Baliho Aneh

Saudara-saudara, saya bukan pegawai kantor pajak. Saya tak punya kepentingan dengan kantor itu kecuali bahwa  saya terus berusaha menjadi warga negara yang baik dengan taat membayar pajak. Tak heran saya cukup jengkel juga menyaksikan ada segelintir pegawai kantor itu yang menilep uang pajak yang susah payah dikumpulkan.

Saudara, beberapa waktu belakangan saya cukup terganggu mendapati sebuah baliho calon walikota Kendari, Sudarmanto yang dipasang  di tempat yang cukup strategis yaitu di depan kantor BKD Provinsi dan rumah sakit R Ismoyo (Rumah Sakit Korem) Kendari. Sebenarnya bukan kehadiran baliho itu yang menganggu tapi sepotong kalimat di dalamnya yang berbunyi begini “Program utama: pembebasan iuran pajak bumi dan bangunan”. Hampir setiap hari saya pasti akan membaca baliho itu ketika mengantar anak ke sekolah.

Nah apakah maksud kata-kata tersebut? Mari kita lihat

Setahu saya, sampai sekarang pemerintah belum mencabut ketentuan mengenai pajak bumi dan bangunan. Apalagi hendak membebaskan salah satu bentuk pajak yang menjadi tumpuan pendapatan negara kita. Jadi apa maksud Sudarmanto menuliskan kata-kata itu dalam balihonya?

Di tengah-tengah kampanye agar warga negara semakin sadar untuk membayar pajak, kata-kata dalam baliho Sudarmanto justru merupakan tamparan bagi aparat kantor pajak.  Ini sangat memalukan, apalagi kalau melihat kapasitas Sudarmanto yang saat ini menjadi anggota legislatif provinsi. Seharusnya beliaulah yang mengontrol kelancaran pembayaran pajak oleh masyarakat, bukan malah hendak membebaskannya.

Barangkali dengan kata-kata semacam itu, Sudarmanto bermaksud menarik simpati pemilih dengan meringankan beban rakyat yang selama ini terlalu banyak menanggung beban dalam membayar pajak. Sekilas memang terdengar sangat mulia dan luhur. Apalagi kalau maksudnya beliaulah yang hendak menanggung semua pajak bangunan yang selama ini harus dibayar oleh rakyat. Singkatnya, mungkin ia ingin berkata, Pilihlah saya, karena saya akan menanggung pajak bumi kalian.

Di sinilah pokok permasalahan yang sesungguhnya. Menurut saya, iming-iming tentang pembebasan membayar pajak bumi dan bangunan justru merupakan pembodohan kepada rakyat yang notabene harus menunaikan kewajibannya sebagai warga negara. Rakyat harus disadarkan bahwa segala biaya yang dikeluarkan pemerintah dalam melakukan pembangunan sebagian darinya bersumber dari pajak bumi dan bangunan ini.

Kalau maksudnya hendak membebaskan adalah dengan menghapus atau mengubah regulasi tentang pajak bumi dan bangunan, justru terdengar semakin aneh, rancu sekaligus lucu. Setahu saya, regulasi pajak bumi dan  bangunan adalah Undang-undang. Dengan kata lain, apakah bapak punya kewenangan mengubah peraturan tersebut? Kalau sebatas Peraturan Daerah (Perda) mungkin saja bisa. Tapi ini adalah Undang-undang. Yang bisa mengubahnya adalah DPR RI bersama pemerintah pusat. Jadi?

Mohon maaf kepada Bapak Sudarmanto. Dulu sewaktu bapak menjadi anggota legislatif, saya adalah salah satu pendukung bapak. Bahkan sempat melakukan kampanye di kalangan keluarga Menui. Jadi saya sangat terkejut melihat ada baliho semacam itu. Dan saya mohon kepada bapak, agar menurunkan semua baliho yang ada kata-kata seperti itu di dalamnya. Bukan-apa-apa, saya justru khawatir kalau baliho itu akan jadi bahan tertawaan orang. Terutama oleh mereka yang selama ini sangat peduli dengan kata-kata seperti saya.

Dan melalui kesempatan ini saya menyarankan agar tim pemenangan bapak (kalau memang ada) sebaiknya memikirkan baik-baik setiap kata yang akan dicantumkan di atas baliho. Karena sekali baliho bapak sudah terpasang, semua yang tertera di atasnya, baik itu gambar, tulisan dan sebagainya telah menjadi milik publik sepenuhnya. Dan warga bisa memprotesnya kalau mereka merasa tidak senang. Itu saja saya kira.

Terima Kasih Gramedia

Pertengahan bulan lalu, saya mendapat informasi dari penerbit besar Indonesia PT Gramedia Pustaka Utama (GPU), Jakarta yang menyatakan bahwa naskah novel saya berjudul Sonata untuk Liana (Secercah Kisah Anak-Anak Bajo) telah dinyatakan lolos seleksi Tim Editor Fiksi  GPU. Naskah tersebut saya kirim sekitar bulan Nopember 2011 lalu. Memang lama menunggu tapi kalau semua pekerjaan kita niatkan dengan baik dan sabar maka hasilnya pun pasti akan baik.

Informasi tersebut membuat saya senang sekaligus terharu lantaran saya masih dalam kategori pemula dalam dunia penulisan novel. Apalagi  Sonata untuk Liana adalah novel pertama saya. Sebelumnya saya adalah penulis opini di media cetak lokal seperti Kendari Pos, Kendari Ekspres dan Media Sultra.

Semula saya tidak begitu yakin naskah tersebut akan lolos lantaran banyaknya komentar teman-teman penulis di media online yang menyatakan bahwa, penerbit besar seperti Gramedia sangat selektif memilih naskah yang akan mereka terbitkan. Namun saya hanya berpegang pada prinsip sederhana : Kalau kita terus belajar dan berusaha pasti bisa. Begitulah.

Lolosnya naskah novel saya tersebut membuat saya kian tertantang untuk terus menulis novel. Tanggal 30 Agustus lalu (bertepatan dengan deadline) saya juga telah mengirim naskah novel  berjudul Tapak Kaki Terakhir  pada panitia Lomba Menulis Novel Dewan Kesenian Jakarta 2012.  

Bagi kawan-kawan penulis novel pemula seperti saya  yang mungkin naskahnya pernah ditolak, janganlah berkecil hati. Teruslah  menulis dan menulis. Kenapa? Karena menulis tidak perlu membayar.  Sebelum melegenda seperti sekarang, penulis besar Pramoedya Ananta Toer saja puluhan kali tulisannya ditolak oleh penerbit.

Sekarang banyak penulis, terutama pemula yang menerbitkan novelnya sendiri. Istilahnya Self Publishing. Saya salut dengan usaha-usaha mereka. Namun saya tidak tertarik dengan cara demikian. Alasaannya sederhana : tidak ada yang akan mengoreksi, menilai dan memberi masukan terhadap naskah kita.  Sementara penerbit-penerbit besar, mereka sudah memiliki standar baku  mengenai naskah yang bagus atau yang jelek.

Terima kasih  pada Gramedia yang telah memberi saya motivasi untuk tetap menulis novel.

Mari Berpikir Rasional

(Kampus Unhalu Civitas Apakah Dia Gerangan?)

Akhir akhir ini kekerasan begitu dekat di sekitar kita. Ia ibarat hantu yang  tiap saat menyusup dan menelikung relung-relung kesadaran kita sebagai warga masyarakat. Sebagai rakyat Sulawesi Tengara.

Kekerasan, perkelahian, adu fisik, perang tanding atau apapun namanya selalu saja memakan korban di manapun peristiwa kekerasan itu terjadi. Di pasar, di terminal, di pemukiman terlebih lebih di kawasan sebuah perguruan tinggi.

Seperti sudah jamak dimaklumi bahwa kawasan sebuah civitas akademika akan terdiri dari himpunan manusia yang memiliki tingkat kedewasaan berpikir dan menalar sesuatu secara runtut dan rasional. Orang bilang inilah yang disebut sikap ilmiah seorang sarjana atau mereka yang hendak mencapai gelar itu.

Goenawan Mohamad dalam sebuah tulisan di majalah Tempo mengungkapkan nasehat filosofis seorang bijak yang menyatakan bahwa tujuan orang kuliah bukanlah untuk meraih gelar sarjana melainkan agar  terlatih untuk berpikir ilmiah.

Tapi siapa lagi yang mau percaya ungkapan seperti itu sekarang? Di tengah hiruk pikuk gejolak berdarah di kawasan kampus yang nota bene adalah sebuah komunitas ilmiah?

Kita semua sangat prihatin melihat kekerasan demi kekerasan terjadi di kampus Universitas Haluoleo. Seorang kawan saya dari daerah lain pernah mengatakan kepada saya bahwa mahasiswa di Sultra khususnya di Kendari dikenal sangat berani melakukan kekerasan dalam kampusnya sendiri. Terlebih-lebih peristiwa demikian itu selalu saja menjadi santapan media di daerah ini.

Kita menyaksikan di televisi dengan bulu kuduk berdiri sebuah perkelahian antar kelompok di kampus itu beberapa waktu lalu. Ada yang membawa pedang. Ada yang bersenjatakan samurai, busur dan sebagainya. Apakah kita tidak malu keadaan kampus kita yang katanya pabrik para cerdik cendekia itu ditelanjangi begitu rupa di depan jutaan rakyat Indonesia?

Bayangan ideal kita tentang kampus telah berubah. Dulu sebuah kampus dicirikan dengan ramainya segala kegiatan kemahasiswaan yang bersifat positif. Debat terbuka. Latihan orasi ilmiah. Pagelaran seni drama, teater dan sebagainya.

Tapi kini kampus yang sangat kita banggakan itu nama baiknya benar-benar telah di tubir kehancuran. Bahkan masyarakat telah menganggapnya sebagai sarang penyamun, tempat para ninja-ninja bergentayangan. Inilah kenyataan pahit yang harus kita telan.

Yang menjadi kekuatiran saya dan mungkin kekuatiran kita juga adalah terjadinya perubahan paradigma atau asumsi mengenai posisi kampus Unhalu dari civitas akademika menjadi civitas premanika..

Sebuah Roman Sebuah Penyelaman Batin

Pergesekan Feodalisme dan Rasionalitas yang Tragis

Sebuah tradisi bagaimanapun pada suatu ketika akan menghadapi benturan zaman yang pedih. Pada saat rasionalitas alias akal sehat berkuasa atas pikiran,  segala soal akan disederhanakan menjadi kategori-kategori yang harus bisa diterima akal sehat itu.

Perbenturan  antara feodalisme dengan akal sehat itu sangat kentara dalam roman tetralogi pertama Pramoedya Ananta Toer : Bumi Manusia.

Pergeseran seperti itu, memang tak bisa dihindari. Zaman menginginkan perubahan. Orang resah dan mencari jawab. Dan modernitas dengan anasir rasionalitas pun jadi pegangan bagi sebagian orang.

Minke, sang tokoh utama Bumi Manusia memang adalah pribumi tulen. Tetapi seluruh tindak-tanduk, daya pikir dan imajinasinya adalah adalah eropa seutuhnya. Eropa yang menjunjung tinggi bekerjanya akal sehat dalam anomali pikiran itu, sungguh mengguncangkan jiwanya.

Kita lihat misalnya adegan pertemuan Minke dengan sang ayah yang tak lain adalah pejabat feodal pribumi. Di sini Minke menghadap  bersujud sembari merangkak-rangkak. Sebuah tradisi yang menurut Minke menghina martabat manusia dengan merendahkan diri serendah-rendahnya dengan tanah. Budaya apa ini? Saya bersumpah anak cucuku tak kurelakan melakukan ini, begitu batin Minke.

Sebuah adegan sentimentil yang tragis. Perbenturan dunia tradisional feodal dan modernitas akal sehat. Di sinilah Pramoedya menunjukkan bahwa tak ada perlunya mempertahankan tradisi yang menghambakan diri di hadapan orang lain. Termasuk kepada pihak kolonial.

Roman ini oleh karena itu mengajak kita melakukan penyelaman batin ke dalam sanubari kita sendiri sejauh mana dan bagaimana kita melihat anasir feodal tradisional dengan modernitas yang menjunjung tinggi rasionalitas itu.

Jangan Main Pokrol Bambu

Masyarakat Sulawesi Tenggara khususnya para elit-elit politiknya kini sedang menderita gejala demam. Suhu tinggi dan sering mengigau, ngomong sembarangan tentang kinerja pemerintahan di daerahnya..

Meski cuma gumaman atau tepatnya bualan saat tidur, namun media ternyata merekamnya, menulisnya menjadi santapan pagi penduduk setempat. Orang heboh dan koran pun laku bak kacang goreng.

Maka ramailah edar cerita dari mulut ke mulut mengenai permufakatan tiga tokoh untuk menyatukan kekuatan melawan tokoh lainnya yang sedang duduk di singgasana pemerintahan daerah.

Adapun masyarakat yang juga ikut-ikutan mendengar cerita itu- cerita tentang tiga tokoh melawan satu tokoh-itu bingung bukan buatan. Loh ini apalagi? Ini sebenarnya siapa lawan siapa? siapa membela siapa?

Ada yang bilang katanya pemimpin sekarang tidak berbuat apa-apa. Hanya diam-diam saja. Ada juga yang menagih janji kesejahteraan rakyat di Bumi Anoa. Kritik ini. Kritik itu dan sebagainya dan seterusnya.

Padahal dulu waktu keadaan begitu rupa, saat beberapa tokoh lainnya itu masih berkuasa mereka juga hanya sibuk dengan dirinya sendiri dan abai akan kondisi rakyat kebanyakan. Tidak sedikitpun terlintas dalam benak mereka bahwa perseteruan seperti itu hanya akan membuat masyarakat terkotak-kotak.

Lagi pula perseteruan sepertinya hanya berpusing-pusing pada mereka mereka ini saja. Tentang siapa lawan siapa. Dan bagaimana caranya. Siapa memanfaatkan siapa. Sejak dulu sepertinya hanya mereka saja pemain di lapangan. Sedangkan rakyat hanya jadi penonton. Penonton yang bingung akan kemana haluan daerah ini kelak berlayar?

Kita harusnya sadar sesadar sadarnya bahwa mengkritik orang lain itu mudah saja. Namun marilah kita introspeksi diri apakah dulu waktu kita berkuasa juga telah melakukan hal yang bermanfaat bagi masyarakat? Inilah initinya. Jangan hanya pandai melihat kelemahan orang lain tanpa mau berkaca akan kelakukan sendiri. Ya kelakukan kita saat masih memegang tampuk kekuasaan.

Banyak dari kita hanya pandai bicara, tepatnya membual tentang kekurangan orang lain. Pandai retorika dan berlaku seperti pokrol bambu di zaman Soekarno. Ya pokrol bambu. Sebuah ejekan sinis terhadap ahli pidato hukum yang berlagak seakan akan membela rakyat kecil padahal tidak.

Dan demam pun kian meninggi bersamaan dengan masuknya perseteruan itu pada garis demarkasi hukum. Beberapa pejabat daerah tersangkut kasus hukum secara aneh dan tiba-tiba. Mau tak mau orang lantas menghubung-hubungkan hal itu menjadi satu rangkaian kejadian yang mutatis mutandis alias memiiki kaitan sebab akibat.

Hendaknya kita jangan main pokrol bambu kepada rakyat karena efeknya akan sangat berbahaya.

Agar Kita Tak Hilang Dari Sejarah

Pram dan Dunianya, Menulis untuk Keabadian

Sebaris kalimat saya  temukan dalam sebuah buku berformat Pdf di google. Bunyinya begini

“Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian”.

Kalimat itu diucapkan oleh Pramoedya Ananta Toer, sastrawan terkemuka Indonesia yang sangat fenomenal itu. Pramoedya menulisnya  saat berada di pembuangan tahanan politik di Pulau Buru.

Kita tahu alangkah tepatnya kalimat itu. Menulis adalah bekerja untuk keabadian. Pram dan kita semua suatu saat akan tinggal kenangan.  Agar kenangan bisa bernafas panjang  dan awet tentu harus dibingkai oleh sebuah pigura  yang tidak mudah hilang jejaknya dalam sejarah manusia.

Sokrates ahli filsafat Yunani yang mirip gelandangan sinting itu namanya abadi hingga kini. Padahal tidak satupun buah pikirannya dituangkannya sendiri melalui tulisan atau buku.  Sokrates tidak menulis. Dalam hal ini Sokrates barangkali harus berterima kasih pada muridnya Plato. Platolah yang menulis seluruh isi kepala Sokrates hingga  sang guru ditasbihkan sebagai bapak filsafat barat pertama.

Menulis.

Kata yang sederhana sebenarnya. Namun tidak mudah melakukannya. Arswendo Atmowiloto pernah mengatakan bahwa  menulis sebenarnya tidak sulit tapi sangat sulit. Tapi siapa yang mau percaya Arswendo? Siapa pula yang mau percaya kalau menulis adalah satu satunya cara untuk dikenang sejarah.

Pramoedya barangkali memang sedikit sarkasme. Tapi bagaimanapun adalah hak dia untuk melihat sisi lain dengan kacamatanya sendiri bahwa menulis memang kerja untuk keabadian. Meksi agak sedikit subyektif lantaran Pram mungkin menganggap kalau menulis adalah satu-satunya cara.

Tapi apapun dalilnya, suara Pram memang begitulah adanya . Menulis adalah hidup mati Pram. Itulah dunianya.  Tentu tak salah bila untuk membuat nama dikenang sejarah salah satu caranya adalah dengan menulis.

Pram, kita semua, rakyat.. hanya akan dikenang jika ada yang memang betul-betul layak untuk dikenang. Dan salah satunya melalui kalimat yang pernah kita goreskan pada secarik kertas. Suatu ketika goresan itu mungkin akan menjadi lentera yang akan memandu orang lain saat meniti jalan kehidupan.

Begitulah…

Film Kartun Indonesia, Tidur atau Semaput?

Upin-Ipin, Bukti Nyata Kekalahan Kita

Teman saya seorang wartawan pernah berseloroh : Bagaimana kalau Upin-Ipin kita klaim saja sebagai hasil kreatifitas Indonesia?  Tentu hanya sebuah gurauan iseng pengisi waktu luang. Sebuah kepedihan yang dibungkus canda tentang nasib sinema anak kita yang belum juga sadar dari pingsan akibat gempuran film kartun asing.

Ya film asing, tentu saja lagi-lagi menjadi kambing hitam atas carut-marutnya dunia sinematografi kita. Padahal belum tentu semua kekacauan ini akibat ulah mereka, Hollywood, Columbia Pictures, Paramount, New Line Cinema  atau apapun namanya itu.

Sineas kita lagaknya persis pembuat film besar sekelas Zemezicks atau Spielberg yang suka mengenakan syal ke mana-mana. Padahal tidak ada satupun film bermutu yang lahir dari tangan mereka. Kecuali mungkin Garin Nugroho satu-satunya sineas kita yang peduli pada kondisi sosial masyarakat khususnya nasib anak-anak bangsa.

Garin, seperti kita tahu tidak larut dan tak mau larut dalam arus kapitalisasi film yang mendewa-dewakan pasar, rating dan segala tetek bengek yang berkaitan secara langsung dengan uang. Dan sineas anak? Film kartun? Mungkinkah sineas Indonesia masih memiliki kesadaran bahwa anak-anak kita sesungguhnya juga butuh tontonan yang menyehatkan? Tidak melulu direcoki film kartun impor yang tentu saja nilai edukasinya sangat minimal itu?

Kasian betul dunia film kartun kita yang belum juga ada tanda-tanda mau hidup apalagi berkembang dan maju. Ia masih berkubang dalam tidur panjang. Atau mungkin juga sedang semaput akibat gempuran film luar dan miskinnya kreatifitas pembuat film kartun anak negeri ini.

Ya begitulah. Nasib film kartun anak akhirnya menguap sampai kini. Dan anak-anak kitapun kembali duduk manis  menyaksikan dengan khidmat aneka tokoh yang berseliweran di layar kaca. Spiderman, Superman, Thor, Hulk, Spongebob, Doraemon, Naruto dan yang paling menarik adalah Upin-Ipin.

Upin-Ipin jadi menarik bukan lantaran moral ceritanya yang memang sangat melayu, Kita banget.  Ia jadi hebat karena kita dengan gaya yang begitu hebat bukan main, tapi tak bisa membuat sinema serupa yang bisa menjadi pegangan anak-anak di rumah. Upin-Ipin oleh karena itu menunjukkan kekalahan kita yang kesekian terhadap Malaysia, negeri jiran kita itu. Ada kekalahan keratifitas. Ada kekalahan pemasaran. Kekalahan diplomasi, kekalahan saling klaim, kekalahan melawan korupsi.. kekalahan TKI kekalahan . . . . . . .

Dan dari semua itu kita kalah di negeri sendiri. Oh alangkah getirnya.

Tapi kita mau apa?

gambar diambil dari sini

Pekerja Pers

Banyak Istilah,  RohnyaSama Jua : Jurnalis

Wartawan seperti pemulung, mengais dan mengumpulkan rupa-rupa kejadian dan merangkainya menjadi sebuah cerita. Sebuah fakta. Untuk di jual.

Wartawan seperti buruh bangunan, bekerja seharian dengan upah yang belum tentu memenuhi standar UMR. Kalau lagi banyak order kerjaan di tambah dan terjadilah lembur. Persis seperti di bangunan. Makanya, dulu wartawan diasosiasikan sebagai kuli tinta. Seperti kita tahu, kuli di manapun juga adalah  strata pekerja mirip kelas paria dan sudra dalam agama Hindu. Sebuah pekerjaan sekasar-kasarnya pekerjaan kasar.

Tapi mereka tak pernah mengeluh, baik diam-diam lebih-lebih secara terang-terangan. Mereka hanya bekerja, bekerja, mengais, meliput remah-remah kejadian yang bermacam-macam untuk kepentingan pembaca dan pelanggan esok harinya.

Tapi mereka bukanlah kuli biasa. Mereka tak bisa dianggap sepele.   Saya pernah dengar ada sebuah acara kebesaran pemerintah diundur gara-gara wartawan terlambat hadir. Sebuah pertanda bahwa mereka bisa juga menentukan sukses tidaknya sebuah kegiatan.

Sebuah kelompok unjuk rasa yang semula berdemo dengan tenang tiba-tiba menjadi beringas lantaran kehadiran wartawan tv nasional untuk meliput demo mereka. Semakin banyak kamera menyorot pendemo, makin beringaslah kelompok pengunjuk rasa dibuatnya. Mungkin para pendemo memang sengaja ingin diliput agar masuk tv dan jadi berita heboh. Ada ada saja.

Baiklah.

Secara individu atawa personal ada beberapa wartawan atau jurnalis atau apapun istilahnya, di Sulawesi Tenggara masih memegang teguh idealisme jurnalistik. Namun tak kurang pula yang tidak sanggup menahan godaan baik godaan berkelebihan yang identik kesenangan maupun godaan kekurangan yang identik dengan kepapaan. Itulah realita.

Banyak teman-teman saya yang kini telah menjadi wartawan hebat. Tentu berkat keuletan dan kegigihan mereka dalam bekerja. Ada yang sudah bikin buku. Ada pula yang menjadi anggota parlemen di daerah.  Dan sebagainya dan seterusnya.

Namun apapun profesi tetap mereka akhirnya, mereka tetaplah mengandung roh pekerja pers dalam tubuhnya.. Mungkin memang begitulah..

Gambar ilustrasi comot di blog ini

 

Salah Paham Antar Generasi

Dari Bahasa Sampai Punahnya Etos Kerja

Kemajuan teknologi informasi yang bukan main cepatnya tak ayal menabrak dinding kesadaran kita. Dan perkakas informasi digital pun kian menambah (sumpek) saku dan memori ingatan orang mengenai tata cara berkomunikasi  maupun cara melihat sesuatu secara berbeda.

Perubahan zaman yang begitu cepat tak ayal menciptakan dua kutub berbeda mengenai cara pandang terhadap sebuah perkembangan itu. Yang satu, generasi kini yang ikut serta dan bersama-sama melakukan perubahan. Lainnya generasi lampau yang melihat perubahan zaman dengan kekagetan dan rasa kagumnya sendiri-sendiri.

Bagi saya dan kita semua yang telah berusia tiga puluh lima keatas akan merasakan sebuah ingar-bingar bahasa yang tak lagi kita pahami. Atau minimal sulit   sekali kita mengerti maknanya. Anak saya sering mengirimi saya pesan singkat yang sering bikin mumet kepala mencari padanan artinya.

Kalimatnya itu lho nak, saya tak lagi bisa menangkap maksudnya dalam hitungan sepersekian detik memori kerja otak saya. Padahal saya tidak menggunakan kacamata baca. Sangat tidak komunikatif dan jauh dari upaya untuk mengakrabkan diri. Sekalipun dengan orang tua sendiri.

Misalnya ini :

“pk.kT@ kPlA sK0lh bSK qT dT9 @Mblkan raprq d1 sKlah”

Atau ini :

“LoW cyg,^ m3T 6LjR..yy q Mw Bo2 mhuuacchh!!!!”

Apa sebenarnya maksudnya? Bagaimana merangkai kata-kata itu menjadi logika yang mengandung sebuah pengertian?

Sampai saat ini pun saya masih sering bingung membaca kiriman pesan singkat (SMS) seperti itu. Kebanyakan sih pesan nyasar. Katanya dari anak sekolah. Atau jangan-jangan orang dewasa yang menyaru menjadi anak sekolah memakai bahasa komunitas mereka.

Bukan berarti saya mulai pikun, tapi mengeja dan merangkai singkatan-singkatan kata-kata itu yang belum tentu kita persepsikan sama antara dua generasi berbeda. Kalian generasi sekarang dan kami generasi kemarin.

Membaca pesan pesan singkat di  ponsel anak-anak kita zaman sekarang kadang membuat saya tampak bodoh dan merasa ketinggalan zaman. Tak mengapa. Toh tiap generasi punya selera dan caranya sendiri dalam mengartikulasikan sesuatu.

Itu baru soal ponsel.

Soal lain juga punya potensi kesenjangan serupa dalam melihatnya. Maksud saya perbedaan penilaian antara generasi kemarin dengan generasi anak-anak kita.

Generasi 70 dan 80 an menganggap bahwa jenis musik di zaman itu adalah yang terbaik bagi mereka. Musisi zaman dulu  punya etos kerja tinggi dan tak main-main : semuanya dimulai dari bawah. Dari nol. Belajar setahap demi setahap sampai mahir dan sukses setelah puluhan kali ditolak studio rekaman.

Dulu ada band rock yang sangat saya kagumi lantaran kepiawaian personal anggotanya. Misalnya kemahiran teknik improvisasi alat perkusi macam John Bonham drummer grup Led Zeppelin. Atau paduan koor yang sangat apik dari grup Queen. Lalu gitaris legendaris Ritchie Blackmore dari Deep Purple.

Kemahiran mereka itu tidak didapat secara instan. Secara cepat. Tapi melalui latihan yang sungguh-sungguh selama puluhan tahun. Demikian pula dengan teknik  rekamannya. Sangat menguras tenaga dan butuh kesabaran lantaran semuanya masih manual. Di sini skil masing-masing orang betul-betul digantang. Karena itu nama mereka abadi hingga kini.

Sementara itu, generasi kini, masih dalam hal musik, tidak dilatih untuk memiliki kesabaran, keuletan dalam mencipta. Serba mau cepat. Maskipun hasilnya belum tentu bisa menggunggah orang banyak termasuk mereka sendiri. Saya pernah melihat tayangan di televisi ada sebuah grup band anak muda membuat lagu dan klipnya sekaligus hanya dalam waktu tiga jam. Ckckckckck bukan main.

Tapi apa hasilnya? Hasilnya adalah sebuah album atau lagu yang langsung dilupakan begitu selesai didendangkan. Secepat dia diciptakan secepat itu pula dia hilang dari ingatan. Mengapa? Entahlah.

Kita memang tak bisa mengutuk kesenjangan cara pandang antara generasi suatu zaman. Toh perjalanan waktu akan terus berlangsung. Dan perubahan akan terus terjadi.

Karena perbedaan cara pandang itu pula saya hingga kini belum melihat  grup musik yang menggunggah selera dan merangsang minat untuk menyimaknya. Di mata saya semua grup musik sekarang kebanyakan sama saja. Tak ada bedanya. Yang berbeda hanya nama grup bandnya. Selebihnya nyaris seragam. Semuanya tentang cinta, selingkuh, dan semacamnya.

Dulu beda antara The Rollies dan God Bless jelas sekali. Begitu pula Koes Plus, The Mercys dan Black Brothers. Atau yang di era 90-an seperti Elpamas, Power Metal dan Grass Rock. Kata orang dulu itulah grup musik yang sangat berkarakter. Mereka punya ciri.

Begitulah.

Kalau kita ketahuan oleh anak-anak zaman sekarang  mereka pasti akan menjawab “Ah bapak jadul amat sih? Suka mengenang dan mengagungkan masa lalu. Itu kan dulu pak.. waktu zaman belum cangggih seperti sekarang.. buat apa susah-susah  latihan kan ada komputer  dan sound effect yang sangat canggih”.

Benar. Dulu ya dulu tak bisa diputar kembali menjadi sekarang. Begitu pula sebaliknya.. Begitulah zaman. Cara pandang bisa beda bisa pula sama. Semuanya tergantung selera.