itu dalam pelarian Hardo.

“Alangkah sulit usahaku kali ini dalam melindungi Mas Hardo dan kawan-kawannya dalam mengoproyokan ini, mereka tak mau tahu. Ya begitulah sangkaku, mereka tak akan mau tahu bahwa aku berbuat sebagai itu”

Dan sikap Karmin  kemudian adalah  antiklimaks atas tuduhan bahwa dia seorang penghianat. Secara kesatria Karmin menyerahkan kepalanya sendiri untuk dipenggal orang banyak. Karmin dengan tegas meminta kepalanya dipenggal, tapi orang-orang akhirnya mundur atas perintah Hardo. (**)

The Animal Farm, Sebuah Novel Sebuah Satire

Beberapa hari yang lalu saya membaca sebuah buku. Tepatnya sebuah novel. Buku itu sebenarnya sudah tiga kali saya baca. Namun entah mengapa saya tak pernah bosan membacanya. Sebuah novel karya sastrawan Inggris kelahiran India: George Orwell, berjudul The Animal Farm.

Novel ini merupakan parodi atau satir kehidupan manusia beberapa abad lampau yang bercerita tentang penindasan manusia terhadap kehidupan binatang di sebuah tanah pertanian di Inggris. Pokok cerita adalah pemberontakan para binatang melawan kezaliman pemilik peternakan Manor, Tuan Jones.

Mula-mula semuanya berjalan tenang. Mereka bekerja sekuat tenaga sesuai keinginan Tuan Jones.

Semuanya berubah setelah seekor babi paling di hormati, si Mayor Tua meninggal dunia. Sebelum meninggal ia sempat menyampaikan pidato yang sangat menggungah hati yang kelak akan meruntuhkan sendi-sendi pemikiran seluruh hewan yang tinggal dalam peternakan itu.

“Kawan-kawan” teriak Mayor Tua, “Sudah jelas bahwa sumber kesengsaraan hidup kita tak lain adalah tirani manusia. Maka hanya dengan menyingkirkan manusia-lah kita bisa menikmati hasil keringat kita. Hanya dengan menyingkirkan manusia-lah kita menjadi merdeka”

Peternakan itu kemudian melakukan pemberontakan yang ternyata berhasil dengan gemilang.  Seekor babi yang agak cerdas tapi culas lantas menjadi pemimpin mereka. Dialah si Napoleon yang kelak menjadi raja yang zalim dan sewenang-wenang.

Pada mulanya kepemimpinan Napoleon mendapat sokongan yang kuat lantaran dekrtinya yang terkenal : Semua binatang sederajat. Namun dalam perjalanannya kemudian, dekrit itu terasa mengekang kebebasan Napoleon untuk menjadi tiran. Maka dengan diam-diam dekrit itu kemudian diubah sehingga berbunyi: Semua binatang sederajat, tapi beberapa lebih tinggi derajatnya dibanding yang lain”

Dengan itulah kemudian si Napoleon berkuasa hampir tanpa batas. Dengan itu pula ia membantai kawan-kawan seperjuangannya seperti  Snowball dan si Bokser, seekor kuda yang kuat, setia tapi dungu.  Dan kekejaman Napoleon akhirnya mencapai puncaknya dengan menjalin kerjasama kembali dengan manusia, makhluk yang semula dianggap sebagai musuh abadi para bianatang di peternakan itu.

HUT Sultra Dalam Konteks Masa Kini

Sulawesi Tenggara adalah provinsi yang unik. Daerah bergelar Bumi Anoa ini dikatakan unik lantaran wilayahnya yang terdiri dari dua jazirah besar yang terpisah yakni daratan dan kepulauan. Sejak kelahirannya 27 April 1964 atau empat puluh delapan tahun yang lalu, peta seperti ini telah terbentang begitu rupa di depan kita. Dan gambaran geografis macam itu terus melekat dalam benak khalayak masyarakatnya hingga kini.

Yang mengagumkan adalah proses percampuran identitas daratan dan kepulauan itu ternyata tidak menimbulkan pergesekan yang kasat mata. Perpaduan  yang terjadi begitu lama malah menimbulkan kuatnya rasa kebersamaan di antara anak-anak negeri Bumi Anoa. Pengaruh percampuran demikian makin jelas hingga kini.
Sekarang tak ada lagi sekat-sekat yang memisahkan antara kepentingan orang-orang daratan maupun kepulauan. Semuanya kini sama belaka. Manakala berbicara mengenai kepentingan daerah, semua identitas geografis maupun kultural akan tanggal dengan sendirinya. Meskipun masih ada yang membawa atribut primordial namun hal tersebut bukanlah dalam kerangka menjaga jarak.  Atau minimal tidak membuat kotak-kotak pemisahan yang radikal. Perkembangan zaman yang begitu cepat turut mempengaruhi hilangnya sekat-sekat maupun jarak antara daratan dan kepulauan yang ada selama ini.
Meski demikian, peran pemerintah khususnya pemerintah provinsi juga cukup besar dalam membangun rasa kepercayaan bersama sebagai anak negeri Haluoleo.  Bahwa pemerintah provinsi khususnya Gubernur beserta jajarannya memiliki komitmen tinggi untuk mempersatukan suasana batin masyarakatnya yang tersebar dalam hamparan yang begitu luas dari Larui dan Tolala di Batuputih Kolaka Utara hingga Batuatas dan Pulau Runduma  di Kecamatan Binongko Wakatobi.
Kepedulian akan rasa kebersamaan “duduk sama rendah berdiri sama tinggi” seluruh masyarakat Sulawesi Tenggara telah ditunjukkan Gubernur dalam hal pemindahan pelaksanaan acara HUT Sultra ke kabupaten dan kota secara bergiliran. Kota Kendari sebagai “langganan” lokus acara kini berpindah ke daerah beserta segala akibat yang mengikutinya.
Sebagai seorang egalitarian sejati, Nur Alam tentu telah merasakan apa yang selama ini tersembunyi dalam benak sanubari masyarakat daerah yang berada nun jauh dari ibukota provinsi. Sebuah perasaan yang meminta pengakuan akan eksistensi masyarakat kabupaten dan kota yang selama ini tidak atau belum mendapat kesempatan seperti yang diperoleh Kota Kendari sebagai ibukota provinsi. Memberi peluang dan kesempatan yang sama bagi daerah untuk menggelar kegiatan level provinsi merupakan cerminan sikap egaliter seorang Nur Alam. Sebuah sikap yang menjunjung tinggi persamaan hak dan kesempatan bagi semua pihak.
Dalam kerangka seperti itulah kita harus membaca dan memahami jalan berpikir Gubernur Sulawesi Tenggara Nur Alam yang menggilir pelaksanaan HUT Sultra di kabupaten dan kota.  Hal ini tentu dimaksudkan  untuk memperkuat rasa solidaritas bersama sebagai warga Provinsi Sulawesi Tenggara yang begitu luas cakupan wilayahnya dan begitu banyak ragam suku dan budayanya.  Selain itu, ide untuk megggelar Hari Ulang tahun (HUT) Sultra secara bergilir di kabupaten/kota mengandung beberapa nilai strategis
Pertama, dengan menggilir HUT Sultra seperti ini, semua kabupatendan kota di Sulawesi Tenggara memiliki kesempatan dan kedudukan yang sama dengan Kota Kendari sebagai ibukota provinsi.  Hal ini sekaligus menghapus  hegemoni Kota Kendari  sebagai tuan rumah hampir semua perhelatan kegiatan berskala massif baik tingkat provinsi maupun tingkat nasional.  Dengan begitu image bahwa pemerintah provinsi terlalu Kendarisentris juga akan lenyap dengan sendirinya.
Kedua, melalui HUT Sultra yang dilakukan bergiliran semacam “arisan” seperti itu, daerah akan merasa bahwa kabupaten dan kota juga adalah bagian dari Provinsi Sulawesi Tenggara. Mereka juga adalah anak-anak kandung Bumi Anoa yang sah. Dalam kaitan ini sangatlah tepat ungkapan yang sering disitir gubernur bahwa provinsi adalah provinsinya kabupaten dan kabupaten adalah kabupatennya provinsi.
Ketiga, melalui HUT Sultra di daerah  akan merangsang tumbuh kembangnya perekonomian masyarakat setempat.  Pelaksanaan HUT Sultra di Baubau tahun lalu membawa dampak yang sangat besar yakni menggeliatnya perekonomian lokal. Warung-warung makan kewalahan menerima pesanan. Jalan-jalan yang sebelumnya berlubang langsung ditambal dan dipoles. Hotel, losmen dan penginapan juga tidak mampu menampung jumlah tamu. Banyak rumah penduduk yang kemudian disulap menjadi losmen sementara. Dan itu semua tentu merupakan berkah bagi masyarakat setempat.
Memang ada sinyalemen beberapa kalangan yang menilai bahwa pelaksanaan HUT Sultra di kabupaten dan kota merupakan pemborosan anggaran. Sinyalemen seperti itu tentu sah-sah saja. Akan tetapi jika kita kaji secara mendalam, akan timbul beberapa pertanyaan: Bukankah kegiatan ini dilaksanakan masih dalam lingkup Sulawesi Tenggara? Tidakkah semua dana yang terserap dalam kegiatan itu tetap berputar dalam daerah itu juga? Lalu siapakah yang diuntungkan? Bukankah masyarakat kabupaten juga yang dapat manfaatnya?  Pendek kata, semua dana yang dibawa dari provinsi terserap di kabupaten.
Sebuah kegiatan dapat dikategorikan sebagai pemborosan apabila kegiatan dimaksud tidak mendatangkan manfaat dan nilai tambah sama sekali bagi masyarakat. Contoh paling jelas dalam persoalan ini adalah perjalanan dinas para pejabat ke luar daerah bahkan ke luar negeri. Barangkali ini lebih jelas merupakan pemborosan dibanding manfaatnya bagi masyarakat.
Melalui HUT Sultra kali ini, sudah selayaknya kalau dijadikan sebagai momen evaluasi diri semdiri, khususnya mengenai capaian kinerja yang telah dilakukan maupun peluang dan tantangan yang akan dihadapi di masa datang.
Patut pula dicatat bahwa pelaksanaan kegiatan HUT Sultra dalam konteks zaman sekarang dapat diartikulasikan sebagai sebuah momen penting untuk membangun kesadaran bersama akan pentingnya koordinasi, integrasi dan sinkronisasi antara kabupaten dengan provinsi yang selama ini terkesan dicederai oleh syahwat dan eforia otonomi daerah yang sering ditafsirkan berlebihan oleh kabupaten dan kota. Mengutip ungkapan yang pernah dilontarkan gubernur bahwa otonomi daerah masa kini telah kebablasan. Oleh karena itu, otonomi daerah harus dikembalikan pada relnya semula agar tidak terlalu jauh menyimpang dari  makna otonomi yang sesungguhnya.
Ke depan, diharapkan pemerintah kabupaten dan kota dapat terus seirama dalam mengayun langkah pembangunan menuju kesejahteraan masyarakat Sulawesi Tenggara sesuai kewenangan dan tanggungjawabnya masing-masing.
Akhirnya selamat ulang tahun ke 48 Provinsi Sulawesi Tenggara.

(Tulisan ini telah diterbitkan Harian Media Sultra pada Senin 23 April 2012)

Sebuah Roman Sebuah Penyelaman Batin

Pergesekan Feodalisme dan Rasionalitas yang Tragis

Sebuah tradisi bagaimanapun pada suatu ketika akan menghadapi benturan zaman yang pedih. Pada saat rasionalitas alias akal sehat berkuasa atas pikiran,  segala soal akan disederhanakan menjadi kategori-kategori yang harus bisa diterima akal sehat itu.

Perbenturan  antara feodalisme dengan akal sehat itu sangat kentara dalam roman tetralogi pertama Pramoedya Ananta Toer : Bumi Manusia.

Pergeseran seperti itu, memang tak bisa dihindari. Zaman menginginkan perubahan. Orang resah dan mencari jawab. Dan modernitas dengan anasir rasionalitas pun jadi pegangan bagi sebagian orang.

Minke, sang tokoh utama Bumi Manusia memang adalah pribumi tulen. Tetapi seluruh tindak-tanduk, daya pikir dan imajinasinya adalah adalah eropa seutuhnya. Eropa yang menjunjung tinggi bekerjanya akal sehat dalam anomali pikiran itu, sungguh mengguncangkan jiwanya.

Kita lihat misalnya adegan pertemuan Minke dengan sang ayah yang tak lain adalah pejabat feodal pribumi. Di sini Minke menghadap  bersujud sembari merangkak-rangkak. Sebuah tradisi yang menurut Minke menghina martabat manusia dengan merendahkan diri serendah-rendahnya dengan tanah. Budaya apa ini? Saya bersumpah anak cucuku tak kurelakan melakukan ini, begitu batin Minke.

Sebuah adegan sentimentil yang tragis. Perbenturan dunia tradisional feodal dan modernitas akal sehat. Di sinilah Pramoedya menunjukkan bahwa tak ada perlunya mempertahankan tradisi yang menghambakan diri di hadapan orang lain. Termasuk kepada pihak kolonial.

Roman ini oleh karena itu mengajak kita melakukan penyelaman batin ke dalam sanubari kita sendiri sejauh mana dan bagaimana kita melihat anasir feodal tradisional dengan modernitas yang menjunjung tinggi rasionalitas itu.

Benarkah Kita Butuh Pahlawan ?

(Renungan Menjelang Peringatan Kemerdekaan RI)

Apa yang terlintas dalam benak anda ketika mendengar kata pahlawan? Diucapkan secara special menjelang Agustusan seperti sekarang, kata pahlawan mungkin punya makna yang beragam bagi semua orang. Murid-murid Sekolag Dasar dulu membayangkan pahlawan sebagai orang-orang yang telah berjuang membela negara dalam peperangan melawan pihak asing. Dan definisi pahlawan seperti itu masih dianut banyak orang hingga kini.

Setiap peringatan Agustusan, lorong-lorong, gang-gang dipenuhi dengan graffiti dan gapura yang tampak heroik. Bahkan kadang sedikit sarkastis : pria gondrong bertelanjang dada dan bambu runcing yang penuh darah dengan tinju yang mengepal ke langit. Mungkin begitulah arti pahlawan bagi sebagian orang (khususnya bagi mereka yang memajang gapura seperti itu)

Asumsi bahwa pahlawan seperti gambaran di atas sungguh naïf lantaran sempitnya pemaknaan kata itu. Erosi makna kata pahlawan adalah doktrin atau produk suatu zaman yang telah begitu rupa melakukan reduksi makna kata pahlawan ini. Pemerintah masa lalu berusaha sekuat tenaga agar masyarakat memaknai pahlawan hanya sebatas pejuang perang melawan penjajah saja. Titik.

Maka berbarislah nama-nama seperti Hasanuddin, Pattimura, Gajah Mada, Imam Bonjol. Padahal mereka ini berjuang ketika Indonesia belum lagi ada. Untuk siapa sebenarnya Gajah Mada berjuang? Untuk Indonesia?  Nonsens saudara.

Lantas di mana posisi pahlawan sekarang, ketika perang fisik telah usai dan negeri telah damai? Atau masihkah kita perlu perlu sosok pahlawan? Jangan-jangan kita memang tidak butuh pahlawan. Yang kita butuh adalah tindakan-tindakan kepahlawanan di zaman yang carut marut ini, seperti ramalan Ronggowarsito dalam Zaman Edan.

Wallahu Alam Bissawab (**)

Jangan Main Pokrol Bambu

Masyarakat Sulawesi Tenggara khususnya para elit-elit politiknya kini sedang menderita gejala demam. Suhu tinggi dan sering mengigau, ngomong sembarangan tentang kinerja pemerintahan di daerahnya..

Meski cuma gumaman atau tepatnya bualan saat tidur, namun media ternyata merekamnya, menulisnya menjadi santapan pagi penduduk setempat. Orang heboh dan koran pun laku bak kacang goreng.

Maka ramailah edar cerita dari mulut ke mulut mengenai permufakatan tiga tokoh untuk menyatukan kekuatan melawan tokoh lainnya yang sedang duduk di singgasana pemerintahan daerah.

Adapun masyarakat yang juga ikut-ikutan mendengar cerita itu- cerita tentang tiga tokoh melawan satu tokoh-itu bingung bukan buatan. Loh ini apalagi? Ini sebenarnya siapa lawan siapa? siapa membela siapa?

Ada yang bilang katanya pemimpin sekarang tidak berbuat apa-apa. Hanya diam-diam saja. Ada juga yang menagih janji kesejahteraan rakyat di Bumi Anoa. Kritik ini. Kritik itu dan sebagainya dan seterusnya.

Padahal dulu waktu keadaan begitu rupa, saat beberapa tokoh lainnya itu masih berkuasa mereka juga hanya sibuk dengan dirinya sendiri dan abai akan kondisi rakyat kebanyakan. Tidak sedikitpun terlintas dalam benak mereka bahwa perseteruan seperti itu hanya akan membuat masyarakat terkotak-kotak.

Lagi pula perseteruan sepertinya hanya berpusing-pusing pada mereka mereka ini saja. Tentang siapa lawan siapa. Dan bagaimana caranya. Siapa memanfaatkan siapa. Sejak dulu sepertinya hanya mereka saja pemain di lapangan. Sedangkan rakyat hanya jadi penonton. Penonton yang bingung akan kemana haluan daerah ini kelak berlayar?

Kita harusnya sadar sesadar sadarnya bahwa mengkritik orang lain itu mudah saja. Namun marilah kita introspeksi diri apakah dulu waktu kita berkuasa juga telah melakukan hal yang bermanfaat bagi masyarakat? Inilah initinya. Jangan hanya pandai melihat kelemahan orang lain tanpa mau berkaca akan kelakukan sendiri. Ya kelakukan kita saat masih memegang tampuk kekuasaan.

Banyak dari kita hanya pandai bicara, tepatnya membual tentang kekurangan orang lain. Pandai retorika dan berlaku seperti pokrol bambu di zaman Soekarno. Ya pokrol bambu. Sebuah ejekan sinis terhadap ahli pidato hukum yang berlagak seakan akan membela rakyat kecil padahal tidak.

Dan demam pun kian meninggi bersamaan dengan masuknya perseteruan itu pada garis demarkasi hukum. Beberapa pejabat daerah tersangkut kasus hukum secara aneh dan tiba-tiba. Mau tak mau orang lantas menghubung-hubungkan hal itu menjadi satu rangkaian kejadian yang mutatis mutandis alias memiiki kaitan sebab akibat.

Hendaknya kita jangan main pokrol bambu kepada rakyat karena efeknya akan sangat berbahaya.

PSSI. . . Akhirnya. . . .

Sterilisasi Kepentingan Perlu Dijaga

Sebuah paguyuban, sebuah kelompok kekerabatan pada akhirnya tak bisa hanya berbicara pada dirinya sendiri. Ia harus bersipogang dengan kerumunan di luar dirinya. Sebuah kerumunan bernama rakyat. Nun di sanalah kelak akan digantang, ditakar sejauhmana ia bisa berbicara pada orang lain tanpa reserve.

Paguyuban itu bernama PSSI, memang mirip kelompok kekerabatan (mengingat komposisi organisasi ini di masa lalu). Sebuah kelompok kerja yang sejak dulu tak pernah steril dari virus politik. Syukurlah organisasi ini akhirnya lepas dari kendali puaknya. Sebuah kendali yang sarat dengan beragam kepentingan, termasuk politik. Baru saja kita saksikan- dengan ketegangan yang mulai kendur-tentang terkikisnya aroma politik dalam pemilihan ketua umum persatuan tersebut.

Terus terang kalau kita mau sedikit jujur, kongres luar biasa PSSI di Solo kali ini sebenarnya juga tak lepas dari aroma politik persaingan. Tentang siapa yang akan jadi ketua dan mewakili kepentingan siapa dia gerangan.

Tekanan FIFA lah yang membuat  keder sejumlah tokoh yang berambisi jadi ketua. Mereka agak  sedikit mengendur. Mungkin mereka ini berfikir terlalu riskan kalau bermain sekarang lantaran nama mereka telah di blacklist dan takut PSSI benar-benar kena sanksi dari organisasi pemersatu bola sejagat itu.

Meski begitu, kita juga patut bersyukur atas suksesnya kongres Solo ini. Pengurus sudah terpilih dengan komposisi yang sedikit bersih dari aroma permainan kepentingan sejumlah pihak.

Ketua Umum baru Djohar Arifin Husin sebagaimana diakuinya sendiri, bahwa kerjanya ke depan sangat berat. Mulai dari membenahi organisasi yang mirip kapal pecah hingga memperjuangkan kembali harkat dan martabat sepak bola kita yang belakangan sedang naik suhunya.

Ya… rakyat sebenarnya tidak terlalu peduli siapa ketua PSSI. Yang mereka inginkan adalah bagaimana organisasi ini bisa menjadi katalisator kebangkitan sepak bola kita yang hingga kini masih belum beranjak jauh.(**)

Agar Kita Tak Hilang Dari Sejarah

Pram dan Dunianya, Menulis untuk Keabadian

Sebaris kalimat saya  temukan dalam sebuah buku berformat Pdf di google. Bunyinya begini

“Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian”.

Kalimat itu diucapkan oleh Pramoedya Ananta Toer, sastrawan terkemuka Indonesia yang sangat fenomenal itu. Pramoedya menulisnya  saat berada di pembuangan tahanan politik di Pulau Buru.

Kita tahu alangkah tepatnya kalimat itu. Menulis adalah bekerja untuk keabadian. Pram dan kita semua suatu saat akan tinggal kenangan.  Agar kenangan bisa bernafas panjang  dan awet tentu harus dibingkai oleh sebuah pigura  yang tidak mudah hilang jejaknya dalam sejarah manusia.

Sokrates ahli filsafat Yunani yang mirip gelandangan sinting itu namanya abadi hingga kini. Padahal tidak satupun buah pikirannya dituangkannya sendiri melalui tulisan atau buku.  Sokrates tidak menulis. Dalam hal ini Sokrates barangkali harus berterima kasih pada muridnya Plato. Platolah yang menulis seluruh isi kepala Sokrates hingga  sang guru ditasbihkan sebagai bapak filsafat barat pertama.

Menulis.

Kata yang sederhana sebenarnya. Namun tidak mudah melakukannya. Arswendo Atmowiloto pernah mengatakan bahwa  menulis sebenarnya tidak sulit tapi sangat sulit. Tapi siapa yang mau percaya Arswendo? Siapa pula yang mau percaya kalau menulis adalah satu satunya cara untuk dikenang sejarah.

Pramoedya barangkali memang sedikit sarkasme. Tapi bagaimanapun adalah hak dia untuk melihat sisi lain dengan kacamatanya sendiri bahwa menulis memang kerja untuk keabadian. Meksi agak sedikit subyektif lantaran Pram mungkin menganggap kalau menulis adalah satu-satunya cara.

Tapi apapun dalilnya, suara Pram memang begitulah adanya . Menulis adalah hidup mati Pram. Itulah dunianya.  Tentu tak salah bila untuk membuat nama dikenang sejarah salah satu caranya adalah dengan menulis.

Pram, kita semua, rakyat.. hanya akan dikenang jika ada yang memang betul-betul layak untuk dikenang. Dan salah satunya melalui kalimat yang pernah kita goreskan pada secarik kertas. Suatu ketika goresan itu mungkin akan menjadi lentera yang akan memandu orang lain saat meniti jalan kehidupan.

Begitulah…