cerpen

Saksi Bisu
Sebuah Cerita Pendek
Arsyad Salam
( Kendari Pos 15 Maret 2015)

Untitled
Kadang saya ingin sekali bercerita kepada kalian. Atau sekali tempo ada pula keinginan untuk menuliskan semua yang telah saya saksikan. Banyak kisah menarik yang bisa saya ceritakan. Atau paling tidak membuat semacam reportase tentang sebuah peristiwa yang saya saksikan sendiri. Bahkan bisa dibilang ikut terlibat dalam peristiwa tersebut. Salah satunya adalah ini.

Petang itu, ketika gerimis masih membayang, saya melihat seorang lelaki dan seorang perempuan sama-sama turun dari taksi di jalan besar tak jauh dari Mall Rabam Kadia. Keduanya melangkah agak terburu-buru masuk ke Jalan Mekar, dengan bergandengan tangan. Sampai di depan sebuah gang, mereka berhenti sebentar meneliti keadaan sekitar seperti hendak menanyakan sesuatu

Keduanya lantas menepi di depan kios rokok Pak Damhuri, majikan saya yang petang itu sedang menjagai warungnya. Yang lelaki berbicara dengan Pak Damhuri hampir seperti berbisik. Rupanya mereka sedang mencari sebuah alamat. Pak Damhuri tampak mengangguk-anggukan kepalanya dan menunjukkan alamat yang dicari dua orang itu, sekaligus menawarkan jasa mengantar mereka ke sana. Ke sebuah losmen yang terletak di dalam gang. Dan kesepakatan tercapai.

Akhirnya, tanpa bisa menolak, saya pun mengantar mereka ke losmen dimaksud. Sesekali si lelaki tampak berbisik pada perempuan itu. Saya taksir umur perempuan itu sekitar tiga puluhan. Paling tinggi tiga puluh lima. Sedang yang lelaki saya kira umurnya sekitar empat puluh lebih. Sambil berjalan keduanya tetap bergandengan, bahkan sesekali saling merangkul. Mesra sekali. Rinai yang turun petang itu semakin menambah kemesraan mereka. Lelaki itu kembali membisiki perempuan itu seakan sedang memberitahu sebuah rahasia.

Saya amati kedua orang itu dengan lebih cermat. Sepertinya baru sekali itu mereka ke tempat ini karena saya belum pernah melihat mereka sebelumnya. Baik lelaki maupun si perempuan tidak menyadari kalau semua pembicaraan mereka saya dengar, sekalipun mereka hanya saling berbisik. Dan saya juga tahu apa tujuan mereka ke sini.
Sekali lagi saya amati lelaki itu. Sosoknya mengingatkan saya pada Darsun, makelar tanah yang rumahnya tak jauh dari rumah Pak Damhuri. Sepintas, wajahnya mirip aktor Indonesia tahun 70-an yang sudah lama mati. Saya lupa siapa namanya tapi filmnya saya masih ingat: Rajawali Sakti.

“Kita harus lekas pulang ya Mas” terdengar suara perempuan itu. Pelan sekali. Si lelaki, entah Mas siapa namanya hanya menoleh sekilas. Tersenyum.“Kenapa mesti buru-buru sih? Masih sore juga” “Sudah ah, pokoknya kita harus cepat keluar, suamiku nanti curiga, tadi saya bilangnya cuma sebentar” Hah? Suaminya? Jadi yang bersamanya itu bukan suaminya?
Saya yakin pasti anda akan bertanya seperti itu. Tapi saya tidak, karena saya sudah tahu, selama dua tahun kerja di sini, saya belum pernah mengantar pasangan suami istri. Paling-paling pacar. Atau perempuan-perempuan muda yang mereka boyong entah dari mana.
“Waktu keluar tadi kamu bilang apa pada si uban?” yang lelaki bertanya. Seperti menyelidik.
“Ke Lippo Plaza, saya bilang mau pergi dengan Helen” “Helen teman sekantor kamu itu ya?”
“Benar”
“Pintar kamu” sahut si lelaki
“Kalau bukan karena Mas saya tidak berani melakukan semua ini” sambung perempuan itu pula.

Lelaki itu kembali merangkul bahu perempuan itu semacam isyarat terima kasih. Setiap kali akan keluar rumah, perempuan itu selalu memperbaharui alasannya. Ia merasa kalau si uban, suaminya, sudah mulai curiga makanya kali ini ia mengarang alasan yang lain lagi.

Tak lama kemudian keduanya berhenti di depan sebuah rumah tembok. Itulah losmen yang mereka tuju: sebuah losmen tua dengan cat tembok warna krem yang sudah mengelupas di sana-sini.

Di depan pintu mereka disambut seorang lelaki ceking memaki singlet, Bonar namanya. Sekujur badannya penuh tato. Mungkin ia sengaja merajah tubuhnya untuk menakut-nakuti orang yang datang ke situ supaya tidak berani membuat keributan.

Tapi siapa pula yang berpikir hendak membuat keributan di tempat semacam ini? Losmen ini sudah lama menjadi tempat persinggahan orang-orang yang ingin menuntaskan masalah. Atau lebih tepatnya hasrat. Dan lebih rinci lagi hasrat biologis atawa syahwat. Atau melepas hajat menurut istilah Bonar, lelaki bertato itu.

Tentang Bonar, kadang saya berpikir, apa perlunya di pemilik losmen mempekerjakan orang seperti dia. Losmen itu aman. Letaknya agak terpisah dari rumah-rumah penduduk lainnya. Dan terus terang semua mereka yang ke sini, biasanya sembunyi-sembunyi. Takut ketahuan. Yang mereka cari justru keamanan dan kenyamanan. Lalu untuk apa mereka akan bikin onar? Mereka toh juga tahu apa yang mereka lakukan di losmen itu kurang baik menurut anggapan umum.
Begitulah.

Senja semakin merah.
Gerimis masih juga.

Setelah berbicara sebentar dengan Bonar, keduanya masuk ke dalam kamar yang disediakan. Saya tak tahu lagi apa yang terjadi selanjutnya. Saya hanya berdiri di luar dekat pintu masuk. Selama menunggu mereka keluar, saya mengamati keadaan sekitar tempat itu.

Di teras depan, tampak satu setel kursi kayu, lengkap dengan meja bundar, tempat orang menunggu giliran kalau kamar lagi penuh. Beberapa kali saya lihat ada juga dua sampai tiga orang berbaju warna khaki, seragam khas pegawai negeri sipil yang datang ke sini dan duduk di kursi itu bersama beberapa perempuan yang mereka bawa dari luar. Biasanya mereka datang sudah dalam keadaan setengah mabuk, tertawa-tawa seakan mereka berada di negeri antah berantah.

Di tempat itu memang tidak ada perempuan. Losmen tua itu hanya menyiapkan kamar dengan tarif perjam. Untuk satu jam saya pernah lihat tarifnya seratus ribu. Tapi di sini tarif tidak pernah tetap. Menurut pemilik losmen, (tentu termasuk pemilik usaha penyewaan jasa kamar itu), tarif kamar mengikuti kecenderungan pasar, artinya tergantung harga barang di pasar. Kalau harga barang-barang naik, tarif juga ikut naik.

Saya tersentak dari lamunan ketika pandangan saya menangkap sesosok tubuh lelaki yang berjalan terburu-buru sambil menutup kepalanya dengan koran bekas. Saya menduga dia pasti akan ke sini juga. Dalam hati saya mulai bertanya-tanya. Siapa lelaki ini? Untuk apa dia ke tempat ini sendirian saja? Tapi pertanyaan itu saya tepis sendiri. Ah mungkin saja keluarga pemilik rumah ini. Siapa tahu? Atau barangkali orang ini ingin menanyakan suatu alamat. Tapi hati saya kembali membantah. Rumah ini dikelilingi tembok tinggi. Kalau mau bertanya ya di luar sana. Rumah ini adanya di gang buntu.
Saya amati baik-baik lelaki itu. Tubuhnya agak tinggi, sedikit gempal. Rambutnya sudah banyak yang beruban tapi dicukur pendek membuat ubannya tidak begitu kentara. Lelaki itu terus saja masuk, melewati saya yang berdiri, seakan dianggapnya saya tak ada di situ. Saya memasang mata dan kuping baik-baik.
“Heh kamu” katanya setengah menghardik memanggil Bonar yang sedang duduk di seberang meja tinggi macam pantry bar.
“Tadi ada perempuan ke sini?”
“Perempuan? Kenapa mencari perempuan di sini? Lagi pula saudara ini siapa?” sahut Bonar tak kalah garang.

Melihat itu, lelaki yang baru datang mengeluarkan sesuatu dari dompetnya: sebuah pas foto yang sudah kusam dan sehelai kartu berwarna kehijauan. Darah langsung menghilang dari wajah Bonar begitu melihat kartu itu. Tubuhnya yang kurus seakan semakin menciut.
“Maaf kan saya pak” katanya putus-putus. “Saya tidak tahu kalau bapak adalah anggota”
“Ini orangnya” kata lelaki itu seraya menunjukkan foto. Bonar semakin pucat. Ia bingung dan tak bisa bicara seakan bibirnya terbuat dari timah.
“Kamu tidak mau bilang? Kalau begitu biar saya periksa sendiri”

Lelaki tadi melangkah cepat dan memasuki semua kamar di losmen itu. Terdengar suara benda-benda berjatuhan, pintu didobrak paksa lalu menyusul dentuman lain. Bonar tak bisa berbuat apa-apa untuk mencegah kelaki itu.
Lalu tak lama kemudian terdengar letusan dua kali. Sumber suara kalau tak salah dari kamar paling belakang, arah timur.

“Dor! dor!” Saya tercekat. Rasa takut sekonyong-konyong menyapu wajah Bonar. Lama ia berdiri serupa patung di gerbang masuk sebuah museum. Lelaki yang masuk tadi keluar kembali. Ketika melihat Bonar yang berdiri gemetar, lelaki berambut pendek itu menatapnya tajam.
“Dengar baik-baik!” katanya dengan suara bergetar membuat Bonar hampir-hampir tak menguasai dirinya lagi.
“Ada dua mayat di kamar paling ujung sana. Kalau polisi ke sini bilang saja kamu tidak tahu. Mengerti?” Bonar mengangguk seraya memandang koridor di belakang lelaki cepak itu. Keesokan harinya, pagi-pagi sekali, Pak Damhuri, majikan saya mendesis beberapa kali ketika membaca koran Kendari Pos. Saya coba intip dari samping apa yang sedang dibacanya.

“Dua Mayat Ditemukan di Sebuah Losmen”

Kemarin petang, warga Jalan Mekar Kelurahan Kadia digemparkan oleh penemuan mayat lelaki dan perempuan dalam kamar sebuah losmen di gang buntu. Kedua mayat tersebut ditemukan dalam keadaan tanpa busana. Di tubuh keduanya ditemukan peluru. Di duga keduanya dibunuh dengan cara ditembak dari jarak dekat. Bonar yang sehari-hari bertugas menjaga losmen mengaku tak tahu menahu. “Waktu itu saya sedang tidur di kursi depan, jadi saya tidak tahu apa-apa, apalagi suara tembakan” katanya kepada petugas yang memeriksanya. Menurut lelaki kurus bertato ini, hari itu tidak ada tamu lain yang datang menyewa kamar.
Di tempat kejadian perkara polisi menyita dua barang bukti yakni sepucuk pistol dan sebuah payung warna hitam. Pistol ditemukan tergeletak di tubuh salah satu mayat. Sedangkan payung hitam tersebut ditemukan di depan pintu masuk losmen dan saat ini sudah diserahkan kepada pemiliknya, Damhuri yang tinggal tak jauh dari lokasi kejadian. Untuk sementara polisi menutup tempat itu dengan memasang garis polisi. Di duga losmen tersebut digunakan sebagai tempat prostitusi terselubung.(R2)

Pak Damhuri melepas koran yang dibacanya. Kepalanya menoleh ke samping memandang saya agak lama. Mungkin pikirannya sedang membayangkan berita itu, terutama soal barang bukti yakni payung itu, payungnya sendiri. Sebentar ia mendesah, seakan hendak membuang resah.

Sekali lagi Pak Damhuri memandang saya. Ah seandainya saya bisa bicara, saya akan mengatakan kalau saya tahu semuanya. Tentang lelaki beruban itu. Juga suara letusan. Juga foto dan cara lelaki gempal itu menghardik Bonar. Ya saya ingin menceritakan semuanya. Saya ingin menuliskan semuanya untuk kesaksian saya. Tapi ya itu tadi. Sayang sekali saya tidak bisa bicara apalagi menulis karena saya hanyalah sebuah payung warna hitam milik Pak Damhuri. **
Ambololi – Konda, 5 Juni 2014

Di Langara, Ia Berpulang                 

Sebuah Cerita Pendek

Arsyad Salam

( Kendari Pos, 22 Februari 2015 )

di langara ia berpulang (illustrasi cerpen)

Lantai dipan berderit ketika laki-laki itu menggeliat. Sebentar dipandangnya wajah anak dan istrinya yang masih lelap. Lalu ia bangkit dan melangkah hendak keluar dari kamar. Kakinya menginjak satu demi satu papan lantai rumah panggung itu dengan hati-hati sekali, takut kedengaran, seakan ia sedang melakukan sebuah kejahatan. Sampai di depan pintu kamar tidur yang tidak tertutup, kembali ia menoleh sekilas pada istri dan anaknya. Sorot matanya yang sayu seperti hendak meminta maaf kalau sepagi itu ia sudah harus berangkat menuju ke laut.

Udara pagi yang begitu dingin tiba-tiba menyergap tubuhnya. Laki-laki itu berjongkok di depan guci tanah liat warna coklat, hendak membasuh muka. Terdengar suara air tertumpah ke kolong di susul langkah pelan menuju jerampa, beranda depan.

Laki-laki itu, Tasmin namanya, meraih dayung di sudut jerampa kemudian turun dari rumah dengan meniti anak tangga. Hatinya diliputi berbagai macam pikiran yang memberati kepalanya setiap kali akan turun ke laut. Terutama sejak tiga hari belakangan ini. Bagaimana seandainya hari ini saya gagal mendapat ikan lagi seperti dua hari sebelumnya? Demikian sebuah pertanyaan melintas dalam benaknya.

Tasmin terus melamun sampai-sampai ia tak menyadari kalau tubuhnya sudah berada di atas perahu sampan. Sambil memperbaiki posisi duduknya, Tasmin masih berpikir betapa alot ia mempertahankan hidupnya. Ketika ia menarik napas sebelum menyelam atau ketika tangannya mendayung sampan. Pun ketika butir-butir keringat merembes melalui kulit perutnya, di saat-saat seperti itulah ia merasa telah mempertaruhkan hidupnya.

Setiap kali turun ke laut perasaan seperti itu selalu saja melintas dalam pikirannya. Sampai saat itu, ia tak melihat kemungkinan lain bagaimana harus mempertahankan hidup. Sebagai manusia yang dibesarkan oleh laut, Tasmin semata-mata hanya menjalani hidup seraya menyadari sepenuhnya bahwa dirinya hadir dan mewujud melalui laut dan ombak perairan Wawonii. Tepatnya di Langara.

Fajar hampir tiba. Embun perlahan menyusut bersama kabut pekat yang meringkas jarak pandang ketika Tasmin meninggalkan rumahnya. Sebuah rumah panggung yang terbuat dari kayu bulat dan beratap daun sagu. Rumah itu sengaja dibangun di atas laut, sebagaimana umumnya rumah orang-orang Bajo di mana saja. Ia meninggalkan Masnah, istrinya yang masih pulas karena semalam suntuk mengasapi ikan yang akan di jual di kota. Seringkali ketika Masnah bangun, Tasmin sudah tidak berada di rumah. Juga pagi itu.

Tasmin mendayung sampannya secara berirama. Tiap kali dayungnya menyibak air ia akan mendengar suara yang sudah sangat dikenalnya. Namun pagi itu, suara-suara itu terasa seperti detak jantungnya sendiri yang menggema bagai jeritan lirih penuh kepiluan.

Pandangannya terarah ke satu titik: Nun di sana matanya menampak sebuah rumah panggung yang mengapung di atas laut. Sebuah rumah yang selama ini dikenal sebagai keramba ikan, tetapi orang setempat lebih mengenalnya sebagai keramba ular. Konon banyak ular yang datang ke sana untuk berkembang biak. Tetapi keramba itu bukanlah tujuannya sekarang.

Pagi ini adalah hari ketiga ia mencari Dayyah Katombong atau ikan kembung. Akan tetapi sampai saat itu ia belum juga bertemu dengan kelompok ikan itu. Seakan-akan ikan tersebut sudah mendapat firasat bahwa kedatangan Tasmin hanyalah untuk membantai mereka semua.

“Mudah-mudahan sekali ini saya bertemu salah satu kelompok. Ya, satu kelompok saja rasanya cukuplah” gumamnya pada diri sendiri. Dalam hati ia berdoa agar maksudnya bisa terkabul selekasnya.

Tasmin memicingkan mata mengawasi permukaan laut yang hijau kebiru-biruan, sambil berpikir bahwa kondisi fisiknya sudah jauh berbeda dengan dulu “Mata ini rasanya sudah tak mampu lagi melihat sedalam lima depa” bisiknya lebih lanjut.

Ia meraba-raba sesuatu di bawah papan tempat duduk. Tangannya menangkap botol-botol kaca.Tepatnya dua, bekas botol kecap yang sekarang sudah berubah fungsi.Tasmin merabai botol itu dengan mesra dan hati-hati, seakan ia takut merusaknya. Ia melakukan ini sekedar memastikan kalau semuanya telah siap sesuai rencana karena pekerjaan seperti ini sudah lama tidak dilakukannya lagi.

“Ah kalau bukan karena Jannah aku sudah bersumpah tak mau lagi melakukan hal ini” keluhnya agak keras.

Sambil mendayung pelan, Tasmin teringat Jannah, anak tunggalnya. Empat hari yang lalu, Pak Hasman, guru SD Langara Bajo ke rumah menyuruhnya mendaftarkan anak itu karena umurnya sudah cukup untuk sekolah. Tasmin terkejut oleh permintaan Pak Guru Hasman yang begitu tiba-tiba. Juga ia bingung dari mana ia memperoleh uang untuk membeli seragam sekolah anaknya.

“Ayah, Jannah minta ikan cumi-cumi” kata anak itu setelah Pak Hasman turun dari rumah mereka. Waktu itu Tasmin tengah menyiapkan lampu petromaks yang akan dipakai untuk menyuluh pada malam hari.

“Kenapa harus cumi-cumi? Kenapa bukan kepiting atau ikan terbang seperti biasa?”

“Jannah mau menjualnya”

“Mau menjual cumi-cumi? Di mana?”

“Jannah mau ikut Emak ke Pelabuhan Fery, di sana banyak pembeli cumi-cumi”

“Siapa yang bilang begitu?”

“Sitti” sahut Jannah “Kemarin dia dapat uang banyak”

Waktu itulah Tasmin merasa sekujur tubuhnya dirembesi aspal panas. Sukmanya tertusuk besi tajam dan meninggalkan lubang hitam yang menganga. Ia merasa sebuah sindiran terselip dalam kata-kata anaknya. Kata-kata itu seakan menegaskan kalau dirinya bukanlah sosok ayah yang bisa diharapkan. Entahlah. Yang jelas, ucapan si anak membuat perasaan Tasmin seperti diaduk gelombang.

“Jannah” ujar Tasmin seperti membujuk. “sini, ayah beritahu sesuatu”

“Bilang sama Emak, Jannah tak perlu jual apapun. Besok ayah akan bawakan Jannah uang untuk beli baju seragam”

Sebenarnya Jannah tidak minta baju seragam. Ia hanya ingin menjual cumi-cumi karena ia senang melakukannya. Seperti Sitti, kawannya yang tiap hari ikut emaknya menjual ikan. Jannah merasa senang bisa mendapat uang dari hasil kerja sendiri. Soal baju seragam, ia sama sekali belum mengerti. Jannah tidak tahu kalau tiga hari lagi pendaftaran masuk sekolah dasar akan ditutup.

Sekali lagi Tasmin memandang Jannah dengan lebih cermat, tapi mata polos si anak memang tidak bisa ditafsirkannya secara lain, selain ingin menjual cumi-cumi. Barangkali Tasmin saja yang terlalu perasa. Mungkin karena keadaan dirinya yang demikian menderita sehingga simpul-simpul saraf perabanya menjadi lebih peka.

Tasmin terkejut membuat bayangan Jannah tiba-tiba lenyap. Sekira enam meter di depan sana, di dalam laut, ia melihat lingkaran hitam bergerak menentang haluan sampannya. Tasmin menahan napas sejenak sebelum memutuskan apa yang akan dia lakukan. Dia menyampirkan dayung ke samping perahu, pelan tanpa suara takut lingkaran hitam itu menghilang.

“Kelompok ikan kembung ukuran sedang” batinnya.

Angin darat menabrak kaos oblong kumalnya, menembus pori-pori kulitnya. Dipandangnya lingkaran yang makin mendekat itu. Sebentar kepalanya menengadah ke langit, hendak memeriksa arah angin. Ikan berkelompok biasanya mengikuti arah angin dan arus, begitulah pengalaman mengajarkan padanya.

Dayung diangkatnya sama sekali dan diletakkannya dalam sampan tanpa menimbulkan suara. Ia takut kelompok ikan kembung itu mencurigai dirinya dan apa yang akan dia lakukan terhadap mereka. Tasmin kembali meraba-raba kolong lantai tempat duduk. “Masih ada” pikirnya. Lantas dikeluarkannya botol itu dengan hati-hati seakan ia memegang nyawanya sendiri. Diamatinya botol itu sekali lagi, kali ini dengan penuh kesadaran bahwa sebentar lagi ia akan melakukan tindakan yang bertentangan dengan hati nuraninya. “Ah kalau bukan karena anakku”. Sekali lagi ia mengeluh.

Sambil merogoh saku celana mencari korek api, matanya tetap lekat pada kerumunan hitam itu, yang ukurannya kini bertambah besar. “Sekitar lima ratus ekor pasti ada” gumamnya yakin.

Tasmin menaruh botol bersumbu itu di lantai perahu di hadapannya dengan kehati-hatian yang belum surut. Pandangannya tetap terarah pada lingkaran hitam yang kini tiba-tiba diam seakan sengaja memberi peluang bagi Tasmin agar lebih mudah melakukan aksinya.

Tasmin menyalakan korek api meskipun agak susah karena angin sesekali mulai bertiup kencang. Ketika geretan menyala, tangannya segera meraih botol lantas menyulut sumbu sepanjang sepuluh senti yang menjulur keluar dari mulut botol. Matanya memandang jauh ke depan. Nun di sana ia menampak Pulau Hari, pulau yang tiada berpenghuni itu tampak kecil menghitam.

Potongan sumbu mengeluarkan percikan api dan asap, seperti percikan kembang api yang pernah dilihatnya di malam tahun baru. Lantas ia menimbang-nimbang seberapa kuat ia akan mengayunkan tangan agar botol itu jatuh tepat mengenai sasaran, di tengah-tengah lingkaran hitam. Ia sudah lupa kapan terakhir kali melakukan hal seperti ini. Dan ketika ia melihat botol melayang, serasa sukmanya ikut terbang bersama botol itu dan ia terkejut sendiri oleh perbuatannya.

Lingkaran itu bergerak melebar seperti terkejut lalu kembali utuh membiarkan botol masuk ke tengah-tengah lingkaran dan terus turun ke dalam air. Jantung Tasmin berpacu kencang. Matanya memicing tak berkedip memandang kerumunan hitam seraya menunggu hasil lemparannya.

Angin kembali berkesiur mengenai pelipisnya yang tiba-tiba terasa perih. Tasmin menghitung dalam hati, seperti orang yang bersembunyi setelah menaruh bom di suatu tempat. Satu. Dua. Tiga. Empat.

Sekonyong-konyong terdengar ledakan keras disusul dengan air laut yang terlontar ke atas, tegak, menyerupai pohon beringin yang bening serupa kristal, putih, mengilat lalu terhempas jatuh berhamburan dan kembali rata dengan permukaan laut. Tasmin membuang napas. Lega.

Secepat kilat, ia meraih dan memasang kacamata selam lalu melompat ke laut. Di bawah sana dilihatnya puluhan atau barangkali ratusan ikan kembung terbaring di atas pasir, mengilat, keperakan dalam baluran sinar matahari pagi. Tangannya menangkap beberapa ekor ikan mati yang melayang dalam air dan belum sempat menyentuh dasar. Ia memandang ke bawah, ke dasar laut berpasir putih seraya menghitung kemampuannya menyelam. Lalu ia mengeluh “Tidak mungkin saya bisa mencapai dasar dengan kedalaman seperti ini” pikirnya. Buru-buru ia naik.

Tiba di atas sampan, ia kembali mengatur napas. Rasa lelahnya kian bertambah karena harapannya mendapat banyak ikan telah sirna. Timbul penyesalan dalam dirinya lantaran lalai menghitung kedalaman.“Kenapa saya lupa memperhatikannya” sesalnya.

Dan ia kembali teringat pada Jannah, yang belum juga mendaftar sekolah karena belum ada baju seragamnya. Ingatan mengenai pendaftaran sekolah yang sebentar lagi akan ditutup membuat otaknya seperti disayat-sayat. Tasmin kembali mendesah dan entah kenapa tiba-tiba ia merasa usianya seakan bertambah beberapa tahun dalam sehari, membuat wajahnya kelihatan lebih tua dari yang sebenarnya.

Tangannya kembali meraih dayung sambil berpikir mengatur rencana berikutnya. Ia memang sengaja membawa dua botol untuk berjaga-jaga kalau botol yang pertama gagal mengenai sasaran. Dipandangnya botol terakhir yang sekarang tergeletak di depannya.

Sambil mendayung pelan Tasmin berpikir mengenai ikan-ikan kembung yang belakangan menghilang begitu saja di sekitar Perairan Langara. Meskipun sekarang ia dan nelayan Langara lainnya harus mendayung lebih jauh lagi ke Timur, tetapi tetap saja perolehan mereka tak banyak, hanya untuk sekedar makan.

Mendadak ia kembali di kejutkan oleh permukaan laut yang bergerak membentuk gelombang sangat kecil tapi intens menuju ke arahnya. Semakin lama gerakan laut semakin dekat. Sekali ini, ia tak lupa melirik ke bawah sampan memeriksa kedalaman. Ia tak mau mengulangi kesalahan yang pertama tadi. Setelah merasa yakin, diambilnya botol terakhir itu dan menyulutnya cepat-cepat. Sumbu menyala dan api terus menjalar masuk ke dalam botol.

Tiba-tiba gelombang itu menghilang, lenyap seakan tidak ada apapun di sekitar situ. Lingkaran hitam yang dia harapkan akan muncul begitu gelombang berhenti ternyata tidak ada sama sekali. Tasmin gugup. Untuk beberapa saat ia bingung tindakan apa yang mesti dilakukan. Dan ia lupa kalau saat itu, tangannya sedang menggenggam bom molotov.

Hanya beberapa detik kemudian terdengar ledakan sangat keras. Ledakan di atas perahu sampan. Sedetik Tasmin terpana dan dihinggapi kesadaran kalau dirinya telah melakukan kesalahan yang sangat fatal.

Pada saat berikutnya ia sudah bangun dalam suasana yang sama sekali berbeda, seakan ia baru saja terjaga dari tidur panjang yang melelahkan. Tiba-tiba ia mendapati dirinya sudah berada dalam sampan di bawah kolong. Tubuhnya terasa ringan ketika menapak anak tangga rumah panggungnya. Ia melihat banyak orang di sana. Dan memang benar. Sampai kakinya menapak anak tangga paling atas ia masih sempat berbisik pada dirinya sendiri, seakan ia masih kurang percaya pada apa yang dilihatnya “Untuk apa mereka berkumpul malam-malam begini?”

Hampir semua tetangga yang hadir menunjukkan ekspresi duka yang mendalam. Wajah-wajah lelaki Bajo, para kerabatnya itu kelihatan layu. Mata mereka sembab oleh kepedihan nasib yang tak terperikan. Juga oleh penderitaan yang melekat dalam kesadaran mereka sebagai orang-orang laut yang tidak berdaya.

Dari pintu depan ia menengok ke dalam. Tiba-tiba ia terkejut melihat tubuhnya sendiri terbujur kaku di ruang tengah. Ia melihat Masnah menangis histeris. Jannah meraung meratapi jasad ayahnya yang hitam kebiruan dan nyaris hancur. Tangan kanannya buntung sampai ke pangkal siku. Pecahan-pecahan beling melekat di sekujur tubuhnya yang masih tersisa. Menancap di dada dan di wajahnya.

Beberapa kali Tasmin berteriak memanggil istrinya tapi suaranya tak kunjung keluar. Dan Masnah memang tidak mendengar suara suaminya. Juga Jannah, tidak mendengar apa pun, kecuali tangis para tetangga di dekat jenazah ayahnya. Masnah tak tahan menyaksikan jasad suaminya yang porak-poranda. Dengan tangan gemetar ia menutup jasad suaminya itu dengan sehelai kain warna coklat, bekas layar perahu yang sudah kumal.

Tasmin terus masuk seraya memandang jasadnya sendiri yang kini terbungkus kain panjang tak bergerak-gerak. (**)

                                                                                           

Langara Laut, 5 Januari 2015

Arsyad Salam adalah peminat sastra, aktif menulis novel dan cerpen.

Saat ini menjabat Kasubag Media Massa Humas Konawe Kepulauan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s