Sibuk bukan alasan berhenti menulis

Beberapa kawan saya, khususnya para sastrawan mengaku bahwa kesibukan tugas sehari-hari yang mereka lakoni membuat mereka tak punya waktu untuk meneruskan kebiasaan menulis. Tak ada waktu, sibuk oleh pekerjaan kantor, ngurus rumah, ngurus suami, ngurus istri, ngurus anak dan sebagainya. Begitulah alasan yang sering saya dengar. Sepintas, alasan tersebut tampaknya masuk akal. Memang sulit sekali membagi waktu kita diantara jadwal pekerjaan yang padat. Belum lagi rutinitas sehari-hari seperti istirahat, mendengar musik, membaca atau membagi waktu dengan keluarga dan sebagainya.
Tapi sebagaimana yang saya alami sendiri, kesibukan luar biasa yang saya jalani bukan penghalang untuk terus menulis. Sebagai pegawai negeri sipil yang diberi tanggungjawab mengemban jabatan level menengah, saya tak pernah merasa kalau jabatan yang saya pegang jadi penghambat saya terus menulis. Apa sebabnya?
Saya membaca, buku AS Laksana : Creatif Writing, Tips Menulis Novel dan Cerpen terbitan Gagas Media. Dari sanalah saya pahami, bahwa kegiatan menulis manakala sudah benar benar merasuk dalam arus keadaran hidup kita, sesibuk apapun, kita akan tetap bisa meluangkan waktu untuk menulis. Dan itulah yang saya lakukan sekarang.
Perlu saya tambahkan, bahwa di Indonesia profesi penulis belum bisa dijadikan sandaran hidup sepenuhnya. Dengan kata lain, menulis, apalagi menulis novel dan cerpen belum bisa dijadikan penopang hidup alias menjadi sumber pendapatan. Banyak penyebabnya antara lain karena rendahnya minat baca masyarakat dan apresiasi pemerintah yang rendah terhadap kehidupan kesenian di tanah air.

Maka tak mengherankan kalau hampir semua penulis di sini memiliki pekerjaan tetap lain untuk menopang hidup mereka. Ada yang jadi pedagang, atlet, pegawai pemerintah, motivator, menjadi ulama, model iklan, guru dan banyak pekerjaan lain yang tentu saja membutuhkan manajemen waktu yang ketat.Kegiatan menulis mereka lakukan di sela-sela waktu yang sempit. Kalau setiap hari bisa menghasilkan dua halaman draft tulisan berarti enam puluh halaman dalam sebulan. Hebat bukan?

Nah, kalau mereka bisa lalu kenapa kita tidak? Jadi kuncinya kembali kepada kita masing-masing. Saya sendiri harus meluangkan waktu sekitar dua sampai tiga jam semalam untuk meneruskan tulisan, naskah novel yang sudah menumpuk.
Alhasil, alasan kesibukan atau rutinitas sehari-hari membuat mereka berhenti menulis, sebenarnya hanya alasan yang dibuat-buat. Sekedar pembenaran berkuasanya rasa malas pada diri mereka.
Saya sudah menjadi Kepala Bidang di Dinas Perhubungan ketika menerbitkan novel saya yang kedua: Jejak Manusia Langit. Belum sebulan saya menduduki jabatan Kepala Bagian Humas, saya menerbitkan Kumpulan Cerpen dan Puisi “Pasung Jiwa Merpati Putih” berkolaborasi dengan seorang penulis puisi, seorang ibu rumah tangga yang tinggal di Baubau.
Terakhir saya masih menyempatkan mengirim naskah novel yang saya ikutkan dalam sayembara menulis novel Dewan Kesenian Jakarta.
Begitulah. Kalau kita mau, kita niatkan dibarengi tekad yang kuat semuanya pasti bisa kita lakukan.

Membaca Novel di Tempat Umum? Kenapa Tidak?

Sejak dulu saya punya kebiasaan membawa novel dalam tas kerja, juga menyelipkan notes kecil di saku belakang ke manapun saya pergi. Tiap kali saya berada dalam situasi yang membuat saya harus menunggu agak lama, seperti ketika berada di bank atau dalam perjalanan jauh dengan bis, atau kapal, saya akan membaca novel. Begitupun kalau saya teringat sesuatu, saya langsung mencatatnya dalam notes. Menunggu sesuatu sambil membaca novel sungguh mengasyikkan. Suatu hari, ketika saya sedang antri di bank, saya tidak dengar nama saya dipanggil berkali-kali oleh teller lantaran begitu khusuknya saya membaca. Novel yang saya  baca waktu itu, kalau tak salah, The Road karya Cormac Mc Carthy,

Begitupun ketika saya berada di kapal Super Jet (sejenis kapal cepat) dalam perjalanan Kendari-Bau bau. Di samping saya, duduk dua perempuan muda, mungkin mahasiswi. Seorang berambut pendek, sedang yang satu lagi rambutnya panjang berombak. Keduanya merasa aneh melihat saya terus membaca, padahal cuaca ketika itu kurang bersahabat. Ombak tinggi dan angin kencang membuat kapal fiber itu bergoncang keras. Saya pandangi wajah dua perempuan itu. Mereka tampaknya ketakutan. Saya hanya tersenyum lalu kembali membaca novel Prajurit Schweik-nya Jeroslav Hasek.

Tiba-tiba saya tertawa agak keras ketika sampai pada bagian, ketika Letnan Lukash mendamprat Schweik dalam kereta api saat mereka berangkat ke front pertempuran di Budejovice. Ketika itu, Schweik mengejek salah seorang penumpang, lelaki botak yang tengah membaca koran. Ia mengira lelaki itu seorang agen asuransi tapi ternyata ia  jenderal paling ditakuti, atasan mereka sendiri. Letnan Lukas dengan amarah yang begitu tinggi mengusir Schweik karena kelalaiannya ini.

Si rambut pendek menoleh menatap saya agak lama. Lalu ia menggumamkan sesuatu semacam gerundelan yang tak jelas. “Membaca novel dalam cuaca seperti ini? aneh ya?” katanya kepada temannya, si rambut panjang.

Saya diam memandang keduanya, sambil berpikir dalam hati “apanya yang aneh?” bukanlah setiap orang punya cara sendiri-sendiri untuk membunuh rasa jenuh selama perjalanan seperti itu? Lalu si rambut panjang dengan cukup atraktif berkata kepada saya kalau kakaknya juga seorang penulis yang hobinya membaca seperti saya. Sedangkan dia sendiri mengaku tidak begitu suka membaca novel. Ia lebih suka menonton sinetron atau berbelanja, jalan-jalan dan makan-makan. Khas muda-mudi zaman sekarang, pikir saya seraya melipat halaman buku, penanda batas yang saya baca.

Saya menyahut bahwa itu juga hobi yang bagus sepanjang kita mampu mewujudkannya. Sedangkan saya sendiri hanya suka membaca. Tapi saya tertegun ketika si rambut pendek berkata dengan nada bertanya

“Apa yang bapak dapatkan ketika selesai membaca novel?”

Saya berpikir agak lama sambil mengulang pertanyaannya dalam hati. Apa ya yang saya dapat?

“Tak ada, cuma senang saja di tambah adanya kepuasan” sahut saya pelan hampir dalam bisikan.

“Membaca cerita kok dibilang puas?” si rambut panjang menimpali.

Sungguh, saya tidak dikaruniai kefasihan berbicara dengan cara seperti ini, dalam keadaan ketika yang saya ajak bicara tidak mengerti sama sekali mengenai apa yang saya lakukan, apa yang saya baca dan apa yang saya rasakan. Bukankah cara mendapatkan kepuasan tidak sama bagi semua orang? Saya hanya berpikir, betapa berbeda-bedanya sifat manusia dan pikiran mereka dalam melihat setiap fenomena di dunia ini.

Dan saya tetap membaca di dalam perjalanan atau sewaktu menunggu antrian di bank dan kantor pos.

illustrasi : http://www.wallpaperscastle.com

Orang Berutang, Ditagih Melalui Koran

Di zaman kolonial, penyelesaian utang-piutang baik perorangan maupun lembaga, agak sedikit aneh, paling tidak jika dipandang dalam perspektif sekarang. Mereka yang berutang (biasanya aparat negara) ditagih melalui surat kabar, lengkap nama dan pangkatnya juga kepada siapa ia harus membayar, kendati pun orang yang berutang itu sudah lama meninggal.

Belum lama ini secara tak sengaja saya menemukan arsip koran Belanda berbahasa Melayu di internet. Meskipun susah sekali kita mencerna jalan kalimat pemberitaan koran tersebut, tetapi paling tidak kita bisa menangkap adanya kesan yang sangat lugas.

Dalam edisi Sabtu 9 Pebruari 1856 koran “Surat Kabar” menurunkan berita semacam iklan atau pengumuman tentang urusan utang-piutang ini dengan judul PANGGILAN PADA ORANG NJANG KASI OETANG PADA ORANG NJANG SOEDA MATI. Adapun penggalan beritanya saya kutip antara lain

“Kepada Luitenant KR Siegmund, njang soeda matie maka njang panggil Kapiten JH Stein dan Luitenant WLJ Schmidt di Palembang dalem 2 boelan. Kepada Luitenant Van Der Ree, njang soeda matie manka njang panggil executeurnja bernama A Raijmankeers, Kapitein dan ME van Zeijlen, Luitenant di Soerabaia dalem 3 boelan teritoeng dari tanggal 29 November”

Sesungguhnya sulit sekali menafsirkan maksud pengumumamn secamam itu lantaran struktur kalimat yang tidak sesuai kaidah bahasa zaman sekarang, tapi waktu itu mungkin sesuatu yang lumrah, bisa segera dimengerti orang banyak. Dan bila kita mencoba mengikuti nalar orang dulu, para penyusun berita itu, kita hanya bisa mengira-ngira maksudnya.

Saya sendiri menduga, panggilan orang-orang yang sudah mati tersebut barangkali untuk memenuhi kewajiban hukum yang bersangkutan terhadap si pemanggil meski yang dipanggil sudah pensiun atau bahkan sudah meninggal sekalipun. Dan setelah batas waktu yang ditentukan ternyata tidak dibayar juga (tampaknya memang tak akan terbayar), tagihan utang almarhum akan dialihkan pada negara. Dengan kata lain, negaralah yang akan mengganti semuanya karena yang berutang itu adalah aparat negara yang sedang aktif menjalankan tugas ketika utang tersebut terjadi.

Tapi itu hanya dugaan saya saja.

Mungkin juga, guntingan pengumuman itulah nanti yang akan mereka serahkan kepada pemerintah sebagai bukti adanya piutang pada orang lain. Ia menjadi salah satu syarat yang harus dipenuhi sebelum dilakukan pembayaran oleh negara, agar penyelesaian utang yang bersangkutan bisa segera diproses. Di zaman sekarang barangkali kita bisa menyamakannya dengan berita lelang dan tender di surat-kabar, yang termasuk salah satu syarat pelelangan suatu proyek pemerintah. Atau lebih mirip pengumuman lelang barang sitaan oleh kantor lelang negara. Lelang sita jaminan yang telah jatuh tempo bagi para kreditur di masa sekarang.

Mungkin begitu, tapi entahlah. Ahli sejarah barangkali bisa menjelaskan persoalan ini, khususnya ahli sejarah hukum Hindia Belanda yang bisa menjawabnya.

Terlambat Menyadari Kesalahan

Kepada Mas AS Laksana . . .

Sambil belajar menulis, saya juga terus mencari buku panduan menulis yang baik. Tapi saya belum menemukan satupun buku yang berkenan dalam hati. Akhirnya, ya saya menulis saja, tentu dengan asal-asalan, main terabas kiri-kanan, bahasa yang sering macet di tengah jalan, dialog yang tertatih-tatih dan plot yang amburadul. Tapi bagaimanapun saya memiliki satu modal yang barangkali tidak dimiliki semua orang terutama para penulis pemula. Dan saya bangga karenanya. Modal itu saya sebut: semangat dan kemauan yang kuat untuk terus belajar di tengah keterbatasan referensi.

Di tempat saya, di Kendari, sampai saat ini belum ada forum pertemanan antar penulis, apalagi penulis fiksi. Kadang-kadang saya dongkol juga mendapati kenyataan seperti ini. Saya seperti berjalan sendirian dalam belantara tulis-menulis, tanpa ada teman sharing, kawan berbagi. Saya sungguh mendambakan teman yang akan mengkritisi tulisan kita layak atau tidak. Mengoreksi serta memberi masukan dalam cerita yang saya bikin. Dengan demikian, setidaknya saya memiliki bayangan mengenai kekurangan serta kelebihan cerita saya.

Untuk mereka yang muda-muda memang ada forum seperti itu, tapi menurut saya kegiatan mereka tidak relevan karena hanya membahas tentang sastra yang baik. Atau mengulas karya orang lain dengan gaya begitu rupa membuat saya risi mendengarnya.

Pernah seseorang (mungkin ketua mereka) memberikan sambutan dalam sebuah acara dan ia salah mengutip sumber. Perjuangan melawan kekuasaan, katanya adalah perjuangan melawan lupa. Lalu ia menyebut nama seorang ahli filsafat entah siapa, saya sudah lupa. Padahal kalimat itu asli karya Milan Kundera dalam Kitab Lupa dan Gelak Tawa. Saya juga tertawa, tapi cuma di dalam hati. Gaya dan cara bicara mereka seperti sastrawan terkenal saja. Kadang saya berpikir, alangkah hebatnya mereka itu. Saya benar-benar merasa minder kalau berdekatan dengan mereka. Meski mereka sering menggelar diskusi tapi belum satupun yang saya dengar telah menerbitkan karya baik cerita pendek apalagi novel di tingkat nasional.

Sebelumnya saya minta maaf, saya sebenarnya tidak tahu apa itu teori kesusastraan, apa itu sosiologi sastra, filsafat sastra, fenomenologi sastra (kalau memang istilah semacam itu ada). Inilah mungkin kekurangan saya. Saya hanya ingin menulis cerita. Jadi yang saya lakukan ya menulis cerita yang saya tahu, dengan karakter yang saya bangun sendiri. Itu saja. Saya pernah mengirim tiga naskah novel kepada beberapa penerbit besar dan hampir semuanya ditolak. Yang lolos justru karangan saya yang pertama, Sonata untuk Liana yang akan diterbitkan Gramedia Pustaka Utama. Oleh editor penerbit besar itu, judulnya kemudian diubah menjadi  Kidung dari Negeri Apung.  Menurut rencana naskah itu akan terbit April 2014 ini.

Sementara itu, saya juga terus membaca karya orang lain, membandingkan antar karya-karya mereka sehingga bisa mengenali gaya bercerita mereka, sampai pada kepribadian tiap pengarangnya. Ini saya lakukan sejak dulu sewaktu masih di SMA. Karya sastra yang pertama memukau saya adalah Karl May, lalu Robinson Croese karya Defoe. Lama-kelamaan saya juga bisa mengenal gaya Tolstoy, Hemingway, Flaubert, Steinbeck, Lermontov, Pasternak, Marquez, Orwell, Kafka sampai Mario Vargas Llosa . Kalau penulis sebangsa yang paling saya suka antara lain Ahmad Tohari, Kuntowijoyo, Budi Darma, Pramoedya Ananta Toer, Umar Kayam, Iwan Simatupang, Goenawan Mohamad dan Seno Gumira Aji Darma. Dan semakin banyak membaca sayapun sampai pada kesadaran bahwa  pengetahuan saya terhadap sesuatu ternyata tidak ada artinya dibanding orang lain. Cuma secuil. Saya lantas teringat adagium Sokrates “Hakekat pengetahuan adalah mengetahui bahwa kita tidak tahu apa-apa”

Beberapa hari yang lalu saya membeli buku karangan anda : Creative Writing, Tip dan Strategi Menulis Cerpen dan Novel terbitan Gagas Media. Melihat sampulnya saja saya sudah tertarik, hitam yang elegan. Lebih-lebih setelah saya membaca isinya. Seperti telah saya singgung dipermulaan surat ini bahwa saya sudah lama mencari buku seperti ini, tapi baru menemukannya sekarang. Bahkan surat ini pun saya buat karena terinspirasi buku anda itu. Tak sampai dua jam saya sudah khatam membacanya. Dan tahukah anda apa yang saya pikirkan? (maaf kalau saya mengutip kata-kata di beranda facebook)

Saya menjadi malu, kadang tersenyum sambil mendehem entah untuk apa, mungkin untuk menutupi rasa malu terhadap diri sendiri. Saya malu bahwa ternyata selama ini yang saya dilakukan di depan komputer hanya berlagak menjadi penulis sungguhan padahal sebenarnya saya tidak memiliki tujuan yang jelas dalam menulis. Kemudian saya juga menyadari kalau selama ini teryata saya telah memperlakukan tiap karakter dalam cerita saya dengan amat sewenang-wenang, kejam dan zonder rasa kasihan.  Saya baru menyadarinya sekarang, setelah membaca buku anda.

Barangkali inilah yang disebut terlambat menyadari kesalahan. Terlambat bertobat. Tapi setelah membaca buku Mas Sulak,  saya telah bertekad kembali ke jalan yang benar, yakni jalan yang ‘diridhoi’ para motivator menulis. Jalan yang harus ditempuh kalau kita memang ingin menjadi penulis yang baik, penulis yang mampu berkarya dalam situasi dan kondisi apapun.

Saya tak ingin mengulas isi buku tersebut dalam ruangan ini karena hanya akan membuat saya semakin merasa kecil di hadapan para penulis hebat yang telah ada selama ini. Lagipula apa yang bapak ulas dalam buku itu semuanya terasa mengena, mungkin sampai ke ulu hati. Chairil Anwar kalau tak salah pernah mengatakan “mencari kata sampai ke putih tulang” itulah yang saya lakukan. Saya juga tak percaya bakat yang katanya dibawa sejak lahir. Apalagi  inspirasi yang turun dari langit. Semuanya harus dicari, dipelajari, melatih diri. Bukan duduk-duduk seraya berpikir menunggu inspirasi turun dari langit. Setahu saya yang turun dari langit itu hanya dua kalau bukan petir ya hujan. Itupun didahului pertanda misalnya mendung.

Saya setuju dengan kata-kata bapak bahwa menulis sama saja dengan profesi lainnya. Penulis sama dengan pemain bulu tangkis, petinju, penyanyi, tukang kayu atau dokter gigi. Ia butuh latihan terus-menerus, juga disiplin yang timbul dari kesadaran bahwa ada suatu tujuan tertentu yang ingin kita capai dalam menulis fiksi.

Dengan asumsi demikian, saya percaya kalau suatu saat kelak-entah kapan-saya bisa menelurkan karya yang bisa dibaca orang.  Seperti kata Multatuli dalam pendahuluan novelnya yang terkenal itu, Max Havelaar, “Ya, aku bakal dibaca”

Sekian dulu surat dari saya.

Wassalam.

Citra Wong Ndeso dalam Karya Ahmad Tohari

Ahmad Tohari bisa disebut sebagai salah satu sastrawan Indonesia yang begitu mengagungkan kehidupan orang-orang desa, Wong Ndeso. Hampir semua tokoh-tokoh fiksinya diangkat dari latar belakang pedalaman yang jauh dari hiruk-pikuk kota.

Nama-nama berikut sudah demikian akrab dalam benak pembaca sastra kita. Rasus, Kartareja, Sakum, Srintil (Ronggeng Dukuh Paruk), Karman, Parta, Marni dan Haji Bakir (Kubah), Pak Dirga, Pambudi, Poyo dan Sanis (Di Kaki Bukit Cibalak), Darsa, Lasi, Kanjat dan Eyang Mus (Bekisar Merah)

Dan itu baru dari novel. Bila kita simak cerita pendek Ahmad Tohari, nama-nama orang dusun kian terentang panjang. Karyamin, Blokeng, Kasdu, Minem, Musgepuk, Sutabawor, Kenthus (Senyum Karyamin-Kumpulan Cerpen) Mirta, Tarsa, Jebris, Daruan, Doblo, Sarpin, Karsim, Dawir dan Rusmi (Mata yang Enak Dipandang-Kumpulan Cerpen).

Nama-nama demikkian itu nyaris memenuhi seluruh cerita yang dibangun Tohari, lengkap dengan latar belakang alam dan satwa yang memikat. Saya yakin tak banyak pengarang kita yang memiliki perbendaharaan lengkap mengenai kehidupan alam semesta seperti Tohari.

Kemampuan melukiskan suasana sekitar secara realistis dan tampak seakan-akan nyata adalah salah satu kekuatan Tohari dalam membangun kisah, memilih tema serta pelaku cerita dengan sangat mengesankan.

Dalam novel Ronggeng Dukuh Paruk, kita misalnya bisa melihat sosok Sakum, lelaki buta penabuh calung dengan gaya kocaknya: selalu menggumamkan kata-kata “cess” setiap kali dia menabuh calung dengan ritme tertentu pada saat mana si penari, Srintil akan menggoyangkan pinggul, memancing berahi penonton.

Tetapi bagaimanapun Kartareja beruntung. Dia berhasil menemukan kembali Sakum, laki-laki dengan sepasang mata keropos namun punya keahlian istimewa dalam memukul calung besar. Sakum, dengan mata buta mampu mengikuti secara seksama pagelaran ronggeng. Seperti seorang awas, Sakum dapat mengeluarkan seruan cabul tepat pada saat ronggeng menggerakkan pinggul ke depan dan ke belakang. Pada detik ronggeng membuat gerak birahi, mulut Sakum meruncing, lalu keluar suaranya yang terkenal; Cessss! Orang mengatakan, tanpa Sakum setiap pentas ronggeng tawar rasanya. 

Saya juga bisa membayangkan sosok Darsa seorang pembuat nira, suami Lasi dalam novel Bekisar Merah. Darsa ketika itu tengah memandang barisan pohon kelapa yang diguyur hujan. Lelaki itu lantas membandingkan pohon kelapanya yang basah dengan istrinya, Lasi yang saat itu melintas di hadapannya usai mandi. Dan Tohari pun menggambarkannya demikian:

Di mata Darsa, pesona dan gairah hidup yang baru beberapa detik lalu direkamnya dari pohon-pohon kelapa di seberang lembah, kini berpindah sempurna ke tubuh Lasi. Sama seperti pohon-pohon kelapa yang selalu menantang untuk disadap, pada diri Lasi ada janji dan gairah yang sangat menggoda.

Pada Lasi terasa ada wadah pengejawantahan diri sebagai lelaki dan penyadap. Pada diri istrinya juga Darsa merasa ada lembaga tempat kesetiaan dipercayakan. Dan lebih dari pohon-pohon kelapa yang tak putus meneteskan nira, Lasi yang sudah tiga tahun menjadi istrinya, meski belum memberinya keturunan, adalah harga dan cita-cita hidup Darsa sendiri.  . . . .

 Lasi tak meneruskan kata-katanya karena tiba-tiba suasana berubah. Darsa memandang Lasi dengan mata berkilat. Keduanya beradu senyum lagi. Darsa selalu berdebar bila menatap bola mata istrinya yang hitam pekat. Seperti kulitnya, mata Lasi juga khas; berkelopak tebal, tanpa garis lipatan. Orang sekampung mengatakan mata Lasi kaput. Alisnya kuat dan agak naik pada kedua ujungnya. Seperti Cina. Mungkin Darsa ingin berkata sesuatu. Tetapi Lasi yang merasa dingin masuk ke bilik tidur hendak mengambil kebaya. Dan Darsa mengikutinya, lalu mengunci pintu dari dalam. Keduanya tak keluar lagi. Ada seekor katak jantan menyusup ke sela dinding bambu, keluar melompat-lompat menempuh hujan dan bergabung dengan betina di kubangan yang menggenang. Pasangan-pasangan kodok bertunggangan dan kawin dalam air sambil terus mengeluarkan suaranya yang serak dan berat. Induk ayam di emper belakang merangkul semua anaknya ke balik sayap-sayapnya yang hangat. Udara memang sangat  dingin.

Dan Tohari seakan benar-benar hadir menyaksikan sendiri semua pelaku memainkan perannya. Dalam hampir semua novelnya seperti yang saya sebut di atas, Tohari bercerita sebagai pihak yang mengalami kejadian dalam cerita. Dengan gaya bertutur yang khas seperti itu, Tohari berlaku sebagai si maha tahu semua karakter manusia yang dibangunnya sendiri. Dengan kata lain, Tohari tidak bertindak seperti seorang pewarta yang memberitakan sebuah kejadian, tapi dia berlaku seakan-akan dia sendiri sang pemain, dialah pelaku utama cerita-ceritanya sendiri.

Demikian juga dalam novelnya yang lain. Kubah misalnya. Bagaimana perasaan Karman saat baru pulang dari pembuangan di Pulau Buru. Sikap dan gerak-gerik Karman ketika baru saja dibebaskan dan betapa ia terkejut mendapati keadaan sekitar yang sudah berubah. Semuanya di lukiskan Tohari dengan sangat memikat, sederhana dan mudah diikuti nalar pembaca.

Karman duduk di atas sebuah tonjolan akar. Di sampingnya ada gulungan kertas yang berisi kain sarung, dan masing-masing selembar baju dan celana tua. Itulah semua hartanya yang ia bawa kembali dari Pulau B. Angin bergerak ke utara menggoyangkan daun-daun tanaman hias di halaman Kabupaten. Seorang perempuan muda berjalan dan melintas di hadapan Karman. Alisnya, matanya, sangat mengesankan. Oh, tungkainya enak dipandang. Dan bibirnya. Bibir seperti itu gampang mengundang gairah lelaki. “Mungkin dia seorang guru sekolah,” pikir Karman yang merasa jantungnya berdebar lebih keras. “Bila guru secantik itu, setiap murid lelaki akan betah tinggal di kelas.” Oh, Karman tersenyum. Dan kaget sendiri ketika menyadari kelelakiannya ternyata masih tersisa pada dirinya.

Sedangkan dalam Di kaki Bukit Cibalak, kita bisa merasakan napas Pambudi, si tokoh utama dengan perangainya yang suka menolong namun tidak berdaya menghadapi kerasnya kekuasaan aparat desa.

Terkadang Pambudi bertanya kepada diri sendiri, mengapa ia tidak berbuat seperti Poyo, teman sejawat dalam pengelolaan lumbung desa itu. Poyo hidup dengan sejahtera bersama istri dan anak-anaknya. Rumah mereka sudah ditembok. Belum lama ini Poyo membeli sebuah sepeda motor. Pambudi tahu persis mengapa sejawatnya bisa memperoleh semua itu. Ia bekerja sama dengan Lurah, misalnya memperbesar angka susut guna memperoleh keuntungan berton-ton padi. Atau mereka bersekongkol dengan para tengkulak beras dalam menentukan harga jual padi lumbung koperasi. Dengan cara ini saja mereka akan mendapat keuntungan berpuluh ribu rupiah, karena mereka dapat mencantumkan harga penjualan semau mereka sendiri, dan dari tengkulak padi mereka mendapat semacam komisi.

Pambudi tahu, sama sekali tidak sukar berbuat demikian karena badan koperasi itu tanpa pengawasan, apalagi penelitian. Dan, kebanyakan penduduk Tanggir adalah anak cucu kaum kawula. Mereka nrimo, sangat nrimo.

Betapa piawai Tohari melukiskan suasana batin tiap karakter orang-orang dusun dalam kisahnya. Kalau kita mau membelahnya satu persatu pasti ruangan ini tak mampu menampungnya.

Akhirnya saya hanya mampu mengatakan betapa Ahmad Tohari begitu menguasai alam pikiran masyarakat bawah, wong ndeso,  yang menjadi tokoh sentral dalam tiap ceritanya.

Menulis Cerita, Butuh Kesabaran

Pekan lalu, ketika saya sedang memberi makan ikan-ikan di empang, saya teringat kata-kata seorang penulis buku pembimbingan menulis. Intinya kira-kira begini:  Kalau kita melakukan sesuatu dengan tekun, telaten dan terus-menerus pasti akan membuahkan hasil yang sempurna.

Menulis butuh kesabaran. Butuh waktu latihan mencurahkan ide dan pikiran ke atas kertas. Berkali-kali merumuskan kata merangkai kalimat. Demikian juga untuk mendapatkan ikan-ikan yang gemuk  ia harus diberi makan setiap hari bahkan setiap jam dengan makanan pilihan, menjaga air agar tetap steril. Semua perlu kita lakukan kalau kita ingin usaha kita membuahkan hasil.

Akan tetapi meski panduan cara menulis yang baik sudah ratusan kali ditulis orang, masih sedikit dari kita yang mau melakukannya. Apalagi dengan tekun dan telaten. Merawat kesinamnbungan semangat menulis memang berat. Ia membutuhkan sesuatu yang sebenarnya  sudah tertanam lama dalam kesadaran setiap manusia: bakat dan kemauan keras untuk menjadi penulis yang baik.

Ketika sedang membaca sebuah novel kadang saya  berpikir  alangkah cerdasnya si pengarang  menyusun plot cerita sehingga kita larut dalam cerita yang dibuatnya.  Itu pula yang saya rasakan ketika  membaca salah satu novel Mario Vargas Llosa : Quien Mato a Palomino Molero? (Siapa Pembunuh Palomino Molero?

Syahdan tersebutlah dua petugas kepolisian di Talara bernama Letnan Silva dan Lituma yang menyelidiki kematian seorang penerbang muda. Palomino Molero namanya. Sebuah proses kematian yang sangat mengenaskan. Pemuda itu kedapatan mati tergantung pada sebatang pohon dekat hutan. Puluhan burung gagak  nyaris mencabik-cabik tubuh pemuda itu sebelum ditemukan oleh seorang bocah lelaki dan melaporkannya  kepada Silva dan Lituma.

Dengan itu Silva dan juga Lituma memulai penyelidikannya.  Meski menurut saya, alur penyelidikan yang dilakukan sangat panjang,  berbelit dan berputar-putar sehingga hasilnya juga tak kunjung jelas tapi semua proses yang dilakukan dengan mengasyikkan, agak konyol dan absurd.

Yang menarik bagi saya bukanlah proses penyelidikan atas kematian Palomino itu yang menurut kebanyakan pembaca pasti melibatkan seorang perwira  berpangkat kolonel di Angkatan Udara. Lelaki yang tak lain adalah ayah kekasih  pemuda yang tewas itu . Yang justru memantik rasa penasaran saya adalah tingkah laku Lituma. Suasana batinnya sepanjang novel ini serta pandangan-pandangan hidupnya yang kadang-kadang terasa aneh dan konyol bagi pembaca.

Salah satu adegan yang paling melekat dalam benak saya ketika Silva si atasan dan Lituma si bawahan sedang mengintip Dona Adriana mandi di laut. Dona Adriana adalah perempuan gemuk yang sudah bersuami. Bagi Lituma Dona adalah perempuan yang memuakkan. Parasnya tidak elok, ditambah postur tubuhnya yang tidak proporsional. Tapi tidak bagi Letnan Silva. Menurutnya perempuan itu adalah bidadarinya. Impian dan fantasi-fantasi berahinya selama ini.

 “Penglihatanku pasti kurang bagus” kata Lituma sambil terus mengamati Dona melalui teropong. “Atau imajinasiku yang kurang bagus Letnan”.

“Bangsat kau!” hardik Letnan Silva sambil merampas kembali teropongnya. “Aku sebaliknya, bisa melihatnya seperti ia sedang dipajang” Letnan Silva penuh rasa kagum pada tubuh perempuan yang mereka saksikan dari balik sebongkah batu itu.

Ketika Dona mulai membuka pakainnya lapis demi lapis selalu diikuti dengan gumam kekaguman oleh Letnan Silva.

“Jangan lihat sampai habis begitu” Letnan mengomelinya sambil merampas kembali teropongnya. “Sesungguhnya babak terbaiknya baru berlangsung sekarang, waktu ia masuk air, sebab anderok itu lengket ke badannya dan jadi transparan. Ini bukan pertunjukkan buat tamtama, Lituma. Cuma untuk Letnan dan para atasannya”

Kepandaian menyusun cerita merupakan hasil olah pengalaman selama puluhan tahun. Mario Vrgas Llosa adalah salah satu yang terbaik. Tak heran jika ia diganjar nobel sastra tahun 2010.

Saya kembali memandang ikan-ikan dalam empang. Empang yang saya buat sendiri dengan susah payah. Dan  saya membayangkan memanen ikan-ikan gemuk yang saya rawat selama beberapa waktu. Tanpa henti tanpa jeda sehari jua.

illustrasi : http://writetotheend.com

Keadilan, Betapa Absurd

Marginalia Novel To Kill A Mockingbird oleh Harper Lee

Atticus Finch adalah seorang pengacara tua yang bosan dan capek. Dan sabar. Lelaki ini mencintai keadilan sampai ke tulang sum-sumnya. Keadilan katanya harus tetap tegak meski dalam situasi yang paling getir. Dan Atticus mengalaminya sendiri dengan rasa nyeri sampai ke ulu hati.

Atticus tinggal di kota kecil, Maycomb namanya, sebuah kota yang terasa sebagai puing-puing artefak masa lalu ketika rasialis masih  berkecamuk begitu kuat, ketika orang kulit putih menganggap orang hitam- orang negro bukanlah manusia sepenuhnya. Di Maycomb, Atticus lah pengacara kulit putih pertama yang melihat orang negro sebagai manusia secara utuh.

Pengadilan menunjuk duda dua anak ini menjadi pembela Tom Robinson seorang lelaki negro yang dituduh memperkosa gadis kulit putih bernama Mayella Ewel, anak Bob Ewel. Dan ini di Maycomb, yang semua warganya seperti bersekutu meluluhlantakkan kemanusiaan orang negro. Beberapa lelaki setempat berusaha menculik Tom di penjara, mungkin  untuk membunuhnya. Tapi Atticus bisa mencegah semuanya terjadi.  Atticus bersikukuh, harus ada pengadilan untuk Tom meskipun hasilnya nanti sudah bisa diduga. Tom sudah divonis bersalah sebelum disidang.

Ketika anak lelakinya, Jem bertanya dengan rasa sesal yang memuncak mengapa hukum bisa tak adil seperti itu. Atticus menjawab bahwa kondisi masyarakat dimana hukum berlaku saat itu memang demikian. Tapi Atticus tak mau putus asa.

“Dalam hukum” kata Atticus pula, “Terdapat istilah bisa disangkal, tetapi menurutku seorang terdakwa berhak mendapat bayangan keraguan. Selalu ada kemungkinan semustahil apapun bahwa dia tak bersalah”

 Keadilan. Atticus dengan kata lain ingin mengatakan setiap insan tidak boleh menuduh seseorang melakukan kejahatan sebelum divonis oleh pengadilan. Kita lebih mengenalnya dengan asas Persumption of Innocens, praduga tak bersalah. Dan bahwa keadilan harus bisa berdiri tegak dari sisi manapun kita memandangnya. Dari manapun kita berdiri. Baik oleh orang kulit putih maupun si negro.

Tom memang akhirnya disidang. Meski Atticus bisa membuktikan kalau Tom tak bersalah, tapi juri berpendapat lain. Para juri yang semuanya orang kulit putih Maycomb memutuskan lelaki itu harus menjalani hukuman matinya. (*)

Karmin, Pejuang atau Penghianat?

Marginalia atas Novel Perburuan Karya Pramoedya Ananta Toer

Hidup manusia ditakdirkan untuk mengalami kekalahan sebentar menuju kemenangan di garis akhir. Demikian kesimpulan Hardo sang tokoh utama novel Perburuan karya Pramoedya Ananta Toer yang sangat terkenal itu.

Dengan kacamata  itulah Hardo meramal dengan tepat nasib Nippon yang sedang berkuasa di  Indonesia saat itu. Bahwa suatu ketika kelak Jepang pasti akan sampai pada titik kekalahan.

Dalam novel yang  ditulis tahun 1950 dan bersetting jaman Jepang ini,  Pram dengan cerdas meramu rasa nasionaisme kebangsaan para tokohhya dalam dialog-dialog bergaya drama yang memukau. Tanpa menunjukkan secara langsung apa dan bagaimana tiap karakter menjalankan perannya, pembaca akan segera tahu dan bisa menarik kesimpulan sendiri mengenai seluk beluk dan suasana batin masing-masing tokoh dalam cerita tersebut.

Hardo umpamanya. Lelaki ini rela menjadi gelandangan, pengemis demi melihat bahwa suatu ketika nanti akan datang juga hari kemenangan yang diimpikan itu: kemerdekaan. Hanya itulah yang membuat lelaki bertanda bekas luka samurai di lengannya ini bisa bertahan dari kejaran Nippon terus-menerus. Sikapnya yang keras terhadap ayahnya sendiri bekas Wedana, juga rasa rindu pada kekasihnya Ningsih bisa ditanggungnya dengan tabah.

Di lain pihak, Karmin, kawan akrab Hardo justru  memilih menjadi Shodanco, (Komandan Peleton) Bala Tentara Dai Nippon karena pertimbangan agar bisa melindungi teman-temannya dari kejaran Jepang. Tapi apa lacur, Hardo dan kemudian seluruh rakyat sudah kadung menaruh rasa benci yang demikian besar kepadanya. Bahwa Karmin adalah seorang penghianat. Bahwa  Karminlah bersama Shodan yang dipimpinnya yang mengejar serta berusaha menangkap Hardo dan kawan-kawan seperjuangan, antara lain Dipo dan Kartiman dan berencana menyerahkan mereka semua kepada Jepang.

Tapi benarkah Karmin memang penghianat?  Lagi-lagi Pram  dengan lihai mengecoh pembacanya. Pram memutar alur pikiran kita sedemikian rupa hingga pada akhirnya kita bertanya-tanya benarkah Karmin penghianat?  Pram tidak memberi kesimpulan tapi membiarkan imajinasi kita sendiri yang bekerja lalu memutuskan bagaimana seorang Karmin hadir dalam benak pembaca.

Dengarlah kata-katanya ketika lelaki itu bertandang ke rumah Ningsih untuk memeriksa keterlibatan perempuan itu dalam pelarian Hardo.

“Alangkah sulit usahaku kali ini dalam melindungi Mas Hardo dan kawan-kawannya dalam mengoproyokan ini, mereka tak mau tahu. Ya begitulah sangkaku, mereka tak akan mau tahu bahwa aku berbuat sebagai itu”

Dan sikap Karmin  kemudian adalah  antiklimaks atas tuduhan bahwa dia seorang penghianat. Secara kesatria Karmin menyerahkan kepalanya sendiri untuk dipenggal orang banyak. Karmin dengan tegas meminta kepalanya dipenggal, tapi orang-orang akhirnya mundur atas perintah Hardo. (**)

The Animal Farm, Sebuah Novel Sebuah Satire

Beberapa hari yang lalu saya membaca sebuah buku. Tepatnya sebuah novel. Buku itu sebenarnya sudah tiga kali saya baca. Namun entah mengapa saya tak pernah bosan membacanya. Sebuah novel karya sastrawan Inggris kelahiran India: George Orwell, berjudul The Animal Farm.

Novel ini merupakan parodi atau satir kehidupan manusia beberapa abad lampau yang bercerita tentang penindasan manusia terhadap kehidupan binatang di sebuah tanah pertanian di Inggris. Pokok cerita adalah pemberontakan para binatang melawan kezaliman pemilik peternakan Manor, Tuan Jones.

Mula-mula semuanya berjalan tenang. Mereka bekerja sekuat tenaga sesuai keinginan Tuan Jones.

Semuanya berubah setelah seekor babi paling di hormati, si Mayor Tua meninggal dunia. Sebelum meninggal ia sempat menyampaikan pidato yang sangat menggungah hati yang kelak akan meruntuhkan sendi-sendi pemikiran seluruh hewan yang tinggal dalam peternakan itu.

“Kawan-kawan” teriak Mayor Tua, “Sudah jelas bahwa sumber kesengsaraan hidup kita tak lain adalah tirani manusia. Maka hanya dengan menyingkirkan manusia-lah kita bisa menikmati hasil keringat kita. Hanya dengan menyingkirkan manusia-lah kita menjadi merdeka”

Peternakan itu kemudian melakukan pemberontakan yang ternyata berhasil dengan gemilang.  Seekor babi yang agak cerdas tapi culas lantas menjadi pemimpin mereka. Dialah si Napoleon yang kelak menjadi raja yang zalim dan sewenang-wenang.

Pada mulanya kepemimpinan Napoleon mendapat sokongan yang kuat lantaran dekrtinya yang terkenal : Semua binatang sederajat. Namun dalam perjalanannya kemudian, dekrit itu terasa mengekang kebebasan Napoleon untuk menjadi tiran. Maka dengan diam-diam dekrit itu kemudian diubah sehingga berbunyi: Semua binatang sederajat, tapi beberapa lebih tinggi derajatnya dibanding yang lain”

Dengan itulah kemudian si Napoleon berkuasa hampir tanpa batas. Dengan itu pula ia membantai kawan-kawan seperjuangannya seperti  Snowball dan si Bokser, seekor kuda yang kuat, setia tapi dungu.  Dan kekejaman Napoleon akhirnya mencapai puncaknya dengan menjalin kerjasama kembali dengan manusia, makhluk yang semula dianggap sebagai musuh abadi para bianatang di peternakan itu.